
Seminggu kemudian Dinda dan Tini datang ke kontrakan belakang tunggal dara. Mereka membayar uang DP sebagai tanda jadi bahwa mereka akan menempati kontrakan kosong yang di maksud.
Seminggu setelahnya, Dinda dan Tini pindah ke kontrakan tunggal dara. Dengan menyewa mobil open cup untuk membawa beberapa barang-barang. Hari sebelum pindahan, mereka berdua sudah pamitan terlebih dahulu kepada pemilik kontrakan lama.
Saat pindahan di hari Minggu kebanyakan orang pada libur kerja. Dinda dan Tini tidak begitu banyak membawa barang. Namun ada beberapa barang yang ukurannya agak besar seperti lemari plastik. Mobil berhenti di ujung gang kontrakan mereka yang baru.
Dinda dan Tini mulai membawa barang-barang satu persatu masuk ke dalam kontrakan. Saat mulai memasukkan barang ada seseorang yang datang ke kontrakan menyapa mereka.
"Baru pindahan ya mba." Tanya seorang pemuda yang lumayan tampan dan terlihat sopan serta baik kepada Dinda.
Dinda menengok ke arah suara. Tiba-tiba jantungnya berdetak tidak karuan. Dinda hanya diam dan melihat orang tersebut.
"Iya mas, maaf mas ngontrak di sini." Jawab Tini ke arah orang tersebut dan balik tanya.
Seketika Dinta tersadar mendengar suara Tini menjawab pertanyaan orang tersebut.
"Iya, nih kontrakan Aku." Jawab orang tersebut sambil menunjuk kontrakannya.
"Ternyata kita tetangga sebelahan ya mas." Ucap Tini setelah melihat mas tersebut menunjuk kontrakannya.
"Iya, ada yang bisa di bantu mba." Tanya orang tersebut menawarkan bantuan.
"Terimakasih mas, ga usah, nanti repoti. Lagian ini sudah selesai juga tinggal sedikit." Jawab Dinda dengan perasaan gugupnya.
Pemuda tersebut tersenyum mendengar jawaban Dinda. Dinda yang melihat senyum itu tiba-tiba jantungnya berdetak tidak karuan. Dinda buru-buru masuk ke kontrakan mencari air minum dalam botol yang di bawanya.
""Glek."
"Glek."
"Glek."
"Glek."
Suara air minum yang di telan Dinda. Dinda masih duduk mengatur detak jantungnya yang mulai beraturan.
"Door." Tini mengagetkan Dinda.
"Astaghfirullahal'adzim, Tini, kaget tahu." Ucap Dinda sambil memegang dadanya yang kaget.
"Kamu kenapa." Tanya Tini.
"Kenapa, emangnya kenapa, ga kenapa-kenapa." Jawab Dinda bingung sendiri saat di tanya Tini.
"Kamu ga apa-apa kan." Tanya Tini melihat Dinda yang bersikap agak aneh.
"Ga apa-apa Tin, cuma haus heehee."Jawab Dinda beralasan ketahuan sikapnya yang agak aneh.
"Ooo, haus, aku kira karena mas yang di depan itu." Ucap Tini meledek melihat Dinda mukanya memerah.
"Apaan, ini karena cape Tin."Jawab Dinda singkat menghindar pertanyaan Tini yang berjalan keluar kontrakan mengambil barang yang tersisa.
Pemuda tersebut duduk di teras kontrakannya. Melihat Dinda mengambil barang yang tersisa di mobil open cup. Setelah itu Dinda membayar uang sewa mobil open cup.
Dinda merasa diperhatikan oleh orang tersebut. Saat melewatinya Dinda tersenyum. Pemuda tersebut juga tersenyum balik.
"Mba beneran ga ada yang mau di bawain." Tanya pemuda tersebut.
"Ga ada mas, ini terakhir." Jawab Dinda sambil senyum malu lalu masuk ke kontrakan.
"Cie cie sepertinya ada yang dapat kenalan baru nih." Ucap Tini sambil menata barang.
"Ada tuh di depan." Jawab Dinda singkat.
__ADS_1
"Sudah tahu namanya." Tanya Tini lagi.
"Belum." Jawab Dinda.
"Kirain sudah kenalan ga taunya belum." Ucap Tini dari dalam ruang tengah.
"Kalau mau kenalan, kenalan sendiri lah. Kan Deket tuh sebelah orangnya lagi duduk di teras." Tutur Dinda
"Entar aja lagi sibuk. Lagian tadi dia sebenarnya nanya itu ke kamu Din, ee yang di tanya diem, malu malu gimana. Padahal mah terpesona kan lihat orangnya." Ucap Tini.
Dinda tidak menjawab ucapan Tini barusan. Dinda memilih membersihkan kontrakan setelah semua barang-barang yang di bawa di tata.
Pintu kontrakan masih terbuka setelah lantainya di pel oleh Tini. Dinda duduk di ruang tengah menyender di tembok.
"Hai, tetangga baru, boleh kenalan." Ucap pemuda tadi di depan pintu kontrakan.
"Hai juga mas, boleh." Dinda kaget tapi langsung jawab.
"Heru, mbanya siapa." Sebut nama sambil ngajak salaman.
"Dinda mas." Jawab Dinda menyambut tangan mas Heru salaman.
"Kalau temannya mba." Tanya mas Heru.
"Tini mas." Jawab singkat.
"Kerja di mana mba." Mas Heru tanya lagi.
"Kerja di pabrik Toyo***. Jawab Dinda singkat.
"Kalau temannya, sama juga apa beda ?."
"Sama mas kami satu pabrik." Ucap Dinda jawab pertanyaan mas Heru.
"Terimakasih, jadi repoti, padahal ga bantuin." Ucap mas Heru menerima teh botol.
"Ga kok mas, ga apa-apa. Adanya ini." Ucap Dinda malu-malu gimana.
Tini yang keluar dari kamar mandi langsung ke depan kontrakan untuk menjemur handuk yang basah.
"Ada tamu Din, maaf permisi ya mas." Ucap Tini ke Dinda saat hendak ke depan kontrakan.
"Iya mba Tini, Saya yang maaf, karena bertamu. Kalian baru pindah, sudah di repoti." Ucap mas Heru.
"Lho mas kan belum kenalan, kok sudah tahu namaku." Ucap Tini kaget di sebut namanya.
"Tadi sudah kenalan mba Tini, sama mba Dinda, terus sekalian nanya nama mba." Jawab mas Heru.
"Ooo sama Dinda, kirain belum kenalan sudah tahu namanya. Kalau mas siapa namanya kan Saya belum kenal." Ucap Tini.
"Saya Heru mba, salam kenal."
"Salam kenal juga mas Heru." Ucap Tini.
"Tin Aku tinggal dulu ya. Maaf mas tak tinggal dulu." Ucap Dinda sebelum pergi.
"Iya." Jawab Tini singkat.
"Lho mau kemana mba Dinda, jadi ga enak nih." Ucap mas Heru.
"Mau ke kamar mandi. Ga apa-apa mas kan ada Tini." Sambil berjalan ke arah kamar mandi.
"Iya mas, Dinda mau mandi kali. Maklum bau mas, malu, masa ada mas ganteng bau heehee." Ucap Tini ledek lalu tertawa.
__ADS_1
Dinda yang sudah masuk ke kamar mandi kurang mendengar jelas apa yang diucapkan oleh Tini barusan. Tini senang karena Dinda tidak mendengar dengan jelas karena tidak menyahut ucapannya yang meledek.
"Masa mba aku ganteng ?, kalau ganteng kira-kira teman mba yang di dalam naksir ga ya." Ucap mas Heru ngasal, karena sedari melihat Dinda ada getaran aneh dalam hatinya.
"Cieeeee seperti lagu terpesona ku pada pandangan pertama. Ga tahu mas, kalau dia belum punya."Jawab Tini meledek juga.
"Maaf mba Tini bercanda kok." Ucap mas Heru.
"Maaf juga mas, Saya bercanda juga. Ga apa-apa kan mas, ga marah kan ya." Ucap Tini membuat suasana santai.
"Iya mba sama-sama." Jawab mas Heru.
"O iya mas Heru kerja di mana?." Tanya Tini lanjut.
"Kerja di pabrik Kayaba." Jawab mas Heru.
"Pabrik kayaba di kawasan mm 2100 kan mas." Tanya Tini.
"Iya mba Tini." Jawab singkat.
"Ada karyawan perempuannya mas." Tanya lagi.
"Ada tapi ga banyak, kebanyakan cowo." Jawab mas Heru.
"Sudah lama kerja di situ mas." Lanjut tanya.
"Sudah 5 tahun." Jawab mas Heru.
"Sudah lama ya, lumayan lah. Karyawan kontrak mas apa karyawan tetap." Tanya lagi.
"Masih kontrak mba, belum jadi karyawan tetap." Jawabnya.
"Kok kontrak lama mas sampai 5 tahun." Tanya Tini penasaran.
"Iya mba di perpanjang terus." Jawab mas Heru.
"Maaf mba barangkali mau istirahat, Saya tak pulang dulu. Makasih ngobrolnya dan juga teh botolnya. Semoga betah ya mba ngontrak di sini." Ucap mas Heru.
"Ooo iya mas sama-sama." Jawab Tini.
Mas Heru kembali ke kontrakannya yang beda cuma satu kontrakan atau di sebelahnya. Dinda keluar dari dalam kolam kemudian menjemur handuknya. Sembari menikmati sore yang cukup melelahkan, Dinda berbaring di atas kasur gelar di ruang depan setelah menutup pintu kontrakan dan membiarkan jendela terbuka.
Tini yang ikutan rebahan di sebelah Dinda menikmati juga rasa lelahnya. Berdua tiduran di ruang depan kontrakan di temani kipas angin yang berputar.
"Din, tadi ngobrol sama mas Heru ternyata orangnya enak." Ucap Tini mengawali obrolannya.
Dinda hanya terdiam tidak menyahut omongan Tini barusan, dan matanya terpejam.
"Din, sepertinya orangnya ramah, baik, terus di ajak bercanda itu nyambung." Ucap Tini lagi.
"Dia ngontrak di sebelah, enak nih Din bisa minta tolong sama Dia buat pasang kabel colokan."Saran Tini.
"Din, denger ga sih Aku ngomong. dari tadi diam bae, sariawan ya. Ngomong apa, gimana pendapat kamu tentang mas Heru." Tini masih saja ngajak ngobrol.
"Mmmmm, ternyata tidur. Bilang apa Din kalau kamu mau tidur. Jadi Aku ga ngomong sendiri." Ucap Tini kesal dari tadi ternyata ngomong sendiri ga di sahutin sama Dinda karena di tinggal tidur.
Sebenarnya Dinda mendengar ucapan Tini, karena sesungguhnya Dinda tidak tidur. Dia hanya memejamkan matanya karena malas membahas obrolan yang menurut Dinda ga penting.
Sebenarnya Dinda juga terbayang-bayang saat pertama kali bertemu pandang dengan mas Heru. Tatapannya teduh dan menenangkan hati yang menatapnya.
Meskipun tiba-tiba jantung Dinda bergetar. Namun itu hanya sementara, selama mas Heru ada di kontrakan. Setelah mas Heru pamitan pulang, jantung Dinda berangsur-angsur berdetak normal kembali.
Nah kejadian apa lagi yang akan di alami oleh Dinda juga Tini. Saksikan dan ikuti terus kisahnya dalam karyaku ini. Semoga sehat selalu untuk semuanya, salam bahagia selalu.
__ADS_1
Tetap semangat yaaa💪💪💪🥰🥰🥰🌹🌹🌹 bersambung lagi.....