Cikarang ( Pekerjaan Dan Cinta )

Cikarang ( Pekerjaan Dan Cinta )
Episode 86. Akhirnya ke Cibitung lagi.


__ADS_3

Hari Sabtu malam Dinda dan Tini sepakat untuk berangkat ke Cibitung. Setelah Maghrib Dinda menunggu Tini karena janjian. Tini yang akan datang ke rumah Dinda sekalian pamitan kepada kedua orang tua Dinda.


Orang tua Dinda meminta Dinda untuk tidak berangkat ke Cibitung sendiri. Karena pulang dengan Tini, maka berangkatnya dengan Tini lagi. Sebelumnya Tini mendapat kabar dari mba Lilis bahwa di Cikarang ada lowongan kerja. Makanya baik Dinda maupun Tini akhirnya memutuskan berangkat ke Cibitung bersama-sama.


*


**


"Hallo assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


"Mba Lilis, apa kabar, sehat mba?."


"Alhamdulillah sehat Tin, kamu sekeluarga di kampung gimana sehat semua?."


"Alhamdulillah sehat mba."


"Syukur Alhamdulillah, gimana kabar kamu dan Dinda sudah dapat kerja belum?."


"Belum mba, makanya ini nelphon mba Lilis. Ganggu ga mba?."


"Ga kok, Aku masuk malam jadi sore santai lah, kenapa Tin?."


"Maaf mba nelphon, mau tanya, apa mba di situ dengar ada lowongan kerja?. Aku dan Tini kemaren lamar kerja di daerah Cibitung tapi belum ada panggilan."


"Memangnya lamar kerja di mana Tin?."


"Di pabrik Ichikoh mba, lewat BKK sekolah."


"Oo, sabar yaa Tin, mungkin belum, tunggu saja. Yang kerja kemaren gimana, ga ada panggilan kerja?."


"Kemaren sih leadernya SMS mba, kasih tahu kemungkinan ada panggilan kerja tapi sabar nunggu paling sekitar kurang lebih dua mingguan."


"Yaa sudah sambil nunggu, nyari-nyari juga namanya usaha Tin, nanti dapatnya di mana ya di situ rezekinya."


"Iya sih mba, kemaren Dinda ngajakin berangkat ke Cibitung mba, menurut mba Lilis gimana?."


"Mmmm, menurut mba sih Tin, kamu sama Dinda berangkat ke sini saja. Sekalian nunggu panggilan, kan nyari langsung di sini mungkin ada lowongan kerja di pabrik lain. Terus kontrakan juga ga sepi maksudnya sayang sudah di bayar ga di tempati. Kalaupun ga di tempati tetep bayar juga kan, karena barang-barang masih ada."


"Iya sih mba, Minggu besok sudah bayar kontrakan lagi. Ya sudah mba nanti Aku bilang ke Dinda jadi berangkat Sabtu malam."


"Oo iya lupa Tin, mau ngasih tahu Minggu kemaren ada lowongan kerja di PT Sandang, katanya sih masih buka karena butuh banyak karyawan."


"PT Sandang garmen yang di warung bongkok kan mba. Biasanya buat sewing mba atau yang bisa jahit. Aku sama Dinda kan ga bisa jahit mba."


"Iya pabrik garmen yang di sini, sepertinya di spanduknya ga ada tulisan buat sewing cuma tulisannya itu lowongan kerja operator untuk seluruh bagian. Berarti bukan cuma bagian sewing atau jahit saja Tin. Apa salahnya coba datang ke sini dan lamar, siapa tahu di terima."


"Iya mba, in syaa Allah. Kalau memang rezekinya ya pasti di terima mba. Nanti aku kasih tahu Dinda mba, gimana dia juga, mau atau tidak."


"Gini Tin, tinggal bilang ke Dinda yang penting lamar kerja, dapat kerjaan sudah kan. Masalah gimana nanti saja, yang penting ga jadi pengangguran lagi dan punya kerja, juga yang penting punya gajian Tin."


"Iya ya mba, oke deh in syaa Allah Sabtu malam berangkat ke Cibitung."


"Ya sudah kalau gitu, nanti hati-hati di jalan. Jaga barang bawaan baik-baik. Sekarang banyak pencurian di bus juga lho Tin. Minggu kemaren teman mba Lilis pulang kampung pas di tempat istirahat dompet di dalam tas hilang. Mana di dompet ada KTP, ATM, dan SIM karena baru beli motor dia izin pulang buat bikin SIM. Baru bikin SIM belum di pakai eee sudah hilang duluan."

__ADS_1


"Iya mba nanti aku bilang ke Dinda juga. Namanya musibah mba ga kenal tempat, di mana dan kejadiannya bisa macam-macam.


"Ya Tin, makanya selalu waspada. Jaga diri dan barang bawaan sendiri."


"Iya mba, sudahan dulu ya mba nanti in syaa Allah Tini main ke kontrakannya mba Lilis. Sudah mau Maghrib, gampang nanti sambung lagi, assalamu'alaikum."


"Iya, wa'alaikumussalam."


*


**


Tidak berapa lama Tini telah sampai ke rumah Dinda. Di saat itu pula datang mas Rafli yang tiba-tiba.


"Assalamu'alaikum, lho ini pada mau ke mana?." Ucap mas Rafli langsung setelah turun dan mematikan mesin sepeda motornya dan melihat Dinda serta Tini dan juga orang tua Dinda di teras rumah beserta tas dan kardus yang tergeletak di teras rumah.


"Wa'alaikumussalam." Jawab mereka serempak bersamaan dan agak kaget kok mas Rafli main lagi.


"Nak Rafli, ini Dinda sama temannya Tini mau berangkat ke Cibitung. Monggo silahkan masuk." Ucap bapak setelah menjawab salam dan mempersilahkan Rafli untuk masuk ke dalam rumah.


"Sudah mau berangkat Din?. Kok kemaren ga ngomong ke mas kalau minggu ini mau berangkat ke Cibitung."


"Maaf ini mendadak mas, soalnya kemaren Tini bilang saudaranya yang di Cikarang kasih tahu bahwa ada lowongan kerja dari Minggu kemaren. Minggu sekarang katanya masih buka, makanya berangkat dulu nanti gimana di sana." Jawab Dinda beralasan meskipun sebenarnya ada lowongan, sambil mengedipkan mata ke Tini.


"Maaf mas siapa ya, kok Aku baru lihat dan boleh kenalan ga?." Ucap Tini melihat mas Rafli langsung ajak berkenalan.


"Rafli mba, dulu teman kecilnya Dinda. Karena bapak saya sama bapaknya Dinda temenan sudah lama jadi anaknya ikutan temenan heehee." Jawab Rafli sambil ajak Tini bersalaman.


"Tini mas, teman sekolah waktu SMA." Ucap Tini sambil salaman dengan mas Rafli.


"Iya mas, rencananya habis Maghrib. ini sudah habis Maghrib tapi kelewat karena nunggu Tini yang terlambat datang." Jawab Dinda langsung.


"Maaf, ga terlambat amat Din, baru jam 6.40. Kan busnya biasanya jam 8 malam.


"Iya iya, ga terlambat tapi nanti keburu di terminal busnya sudah penuh banyak penumpangnya." Jawab Dinda agak kesal karena sudah terlambat berangkat.


"Emang busnya berangkat jam berapa Din?." Tanya mas Rafli jam keberangkatan busnya.


"Biasanya kalau sudah penuh langsung berangkat mas. Itu sekitar jam 7 lewat, hampir jam setengah 8 lah." Jawab Dinda lagi.


"Ya sudah aku antar sekalian biar cepat sampai. Biar ga terlambat naik busnya." Ucap mas Rafli menawarkan.


"Iya kebetulan ada nak Rafli, bisa nih kalian berdua langsung berangkat. Jadi bapak ga usah bolak balik ngantar. Din, kamu bonceng bapak lalu Tini bisa bonceng nak Rafli." Ucap ibunya Dinda kasih saran.


"Eits, salah Bu, aku ga enak bonceng sama mas Rafli soalnya baru kenal. Gini saja, Aku bonceng sama bapak ya Din, kamu bonceng sama mas Rafli." Ucap Tini menolak bonceng mas Rafli.


"Ya sudah ayo lah nanti terlambat ini sudah jam 7 kurang 15 menit." Ucap mas Rafli semangat langsung mengiyakan.


"Ya sudah, bapak terserah yang mau bonceng sama bapak hayo. Bu, bapak ngantar anak-anak dulu." Ucap bapak sambil menyalakan mesin sepeda motornya karena waktu sudah semakin mepet.


"Iya pak, hati-hati." Ucap ibu.


"Bu, Dinda berangkat ya, assalamu'alaikum." Ucap Dinda berpamitan sambil mencium punggung tangan kanan ibunya.


"Tini juga Bu, assalamu'alaikum." Ucap Tini menyusul Dinda menyalami punggung tangan kanan ibunya Dinda berpamitan.

__ADS_1


"Hati-hati ya Dinda, Tini, nanti kalau sudah sampai ngabari ibu." Ucap ibunya Dinda.


"Iya Bu." Jawab Dinda dan Tini bersamaan.


"Dinda dan Tini menggendong tas ranselnya masing-masing dan membawa kardus yang sudah terikat rapi.


"Bu, Rafli permisi sekalian, habis ngantar langsung pulang saja, assalamu'alaikum." Ucap Rafli pamitan juga sambil menyalami punggung tangan kanan ibunya Dinda.


Akhirnya bapak dan Rafli sama-sama mengendarai sepeda motornya dengan memboncengkan Dinda dan Tini. Mereka menuju ke terminal.


Setelah sampai di terminal, Dinda dan Tini langsung ke loket pembelian tiket bus. Bus yang mereka hendak naiki adalah bus sinar jaya jurusan Slawi- Cibitung.


Dinda dan Tini menyalami punggung tangan kanan bapaknya Dinda.


"Pak, Dinda berangkat ya." Ucap Dinda.


"Tini juga ya pak." Ucap Tini selanjutnya.


"Iya, hati-hati ya Dinda, Tini, bapak langsung pulang ya." Ucap bapaknya Dinda.


"Iya pak." Jawab Dinda.


"Nak Rafli mau sekalian pulang apa gimana?." Tanya bapak ke mas Rafli.


"Nanti saja pak, mau nganter Dinda dulu sampai naik di bus." Jawab mas Rafli.


"Ya sudah, bapak tinggal ya."


"Iya pak." Jawab mas Rafli.


Bapak pergi berlalu meninggalkan Dinda dan Tini serta Rafli yang masih menemani mereka di terminal.


Dinda dan Tini naik ke dalam bus. Terlihat hampir separuh lebih bus sudah terisi oleh penumpang. Di temani oleh mas Rafli yang membawa kardus milik Dinda dan Tini, Dinda dan Tini duduk di kursi agak belakang bagian bus.


"Ini kardusnya mas taruh di belakang ya Din, Tin. Biar kalian mudah ambilnya, lagian dekat dengan kursi kalian ga apa-apa ya." Ucap mas Rafli setelah menaruh kardus di bagian belakang bus.


"Iya mas ga apa-apa, terimakasih banyak sudah nganterin dan bawa kardusnya." Ucap Dinda.


"Iya lho mas siapa tadi mas Rafli ya, makasih banyak nih sudah mau susah-susah nganterin sama bawain kardusnya." Ucap Tini menyambung.


"Iya sama-sama, oh iya Din, mas lupa, boleh minta no hp nya?, Mas belum punya no hp kamu." Pinta mas Rafli no hp Dinda.


"Mm, boleh mas, no nya 08532******." Jawab Dinda kemudian memberikan no hp nya ke mas Rafli.


"Terimakasih Din, mas turun ya, sudah penuh dan kernet sama supirnya sudah naik sepertinya mau berangkat." Ucap mas Rafli setelah menyimpan no hp Dinda.


"Iya mas, makasih, hati-hati di jalan." Ucap Dinda.


"Iya." Jawab mas Rafli singkat kemudian turun dari bus.


Bus yang di naiki oleh Dinda dan Tini mulai bergerak keluar dari terminal. Setelah semua pengecekan penumpang selesai, bus bergerak perlahan meninggalkan terminal dan melaju menuju ke Cibitung.


Mas Rafli yang melihat bus yang di naiki oleh Dinda dan Tini berjalan meninggalkan terminal dan melaju menjauh, kemudian mas Rafli menyalakan sepeda motornya yang terparkir di parkiran motor menuju rumahnya.


Sampai di sini dulu ya readers.

__ADS_1


Bersambung lagiiii.......


__ADS_2