Cikarang ( Pekerjaan Dan Cinta )

Cikarang ( Pekerjaan Dan Cinta )
Episode 29. Kepulangan Dinda di kampung halaman.


__ADS_3

Dari Cikarang, tepatnya bus bergerak dari Cibitung jurusan Tegal Slawi dari jam setengah 8 pagi. Sampai di Slawi pukul setengah 3 sore. Lebih dari setengah hari perjalanan dari Cibitung ke Slawi.


Dinda merasa pegal-pegal seluruh badannya. Setelah duduk berjam-jam dalam perjalanan pulang kampung. Sampai juga akhirnya Dinda di terminal Slawi, kemudian turun dari bus. Dinda disambut oleh beberapa tukang becak yang berderet di pinggir jalan. Dinda akhirnya menaiki salah satu becak tersebut.


Cukup mahal ongkos naik becak jika yang menaiki orang yang baru pulang dari perantauan. Biasanya dari terminal Slawi 15 ribu, dan berubah menjadi 30 ribu. Mungkin karena orang perantauan bawa uang banyak, jadi mereka tukang becak menginginkan ongkos lebih dari biasanya.


Kebanyakan orang perantauan memaklumi hal tersebut. Karena mereka juga mencari nafkah untuk keluarganya. Demikian juga dengan Dinda yang tahu akan hal tersebut. Dinda tidak keberatan kalau ongkos becak lebih dari biasanya, yang penting langsung sampai di rumah.


Akhirnya Dinda sampai juga di rumah. Setelah membayar tukang becak, Dinda berjalan menuju rumah. Mengetuk pintu sambil mengucap salam, dan langsung membukanya tanpa menunggu di buka dari dalam rumah. Dinda masuk ke dalam rumah dan masih sambil mengucap salam.


"Assalamu'alaikum". Ucap Dinda sambil berjalan terus masuk menuju ke kamarnya.


"Wa'alaikumussalam". Terdengar balasan salam dari belakang tepatnya di ruang dapur.


"Bu, Dinda pulang". Mendengar suara ibunya yang membalas salam, Dinda berucap sambil membuka pintu kamarnya.


"Dinda, kamu pulang?. Dari sana jam berapa ?. Mendengar suara Dinda dan melihatnya masuk ke dalam kamar, ibu Dinda langsung menyusul ke kamar Dinda.


"Dari sana jam setengah 8 pagi Bu". Jawab Dinda sambil rebahan di kasur setelah menaruh tas yang dibawanya.


Rasa lelah dan pegal setelah perjalanan cukup lama membuat Dinda ingin merebahkan tubuhnya di atas kasur.


"Ya sudah, ini hampir sore, mandi dulu saja Din. Supaya kamu agak segeran, dan lelahnya agak hilang, mandinya pakai air hangat saja ya Din". Ucap ibu Dinda menyuruhnya untuk mandi terlebih dahulu.


Ibu Dinda yang tadinya sedang masak air untuk dibuat minum teh, kini air panas tersebut untuk mandi Dinda. Ibu Dinda melihat begitu lelahnya Dinda setelah perjalanan dari Cikarang ke Cibitung sampai Slawi Tegal.


Ibu Dinda tahu tentang kepulangan Dinda. Dari Tini yang sempat main ke rumah Dinda sebelumnya.


*

__ADS_1


Sebelum kepulangan Dinda, Tini main ke rumah Dinda. Selain untuk silaturahmi kepada keluarga Dinda, Tini juga memberitahukan tentang akan pulangnya Dinda ke kampung.


Saat bertemu ibunya Dinda, Tini menceritakan keadaannya dan juga Dinda waktu di Cikarang. Ibu Dinda bersyukur dan berterimakasih, karena Tini mau mengajak Dinda pergi mencari kerja di Cikarang. Begitu juga terhadap mba Lilis yang telah membagi satu atap kontrakannya dengan Dinda untuk di tempati bersama-sama.


Ternyata ibu Dinda baru tahu bahwa kehidupan merantau seperti apa yang diceritakan oleh Tini. Mencari pekerjaan dari pabrik satu ke pabrik lainnya. Mengikuti tes seleksi dan juga wawancara di perusahaan. Setelah diterima sebagai karyawan harus bekerja mematuhi peraturan yang berlaku. Bila gajian harus bisa membagi uang untuk untuk kebutuhan hidup sampai gajian bulan berikutnya.


Dari yang benar-benar tidak punya sama sekali, bisa menjadi punya. Mencari uang sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidup, dan mengirimkan uang untuk membantu orang tua. Rupiah demi rupiah dikumpulkan demi memiliki sesuatu atau untuk masa depan.


Ternyata hidup di perantauan tidak seindah apa yang dibayangkan oleh ibunya Dinda. Perjuangan yang berat untuk mencari kerja. Jika kerja di kampung, tidak memikirkan kontrakan dan biaya hidup.


Mungkin cukup memberikan beberapa ratus ribu untuk membantu orang tua. Namun Dinda lebih memilih merantau karena mencari pekerjaan di kampung tidak ia dapati. Ibunya Dinda sangat bersyukur bahwa Dinda sudah bisa mencari nafkah sendiri.


*


Sore telah terlewati, malam kian beranjak. Dinda hanya rebahan di tempat tidur setelah sholat Maghrib. Rasa lelah dan pegal setelah perjalanan jauh belum hilang sepenuhnya.


Dinda membuka tas yang dia bawa, diambilnya berkas lamaran. Dinda mengecek kembali berkas lamaran yang akan dibawanya esok hari. Dinda berharap bukan hanya pulang kampung bertemu keluarga, namun juga melamar pekerjaan dan mendapatkannya.


"Dinda kamu baru pulang, dari pulang tadi kamu belum makan. Makan dulu, nanti lanjutkan lagi beresin yang mau di bawa besok." Ucap ibu Dinda menyuruh Dinda untuk makan.


"Dinda belum lapar Bu, nanti saja. Tanggung sebentar lagi juga selesai." Jawab Dinda yang masih membereskan berkas lamaran yang masih ada di dalam tas.


"Ya sudah ibu keluar dulu, mau nonton televisi" Ibu Dinda keluar dari kamar Dinda.


"Bu, Dinda mana?, masih di kamar. Ajak makan dari tadi pulang dia belum makan apa-apa lho Bu." Ucap bapak yang menghampiri ibu untuk nonton televisi bersama.


"Sudah pa, katanya nanti tanggung. Bapak sudah makan ?. Biarkan saja, nanti kalau sudah selesai Dinda makan pa. Jawab ibu sambil menonton televisi.


"Bapak sudah makan Bu barusan. Dinda jadi Bu besok mau melamar kerja lewat BKK sekolah?." Tanya bapak di sela-sela menonton acara televisi.

__ADS_1


"Mungkin saja pa, lha wong tadi ibu lihat sedang beresin surat lamaran kerja. Di suruh makan jawabnya tanggung, lha ya itu lagi beres-beres."


"Besok Dinda mau bapak antar apa gimana Bu?." Tanya bapak kemudian.


"Tanya sendiri tho pa ke Dinda, masa tanyanya ke ibu. Memangnya ibu yang mau pergi." Ucap ibu yang menjawab agak sedikit kesal.


"Yaaa cuma nanya sama ibu saja, jawabnya gitu." Bapak akhirnya pergi meninggalkan ibu sendirian menonton televisi. Daripada nanti ibu Dinda tambah kesal sama bapak.


Dinda keluar dari kamar, merasa lapar Dinda makan malam sambil menonton televisi. Ibu Dinda memperhatikan Dinda dengan seksama. Dinda terlihat agak kurus di mata ibunya. Ibu Dinda merasa mungkin Dinda kurus karena pekerjaan dan sekarang menganggur dan harus mencari kerja lagi.


Setelah selesai makan, Dinda duduk di depan televisi menonton bersama ibunya. Disela-sela asik menonton televisi, ibu Dinda mengajaknya mengobrol.


"Dinda tadi bapak nanya, kamu besok jadi mau melamar kerja di BKK sekolah?. Mau diantar sama bapak tidak?." Ibu Dinda memulai obrolannya.


"Jadi Bu, kata Tini besok ada lowongan kerja. Tini bilang kalau lowongan kerjanya buat pabrik yang di Cikarang. Tapi melalui BKK bu, jadi besok Dinda mau melamar lewat BKK sekolah. Dinda besok berangkatnya sama Tini, nanti Tini mau mampir ke sini dulu Bu." Jawab Dinda sambil rebahan di kasur gelar yang berada di depan televisi, karena agak lelah.


"Memangnya besok berangkatnya jam berapa Din?." Tanya ibu Dinda kemudian.


"Jam 8 pagi Bu, Tini kesini jam 7 an. Jadi nanti berangkat bareng." Jawab Dinda sambil melihat jam di dinding di atas televisi.


"Ya sudah, nanti kalau bapak tanya jawab saja ya Din." Ucap ibu melanjutkan obrolannya.


"Iya Bu. Bu, Dinda ke kamar dulu ya, sudah mulai ngantuk. Mau tidur dulu ya Bu, biar besok agak enakan badannya." Ucap Dinda berpamitan untuk tidur terlebih dahulu.


"Ya sudah sana tidur, biar besok segeran badannya dan ga terlambat juga." Ucap ibu Dinda.


Dinda beranjak bangun dan berjalan ke kamarnya untuk tidur. Karena rasa lelah dan pegal yang masih terasa, Dinda langsung tertidur dengan lelapnya.


Besok pagi adalah hari dimana Dinda bersemangat lagi untuk mencari kerja. Mencari kerja tidaklah mudah, perlu perjuangan juga diserta doa dan usaha.

__ADS_1


Dinda yakin pasti akan mendapatkan pekerjaan lagi, meskipun harus berebut dengan pelamar kerja yang lainnya. Kalau sudah rezekinya pasti tidak akan kemana.


Nah Reader bagaimana perjuangan Dinda mendapatkan pekerjaan lagi?.Simak di episode berikutnya yaaa. Salam sehat selalu 💪💪☺️☺️.


__ADS_2