
"Katanya kondangan, ini sih bukan kondangan mas. Ini namanya pertemuan keluarga. Kenapa mas ga ngomong terus terang dulu ke Dinda. Tentang hubungannya mas dan Ayu, perempuan yang waktu itu yang mas bonceng. Terus kenapa ga bilang juga kalau ibunya mas datang. Kan aku malu mas ga bawa apa-apa." Ucap Dinda kesal sambil bonceng dalam perjalanan pulang ke kontrakan.
*
Setelah makan bersama dan mengobrol, Mas Heru dan Dinda pamitan untuk pulang. Karena waktu sudah jam 1 siang, setelah sholat dhuhur mereka pamitan pulang.
Mas Heru menyalakan mesin sepeda motornya. Dinda kemudian naik membonceng mas Heru. Mereka akhirnya berpamitan pulang.
Dalam perjalanan pulang tersebut Dinda berucap kesal terhadap mas Heru. Gimana ga kesal dan marah semuanya mendadak, terlebih bertemu dengan ibunya mas Heru. Berarti bertemu dengan calon ibu mertuanya.
Setelah pertemuan Dinda dengan ibunya mas Heru, mas Heru benar-benar menyatakan keseriusannya tentang hubungannya.
*
"Kok malu, kan tadi sudah beli sepaket buah, sama amplop yang mas kasih buat Wawan." Jawab mas Heru tanpa mengurangi kewaspadaannya di jalan karena sambil menyetir.
"Iya mas, tapi tetep saja. Malu mas namanya saja baru ketemu sama ibunya mas Heru. Rasanya agak canggung gimana, terus mana di bilang tamu istimewa lagi." Masih dengan rasa malu dan ketusnya Dinda berucap di belakang mas Heru.
"Sudah Din, bicaranya nanti saja ya. Ini lagi di jalan, masa mas nyetir sambil dengerin kamu ngomong, nanti mas ga dengar gimana?, gara-gara suara kamu terbawa angin." Ucap mas Heru yang tidak ingin lagi mengobrol dengan Dinda karena situasi dan juga Dinda yang masih kesal entah karena malu atau yang lain.
"Hmmmm, kebiasaan deh. Orang lagi kesal bawaannya ingin ngomong. Ini malah di suruh diam, tau ahh." Masih kesal Dinda menjawab mas Heru.
Mas Heru yang mendengar ucapan Dinda hanya tersenyum sambil melihat wajah Dinda yang agak kesal di kaca spion sepeda motornya.
Selang kemudian, mereka sampai di depan kontrakan. Dinda turun dari sepeda motor mas Heru kemudian masuk ke kontrakannya. Mas Heru hanya bisa melihatnya lalu dia pun masuk ke kontrakan untuk mandi dan memakai baju seragam kerja.
Hampir jam 2 siang, mas Heru keluar dari kontrakan dan mengunci pintunya. Tidak melihat Dinda dan Tini. Yang terlihat hanya kontrakan yang seperti sepi tanpa penghuni. Pintu dan jendela yang tertutup.
Mas Heru langsung menyalakan sepeda motornya dan berangkat bekerja. Karena hari ini mas Heru kebagian shift 2 yaitu masuk sore.
Dari dalam kontrakan Dinda, Dinda hanya tiduran di atas kasurnya. Sambil memainkan permainan ular tangga di hpnya untuk mengisi waktu luang. Setelah mendengar sepeda motor mas Heru menyala dan berlalu pergi meninggalkan kontrakan, Dinda seketika mematikan hpnya. Dan membuka jendela lalu menyalakan televisi.
Tini tiba-tiba terbangun dari tidurnya di ruang depan. Karena mendengar suara televisi menyala, Tini duduk sambil mengucek matanya dan melihat televisi yang menyala.
__ADS_1
"Jam berapa Din?." Tanya Tini sambil menguap dan mengucek matanya, membersihkan belek yang ada di ujung mata.
"Jam dua Tin. Kamu tidur dari jam berapa Tin?." Tanya Dinda penasaran melihat Tini yang tertidur pulas bahkan tidak mendengar Dinda pulang membuka pintu kontrakan.
"Habis dhuhur tadi jam 12 an lewat, nunggu kamu ga pulang-pulang. Karena ngantuk ya udah jadi tidur sekalian. Gimana tadi kondangannya Din?." Ucap Tini setelah minum segelas Aqua.
"Kondangan apaan, tadi itu bukan kondangan tapi pertemuan." Jawab Dinda mulai agak kesal teringat mas Heru yang tidak memberitahu sebelumnya.
"Pertemuan gimana maksudnya ?, jelas-jelas mas Heru ngajak kondangan." Ucap Tini bertanya ikut bingung terhadap jawaban Tini.
"Aku di ajak mas Heru ketemu sama cewek yang waktu itu di boncengnya sama ketemu ibunya Tin. Bayangin nih gimana perasaan kamu?, Aku malu banget tau Tin."
"Tunggu dulu, Aku suruh ngebayangin, mmm ogah banget. Itu kan kamu yang ngalsmi masa Aku suruh ikutan ngebayangin juga doih Din, sort ya aku ga mau."
"Yaaa, mas Heru ceritain semuanya Tin. Siapa cewek itu, tau ga?." Tanya Dinda.
"Ga." Jawab Tini singkat.
"Itu cewek tadinya mau dijodohin sama mas Heru. Tapi, mas Heru ga mau. Ya akhirnya di kenalin ke temannya mas Heru yang waktu itu Tin. Untungnya mereka sana-sama mau. Jadi akhirnya mereka nikahan. Aku tadi datang ke syukuran nikahannya, cuma kecol-kecilan yaitu sama keluarganya doang." Cerita Dinda
"Plong sih plong, tapi ada yang lebih gawat dari semua itu Tin ?." Ucap Dinda lagi.
"Apaan Din?, lebih gawat dari semua itu, apa?." Tanya Tini penasaran.
"Dari semua ini, ujungnya mas Heru itu maunya serius sama Aku Tin. Kan Aku belum siap, mana ini masih nganggur." Ucap Dinda ragu.
"Sudah Din, ga usah dipikirin amat, jalani semua apa adanya. Ikuti alur cerita dari yang maha kuasa. Oke Dinda ku sayang dah ahh aku mau mandi gerah banget." Ucap Tini menasehati.
"Di ajak ngobrol malah pergi." Ucap Dinda pasrah ceritanya harus berhenti sampai di sini.
*
**
__ADS_1
Maaf untuk semua Reader, Author baru up hari ini. Kemaren dua hari pergi keluar kota di luar propinsi.
Alhasil data log in ke internet ga on. Ga tahu kenapa. Sudah di coba tapi ga nyala-nyala. Seperti ga punya pulsa dan kuota.
Padahal kuotanya waktu kemaren masih banyak. Tapi Author pikir mungkin karena nomor kartu author adalah kartu Jawa tengah, sedangkan kemaren Author di Jawa Timur.
Jadi maaf untuk readers, author baru up sekarang. Mana ini badan readers sakit, tapi author paksa untuk ngetik karya. Soalnya sudah tiga hari author ga up. Here nanti kena sangsi deh..
Oke masih lanjut lagi ya readers.
**
*
Seharian Dinda berpikir bagaimana nantinya jika ia harus menjalani hubungan yang serius dengan mas Heru. Mana sudah dikenalkan sama ibunya. Berarti ga lama mau nikah. Haduuuhhh....
"Alasannya mas Heru sudah cukup umurnya, sudah mapan, tunggu dulu mapan dari mana sih?. Bukannya mas Heru masih karyawan kontrak ya." Dinda berucap sendiri dalam pikirannya.
"Terus kenapa juga ingin punya cucu di bawa-bawa buat alasan. Kan jadi tambah malu, aduuh gimana nih. Aku masih mau kerja. Belum ingin kuliah yang belum kesampaian. Aku harus gimana ngomong sama mas Heru?." Masih berpikir sendiri.
"Woy, Din!. Lamun aja dari tadi. Itu lipat baju sampai setahun depan juga ga bakalan kelar kalau kamu lipatnya cuma di pegang doang." Ucap Tini tiba-tiba mengagetkan.
"Eh, Tin, ga kok ga lamunin apa-apa." Jawab Dinda malu.
"Hmmm, pasti mikirin keseriusan mas Heru kan?. Lagian kamu aneh Din, emangnya mas Heru ngajsk kamar kamu sekarang?." Tanya Tini serius.
"Ga." Jawab Dinda singkat.
"Ngajak nikah kamu sekarang?." Tanyanya lagi.
"Ga juga." Jawabnya Dinda.
"Ya sudah Din, santai saja. Pikirin gimana dapat kerjaan, bukan mikirin cowok." Ucap Tini sekenanya.
__ADS_1
Bersambung dulu yaaa....