
Sudah tiga bulan dari awal kerja, Dinda dan Tini masih tinggal di mess atau kontrakan di Cibitung. Sempat terpikirkan oleh Tini untuk balik lagi ke kontrakan mba Lilis. Namun, Tini masih menimbang karena Dinda belum memberi jawaban apakah mau ngontrak kembali di kontrakan mba Lilis.
"Din, kamu betah ya tinggal di kontrakan sini. Aku sebenarnya ingin ngajak kamu kembali lagi ke kontrakan mba Lilis. Tapi kamu belum kasih respon eh maksudku jawaban. Gimana menurut kamu Din, aku sih maunya dari awal kita berangkat bareng yaaa tinggal juga bareng mau apapun keadaan kita." Tini memulai pembicaraan sambil duduk di teras menikmati hari libur yang di isi dengan duduk santai di teras di pagi hari.
Hari Minggu Dinda dan Tini hanya duduk di teras setelah selesai mencuci baju mereka masing-masing. Tidak ada rencana apa-apa di hari itu. Tadinya Tini ingin mengajak Dinda main ke kontrakan mba Lilis, namun rencana itu diurungkannya. Itupun karena alasan tempo hari terakhir main ke kontrakan mba Lilis.
*
"Tini, Dinda, sekarang kan kalian tinggal di mess atau kontrakan yang di Cibitung, kedepannya gimana?. Apa mau tetap ngontrak di situ apa balik lagi ngontrak sama mba. Atau mau pindah ngontrak sendiri, ngontrak di mana gitu." Pertanyaan mba Lilis mengingat percakapan Dinda dan Tini saat tinggal di mess hanya sebulan, bulan kedua mereka bayar mess atau kontrakan sendiri.
"Gimana Din, kalau aku sih maunya balik lagi ke sini. Kalau kamu gimana, aku sih maunya kalau bisa bareng sama kamu. Ga enak cuma berdua tok sama mba Lilis. Urusannya sama orang dewasa ribet heehee bercanda ya mba." Tini masih mode bercanda melihat ekspresi Dinda setelah kejadian tadi.
Kejadian mas Nur yang tiba-tiba didatangi oleh mantan pacarnya yaitu Indah. Dan kemudian pulang ke kontrakan tanpa mengatakan apapun kepada Dinda.
"Din, denger ga sih aku ngomong!. Udah sih kalau suka bilang, kalau cemburu ngomong, kalau ga suka tinggal di tolak, gitu saja repot." Ucap Tini setelah tidak mendapat respon dari Dinda yang melihat Dinda hanya serius nonton televisi.
"Kamu ngomong sama aku ya Tin?." Tanya Dinda memastikan setelah kaget mendengar perkataan Tini barusan.
"Iya sama kamu, kan aku sebut nama kamu Din, emang di sini ada berapa nama Din Dinda ." Tini merasa kesal karena serius ngobrol bahas kontrakan yang diajak ngobrol malah sepertinya sedang melamun.
"Mmmm, begini maaf Tin, mba Lilis, aku bukannya ga mau ngontrak di sini lagi. Tapi untuk saat ini nanti saja. Sebulan atau dua bulan mungkin akan aku pertimbangkan mau balik lagi ngontrak di sini. Atau apa pindah ngontrak di mana, bahkan mungkin masih di Cibitung." Jawab Dinda agak ragu namun yang pasti belum terpikirkan saat ini untuk pindah dari mess atau kontrakan di Cibitung.
"Ya sudah Din, aku sih terserah kamu sama Tini. Tin, kamu juga sebagai teman ngertiin posisi dan juga perasaannya Dinda." Mba Lilis memberi kebebasan kepada mereka untuk memilih ngontrak di mana.
"Tin masalah mas Nur, aku ngerti kamu dan juga mba Lilis mungkin tahu bagaimana mas Nur ke aku. Tapi untuk saat ini aku sendiri ga tahu dengan jelas bagaimana perasaanku pada mas Nur. Jadi biarlah dulu mas Nur menghadapi masalahnya sendiri sampai selesai. Tolong mba Lilis, kalau mas Nur tanya tentang aku atau kontrakan di Cibitung, bilang saja mba ga tahu jelasnya di mana. Aku ga mau mas Nur tahu bahkan sampai main ke sana." Terang Dinda kepada Tini dan mba Lilis mengenai mas Nur.
"Maaf, lagian kamu di tanya melamun gitu, kepikiran mas Nur yaaa. Maaf aku bercanda tapi serius sih kalau kamu memang suka ga apa-apa, kita kan sudah dewasa Din heehee." Masih saja dengan gaya bercanda ala serius Tini membuat Dinda agak kesel juga tapi seneng ada teman yang perhatian tentang perasaannya.
"Tin, sudah apa bercandanya, kasihan Dinda baru pertama. Emangnya kamu, sudah berkali-kali suka sama cowo mana ga ada satupun yang nyantol." Mba Lilis membela Dinda malah balik meledek Tini.
__ADS_1
"Lhaaa ini beda mba, sekarang kan sudah dewasa aku sama Dinda. Nah yang itu beda cerita. Itu aku jaman masih SD suka cowo imuuuutttt banget, anaknya baik lagi. Nah terus SMP juga. Yang kemaren SMA sama juga nasibnya, apa karena aku jelek mba. Aku suka cowo tapi cowo yang aku suka ga suka sama aku. Nasib nasib jadi jomblowati."
"Oo iya Din tenang saja kalau mas Nur nanya kamu atau kontrakan kamu sekarang, mba ga bakal kasih tahu, di jamin 100 %. Pokoknya aman deh, asalkan kalau mau main lagi ke sini bilang dulu, jadi kalau mau ketemu sama mas Nur nanti mba kasih tahu mas Nur." Sama saja ujungnya mba Lilis meledek Dinda dengan senyum jahilnya karena tahu Dinda hanya diam.
"Iya mba, terimakasih." Ucap Dinda singkat sambil tersenyum.
"Hmmmm, giliran mba Lilis yang ngomong terimakasih sambil senyum, lha kalau aku yang ngomong alamat nih perang saudara. Diam-diam menghanyutkan, ternyata simpan perasaan ciee ciee." Tini merasa Dinda tidak adil dalam bersikap menanggapi candaan Tini dan mba Lilis.
"Makanya kalau suka sama cowo lihat-lihat dulu, jangan lupa ngaca. Ini nih korban dari cinta monyet sampe cinta gajah, ga kesampaian akhirnya jadi sarjana jomblowati deh heehee." Mba Lilis balas ucapan Tini dengan tertawa senang karena berhasil meledeknya.
"Ga apa-apalah, aku akhirnya jadi sarjana jomblowati, setidaknya pernah sekolah putus cinta. Daripada ini nih temen satu, baru daftar ga jadi, akhirnya kan ga bisa sekolah patah hati. Eeittts tenang Din karena kamu ga sekolah patah hati, maka kamu ga akan dapat title sarjana jomblowati." Tini menimpali obrolan mba Lilis dengan bercanda sengaja untuk menghibur Dinda.
*
"Tin, sebenarnya betah ga betah, aku sih terus terang masih bingung. Kalau pindah balik lagi ngontrak sama mba Lilis kamu tahu sendiri mas Nur. Sebenarnya enak tinggal di kontrakan mba Lilis mau apa-apa itu dekat. Ga kaya di sini, agak jauh." Dinda menjawab pertanyaan Tini mengenai kontrakan.
"Iya Din, tiga bulan lhoh udah di sini. Temen kita sudah pindah semua paling sebelah tuh yang masih setia kaya kita. Itupun sama dua orang juga, ga ada pilihan kali ya. Mau pindah nanti bayar kontrakan mahal, semua kontrakan sudah pada naik Din, tinggal kontrakan ini yang belum naik. Itupun karena kontrakannya begini modelnya. Sudah gitu kalau mau ke warung beli air galon, beli makanan, fotokopi juga lumayan jauh. Apalagi kalau mau beli makan, kalau sudah pulang ke kontrakan, malas jalannya karena lumayan jauh." Tini mengeluhkan kontrakan yang lumayan jauh bila ke mana-mana.
"Gratis mbahmu, iya kamu gratis tinggal makan, lha aku harus naik dulu biar bisa metik buahnya buat kita. Untungnya kata pak Qomar boleh makan buahnya asal petik sendiri. Din Din yang ada nih kata orang Betawi enak di lu susah di gue." Tini yang merasa kesal karena pas buah rambutan berbuah dia yang naik pohonnya karena Dinda ga bisa naik pohon.
"Ya iya lah Tin kamu yang naik, kan kamu yang jago panjat pohon bukan aku. Kalau aku yang naik, yang ada seharian ga sampai-sampai. Bisa bisa kita ga jadi makan rambutan gratis." Dinda mengakui ucapan Tini yang benar adanya.
"Eh Din ngomong-ngomong sejak kapan kamu tahu aku jago panjat pohon?. Setahu aku tuh ya, aku kenal kamu hanya sekedar kenal nih ga begitu akrab banget. Baru pas lulusan sekolah mungkin karena senasib dan sepenanggungan kali ya jadi akrab." Tini bingung karena Dinda tahu Tini jago panjat pohon.
"Lupa ya apa ga ingat, emang penyakit kamu yang satu ini awet banget. Dulu waktu sekolah pas jadwal mata pelajaran komputer, kelas 2 deh kalau ga salah, waktu itu gurunya kan ga masuk. Terus kita cuma main-main di lab komputer karena ga ada guru yang gantikan. Kamu waktu itu di luar ruang lab komputer naik pohon mangga. Nah pas itu yang lain kan pada ribut minta mangga sama kamu, suruh petik terus di lempar ke bawah. Aku waktu itu di depan pintu lihatin yang naik pohon mangga. Aku kira Udin apa Muslih atau Imam yang naik, ternyata kamu tho. Nah dari situ aku tahu kamu cewe agak tomboi karena bisa naik pohon mangga, yaaa meski pohonnya ga terlalu tinggi. Yang cowo malah ga bisa naik, ingat ga Tin." Dinda menceritakan waktu sekolah dulu mengingat kalau Tini jago naik pohon.
"Tau ahh lupa, iya kali. Soalnya seingatku yang tahu aku jago naik pohon ya si Udin. Kan dia temen kecil aku. Meskipun SD nya bareng, SMP ga bareng nah baru SMA ketemu lagi bareng sama Udin bahkan sekelas." Tini mengingat ingat tetap saja lupa.
"Iya deh ga ingat kejadiannya, tapi ingat sama si Udin. Hayooo ketahuan ya sekarang ternyata Udin cinta monyet sampai cinta gajahnya yang ga di balas. Hmmm, ternyata Udin yang kasih kamu title jomblowati." Akhirnya baru kali ini Dinda bisa meledek Tini dengan senangnya.
__ADS_1
"Bukan Udin tau Din, kamu pikir aku cewe apaan naksir Udin. Kaya ga ada cowo lain lagi. Emang aku ga cantik, tapi aku pilih-pilih cowo lah. Cari yang ganteng, tampan, biar bisa memperbaiki keturunan." Tini mengelak kalau Udin adalah cinta dari kecil sampai sekarang.
"Yaaaa terserah deh mau Udin atau siapapun itu ga penting. Yang penting itu cari yang baik, baik agamanya kalau bisa, baik orangnya juga." Dinda berkata kriteria laki-laki yang seperti apa menurutnya.
"Iya deh tahu yang seperti mas Nur kaaaannn, sudah baik agamanya, baik pula orangnya, ciee cieee." Tini membalas candaan Dinda.
"Tin, kalau Minggu besok jalan-jalan cari kontrakan gimana. Yaaaa barangkali ada yang cocok." Ajak Dinda tiba-tiba.
"Hmmm, mulai deh mencari alasan untuk menghindar. Tapi okelah Minggu depan cari kontrakan daripada di kontrakan cuma diam." Tini mengiyakan ajakan Dinda kali ini.
"Siapa yang menghindar kan dari awal kita memang bahas kontrakan, ngobrolin mau pindah ga, apa balik lagi ke kontrakan mba Lilis. Atau cari kontrakan baru." Dinda berkata memang dari awal yang di bahas kontrakan.
"Iya ya heehee, bercanda Din. Ya sudah Minggu besok lah jadi kita jalan-jalan cari kontrakan. Ingatkan aku ya kalau lupa heehee." Tini mengingatkan sambil tertawa.
"Iya kebiasaan deh kamu Tin, tapi aku suka penyakit lupamu itu." Dinda mengiyakan sekaligus senang dengan bibir yang senyum-senyum terus sambil melihat Tini.
"Aku jadi curiga nih, penyakit lupaku kamu manfaatin yaaa. Hayooo ngaku Din, aku emang sering lupa tapi kalau orang hutang duit aku ga lupa yaa." Akhirnya ketahuan juga.
"Iya Tini, aku pikir kamu lupa, tahunya ingat. Aku ingat mau ngajakin kamu makan mie ayam bakso di warung bakso dan mie ayam dekat kantor pos. Sekalian aku balikin duit kemaren yang aku pinjam buat kirim ke ibu. Terimakasih banyak ya sahabatku yang pelupa eh salah mba sarjana jomblowati heehee." Dinda teringat janjinya, karena sudah gajian maka Dinda akan membayarnya ke Tini.
"Habis dhuhur saja ya Din, sekalian buat makan siang. Tanggung nih jam 11, aku mau tidur dulu sebentar ya. Nanti jam 1 siang aku bangun, mandi, sholat dhuhur, habis itu berangkat makan mie ayam ceker plus bakso." Tini semangat karena mau di traktir mie ayam ceker plus bakso.
Di depan teras kontrakan Dinda dan Tini kini sepi hanya ada baju yang tergantung yang sedang di jemur. Tini tertidur di atas kasur di ruang tengah, sedang Dinda tiduran di ruang depan.
*
Apakah Dinda dan Tini jadi pindah kontrakan atau balik lagi ke kontrakan mba Lilis, atau masih tinggal di mess atau kontrakan yang sekarang. Simak kelanjutan kisahnya di episode karyaku yang berikutnya.
Salam sehat buat semuanya baik author maupun para readers. Tetap semangat walau keadaan sedang tidak bersahabat. Tetap tenang meski terkadang sulit cari uang. Jalani dan nikmati, hidup sudah diatur, namun tetap kita harus bersyukur.
__ADS_1
Terimakasih buat para pembaca yang masih setia dengan karyaku ini. Nantikan terus ya episode-episode berikutnya. Like, vote, dan komennya masih di tunggu demi kemajuan author dalam berkarya. Salam bahagia selalu ☺️☺️☺️🥰🥰🥰🌹🌹🌹