Cikarang ( Pekerjaan Dan Cinta )

Cikarang ( Pekerjaan Dan Cinta )
Episode 35. Tahapan menjadi karyawan.


__ADS_3

Setelah penjelasan tentang tahapan yang akan dijalani oleh calon karyawan, mereka akhirnya mulai terlihat tidak tegang.


*


Hai-hai reader jangan ikutan tegang dooonngggg. Jumpa lagi dengan author yang lamaaaaaa up-nya karena kebanyakan semedi. Bukan cari wangsit atau apa yaaa reader, ini semedinya cari bahan eh ide buat melanjutkan cerita novel ini. Okelah kita lanjutkan cerita kisah pencarian kerja Dinda, cus di simak.


Mendengar penjelasan demi penjelasan untuk tahapan selanjutnya, Dinda dan Tini serta calon karyawan lainnya mulai mengerti. Bahwa ada tahapan dimana para calon pekerja harus mendapatkan izin dari orang tua atau wali untuk bekerja sesuai peraturan perusahaan.


Dimana ada peraturan yang mengharuskan bahwa karyawan bekerja sesuai dengan shift kerja. Dan di dalam shift kerja itu ada shift kerja masuk malam. Bagi yang pernah bekerja di perusahaan yang mengalami kerja shift akan mengerti, namun bagi yang belum pernah agak sedikit bertanya-tanya.


Perwakilan perusahaan tahu betul, bagaimana menjelaskan tentang tahapan-tahapan tersebut. Mereka ingin agar calon karyawan mengerti dengan jelas baik yang sudah pengalaman kerja maupun yang belum.


Setelah penjelasan berakhir mereka diberi formulir pernyataan izin dari orang tua atau wali calon karyawan. Surat tersebut nantinya harus di isi oleh calon karyawan dengan lengkap dan ditandatangani oleh orang tua atau wali tersebut.


"Semuanya sudah mendapatkan formulir belum?, apa ada yang belum mendapatkan formulir ini?." Tanya perwakilan perusahaan sesaat setelah membagikan formulir sambil mengangkat selembar kertas formulir.


"Sudah pa." Jawab calon karyawan dengan kompak.


"Sekedar mengingatkan kembali, tolong dilihat formulir tersebut baik-baik. Dan tolong kalian isi formulir tersebut dengan lengkap selengkap lengkapnya, karena itu akan menjadi data untuk perusahaan. Jelas semuanya?." Perwakilan perusahaan mengingatkan calon karyawan bahwasanya formulir tersebut harus di isi lengkap.


"Jelas pa." Jawab calon karyawan serempak.

__ADS_1


"Karena sudah jelas, maka dari kami cukup sekian. Untuk tahapan-tahapan yang kami jelaskan tadi, selanjutnya akan ditindaklanjuti oleh BKK. BKK akan mengurus tahapan-tahapan tersebut. Bila ada yang kurang paham atau kurang mengerti, silahkan tanyakan kembali di BKK. Dari kami cukup sekian dan saya ucapkan semoga kalian ikut bergabung menjadi bagian dari perusahaan, dan tetap semangat, terimakasih." Penutupan oleh perwakilan perusahaan yang menyerahkan tahapan selanjutnya kepada BKK.


Perwakilan perusahaan berdiri dan menyalami pihak perwakilan dari BKK sekolah. Mereka pamit karena akan pulang setelah menyelesaikan tugas dari perusahaan.


Sesaat kemudian pihak BKK mulai berbicara untuk melanjutkan dari apa yang tadi dibicarakan oleh pihak perusahaan.


"Karena kalian sudah paham dan mengerti, untuk hari ini cukup sekian dulu. Kemudian silahkan besok mengumpulkan formulir tersebut, formulir tadi ke BKK sekolah, dan mengisi beberapa formulir yang lainnya besok pada jam 8 pagi. Sekian untuk hari dan terimakasih." Perwakilan sekolah menyudahi dengan mengingatkan untuk menyerahkan formulir esok hari kemudian pergi meninggalkan aula.


Setelah perwakilan pergi dari ruang aula, lalu diikuti oleh satu persatu calon karyawan termasuk Dinda dan Tini. Mereka berjalan keluar dari aula dan keluar dari klinik Tiara. Klinik Tiara memang klinik yang lengkap, sehingga tidak salah kalau perusahaan bekerjasama untuk melakukan tes kesehatan calon karyawannya.


Dalam perjalanan, setelah keluar klinik Dinda dan Tini mampir di warung kecil yang letaknya tidak jauh dari klinik Tiara. Di warung tersebut Dinda dan Tini membeli minuman dan gorengan. Mereka duduk di warung tersebut sambil melepas lelah dan lapar setelah setengah hari berada di dalam klinik.


Sambil menyeruput minuman yang tak lain dan tak bukan adalah es teh manis, mereka asik mengobrol tak lupa sambil memakan gorengan.


*


*


"Alhamdulillah ya Din, kita lulus. Bisa kerja lagi deh." Ucap Tini sambil menyeruput es teh manis lalu bersambung melahap gorengan tempe yang super duper cranci eh kriuk.


"Iya Tin, Alhamdulillah kita ga jadi pengangguran lagi. Aku ga bisa bayangin kalau nganggur. Gimana ga dapat duit, ga bisa bantu bapak dan ibu buat nambahin biaya sekolah adikku." Jawab Dinda setelah menelan gorengan ba'wan dan menyeruput es teh manisnya.

__ADS_1


"Iya sama Din, aku juga lho. Kamu mendingan adikmu cuma dua. Bapakmu kerja, ibumu bantu jualan makanan ringan. Yaa meski ga besar cuma nitip di warung. Sedang aku, adikku banyak Din, empat mana masih kecil-kecil semua. Bapakku kerjanya serabutan, ibuku kerja kalau ada yang suruh Din. Jadi tukang masak kalau ada orang hajatan." Ucap Tini menceritakan keadaan keluarganya.


"Iya, makanya kalau kerja nanti aku tiap bulan mau kirim uang. Setidaknya buat membantu untuk kebutuhan sekolah adik-adikku. Yaa memang ga banyak soalnya kita juga butuh uang buat biaya hidup kita juga Tin di sana." Jawab Dinda mengiyakan kemudian mengatakan rencananya ketika mendapatkan uang gajian.


"Aku juga Din, rencananya begitu sama kaya kemaren pas kerja. Habis terima uang gaji, aku kirim uang ke ibuku. Memang belum bisa banyak, paling tidak meringankan beban ibuku sedikit Din." Cerita Tini ke Dinda.


"Tin, ngomong-ngomong kita ini mampir di warung cuma makan gorengan sama minum es teh nih. Ga pesen makan apa gitu, aku masih lapar lhooo." Ucap Dinda menanyakan apakah hanya itu saja yang di pesan di warung, sedang Dinda masih lapar.


"Tumben masih lapar, telingaku ga salah dengar nih. Biasanya tuh aku yang masih lapar, kok ini malah kamu Din. Hemm memangnya mau makan?, kenapa ga sekalian dari tadi, aku nungguin tahuuu heeheee. Aku dari tadi sebenarnya ingin makan, tapi berhubung kamu cuma beli gorengan sama es teh manis jadi aku ikutan saja." Ungkap Tini panjang lebar.


"Maaf Tin, tadinya ga ingin makan tapi ko lihat ikan cucut goreng sama sambal jadi lapar. Jadi ingin makan tau Tin, kan sudah lama sejak di Cikarang ga makan ikan cucut. Tuh lihat ikan cucut gorengnya sama sambal, sudah manggil-manggil tuh. Dengar ga ikan cucutnya manggil-manggil?. Itu ikan cucut manggil kita biar di makan heeheee." Ungkap Dinda dengan senyum bahagia melihat ikan cucut dan sambal.


"Dasar Din, kamunya saja tuh yang emang lapar. Bilang ikan cucutnya manggil-manggil, padahal cacing di perut kamu itu yang menjerit-jerit manggil tuh ikan. Heemmm, bilang sama Bu warung pesan dua porsi biar ga lama cacing di perut kamu nungguin. Sekalian sayur asem ya Din sama timun juga ya." Tini meledek Dinda yang lapar sekaligus menyuruhnya untuk pesan makanan.


"Kamu ya Tin, kebiasaan sejak di Cikarang. Kalau lagi bareng suka gitu nunggu aku dulu, habis itu nyuruh deh sekalian beli hemm. Iya aku beli dua porsi, tapi nanti bayar sendiri ya, aku lupa ga bawa duit banyak, ini sisa kemaren. Kalau mau bayarin makananku ga apa-apa Tin, sekalian gitu, aku terima dengan ikhlas heeheee." Dinda kembali bercanda.


"Maunya, aku juga sama Din ga bawa duit banyak. Duit aku ketinggalan masih di bank, ga bisa diambil. Diambilnya bulan depan setelah gajian heehee." Tini ga kalah juga ngajak bercanda Dinda.


Mereka berdua akhirnya makan di warung tersebut sebelum pulang ke rumah. Semenjak di Cikarang dan tinggal satu atap, Dinda dan Tini saling mengenal satu sama lain. Meskipun bersahabat tapi tidak terlalu dekat. Baru setelah tinggal satu kontrakan Dinda dan Tini saling mengenal bahkan pribadi mereka masing-masing.


*

__ADS_1


Reader tahu ga makanan ikan cucut?. Ikan cucut itu ikan asap dari Tegal. Dagingnya rasanya enak lhooo. Apalagi makannya sama sayur asem dan sambal terasi. Di tambah dengan lalapan seperti timun itu asli nikmat banget lhoooo. Author jadi ngiler nih, lapar juga. Ya sudah reader, episode ini sampai di sini dulu yaaaa. Nantikan episode berikutnya, salam bahagia buat semuanya dan sehat selalu 🥰🥰🥰. Tetap semangat yaaaaa💪💪💪🌹🌹🌹.


__ADS_2