Cikarang ( Pekerjaan Dan Cinta )

Cikarang ( Pekerjaan Dan Cinta )
Episode 25. Perasaan Dinda.


__ADS_3

Dinda terkejut dengan pernyataan perasaan mas Nur. Dinda merasa bahagia, namun Dinda tidak bisa menjawab perasaan mas Nur. Bagaimanapun Dinda datang ke Cikarang untuk bekerja membantu ekonomi keluarga.


Dinda hanya terdiam, entah sedih atau bahagia. Di sisi lain Dinda senang ternyata mas Nur menyatakan cinta kepadanya. Di sisi lain Dinda tidak mau berpacaran dulu mengingat tujuannya datang ke Cikarang. Dinda tahu dengan perasaannya kepada mas Nur.


"Dinda kok diam?." Ucap mas Nur mengagetkan Dinda.


"Mmmm, maaf mas Nur, Dinda diam karena tidak tahu harus ngomong apa." Ucap Dinda tertunduk sambil memainkan jarinya.


"Dinda, sebenarnya Aku mulai suka semenjak melihat kamu. Lama-lama kok timbul perasaan ingin melihat dan melihat kamu terus. Namun karena kamu kerja, dan kita sering berbeda shift, kita jarang bertemu. Aku penasaran sama kamu, makanya aku tanya-tanya sama mba Lilis. Dan pas aku ngobrol sama kamu aku yakin sama perasaanku. Kalau aku memang suka, cinta sama kamu Dinda." Mas Nur mengatakan bagaimana dirinya semenjak melihat Dinda.


Dinda masih terdiam, berpikir harus bagaimana menjawabnya. Memang dari mba Lilis dan tetangga yang dititipi salam oleh mas Nur mengatakan kalau mas Nur suka dengan Dinda. Namun Dinda tidak yakin terlebih saat melihat mas Nur berboncengan dengan seorang gadis.


"Masih diam, aku ga minta kamu mesti jawab sekarang. Aku mau nunggu kamu sampai kamu jawab. Apapun jawaban kamu aku berusaha ikhlas." Ucap mas Nur berusaha meminta jawaban meskipun bertolak belakang dengan ucapannya.


"Begini mas Nur, bukannya ga mau jawab. Tapi tolong, aku ga bisa jawab sekarang. Kita tetangga kontrakan, berteman boleh. Aku hanya ingin kerja dan bukan ingin cari pacar. Bahkan merebut pacar orang aku juga ga mau." Ucap Dinda dengan perasaan yang campur aduk ga tahu harus bagaimana.


"Kalau ga jawab ya atau tidak, oke aku mengerti. Mungkin karena aku ngomongnya mendadak. Tanpa tahu terlebih dahulu bagaimana kamu ke aku. Kita tetangga kontrakan, oke lah berteman. Tapi, bagaimana kamu bisa ngomong merebut pacar orang?. Dinda aku itu ga punya pacar, sama sekali." Agak deg-degan dan merasa tidak yakin, mas Nur mengatakan ini semua. Dan mas Nur bertanya dalam hatinya kenapa Dinda merasa mas Nur mempunyai pacar.

__ADS_1


"Aku kemaren pas kapan, waktu itu melihat ada seorang gadis main ke kontrakan mas Nur. Dan mas Nur berboncengan dengannya, Aku pikir itu pacarnya mas Nur. Jadi Aku ga mau nantinya kalau Aku sama mas Nur ada yang bilang Aku merebut mas Nur dari seseorang." Ucap Dinda dengan perasaan yang tidak enak.


"Ooo,,, jadi itu kenapa kamu ga jawab ya atau tidak, kamu menjadi pacar Aku. Begini lho Din, dia itu Indah, memang dulu dia pacar Aku. Tapi sekarang sudah putus, itupun sebelum Aku bertemu denganmu. Jadi bila kamu jalan sama Aku ga perlu takut di bilang merebut pacar orang. Jadi apa jawabannya?." Mas Nur menjelaskan kondisinya bahwa dia sudah putus dengan Indah.


"Maaf mas Aku tidak tahu. Kalaupun Aku tahu tetap saja mas itu tidak akan merubah sikap Aku. Aku ingin kerja dulu dan tidak mau pacaran." Jawab Dinda mencoba untuk tenangkan hati dan ucapannya.


"Tapi sebenarnya bagaimana perasaanmu padaku Dinda?, apa karena kamu belum yakin dengan perasaanmu sendiri?. Aku melihat dari tatapanmu, Aku merasa kamu juga ada perasaan untukku. Lalu Aku harus bagaimana?. Ucap Mas Nur yang merasa ingin ada kepastian untuknya.


"Maaf mas hanya itu jawaban dariku. Sementara ini biarkan Aku dengan keadaanku yang sekarang. Bulan depan masa kontrak kerja Aku selesai, Aku harus mencari kerja lagi kalau tidak diperpanjang. Jadi,, Aku harap mas Nur mengerti." Ucap Dinda yang tidak mau mempersulit dirinya dan mas Nur.


Sambil menonton televisi dan menikmati segelas kopi yang sudah dingin, mas Nur mengobrol santai dengan Dinda. Mas Nur memberi informasi pabrik mana saja yang biasanya membuka lowongan kerja baik secara langsung maupun lewat pos.


Dinda berterimakasih atas informasi yang diberikan oleh mas Nur. Meskipun merasa tidak enak hati dengan ucapannya yang sebenarnya menolak cinta mas Nur. Tetapi mas Nur mengatakan untuk bersikap biasa saja, jangan merasa tidak enak hati.


Sebagai tetangga kontrakan, dan sebagai teman yang berusaha untuk dekat dan baik dengan Dinda. Mas Nur mencoba bersikap tulus apa adanya. Tanpa harus membawa perasaannya dalam hubungannya dengan Dinda.


Waktu menunjukkan hampir jam 12 siang. Mas Nur berpamitan untuk pulang ke kontrakannya. Dinda mengantar mas Nur sampai di teras kontrakan. Semua harus dijalani apa adanya. Dinda mencoba bersikap biasa saja, meskipun tetangga kontrakan yang melihat meledek dirinya dan mas Nur. Dinda dan mas Nur hanya tersenyum.

__ADS_1


Tidak berapa lama kemudian, Tini dan mba Lilis pulang ke kontrakan. Mereka beristirahat setelah hampir seharian keluar.


Sore harinya, Tini dan Dinda mengobrol tentang informasi lowongan kerja dari temannya mba Lilis. Dinda pun memberitahu Tini tentang informasi pabrik yang membuka lowongan kerja secara langsung maupun lewat pos dari mas Nur.


Tini tersenyum dan meledek Dinda karena mas Nur main ke kontrakan dan hanya mengobrol berdua saja. Padahal Tini sebelumnya sudah tahu mas Nur akan datang main dan bertemu dengan Dinda.


Tini dan Dinda berharap jika memang tidak diperpanjang masa kontrak kerjanya, paling tidak mereka tidak lama menganggur. Mencari kerja lagi dan segera mendapatkan pekerjaan.


Begitu banyak orang yang datang ke Cikarang untuk mencari pekerjaan. Karena di Cikarang banyak pabrik-pabrik. Mulai dari pabrik elektronik, pabrik otomotif, bahkan pabrik garmen.


Gaji yang cukup besar, membuat para pencari kerja semangat. UMR yang cukup tinggi membuat calon pekerja datang dari berbagai kota.


Hari-hari berlalu begitu saja, tak terasa minggu terakhir kerja menjelang masa kontrak kerja berakhir. Dari gosip karyawan, bahwa pekerja kontrak yang baru tidak akan diperpanjang masa kerjanya. Mengingat bahwa produksi mulai turun kembali.


Pihak pabrik juga tidak akan mempekerjakan karyawan apabila tidak ada orderan. Tidak adanya orderan maka tidak ada pula kerjaan. Itulah yang terjadi, sehingga mau tidak mau karyawan yang selesai masa kontrak kerjanya harus ikhlas untuk mencari pekerjaan lagi.


Itulah resiko apabila kerja dengan sistem kontrak. Bekerja dengan waktu yang ditentukan oleh pihak perusahaan. Karyawan yang mau bekerja dengan waktu kerja kontrak harus siap apabila kontrak kerja berakhir. Siap menjadi pengangguran lagi dan siap mencari pekerjaan lagi.

__ADS_1


__ADS_2