Cikarang ( Pekerjaan Dan Cinta )

Cikarang ( Pekerjaan Dan Cinta )
Episode 76. Masa kerja telah selesai.


__ADS_3

Hari terakhir kerja sudah diambang pintu. Masih belum ada pengumuman dari pihak leader. Dinda maupun Tini sudah pasrah akan nasibnya yang hanya kerja sebagai karyawan dengan waktu tertentu.


Yah kerja dengan kontrak jika di perpanjang alhamdulillah masih rezekinya. Jika habis kontrak maka akan mencari pekerjaan lagi. Kecuali jika menjadi karyawan tetap maka tentulah sudah aman. Namun ternyata hal itu juga tidak berlaku karena ada juga yang sudah menjadi karyawan tetap akan di berhentikan jika memang bermasalah entah pekerjanya atau perusahaannya.


"Din, Minggu besok terakhir kerja. Gimana sudah ada kabar belum dari leader kamu?." Tanya Tini sambil rebahan di atas kasurnya.


Hari Minggu menjelang habis kontrak Tini dan Dinda hanya di dalam kontrakan. Mereka ingin menenangkan pikiran karena akan habis masa kerjanya.


"Belum ada kabar Tin, Kata karyawan tetap biasanya kalau mau habis kontrak sudah ada pengumuman di perpanjang atau tidak." Jawab Dinda yang duduk sambil merapikan bajunya di lemari kemudian duduk di ruang tengah.


Tini bangun dari tidurannya pindah ke ruang tengah. Duduk di dekat jendela, menatap ke arah luar dengan jendela yang terbuka.


"Din, coba jadi karyawan tetap, enak ya ga usah nyari kerja karena habis kontrak." Ucap Tini lanjut sambil memandang ke arah luar dari jendela.


"Ya ga juga Tin. Karyawan tetap sih enaknya mungkin itu ga usah nyari kerja lagi karena habis kontrak. Tapi tanggung jawab kerjaannya Tin, sesuai dengan target. Beda dengan kita yang karyawan kontrak. Target masih bisa nego, karyawan tetap ga bisa nego harus wajib." Jawab Dinda yang sedikit tahu.


"Paling ga ga usah nyari kerja lagi karena habis kontrak kerja." Kesal Tini.


"Iya, intinya bersyukur saja Tin." Dinda menyudahi perdebatan yang ga penting.


"Eh Din, sudah tahu, itu si cewek kemaren yang bareng sama mas Heru?." Tanya Tini teringat mas Heru dan si cewek yang diboncengi.


"Belum, Aku ga nanya, takut dan malu. Mas Heru juga ga ngomong. Sudah ahh, biarin sih Tin, lagian nanti juga ketahuan." Jawab Dinda yang membiarkan hal tersebut selagi tidak mengganggu hubungannya dengan mas Heru.


"Kalau Aku jadi kamu Din, Aku nanya ke mas Heru. Ga usah takut dan malu, karena dia boncengi itu cewek." Ucap Tini jelas.


"Mmmm, iya deh nanti setelah urusan pekerjaan ini jelas. Mau diperpanjang atau tidak diperpanjang, tetap saja cari kerja, kerja dan kerja." Jawab Dinda teringat mas Heru.

__ADS_1


*


Seminggu sudah, akhirnya waktu habis kontrak pun telah tiba. Dinda dan Tini juga telah menerima keputusannya bahwa mereka diberhentikan karena sesuai perjanjian kerja.


Kini mereka berdua telah resmi menjadi pengangguran. Menyandang status pengangguran, membuat mereka memutuskan untuk pulang ke kampung untuk sementara waktu.


"Kalau Aku pulang kampung, di sini ga masalah Din. Palingan tetangga yang nyari dan nanya. Emangnya kamu, bukan tetangga juga yang nyari tapi pacar kamu pasti nanya." Ucap Tini setelah membereskan beberapa baju ke dalam tasnya dan beberapa lembar kertas berkas untuk melamar kerja di BKK sekolah di kampung.


"Biarin lah Tin, itu urusan belakang. Yang penting kita pulang kampung dulu sementara waktu. Selain ketemu orang tua juga nyari kerja lagi lewat BKK sekolah di kampung." Jawab Dinda yang juga membereskan beberapa pakaian dan juga beberapa lembar kertas berkas lamaran kerja.


Dinda dan Tini sepakat untuk pulang kampung terlebih dahulu setelah mereka mendapat surat packlaring dari pabrik Toyo***.


Surat packlaring atau surat keterangan sudah pernah kerja di pabrik tersebut. Sebagai salah satu surat yang berharga bagi mereka berdua.


"Din mau pamitan sama mas Heru ga besok pagi?." Tanya Tini lanjut.


"Ga ke orangnya langsung Din, ke kontrakan gitu. Mas Heru sepertinya di rumah. Tadi sebelum Maghrib, sepertinya mas Heru sudah pulang kerja." Ucap Tini menyarankan.


"Ga enak lah Tin. Dia baru pulang kerja terus Aku ganggu gitu cuma buat ngomong pamitan, besok mau pulang kampung." Jawab Dinda yang bertolak belakang dengan hatinya yang sebenarnya ingin bertemu sekedar pamitan.


"Din, ga usah tuh pikirin ga enak. Sudah sana pergi pamitan, kasihan anak orang. Lagian kamu kan ga ada masalah yang serius kan sama mas Heru. Cuma penasaran sama tuh cewek. Eh Din sebenarnya masih mending nahan lapar tahu Din, daripada nahan rindu." Ungkap Tini mengingatkan biar bagaimanapun mereka masih sebagai sepasang kekasih.


"Iya nanti habis isya mampir." Ucap Dinda ga merasa lagi ga enak.


"Bagus lah kalau begitu. Siapa tahu di kasih ongkos buat pulang kampung, kan lumayan Din buat menghemat pengeluaran kita." Ucap Tini meledek.


"Tin, kalaupun di kasih ongkos, yaa kan buat ongkos Aku lah. Menghemat pengeluaran Aku bukan kita eh kamu Tin Wee." Jawab Dinda ledek balik sambil menjulurkan lidahnya sedikit keluar.

__ADS_1


"Yaaa jangan gitu doooong Din, bagi dua ngapa. Kasihan Aku juga, Aku kan habis kontrak juga. Masih butuh biaya hidup yang banyak." Ucap Tini merasa ingin di kasihani karena menjadi pengangguran.


"Lhaa kan dia eh mas Heru pacarnya Aku bukan pacarnya kamu Tin." Jawabnya Dinda.


"Cie cie mentang-mentang punya pacar, ledek nih sama Aku yang jomblo tulen." Ucap Tini lanjut.


"Emang, biarin kan punya cowo. Emang situ jomblo tulen, kan ga usah ngomong, orang juga tahu kali Tin kamu ga punya cowok eh pacar." Jawab Dinda masih dengan ledekan nya.


"Iya iya deh yang jomblo ngalah dulu sama yang punya cowok eh pacar." sama-sama bercanda mengisi waktu daripada pusing tentang mencari pekerjaan lagi nantinya.


Mereka menyudahi obrolan ringan yang saling bercanda satu sama lain. Sama-sama menyandang status pengangguran tapi berbeda status tentang sebuah hubungan dengan lawan jenis.


Setelah sholat isya selesai, Dinda ingin main ke kontrakan mas Heru untuk pamitan mau pulang kampung. Karena habis kontrak, ingin mencari lowongan kerja baru melalui BKK sekolah terlebih dahulu.


"Tin ikut yuk ke kontrakannya mas Heru. Aku ga enak lah main sendiri. Yuk temenin sebentar doang, kan cuma mau pamitan saja." Pinta Dinda minta ditemani main ke kontrakan mas Heru cuma untuk sekedar pamitan.


"Ya udah deh Aku temenin. Sebentar doang kan, cuma mau pamitan." Ucapnya Tini mengiyakan padahal mau meledek lagi Dinda.


"Iya sebentar doang Tin. Kan cuma mau pamitan pulang kampung. Ga lama, ga enak juga sama tetangga." Ucapnya Dinda.


"Ya sudah, yuk." Ajak Tini langsung.


Nah Reader gimana kelanjutannya simak lagi di episode berikutnya yaaa.


Maaf baru up, kemaren Author seharian ada urusan keluarga jadi ga bisa mikir untuk buat karya. Karena kondisi dan keadaan.


Terimakasih masih membaca karyaku ini. Vote, like, dan komennya yaaa.

__ADS_1


Salam sehat selalu dan semoga bahagia.🥰🥰🥰


__ADS_2