
Sebulan sudah Dinda dan Tini tinggal di kontrakan di gang belakang tunggal dara Cibitung. Sebulan itu pula mereka beradaptasi dengan lingkungan baru termasuk tetangga kontrakan.
Saling mengenal satu sama lain membuat Dinda dan Tini mengenal siapa tetangga kontrakannya. Selain Anik yang sudah mereka kenal terlebih dahulu.
Mereka semua bekerja di pabrik yang berbeda. Di lihat dari seragam kerja yang mereka pakai. Menjadi cerita baru untuk Dinda dan Tini. Membuat mereka tahu beberapa informasi tentang pekerja dan pabriknya.
Sebulan itu pula, meskipun bersebelahan dengan mas Heru, mereka jarang bertemu. Karena bekerja dengan sistem shift, menjadikan mereka tidak sering bertemu dan mengobrol.
Suatu hari di bulan berikutnya, mas Heru main ke kontrakan. Karena melihat Dinda yang sedang memotong kuku tangan dan kakinya di teras kontrakan.
"Libur Din, tumben di rumah." Sapa mas Heru.
"Emang setiap Minggu Aku libur mas. Mas Heru tuh yang kerja terus, meskipun hari Minggu tetep saja masuk kerja." Jawab Dinda masih dengan memotong kukunya setelah melihat mas Heru yang menyapanya.
"Gimana lagi, karyawan kontrak ya harus nurut kalau di suruh berangkat. Kalau ga nurut bisa-bisa ga di perpanjang." Jawab mas Heru lalu ikutan duduk di teras kontrakannya.
"Gitu ya mas, mas Heru pantas jadi karyawan teladan." Ucap Dinda asal.
"Ga juga, cuma karyawan biasa." Mas Heru merendah.
"Ada mas Heru ya Din, tumben libur mas." Tanya Tini setelah keluar mendengar percakapan mereka.
"Iya, mas Heru libur." Jawab Dinda.
"Liburnya sekarang nanti siang juga berangkat." Jawab mas Heru.
"Masuk shift siang mas." Tanya Dinda kaget padahal baru tadi pagi pulang kerja.
"Iya, pergantian shift." Jawab mas Heru.
"Bukannya mas Heru tadi pagi baru pulang kerja, ga ngantuk mas." Tanya Tini ikutan bingung.
"Sebenarnya ngantuk, makanya keluar sebentar buat cuci mata." Jawab mas Heru asal.
"Cuci mata itu ke kamar mandi mas, masa keluar." Ucap Tini.
"Ya keluar soalnya ada yang buat mata melek ingin lihatin terus. Meskipun ngantuk, tapi tetep inginnya lihatin terus." Ungkap mas Heru sambil menatap Dinda.
Tini yang melihat mas Heru menatap Dinda segera menyenggol tangan Dinda agar sadar kalau mas Heru memperhatikannya.
Dinda yang tersadar tangannya di senggol segera bangun dan masuk ke dalam kontrakan menahan detak jantung yang tiba-tiba berdetak dengan cepat.
Mas Heru sadari Dinda tengah mengontrol detak jantungnya terlihat dengan lirikan matanya menahan malu karena di perhatikan olehnya.
"Tin, tinggal dulu ya, mataku jadi ngantuk nih. Yang dilihatin sudah pergi, jadi pengin tidur biar lihatinnya di dalam mimpi saja. Biar yang dilihatin ga malu dan pergi heehee." Ucap mas Nur sambil bercanda.
"Gitu ya mas, bisa saja mas Heru ini kalau bercanda. Memangnya bakalan ketemu apa di mimpi." Tanya Tini meledek.
"Ya kali ketemu Tin, syukur-syukur jadi nyata." Ungkap mas Heru.
__ADS_1
"Iya deh yang baru ciee ciee." Tini malah tambah asik ledek.
Mas Heru masuk ke dalam kontrakannya. Tini pun masuk juga ke dalam kontrakan namun pintu kontrakan masih terbuka.
"Din, hari ini main ke kontrakan mba Lilis yuk. Sudah lama ga ke sana." Ajak Tini.
"Memangnya hari ini ga ada acara Tin. Ya kali belanja, apa beli sesuatu." Tanya Dinda.
"Mmmm, ga ada sih, cuma beli sabun cuci sama detergen. Gampang, itu nanti saja pulang dari main kontrakan mba Lilis. Aku kangen sama dia." Jawab Tini.
"Ya sudah, sekarang saja mumpung belum terlalu panas." Ajak Dinda.
"Yuk, Aku ganti baju dulu." Ucap Tini.
Setelah Tini dan Dinda siap, mereka berangkat menuju ke kontrakan mba Lilis. Sudah lebih dari dua bulan mereka tidak main ke kontrakan mba Lilis.
Seperti biasa mereka naik angkutan umum k 39c. Dari arah Cibitung menuju warung bongkok. Sesampainya di pertigaan Warung bongkok mereka turun dari angkutan umum. Berjalan menuju gang kontrakan mba Lilis.
"Dinda, Tini, kalian mau ke mana?." Tanya seseorang setelah memanggil mereka.
"Mba Lilis." Ucap Dinda dan Tini bersamaan.
"Kebetulan mba, kita mau ke kontrakan mba Lilis." Jawab Tini.
"Iya mba, kita mau main, sudah lama ga ketemu." Ucap Dinda bergantian.
"Untung ketemu di sini, ya sudah sekalian saja, bareng yuk, tapi Aku mau beli gorengan dulu ya." Ucap mba Lilis mengajak mereka bareng.
"Di tempat biasa itu di depan masjid." Jawab mba Lilis.
"Yang gorengannya gede-gede ya mba, murah masih 500 perak." Ucap Dinda memastikan.
"Iya, yuk ikut sekalian." Lanjut mba Lilis ngajak mereka berdua.
Mereka ikut mba Lilis jalan menuju ke penjual gorengan yang mangkal di depan masjid. Selain murah harganya masih 500 an, gorengannya juga terbilang gede-gede di bandingkan penjual gorengan yang lain. Rasanya juga enak renyah, gurih dan cabenya ga sedikit.
Mereka membeli gorengan yang ramai pembelinya. Karena ramai, mereka menunggu antrian. Tiba pada antrian mba Lilis untuk di layani, seseorang tiba-tiba menyapa mereka.
"Mba Lilis." Sapa seseorang.
"Indah." Mba Lilis menengok dan terkejut ketika yang menyapanya adalah Indah.
"Beli gorengan ya mba?." Tanya Indah basa basi.
"Iya, ini sekalian ke luar kebetulan ketemu mereka. Jadi sekalian bareng saja." Terang mba Lilis.
"Sama mba, Aku juga mau beli gorengan. O iya nanti bareng saja mba jalannya biar ramai." Ajak Indah.
"Memangnya Indah mau ke mana?." Tanya mba Lilis balik.
__ADS_1
"Mba Lilis mau pulang ke kontrakan kan." Ucap Indah memastikan.
"Iya Aku mau pulang ke kontrakan, ini mereka mau main." Jelas mba Lilis.
"Iya makanya nanti bareng saja. Sekalian sama Aku, Aku mau ke kontrakan mas Nur. Tadi beli makanan dan buah ini sekalian gorengan, mau nengokin mas Nur." Ucap Indah.
"Memangnya mas Nur kenapa ?." Tanya mba Lilis.
"Mas Nur sedang sakit, kemaren Aku ke kontrakan, dia ga masuk kerja, badannya mriang gitu mba." Tutur Indah.
Dinda agak terkejut mendengar mas Nur sakit demikian juga dengan Tini. Ga menyangka bisa ketemu Indah dan tahu keadaan mas Nur. Namun mereka hanya diam dan mendengarkan mba Lilis ngobrol dengan Indah saja.
"Pantesan biasanya Aku lihat mas Nur pulang kerja, kemaren ga. Aku pikir dia lembur." Ucap mba Lilis.
Mba Lilis membayar gorengan yang di belinya, gorengannya masih panas. Kemudian Indah, selain makanan dan buah yang dia bawa, dia juga membawa gorengan.
Akhirnya mereka berempat berjalan bersama menuju gang kontrakan. Indah berjalan dengan mba Lilis. Sedangkan Dinda berjalan dengan Tini.
Sesampainya di depan kontrakan mba Lilis, Indah tersenyum dan lanjut berjalan ke arah kontrakan paling ujung.
Mba Lilis membuka pintu kontrakan, dan masuk sambil membawa barang yang di belinya. Sedangkan Indah langsung masuk ke kontrakannya mas Nur.
Mas Nur yang melihat Indah membawa makanan, buah, dan juga gorengan hanya bisa tersenyum.
Di tempat kontrakan mba Lilis, Dinda, dan juga Tini saling mengobrol sambil ditemani sepiring gorengan dan juga minuman.
Mereka cerita pindah kontrakan, tetangga kontrakan termasuk mas Heru yang selalu memperhatikan Dinda.
Mas Nur yang agak mendengar ramai suara seperti banyak orang di tetangga kontrakan, mencoba bangun dari tidurnya dan berjalan keluar kontrakan. Setelah seharian hanya tiduran karena badannya kurang sehat.
Melihat ke sekitar kontrakan ternyata yang ramai suara ada di kontrakannya mba Lilis. Merasa curiga dengan adanya tamu di kontrakannya mba Lilis, mas Nur berjalan menuju ke kontrakannya mba Lilis.
"Mas Nur, mau ke mana. Jangan jauh-jauh belum sehat bener." Cegah Indah yang melihat mas Nur mau berjalan setelah menaruh makanan dan minuman di ruang depan kontrakan.
"Ga Indah cuma, mau berjalan sebentar lemasin kaki biar ga kaku." Jawab mas Nur beralasan.
"Nanti saja mas, ini sudah agak siang, mas makan dulu." Cegah Indah dan ajak mas Nur untuk makan.
"Mmm, nanti saja, Aku belum lapar." Balas mas Nur.
"Mas nanti kamu ga sembuh kalau begitu caranya. Makan dulu, baru jalan-jalan." Indah memaksa sambil menggandeng mas Nur masuk ke dalam kontrakan untuk makan.
Mas Nur mencoba mengelak, tapi Indah memaksa. Penasaran dengan orang yang berada di kontrakan mba Lilis mas Nur mencoba untuk mendengar suara dan mengenalinya.
Suara yang terdengar tidak jelas di telinga mas Nur. Mas Nur begitu penasaran siapa mereka apakah orang tersebut adalah orang yang selama beberapa bulan ini mas Nur rindukan.
Sambil makan makanan yang Indah belikan, mas Nur masih berpikir siapa mereka. Apakah teman mba Lilis ataukah Dinda dan Tini yang datang.
Namun mengingat status hubungannya kini, mas Nur berusaha menenangkan perasaannya sendiri. Menjaga perasaan orang yang ada di depannya untuk tidak membuat keributan lagi seperti waktu itu.
__ADS_1
Bagaimana kelanjutannya, simak terus karyaku ini ya. Bersambung dulu.....