
Seminggu kemudian Dinda dan Tini sengaja pagi-pagi bersiap untuk pergi ke kontrakan mba Erna. Dinda dan Tini sepakat untuk tidak jadi ngontrak di dekat kontrakan mba Erna. Dengan pertimbangan bahwa Indah lebih baik tidak jadi ngontrak karena mas Nur tahu tempat tersebut.
Sekitar jam 7 lewat Dinda dan Tini menuju ke kontrakan mba Erna. Dinda merasa was-was takut kalau nantinya bertemu mas Nur di kontrakan mba Erna. Tini yang mengetahui hal tersebut hanya mendukung apa yang terbaik untuk Dinda.
Jam 8 kurang Dinda dan Tini berjalan di gang menuju kontrakan mba Erna. Sedikit cemas, Dinda sambil melihat sekitar kontrakan. Memastikan apakah ada sepeda motor milik mas Nur. Jika ada berarti ada mas Nur, maka Dinda dan Tini akan segera berbalik arah pergi ke kontrakan mba Lilis hanya sekedar mampir.
Sebelumnya memang sudah direncanakan oleh mereka berdua. Jika mas Nur main ke tempat mas Imam, tetangga mba Erna, maka sudah di pastikan mas Nur akan di situ menunggu Dinda untuk bertemu. Maka Dinda dan Tini akan segera pergi dan mampir ke kontrakan mba Lilis.
Namun sebaliknya, jika mas Nur tidak ada, maka Dinda dan Tini akan langsung ke kontrakan mba Erna mengatakan maksud dan tujuannya.
*
"Ini seperti main kucing-kucingan Din." Ucap Tini.
"Yaa mau gimana lagi, lebih baik menghindari masalah daripada harus menghadapi masalah." Jawab Dinda.
"Tapi bukannya alangkah sebaiknya menghadapi masalah daripada menghindarinya. Ga kebalik kamu Din, gimana sih, yang ada malah nambah masalah kali." Ucap Tini tumben ngomong benar.
"Tumben ngomong benar, tapi masalahnya ini beda Tin. Situasi dan kondisinya tidak mendukung kita." Jelas Dinda.
"Sekali-kali bener apa Din. Ops, apa tadi situasi dan kondisi tidak mendukung kita, masa sih, bukan kita kali Din, kan cuma kamu. Aku kan cuma nemenin, masa Aku juga ikutan." Jelas Tini meledek.
"Ya iyalah kamu ikutan, dari awal siapa yang dukung. Siapa yang bantuin mas Nur, siapa yang kasih tahu mas Nur, kan kamu sama mba Lilis. Jadi kamu itu harusnya tanggung jawab." Terang Dinda.
"Enak aja Aku yang tanggung jawab emang aku ngapain anak orang, suruh tanggung jawab yang benar saja Din. Harusnya mas Nur tuh tanggung jawab sudah bikin hidup kita ga nyaman." Jelas Tini kesal.
"Iya ya mas Nur yang tanggung jawab. Kita jadi ga bisa main ke kontrakan mba Lilis. Gara-gara ada Indah yang standby di kontrakan Teteh Dewi terus." Nambah penjelasan.
"Iya sudah gitu kita cari kontrakan baru, sudah ada juga ee ga bisa karena mas Nur tahu kontrakan tersebut. Kalau kita jadi pindah, alamat pasti mas Nur main ke kontrakan. Ujung-ujungnya kalau ketahuan Indah malah masalah." Ucap Tini nambah kesal.
"Nah itu kamu tahu Tin. Makanya jangan pindah di dekat kontrakannya mba Erna. Kita main lalu langsung bilang saja, sudah gitu langsung pulang takutnya mas Nur main ke situ." Jelas Dinda akan rencananya.
"Ya sudah besok tinggal lihat situasi dan kondisi ya Din." Tini menyudahi obrolan mereka.
Mereka berdua tidur dengan pikirannya masing-masing.
*
Dinda dan Tini sudah memastikan bahwa tidak ada tanda-tanda adanya mas Nur di sekitar kontrakan mba Erna. Dengan rasa tanpa takut dan was-was Dinda terus berjalan ke arah kontrakan mba Erna bersama Tini.
Sesampainya di kontrakan mba Erna, Dinda dan Tini melihat mba Erna sedang menggantung baju lalu langsung menyapanya. Mba Erna yang sedang menjemur baju di teras kontrakan menyapa balik.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum, mba Erna." Ucap Dinda dan Tini bersamaan.
"Wa'alaikumussalam." Jawab mba Erna.
"Dinda, Tini, sebentar ya tanggung nih." Ucap mba Erna lanjut sambil menjemur baju.
"Iya mba, santai saja hmm." Jawab Tini.
"Santai nanti keburu ada mas Nur Tin, sudah jam 8 nih." Ucap Dinda berbisik di sebelah Tini yang takut kalau ada mas Nur datang.
"Iya tahu, tapi ga enak, mba Erna sedang jemur baju tanggung tuh Din. Biar selesai dulu baru ngobrol kan enak." Jawab Tini maklum.
"Bener juga sih, sabar, sabar, semoga mas Nur ga datang ke sini dulu sebelum urusan Aku selesai." Ucap Dinda lagi.
"Nah gitu berdo'a kan enak biar tenang. Doa agar mas Nur ga kesini sekalian ga ketemu Indah heehee." Ledek Tini.
"Hmm, masih saja meledek Tin, Tin." Dinda berusaha untuk tenang dan sabar.
"Gimana kalian jadi mau pindah ke sini." Tanya mba Erna setelah selesai menjemur baju dan membawa teh manis hangat untuk Dinda dan Tini.
"Jadi repotin mba Erna bikin teh manis hangat." Ucap Dinda yang melihat teh manis mengeluarkan asap tipis pertanda masih hangat.
"Iya nih, mba Erna kita kan cuma mampir sebentar mau ngomong itu sih sebenarnya." Jawab Tini nyambung.
"Begini Din, Tin, semalam mba Novi ke sini mampir. Dia nanya kamu jadi ga ngontrak gantiin mba Novi. Katanya bapak kontrakan bilang sudah banyak yang nanya." Ucap mba Erna lagi.
"Begini mba, sebelumnya maaf. Sepertinya Aku dan Tini ga jadi pindah kontrakan. Karena gimana ya ngomongnya. Yaaa pokonya ga jadi lah intinya." Ucap Dinda tanpa memberitahu alasan yang sebenarnya.
"Iya mba, kita ga jadi pindah. Kalau pindah kita belum tahu bus jemputannya nomor berapa." Terang Tini menambah alasan.
"Ooo ya sudah, nanti Aku sampaikan sama mba Novi." Ucap mba Erna.
"Memangnya mba Novi ke mana mba, kok sepertinya kontrakannya sepi." Tanya Dinda.
"Iya, kalau ada orangnya, pasti ada motornya. Motornya mas Imam ga ada, pintu kontrakan sama jendela juga nutup, lagi pergi ya mba." Tanya Tini.
"Iya katanya mau ke pasar, membeli barang buat isi rumah." Jawab mba Erna.
"Oooo, ya sudah mba. Mmmm, kita langsung pulang saja. Makasih ya mba sudah kasih teh manis hangat dan bantuin ngomong ke mba Erna." Ucap Dinda buru-buru.
"Iya mba, makasih buat semuanya, sudah repotin." Timpal Tini.
__ADS_1
"Iya ga apa-apa, sama-sama. Kok cuma sebentar, cuma ngomong itu saja. Ga ngobrol dulu kan mumpung main." Tawar mba Erna.
"Ga deh mba, makasih, lain kali saja." Jawab Dinda gugup.
"Iya mba, lain kali, kapan-kapan kalau ada waktu in syaa Allah main lagi." Ucap Tini lanjut.
"Ya sudah kalau begitu." Ucap mba Erna tidak memaksa.
"Kami pamit langsung pulang ya mba. Assalamu'alaikum." Ucap Dinda pamitan di susul Tini.
"Iya, wa'alaikumussalam." Jawab mba Erna.
Dinda dan Tini berpamitan pulang dari kontrakan mba Erna. Mereka berdua berjalan ke depan gang menuju jalan raya tepatnya pertigaan tugu bambu warung bongkok.
Meskipun sudah selesai ngomong sama mba Erna tidak jadi pindah kontrakan, Dinda masih merasa ga enak perasaannya. Demikian juga dengan Tini. Mereka mengobrol sepanjang jalan sambil melihat sekitar jalan yang mereka lewati.
Di lain tempat di kontrakan mas Nur. Indah sudah berada di teras kontrakan mas Nur. Mas Nur yang baru saja membuka pintu kontrakannya terkejut dengan adanya Indah. Kemudian membuka jendela, lalu mengeluarkan sepeda motornya di depan kontrakan.
"Assalamu'alaikum mas." Ucap salam Indah sambil menyalami tangan mas Nur langsung kemudian mencium punggung tangan kanannya.
"Wa'alaikumussalam, lho kamu." Jawab salam mas Nur kaget dengan sikap Indah barusan.
Pasalnya selama berpacaran Indah sama sekali tidak pernah mencium punggung tangan mas Nur. Hanya sekedar menyalaminya saja, dan mencium pipi pun baru kemaren.
Mas Nur tidak menampik keinginan ada untuk sekedar mencium tangannya. Sedangkan mencium pipi dan yang lainnya itu masih jauh dari pemikiran mas Nur karena statusnya yang belum menikah.
Ketika tangannya di cium oleh Indah ada perasaan mas Nur yang berbeda. Mas Nur merasa baru kali ini dirinya dihargai dan dipahami posisinya sebagai pria yang nantinya menjadi imam.
"Tumben kamu ke sini pagi-pagi. Ada perlu apa Indah, biasanya agak siang." Tanya mas Nur curiga.
"Ga ada apa-apa kok mas, cuma mau kasih sarapan buat mas Nur." Jawab Indah akan maksud kedatangannya.
"Ga usah repot-repot Indah, Aku bisa beli sarapan sendiri nanti di warung." Jawab mas Nur menolak halus.
"Maaf mas, ini masakan Aku. Sayang kan kalau sudah Aku siapin buat kamu mas. Anggap saja ini ucapan terimakasih buat kamu mas yang selama ini sudah baik sama Aku." Ucap Indah beralasan sambil menyerahkan nasi beserta lauknya dalam tepak.
"Mmm, lain kali ga usah. Tapi kali ini berhubung kamu sudah ke sini dan niat kamu baik, Aku terima nasi dari kamu." Ucap mas Nur yang tidak enak hati untuk tetap menolak.
"Terimakasih mas." Jawab Indah singkat.
Apa yang terjadi selanjutnya, simak di episode berikutnya.
__ADS_1
Bersambung dulu yaaaa.....