
Sementara itu di dalam angkutan umum k 39c yang menuju ke arah Cibitung, nampak dua orang yang saling terdiam dalam duduknya. Dinda dan Tini sama-sama tidak menyangka kejadiannya akan seperti itu.
"Ternyata Indah benar-benar tidak mau melepaskan mas Nur meskipun sudah putus. Sebegitu besarkah rasa sayang dan cinta Indah untuk mas Nur." Kata-kata yang ada di benak Dinda.
"Din, ngapain?, Itu jari bukan mainan. Kalau kertas mau kamu ues-ues juga ga masalah. Lhaa itu jari kamu ues-ues ga sakit apa?." Tanya Tini sambil melihat jari Dinda.
Dinda hanya melirik Tini saja, kemudian melihat ke arah kaca belakang angkutan umum.
"Ciaaa cuma di lirik. Pantesan bikin kesengsem, lirikannya sadis." Ucap Tini meledek Dinda.
"Sadis, emangnya Aku pembunuh berdarah dingin." jawab Dinda kesal namun setelah itu Dinda tersenyum karena Tini berhasil menghiburnya dengan candaannya.
"Bang di depan kiri ya." Ucap Tini ke supir angkutan umum.
"Iya neng." Jawab supir angkutan umum.
"Bang ga jadi, turunnya nanti di depan Ramayana saja." Ucap Dinda seketika.
"Memangnya mau apa Din turun di Ramayana, mau belanja?." Tanya Tini.
"Ga tahu, yang penting turun saja dulu." Jawab Dinda sekenanya.
"Di tanya serius malah gitu jawabnya. Tau yang lagi butuh kasih sayang, jadi cari perhatian." Terka Tini.
"Biarin yang penting ga cari perhatian sama mantan orang." Jawab Dinda klop dengan yang dipikirkannya.
"Duh yang sudah tahu nasibnya. Belum mulai sudah udahan." Ledek Tini.
"Makanya jangan biarkan terus berlanjut. Kalau bisa putuskan mau gimana." Lanjut Tini.
"Bang kiri bang." Ucap Dinda kepada supir angkutan umum.
"Hmmm, kebiasaan deh, di cueki." Ucap Tini kemudian melangkah keluar angkutan umum.
Di susul oleh Dinda, Tini membayar ongkos naik angkutan umum dari warung bongkok sampai di Ramayana Cibitung.
Mereka berdua jalan bersama menuju Ramayana Cibitung. Ramayana Cibitung adalah salah satu mall di Cibitung. Karena letak mall ini dekat dengan kontrakan Dinda dan Tini. Bila berjalan kaki hanya butuh waktu sekitar 7 sampai 10 menit.
"Tin, kita sholat dhuhur dulu yuk." Ajak Dinda mengingat sudah jam setengah dua mereka belum sholat dhuhur.
"Iya ya kalau temenan sama orang yang selalu ingat Allah, pasti bawaannya gini. Meskipun galau, tetep ingat Allah, salut deh Aku sama kamu Din." Tutur Tini.
"Hmmm, ga usah muji bilang saja lupa. Kamu kan gitu kadang suka lupa. Harus diingatkan dulu." Ucap Dinda lanjut.
"Iya makasih sudah diingatkan." Ucap Tini sambil senyum.
Mereka berdua berjalan ke arah mushola yang ada di dalam Ramayana. Tempat yang menenangkan meskipun dalam Ramayana ramai banyak pengunjung. Ada yang sedang pilih-pilih baju, ada yang main permainan di time zone arena permainan dalam Ramayana, ada juga yang sedang makan di arena makan yaitu KFC.
Mereka berdua sholat di mushola. Beberapa menit kemudian mereka selesai sholat. Keduanya berjalan menyusuri rak demi rak melihat beberapa barang yang di pajang di area kebutuhan rumah tangga.
Hanya jalan-jalan melihat-lihat. Melihat barang elektronik dengan merk dan harganya. Melihat baju dengan merk dan harganya. Melihat kebutuhan sehari-hari berupa buah, bahan pembersih, semuanya mereka telusuri.
"Din, cuma lihat-lihat doang nih?. Ga ada yang mau di beli." Tanya Tini setelah bingung mau jalan kemana lagi tanpa membawa belanjaan apapun.
"Emang mau lihat-lihat saja. Cuci mata Tin, sekalian tahu harga barang di sini buat perbandingan kalau mau beli." Ucap Dinda beralasan.
"Kirain mau ada yang di beli, taunya cuma zoonk." Ucap Tini kesal.
"Kan belum gajian masih satu Minggu lagi. Lagian mau beli apa, sabun mandi, sabun cuci, atau makanan ringan, kan sudah ada di kontrakan." Dinda berucap sambil mengingat.
"Iya ya, hemat ya Din. Kita kan perantauan, kalau boros terus tanggung bulan belum gajian ga punya uang gimana. Mau pinjam duit juga sama siapa ya." Jawab Tini.
"Gini saja deh, Aku ada uang 20 ribu, kamu bawa uang berapa Tin." Tanya Dinda.
"Bentar dulu." Jawab Tini sambil merogoh saku celananya.
"Nih, ada segini. Buat apa Din." Tanya Tini sambil menunjukkan uang yang barusan diambilnya dari saku celana.
"Main yuk Tin." Ajak Dinda sambil menarik tangan Tini berjalan kearah tempat bermain.
"Ga salah Din, kamu ajak Aku ke sini." Tanya Tini sempat bingung.
__ADS_1
Seorang Dinda terlihat seperti anak kecil ketika melihat banyak permainan. Dia menarik tangan Tini ke arah arena bermain di dalam mall Ramayana. Namanya time zone, banyak berbagai permainan di dalamnya.
Sebelum main permainan time zone, Dinda membeli beberapa coin. Menukarkan uangnya dengan coin sebagai alat untuk memulai permainan. Hampir semua permainan di time zone mall Ramayana menggunakan coin untuk memulai permainan.
Setelah mendapatkan coin, Dinda mulai melihat-lihat permainan apa saja yang ada di dalam time zone Ramayana. Tini yang ikutan senang melihat berbagai permainan terasa terbawa mengingat masa kecil yang kurang bahagia.
"Dulu ingin banget main mainan kaya gini. Tapi ga bisa, ga punya uang buat beli coin. Sekarang mumpung Aku di sini, Aku mau main sepuasnya ahh, biar ga penasaran." Ucap Tini dalam hati dan pikirannya.
"Ayo Tin kamu mau main yang mana dulu." Ajak Dinda untuk memilih.
"Yang ringan-ringan tenaganya dulu kali ya Din." Ucap Tini menyarankan.
"Oke, yang itu dulu gimana." Dinda menunjuk salah satu permainan.
"Oke yang itu dulu. Terus yang sebelah kanannya ya." Ucap Tini mengiyakan sambil menunjuk permainan.
"Yuk." Ajak Dinda antusias dengan permainannya.
Setelah mereka berdua sampai, mereka membaca petunjuk untuk bermain permainan tersebut. Untuk memulai permainan, mereka harus memasukkan dua buah coin ke dalam lubang yang tersedia. Setelah mulai bunyi musik terdengar, barulah mereka boleh melanjutkan permainan.
Kali ini mereka memulai dengan permainan roda keberuntungan. Permainan yang berupa kotak seperti lemari yang di dalamnya terdapat lingkaran dengan berbagai tulisan.
Sebelah kanan kotak lemari ada tombol untuk di pencet bila hendak bermain. Sekali memasukkan dua coin maka sekali itu pula memencet tombol mainan.
Dinda memasukkan dua buah coin ke dalam lubang di sebelah kanan mesin permainan. Setelah coin masuk ke dalam lubang bunyinya seperti uang receh yang jatuh. Kemudian musik mulai berbunyi. Dinda segera bersiap-siap menekan tombolnya.
Tombol di tekan oleh Dinda, seketika lingkaran roda di dalam lemari bergerak cepat. Awalnya berputar cepat seiring berhentinya waktu roda tersebut mulai berhenti. Jarum yang bergerak cepat karena lingkaran roda yang berputar ikut terhenti juga bersamaan berhentinya lingkaran tersebut.
Jarum berhenti di salah satu tulisan dan angka. Di bacanya tulisan dan angka tersebut.
"Selamat Anda baru saja mendapatkan 20 tiket time zone." Baca Dinda dan Tini bersama-sama.
Tiket time zone keluar dari tempatnya yang berada di sebelah kiri mesin setelah permainan berhenti.
"Aku mau coba Din, sini coinnya." Ucap Tini setelah melihat Dinda main.
"Nih, coba kita bertarung bisa dapat berapa tiket, banyakan Aku apa banyakan kamu Tin." Tantang Dinda bermain sambil memberikan dua coin.
Tini pun memasukkan dua coin ke lubang mesin. Setelah mengeluarkan bunyi, Tini siap-siap menekan tombol mesin permainan tersebut.
Dinda mengambil tiket time zone yang sudah keluar dari dalam mesin. Tiket tersebut diambil Dinda sebelum mesin permainan berhenti. Di lipat-lipat tiket tersebut oleh Dinda agar tidak terlalu panjang.
Tini memencet tombol, lingkaran pun mulai berputar cepat, cepat, dan akhirnya mulai melambat. Tini dan Dinda melihat dengan serius lingkaran tersebut akan berhenti dengan jarum jatuh di tulisan tiket time zone berapa.
Akhirnya jarum tersebut berhenti. Tulisan yang tertera di baca oleh Tini dan Dinda. Tini senang akhirnya di permainan yang pertama Tini bisa menang. Tiket time zone yang di dapatkan Tini dari permainan roda keberuntungan lebih banyak dari Dinda.
"Selamat Anda mendapatkan tiket time zone sebanyak 30 buah." Ucap Tini membaca tulisan yang tertera di lingkaran yang ada jarumnya dengan senang.
"Jangan senang dulu Tini, kan cuma beda 5 doang." Ucap Dinda tak mau kalah permainan dari Tini.
"Biarin beda 5 yang penting banyakan Aku we we." Ucap Tini meledek Dinda senang sambil menjulurkan lidahnya.
"Coba yang lain Tin." Ajak Dinda ke permainan yang lain.
"Ayo, siapa takut. Bagaimana kalau pukul kepala yang itu."Ajak Tini sambil menunjuk permainan lain.
"Boleh, kamu dulu ya gantian." Ucap Dinda.
"Oke Aku dulu, mana coinnya." Pinta Tini sambil mengarahkan telapak tangannya.
"Ini, semangat ya, yang kenceng pukulnya." Ucap Dinda sambil memberikan coin dua kepada Tini.
Tini memasukkan dua coin ke lubang yang ada di mesin permainan. Musik mulai berbunyi dari mesin tersebut. Tini bersiap-siap memulai permainan. Dengan memegang gagang palu permainan di tangan kanan, Tini bersiap memukul kepala boneka berbentuk karikatur yang keluar dari lubang.
"Bugggh." Suara pukulan dari palu.
"Bugghh."
"Bugghh."
"Bugghh."
__ADS_1
Tini terus memukul kepala yang keluar dari lubang yang keluar secara acak. Dengan semangat, Tini terus-terusan memukul. Dinda yang melihat hal tersebut terus menyemangatinya.
"Itu Tin, itu, sebelah situ, itu, aduh, lihat yang benar Tin." Suara Dinda saat ikut-ikutan bermain tetapi hanya menunjuk kepala yang keluar dari dalam lubangnya.
"Diam apa Din, Aku sedang konsentrasi, jangan gangguin." Ucap Tini saat musik berhenti dan kepala belum ada yang keluar tetapi musik mesin masih berbunyi.
"Lagian kamu gimana mainnya, kepala yang keluar di mana, pukulnya ke mana." Jawab Dinda mengomentari.
"Coba saja kamu di sini." Ucap Tini kemudian lanjut bermain ketika kepala mulai keluar lagi dari dalam lubangnya.
"Iya nanti kalau kamu sudah selesai main." Jawab Dinda lanjut.
"Bugghh."
"Bugghh."
"Bugghh."
"Bugghh."Suara pukulan dari palu Tini yang mengenai kepala mesin permainan.
Tini terus memukul kepala yang keluar dengan semangat. Sampai akhirnya tidak ada lagi kepala yang keluar. Mesin berhenti berbunyi tanda waktu bermain telah habis.
Sekarang giliran Dinda yang bermain. Dinda melakukan hal yang sama seperti Tini. Dan sebaliknya Tini juga ikut-ikutan seperti Dinda. Tini berteriak kepala mana yang akan keluar agar Dinda memukul kepala tersebut.
Sama halnya Tini, Dinda juga mengalami kebingungan yang di lihat kepala lubang yang mana yang di pukul yang mana. Tini sampai tertawa karena Dinda sama juga dengannya.
Tini mengambil tiket time zone yang keluar dari mesin. Setelah selesai, Dinda juga mengambil tiket time zonenya. Setelah dihitung bersama-sama hasil tiket permainan pukul kepala, ternyata hasilnya Dinda lebih banyak. Antara Tini dan Dinda selisih 7 tiket time zone. Ternyata dalam permainan pukul kepala Dinda yang menang.
"Tin, kali ini Aku yang menang heehee." Ucap Dinda senang sambil tertawa.
"Iya deh, tahu, yang sedang melampiaskan kecewanya. Jadi semua kepala seperti kepalanya Indah iya kaaannn hee hee." Ucap Tini meledek dengan senang sambil tertawa.
"Apaan sih Tin, ga gitu juga Tin. Masa kepala karikatur di bayangin jadi kepala Indah. Ga lucu tahu." Ucap Dinda beralasan.
"Ya tahu, sudah ahh pulang yuk." Ajak Tini pulang.
"Tunggu bentar Tin, ini sayang coinnya tinggal dua. Pakai saja ya, gimana kalau main bola basket." Saran Dinda.
"Ya sudah tapi kamu yang main ya, Aku ga bisa main bola basket." Ucap Tini beralasan padahal sedang malas saja.
"Iya Aku yang main. Ayo ke tempat bola basket." Ajak Dinda.
Dinda dan Tini langsung berjalan ke tempat permainan bola basket. Ada dua model mesin permainan bola basket. Satu ukurannya lebih kecil dan satunya lebih besar.
Dinda memilih mesin permainan bola basket yang lebih besar. Dinda memasukkan dua coin terakhirnya yang diambil dari kantong celananya ke dalam lubang coin di mesin. Mesin mulai menyala dan penutup bola mulai terbuka.
Bola mulai turun ke area depan mesin. Dinda memungut satu bola basket. Dilemparnya bola basket tersebut menuju ke ring yang terpasang di mesin dan terus berlanjut.
"Bug, dug, dug, dug, dug." suara bola basket yang jatuh dan turun lagi ke depan area.
"Bug, dug, dug, dug, dug.
"Bug, dug, dug, dug, dug.
Melihat Dinda asik main bola basket, Tini mulai mendekat dan mengambil bola basket yang turun. Mencoba melempar ke dalam ring basket. Mereka berdua bergantian melempar bola basket ke dalam ring. Sampai akhirnya penutup bola naik kembali menutup jalannya bola basket turun. Bola sudah tidak turun lagi dan mesin mulai berhenti.
Mesin permainan bola basket telah berhenti, kemudian mengeluarkan tiket time zonenya. Dinda mengambil tiket time zone tersebut dan dikumpulkan dengan yang sebelumnya di dapat.
Tini memberikan tiket time zone yang ada di genggamannya. Dinda menerimanya kemudian mereka berjalan ke tempat penukaran tiket time zone. Dinda dan Tini menukar tiket time zone dengan barang atau hadiah yang sesuai dengan jumlah tiketnya.
Setelah tiket time zone yang mereka dapat di hitung di mesin penghitung tiket time zone, total yang mereka dapat cukup banyak.
Ada 125 total tiket time zone yang di dapat oleh Dinda dan Tini. Sang kasir bertanya barang atau hadiah apa yang ingin di ambil.
"Maaf mba totalnya ada 125, silahkan pilih hadiahnya." Ucap sang kasir time zone.
"Iya mba, sebentar ya." Jawab Dinda sambil melihat-lihat barang yang terletak di etalase hadiah.
Barang apa yang di dapat sebagai hadiahnya, yuk simak di episode berikutnya.
Bersambung.....
__ADS_1