
Obrolan masih berlanjut, hingga jam menunjukkan hampir pukul 9 malam. Mas Rafli berpamitan untuk pulang. Karena sudah mulai malam dan merasa tidak enak jika pulang terlalu malam bila bertamu.
"Nak Rafli sering-sering main ke sini, temani Om ngobrol." Ucap bapak basa basi agar mas Rafli sering main.
"Iya Om, in syaa Allah kalau Rafli senggang." Jawab mas Rafli.
"Iya lho nak Rafli, maklum bapak ga ada teman ngobrol." Ucap ibu menyambung sambil melirik bapak.
"Din, mas Rafli pulang dulu. In syaa Allah kalau senggang mas main. Semangat ya Din cari kerjanya, jangan lupa berdoa." Ucap mas Rafli menyemangati Dinda.
"Iya mas, terimakasih sarannya." Jawab Dinda senyum.
"Mari Bu, Om, Rafli pulang dulu, assalamu'alaikum." Ucap mas Rafli berpamitan sambil menyalami tangan ibu dan bapak Dinda.
"Wa'alaikumussalam, hati-hati di jalan. Jangan ngebut-ngebut, maklum jalan mulai sepi." Ucap bapak dan ibu salam bersamaan. Dilanjut bapak Dinda mengingatkan.
"Iya pak." Ucap mas Rafli kemudian menyalakan sepeda motornya lalu melajukan motornya pulang.
Dinda hanya diam saat mas Rafli kembali menatapnya sebentar sebelum melajukan sepeda motornya. Sempat terlihat oleh bapak dan ibunya Dinda. Bapak menyadari sepertinya Rafli mulai menyukai Dinda dan berharap Dinda juga menyukai Rafli.
Namun berbeda dengan ibunya Dinda yang sudah tahu kalau Dinda sudah punya pacar di Cikarang. Satu tahun lebih kerja di Cikarang membuat Dinda mengenal artinya cinta dan mempunyai pacar.
Dinda masuk ke dalam sambil membawa gelas yang sudah kosong dan toples cemilan. Di susul oleh ibu dan bapaknya Dinda. Tak lupa bapak yang masuk belakangan mengunci pintu dan mematikan lampu ruang tamu.
Dinda masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat. Sembari tiduran, Dinda menyetel jam alarm di hpnya. Melihat layar hp, Dinda kaget ada 5 panggilan tak terjawab dan 8 SMS yang masuk tertulis di layar hpnya.
__ADS_1
Dinda mengecek 5 panggilan tak terjawab tersebut. Ternyata mas Heru yang menelphonnya. Lalu di lanjut Dinda membuka 8 SMS yang masuk. Di buka kotak masuk pesan, dan setelah di lihat, mas Heru mengirim 6 SMS dan 2 SMS dari Tini.
"Assalamu'alaikum Dindanya mas." SMS pertama dari mas Heru.
"Sedang apa Din, sudah makan belum?. Ini mas lagi makan nasi warteg lauknya oreg tempe sama sambal teri dan krupuk." SMS kedua.
"Din, kok ga di balas SMS mas. kamu lagi repot ya?." SMS ke tiga.
"Din, mas nelphon kok ga diangkat, kamu ga kenapa-kenapa kan?." SMS ke empat.
"Din, besok jadi ya ke BKK lagi, aku penasaran sama lowongan yang dari PT Ichikoh." SMS dari Tini.
"Din, Din, kok ga diangkat lagi mas nelphon. Kamu sebenarnya ke mana atau lagi apa sih?, masa SMS ga di balas, nelphon ga diangkat. Kamu sudah tidur?, ini baru jam 8 lewat Din." SMS ke lima.
"Din, aku lupa, tadi ga bilang sekalian. Itu bawa surat lamarannya lebih dari dua ya. Barangkali ada lowongan kerja di pabrik yang lainnya, biar sekalian lamar. Ok Din sampai ketemu besok." SMS Tini ke dua.
Itulah SMS yang di baca Dinda setelah membuka pesan SMS nya satu persatu. Jam menunjukkan pukul 10 kurang. Dinda ingin menelphon mas Heru tetapi diurungkannya. Meskipun kangen juga tetapi Dinda merasa ga enak karena sudah malam.
Takut menggangu ibu dan bapaknya juga adik-adiknya yang sudah tertidur di dalam kamarnya masing-masing. Sehingga Dinda hanya membalas pesan lewat SMS.
"Wa'alaikumussalam mas Heru." SMS pertama.
"Dinda tadi sudah makan mas. Lauknya seadanya yang di masak ibu. Maaf tadi ada tamu, hp Dinda silent mas jadi ga tahu kalau mas Heru nelphon Dinda.
"Kenapa sekarang mas ga balas SMS Dinda?. Hmmm, ketahuan nih mau balas dendam ya ga balas SMS. Apa marah karena ga di telphon. Maaf ini sudah malam mas, ga enak sama ibu dan bapak juga adik-adik Dinda mas." SMS ke dua Dinda.
__ADS_1
"Idih ini beneran SMS ga di balas, katanya kangen?, mas, mas, sudah tidur belum sih?." SMS ketiga.
"Maaf mas, tadi ada tamu, hp Dinda di silent. Jadi Dinda ga tahu ada SMS atau telphon dari mas Heru. Dinda ga kenapa-kenapa mas, cuma nemenin ibu dan bapak sama tamunya. Mas, mas Heru tidur?." SMS ke empat.
Dinda yang tadinya sudah mulai mengantuk jadi hilang rasa kantuknya karena menunggu balasan SMS dari mas Heru. Dinda mulai kesal sendiri dan marah kepada diri sendiri karena lupa hpnya masih di silent atau mode diam.
Memang semenjak pagi setiap Dinda berangkat ke BKK dan mengurus berkas-berkas untuk melamar, hp nya dalam keadaan di silent atau mode diam.
Maksudnya adalah bila ada panggilan, orang lain tidak merasa terganggu karena di desa hp belum banyak yang punya dan belum terlalu digunakan karena masih menggunakan telphon rumah atau wartel.
Sementara itu di Cikarang mas Heru senyum-senyum sendiri melihat dan membaca SMS Dinda satu persatu.
"Sekarang gantian mas ngerjain kamu Din, emang enak SMS ga di balas-balas. Kesal kan nungguin, lihatin hp terus, yang ditungguin malah asik ngobrol sama tamunya." Ucap mas Heru di dalam hatinya sendiri.
"Emang tamunya siapa sih masa mainnya lama?. Apa pacarnya Dinda di kampung?. Setahu Aku Dinda belum punya pacar." Mas Heru berbicara dalam pikiran dan hatinya sendiri sebelum membalas SMS dari Dinda.
"Gak mungkin, masa Dinda punya pacar di kampung. Tapi, mungkin bener juga, Dinda sudah punya pacar waktu sekolah dulu. Ahh ga mungkin, kata Tini Dinda ga pernah kenal pria yang masuk ke dalam hatinya kecuali si penghianat dan aku." Kata-kata yang berjalan di pikiran mas Heru dan mas Heru berpikir positif tentang Dinda mengenai pacar.
"Mas, mas Heru beneran sudah tidur atau belum. Kalau belum tidur, tolong balas SMS Dinda mas, jangan balas dendam juga dong mas." SMS Dinda yang ke lima.
"Mas, mau sampe kapan nih ?, Aku sudah minta maaf kalau ga balas SMS dan ga angkat telphon. Itu ga di sengaja mas Heru sayang. Tolong balas SMS saja ga usah menelphon sudah malam mas." SMS Dinda ke enam.
Gimana lanjutan ceritanya yaaaa.
Simak karyaku ini di episode berikutnya.
__ADS_1
Bersambung duluuuuuu.....🥰🥰🥰