Cikarang ( Pekerjaan Dan Cinta )

Cikarang ( Pekerjaan Dan Cinta )
Episode 66. Kenapa bohong.


__ADS_3

"Degg."


Terkejut Anto dan Samsul mendengar Heru memperkenalkan Dinda sembari memberikan piring dan Aqua gelas.


Jadi yang mereka bicarakan ternyata orangnya ada di depan mereka sendiri. Seketika mereka saling menyenggol lengan. Merasa tidak enak yang di bicarakan di belakang taunya mendengar. Dalam hati semoga cewe Heru tidak maksud dengan orang yang dibicarakan.


"Mmm." Dinda tersenyum kepada mereka berdua sambil menundukkan kepala sedikit.


"Makan dulu Din, mas mau ambil lagi." Mas Heru hendak mengambil makanan lagi, karena tadi hanya membawa satu piring saja untuk Dinda.


"Maaf mba, ga tahu kalau mba itu ceweknya Heru." Ucap Anto memulai obrolannya sambil makan makanannya yang tinggal sedikit.


"Tidak apa-apa mas, kan ga kenal, belum pernah lihat juga." Balas Dinda ga enak terhadap temannya mas Heru.


"Sudah lama kenal sama Heru mba?." Tanya Samsul.


"Lumayan mas." Jawab Dinda singkat sambil mengunyah makanannya.


"Nambah lagi To, Sam." Tawar mas Heru sambil duduk dan membawa sepiring nasi dan lauk pauknya.


"Ga Her, ini saja sudah kenyang." Jawab Anto.


"Mau nambah malu Her, tadi saja sudah sepiring, ga enak nanti yang lain ga kebagian heehee." Jawab Samsul bercanda.


"Mas, ini kebanyakan, emangnya porsiku segini?. Nih buat mas saja." Ucap Dinda sambil menaruh nasi dan lauk dari piringnya ke piring mas Heru.


"Din, sengaja biar kamu makan banyak, biar ga kurus. Ini yang ada nanti mas kekenyangan, kebanyakan Din." Jawab mas Heru melihat Dinda menaruh makanannya di piring mas Heru.


"Biarin, salah siapa ambilnya kebanyakan wee." Ucap Dinda kemudian menjulurkan lidahnya membuat mas Heru gemas.


"Her, kami duluan ya, mari mba." Ucap Anto dan Samsul berpamitan pulang.


"Iya To, Sam, hati-hati." Ucap mas Heru.


Dinda hanya tersenyum dan mengangguk saja karena sedang makan. Melihat mereka berpamitan pulang, Dinda teringat perkataan obrolan mereka tadi. Namun Dinda tidak bisa memastikan bahwa yang mereka bicarakan sebenarnya dirinya dan mas Heru.


Setelah selesai makan, Dinda duduk sambil menunggu mas Heru. Karena mas Heru di panggil temannya yang lain dan ngobrol bareng. Dinda hanya bisa diam dan melihat- lihat sekitar.


"Din, maaf mas asik ngobrol sama teman jadi lama kondangannya." Ucap mas Heru setelah duduk kembali di samping Dinda lalu tersenyum.


"Ga apa-apa mas."Jawab Dinda dengan senyumnya.


"Yuk pamitan terus langsung pulang apa mau jalan kemana?." Ajak mas Heru.


"Sekarang jam tiga, mau pulang apa mau jalan terserah mas saja yang penting pulangnya jangan sampai maghrib." Jawab Dinda.


"Terserah mas nih beneran, jangan marah atau ngambek ya. Mas mau ajak jalan-jalan, yuk pamitan dulu." Ajak mas Heru yakin mau jalan-jalan.


Mereka pamitan kepada temannya mas Heru yang nikahan. Setelah pamitan juga dengan teman-teman mas Heru yang lain, akhirnya mereka pulang. Namun bukan pulang ke kontrakan melainkan jalan-jalan menikmati sore hari.

__ADS_1


Mas Heru menjalankan motornya dengan pelan, menyusuri jalan dari Cibitung ke kawasan mm 2100. Dinda juga tahu betul jalan yang di lalui sekarang adalah jalan kawasan industri mm 2100.


"Din, nongkrong bentar yuk di pinggir danau dekat pabrik Honda." Ajak mas Heru semangat.


"Terserah mas, Aku ngikut aja." Jawab Dinda santai.


Benarkah orang yang di maksud mereka tadi mas Heru yang sekarang jalan bareng denganku." Terlintas di benak pikiran Dinda untuk sesaat.


"Tapi apa alasannya mas Heru jika benar begitu?." Tanya Dinda pada dirinya sendiri.


"Aku harus sabar dan tidak boleh bertanya, kecuali mas Heru menjelaskannya sendiri." Ucap Dinda dalam pikiran dan hati.


"Din, Din, kok bengong." Panggil mas Heru menatap Dinda seakan sedang melamun.


"Eh maaf mas, kenapa?." Tanya Dinda balik.


"Lhoh malah balik nanya mas kenapa?. Harusnya mas yang tanya kamu kenapa dari sejak motor berhenti sampai mas standart kamu diam saja dan melamun. Hayooo lamunin apaan?." Mas Heru bingung dengan diamnya Dinda.


"Ga lamunin apa-apa mas, cuma ngantuk heehee." Dinda pura-pura lelah dan menguap tanda mengantuk.


"Kirain mas lamunin mikirin kalau nikah kaya gitu ga ?." Ledek mas Heru.


"Iiiiihhhh apaan sih mas, ga lucu." Jawab Dinda sambil mencubit kecil pinggang mas Heru.


"Awww, sakit Din, jangan mancing mas apa Din." Ucap mas Heru sambil mengelus-elus bekas cubitan Dinda.


"Lha itu sih bener mancing ikan, kalau ini mancing Otong." Jawab mas Heru masih ledek bercanda sambil menunjuk bagian senjata tombak saktinya.


"Iiihhh apaan sih mas, malu ahh. Apalagi di lihat orang. Mana tambah sore tambah banyak, pulang saja yuk mas." Ucap Dinda yang reflek melihat ke arah senjata tombak sakti milik mas Heru yang sudah ingin menusuk.


"Iya maaf, jangan pulang dulu ya yang. Sebentar lagi, jam empat ya pulangnya. Mas masih ingin berdua sama yayang Dinda mmm." Ucap mas Heru manja sambil memegang kedua tangannya lalu tersenyum senang.


"Jam empat, beneran ya mas. Terus itu turunin mas malu ahh lihatnya. Kenapa jadi berdiri mas?." Ucap Dinda yang sudah memerah mukanya karena tanpa sengaja melihat tonjolan membesar diantara ************ mas Heru.


Mas Heru memakai celana jeans makanya terlihat jelas ketika mengembang. Dinda masih duduk menyamping di bangku motor sedangkan mas Heru berdiri di depannya. Karena kedua tangannya di pegang dan tatapan Dinda ke arah kedua tangannya, maka Dinda melihat tombak saktinya mas Heru. Meskipun terbalut celana jeans-nya.


Mas Heru tersenyum karena Dinda melihat tombak saktinya yang menyembul. Entah kenapa sentuhan tangannya yang menyentuh tangan Dinda membuatnya berdiri. Sekuat tenaga mas Heru membuatnya kembali ke kondisi semula.


"Mas juga ga tahu Din, kenapa berdiri. Sejak mas bertemu kamu, dan merasa punya perasaan sama kamu, kemudian kita dekat, yaaa itu tahu-tahu begitu sendiri." Jelas mas Heru.


"Bohong banget, rayu ya mas. Ya Allah tolong hamba dari godaan syetan Heru." Goda Dinda dengan candaan.


"Hee hee hee, setan, salah Din, masa setan sih." Goda mas Heru lagi.


"Terus apa dong kalau bukan setan." Tanya Dinda penasaran jawaban mas Heru.


"Yang benar tuh iblis penggoda. Soalnya mas goda kamu terus yang. Tapi kalau kamu kuat mas goda ya ga masalah kaaan. Tapi lain halnya jika kamu tergoda terus di goda mau, baru itu masalah." Tutur mas Heru.


"Tau ahh." Jawab Dinda kesal lalu terdiam menikmati pemandangan danau kawasan mm 2100.

__ADS_1


Mas Heru yang memperhatikan Dinda bertanya-tanya dalam hati. Kenapa sikapnya agak aneh mungkinkah dia mendengar sesuatu di tempat kondangan tadi.


Sejak mau makan di tempat hajatan, sampai sekarang ada yang berbeda dari Dinda. Entah apapun itu menggangu pikiran mas Heru. Tetapi mas Heru tidak berani bertanya kecuali Dinda menanyakannya.


Mereka hanya duduk di motor berdua memandang ke arah danau, sesekali melihat pemancing. Selain mereka juga ada banyak orang lain yang datang menikmati sore di danau kawasan mm 2100. Dan banyak juga yang lewat di kawasan pabrik mm 2100 meskipun hari itu hari minggu.


Tepat pukul empat sore, mas Heru kembali menjalankan sepeda motornya untuk kembali pulang ke kontrakan. Sepanjang jalan Dinda hanya diam tidak bertanya apapun.


Sesampainya di kontrakan, mas Heru masuk ke kontrakannya dan Dinda pun melakukan hal yang sama. Dinda menunaikan ibadah sholat ashar. Setelah sholat, Dinda berbaring di atas kasur masih memikirkan obrolan temannya mas Heru.


"Apa benar mas Heru ini yang di maksud. Kalau iya, berarti mas Heru bohong dong." Kata-kata yang berada di dalam pikiran Dinda.


"Din, pulang kondangan lama, emangnya jauh ya tempatnya." Tanya Tini ingin tahu.


"Ga jauh Tin, cuma di perumahan gramapuri Cibitung." Jawab Dinda.


"Iya itu Cibitung sebelah mana Din, Aku ga tahu?." Tanyanya lagi.


"Ramayana ini Cibitung masih lurus terus, nanti ada pasar induk masuk jalan. Terus lagi Tin, lewati rel kereta api, masih lurus, nanti ada gerbangnya menghadap timur, nah itu di situ gerbang perumahan gramapuri masuk Tin. Jalan apa lupa yang mau ke rumah temennya mas Heru yang hajatan syukuran nikahan." Terang Dinda panjang lebar.


"Ga tau ahh." Jawab Tini.


"Iya taunya pasar Warung bongkok, Ramayana Cibitung, sama SGC doang yaaa heehee." Terka Dinda yang ledek Tini.


"Ya gitulah Din, habisnya ga pernah jalan-jalan, iya kan." Jawab Tini membenarkan.


"Iya juga sih mmm mmm." Teringat Dinda sendiri sambil senyum-senyum.


"Terus tadi gimana di sana?, Rame." Tini tanya lagi.


"Rame lah Tin namanya juga hajatan syukuran nikahan. Tamunya pasti banyak dan banyak yang ga kenal juga heehee." Jawab Dinda.


"Ada yang aneh ga Din. Maksudnya tanya- tanya sama kamu.


"Ada cuma ga langsung sama Aku. Tanyanya sama yang syukuran dan sama mas Heru. Aku sempat malu, tapi yaaa sudahlah. Jawab Dinda.


"Habis dari kondangan jalan-jalan ga Din, secara nih kalian kan lagi hot hot nya menjadi pasangan serasi Minggu ini." Tanyanya sambil meledek.


"Jalan-jalan ke danau kawasan mm 2100 Tin." Jawab Dinda sambil memejamkan mata.


"Tin tolong ya, kalau mas Heru ke sini bilang aku cape mau tidur dulu ngantuk." Pinta Dinda.


"Iya, nanti kalau ke sini tak bilangin Dinda pingsan." Ucap Tini.


Candaan Tini tidak diladeni lagi oleh Dinda. Dinda tertidur meskipun tidak terlelap. Hanya memejamkan matanya dan masih berpikiran tentang orang yang ngobrol di tempat hajatan.


"Aneh sih, seperti ada sesuatu antara mas Heru dan Dinda." Tebak Tini dalam pikirannya tanpa berkata atau bertanya langsung dengan Dinda.


Bersambung lagi ya gaess, Author ngantuk berat. Sampai ketemu di episode berikutnya see you....

__ADS_1


__ADS_2