
Setelah sarapan nasi uduk, mas Heru mengobrol dengan Dinda. Sambil menonton televisi tanpa adanya Tini, karena Tini mandi kemudian mencuci baju yang kotor.
"Din, nanti siang mas ajak ke rumah teman mau ya. Teman mas syukuran nikahan. Ini teman akrab jadi mas harus datang sama kamu Din. Ya mas malu kalau ke sana datang cuma sendirian, padahal teman mas itu tahu kalau mas punya pacar eh salah maksudnya calon istri." Ucap mas Heru agak serius.
"Ini yang mas waktu itu bilang mau ada acara. Makanya maksa Dinda untuk berangkat ke Cibitung lagi." Ucap Dinda ingat obrolannya waktu itu lewat telphon.
"Iya, maaf waktu itu mas seharusnya ngomong tapi sudahlah, yang penting kamu sudah ada di sini." Ucap mas Heru senyum karena Dinda sudah datang dan berharap ikut kondangan.
"Acaranya jam berapa?." Tanya Dinda.
"Harusnya jam 10 an, tapi kalau kamu masih cape ya nanti saja habis dhuhur." Jawab mas Heru.
"Memangnya hari ini mas libur?." Tanya Dinda lagi.
"Ga, masuk shift 2." Jawabnya singkat.
"Emang nanti ga mepet mas waktunya?." Lanjut Dinda.
"Ga, kan di sana cuma sebentar. Kondangan bentaran, makan minum udahan pulang." Jawab mas Heru sambil tiduran dekat jendela.
"Tapi kan ga enak mas kondangan cuma bentaran, masa sama teman akrab cuma sebentar doang." Protes Dinda.
"Kan di sana nanti ramai Din, banyak teman juga ga cuma mas." Ucap mas Heru beralasan.
"Tetep saja mas, namanya teman akrab jangan bentaran, ngobrol-ngobrol dulu." Ucap Dinda yang penasaran sama teman akrabnya mas Heru sampai di bela-belain bilang calon istri.
"Ya kalau gitu nanti lama, mas kan mau berangkat kerja jam 2 gimana?. Nanti mas bisa terlambat masuk kerjanya." Ucap mas Heru yang mencoba mengakali Dinda.
"Ya sudah kalau jam 10 an. Kita ke sananya jam 9 lewat. Daripada nanti habis dhuhur terus mas terlambat kerja." Ucap Dinda menimbang waktu karena mas Heru masuk shift 2 dan ga ingin terlambat kerja.
"Yes akhirnya mau juga jam 10 an datang." Ucap mas Heru dalam hati dan tersenyum senang karena Dinda sendiri yang minta jam 10 datang ke acara syukuran nikahan temannya.
"Ya sudah kalau kamu maunya begitu, mas ga maksa kan. Mas tadi sudah bilang kalau kamu masih cape ya habis dhuhur saja." Ucap mas Heru memastikan bahwa kondangan jam 10 an itu kemauannya Dinda sendiri.
"Mas Heru ga maksa tapi pemaksaan. Waktu di kampung suruh berangkat, giliran sudah di sini minta jam 10 an. Nah yang seperti itu namanya apa kalau ga pemaksaan. Alasan habis dhuhur nanti mau berangkat kerja shift 2 terus kondangan cuma bentaran. Datang, makan, minum sudah langsung pulang. Mendingan ga usah makan minum, kondangan saja naruh amplop langsung pulang beres kan." Ucap Dinda ketus saking kesalnya entah kenapa.
__ADS_1
"Iya iya maaf, mas maksa kamu Din. Tapi kamu mau sih di paksa sama mas. Jadi jangan kesal sama mas dong. Lha wong kamu sendiri ga keberatan mas paksa." Ucap mas Heru tersenyum berhasil membuat Dinda kesal.
"Siapa yang kesal maaassss." Ucap Dinda masih kesal tanpa melihat mas Heru.
"Kalau kamu ga kesal, ngomongnya ga gitu Diiiiinnnn. Tapi mas suka berarti kamu masih perduli dengan semua yang mas lakukan sama kamu." Ucap mas Heru penuh kemenangan di hati, senang karena Dinda memperdulikan apa yang di bilang sama mas Heru.
"Ga tau ahh." Ucap Dinda menahan senyum karena ucapan mas Heru bahkan masih ketus menjawabnya.
Sementara itu Tini telah selesai dengan acara mandi dan mencuci bajunya. Tini keluar dari dalam kamar mandi sambil menenteng tali ember dengan tangan kanannya. Ember yang berisi beberapa baju yang siap di jemur dan beberapa hanger yang di bawa oleh tangan satunya.
"MasyaAllah, kalian itu yaa. Bisa ga sih berdua ngobrolnya itu yang mesra. Dari tadi di dengerin seperti lagi berantem. Maaf nih bukannya ikut campur urusan rumah tangga kalian. Malu apa ada yang dengar. Aku tuh masih punya telinga yang waras yaaa. Emang lagi ngobrolin apaan sih?." Ucap Tini yang keluar dari kamar mandi ingin tahu sambil berjalan lalu berhenti di ruang tengah sebelum keluar ke teras menjemur bajunya.
"Ini nih mas Heru, ngajak kondangan Tin. Yang kemaren nelphon waktu itu nyuruh datang. Kan maksa banget harus datang, giliran sudah datang ngajak kondangannya cuma bentaran. Maunya datang, makan, minum udahan terus pulang. Kan ga enak masa kondangan bentaran doang." Jelas Dinda ke Tini.
Mas Heru yang mendengar Tini bertanya yang langsung di jawab sama Dinda hanya bisa diam dan senyum-senyum.
"Emang kondangan ke siapa ?." Tanya Tini penasaran.
"Temen akrabnya mas Heru." Jawab Dinda.
"Oo, terus yang jadi masalah apa Din?, kan kondangan sebentar doang ya ga apa-apa." Ucap Tini bertanya dan bingung.
"Iya sudah tahu, ga usah di lanjutin." Ucap Dinda langsung motong ma Heru bicara.
"Lagian yang mas ajak kondangan itu siapa?, kan aku bukan Tini. Masa iya ngajak kondangan ke teman akrab ajak pacar eh salah calon istri cuma bentaran, kan ga enak mas. Nanti dikira sama teman mas itu, kondangan cuma numpang makan sama minum doang." Terang Dinda lanjut.
"Wah bener tuh mas kata Dinda, kondangan di tempat teman apalagi akrab ya jangan bentaran. Paling ga tuh sudah makan dan minum ngobrol dulu lah meskipun cuma bentar ngobrolnya." Ucap Tini membela Dinda.
"Ya sudahlah, kalau sudah dua satu. Oke mas ikut apa kata kamu Din. Daripada nanti malah tambah lama ngobrolnya mendingan sekarang mas mandi siap-siap biar jam 9 an bisa berangkat. Kamu juga tuh Din, mandi terus dandan yang cantik. Kita mau kondangan ya bukan main ke mall heehee." Ucap mas Heru lalu bangun dan berdiri hendak pulang ke kontrakannya.
"Iya mas Heruuuu." Jawab Dinda singkat lalu masuk ke dalam menuju kamar mandi.
Mas Heru tersenyum dan akhirnya berjalan menuju kontrakannya. Sementara itu Tini yang sedang menjemur baju hanya bisa geleng-geleng kepala dan ikutan tersenyum melihat mas Heru tersenyum.
"Mas Heru, jangan lupa ya oleh-olehnya, kan mau jalan berdua heehee." Ucap Tini meledek.
__ADS_1
"Emangnya mau piknik apa ya. Kondangan Tin kondangan." Jawab mas Heru jelas.
*
Sesuai yang dibicarakan sebelumnya, sekitar jam 9 lewat mas Heru sudah siap di depan kontrakan menunggu Dinda.
Dinda keluar dengan dandanan yang cukup baik tidak berlebihan. Mas Heru menatapnya dengan senyum karena setiap hari Dinda tidak berdandan seperti ini.
Cukup lama melihat dan menatapnya sampai mas Heru tak sadar kalau Dinda sudah ada di depannya dan bersiap menaiki jok belakang sepeda motor mas Heru.
"Mas jadi ga berangkat sekarang?. Kok malah bengong sih. Terpesona yaaaa lihat Dinda." Ucap Dinda meledek mas Heru padahal dia sendiri menahan perasaan tak menentu dalam hatinya.
" Eh ,,,, maaf Din. Jadi lah Din, tapi kamu ga ngantuk kan Din?." Ucap mas Heru asal mengurangi rasa terpesonanya pada Dinda.
"Tenang mas, Dinda ga ngantuk, ayo." Jawab Dinda berusaha santai.
Dinda yang membonceng di belakang mas Heru tidak menyangka kalau mas Heru akan membawanya kondangan dan mengenalkannya sebagai calon istri. Meskipun pikiran menikah masih jauh dari pikirannya yang sekarang tetapi hal itu membuatnya senang dan yakin akan keseriusan mas Heru padanya.
*
"Din, terimakasih sudah ke sini lagi dan mau ikut kondangan, juga dandan." Ucap Mas Heru sambil menyetir sepeda motornya dengan tangan kanan sedangkan tangan kiri memegang tangan kiri Dinda yang pegangan di pinggangnya.
"Iya mas, sama-sama." Jawab Dinda sambil senyum.
"Jauh ga mas tempatnya?." Tanya Dinda di perjalanan.
"Ga, sebentar lagi sampai." Jawab mas Heru yang serius mengendarai sepeda motornya.
Sepeda motor mas Heru terus melaju. Memasuki daerah perumahan yang letaknya tidak terlalu jauh dari Cibitung.
Gimana kelanjutannya yaaa,,,,
Yang penasaran ikuti terus karyaku ini.
Like, vote, dan komentarnya masih di tunggu.
__ADS_1
Salam buat semuanya semoga sehat selalu, tetap semangat dan selalu bahagia aamiin.🤲🤲🤲🥰🥰🥰
Bersambung lagiiii...