
Sudah seminggu lebih Dinda di rumah di kampung. Komunikasi dengan mas Heru hanya lewat hp dengan SMS atau telphon bila mas Heru telphon Dinda.
Demikian Tini yang masih betah di rumah. Selain mencari lowongan kerja melalui BKK, Tini juga mencari lowongan kerja di kota Tegal dan sekitarnya.
Sebenarnya bukan masalah betah atau tidak betah tinggal di rumah di kampung, tapi ini lebih ke tidak enak hidup menganggur. Sudah terbiasa kerja dan setiap bulan menerima gaji, kini di hadapi dengan cuma cari kerja, pulang, makan, tidur, nonton televisi, main hp. Yang terutama dari semua itu adalah tidak adanya pendapatan atau mendapat uang malahan tabungan semakin menipis.
Manusia hanya bisa berusaha, ikhtiar, tawakal, dan berdoa serta sabar. Itulah yang sering dikatakan oleh ibunya Dinda. Dinda sendiri mengerti dengan keadaan dirinya. Biar bagaimanapun Dinda sudah berusaha semampunya tinggal berdoa menunggu hasil dari usahanya.
Hampir dua Minggu kini di jalani oleh Dinda di kampung. Dinda teringat akan pesan mas Heru kalau bisa dua Minggu di kampung dan berangkat lagi ke Cikarang.
Namun sampai kini Dinda belum mendapatkan pekerjaan lagi bahkan panggilan kerja belum satupun yang datang.
"Belum ada panggilan kerja, gimana nih. Aku bingung nunggu di sini apa ke Cikarang lagi ya?." Dinda sedang memikirkan dirinya.
"Sebaiknya aku ngomong dulu sama Tini ahh, gimana pendapat dia sendiri apa mau nunggu di kampung apa ke Cikarang lagi." Ucap Dinda salam pemikirannya.
"Tin, sedang ngapain?." SMS Dinda.
Lama menunggu balasan SMS dari Tini, Dinda bermain game dalam hpnya. Sesaat kemudian, ada SMS yang masuk.
"Sedang tiduran, kenapa?." Balasan SMS dari Tini.
"Ga sibuk apa-apa Tin, cuma tiduran?." Tanya Dinda lewat SMS nya.
"Sibuk main hp, sebenarnya mau ngomong apa, nelphon saja apa Din?. Nelphon biar cepet, kalau SMS, lama ngetik hurufnya, aku malas ngetik nih." Balas Tini.
"Nelphon, lagi ngirit nih, suruh nelp, pulsa mahal apalagi dari mentari ke simpati. Bisa tekor nih nelphon kamu pulsa 25 ribu paling berapa menit doang langsung habis." SMS Dinda ga mau nelphon Tini yang kartu hpnya berbeda.
"Sebagai teman yang pengertian, ya sudah lah SMS saja, entar kalau jari aku pegal besok ketemu kamu pijitin ya Din heehee." Balas Tini.
"Ya aku pijitin pakai recehan." Balasnya Dinda.
"Ga apa-apa recehan juga lumayan, buat beli gorengan sama es teh manis. Sudah mau ngomong apaan ntar keburu jari aku pegal nih ngetik-ngetik huruf SMS an sama kamu." SMS Tini.
"Tin, Minggu besok berangkat ke Cikarang yuk?. Coba nyari langsung di Cikarang, yang di sini biarin. Panggilan kerjanya eh tesnya kan lewat hp, nanti dihubungi lewat SMS atau telphon dari BKK. Lagian kita sudah kasih no hp yang di tinggalin. Nanti kalau ada panggilan kan lewat no hp Tin, gimana ?." Tanya Dinda lewat SMS nya.
"Mmmm, nanti coba aku tanya mba Lilis dulu ya Din, siapa tahu mba Lilis ada informasi lowongan kerja. Aku juga belum ngomong sama bapak ibu kalau cuma dua Minggu di rumah. Maklum juga adikku masih kangen maunya aku di rumah di kampung dulu." Tini jawab SMS.
"Ya sudah nanti kabari aku ya Tin, kalau bisa sebelum hari Minggu." SMS nya Dinda.
"Cieee bilang saja kangen sama yayang mas Heru. Aku ngerti kok Din, ya sudah nanti aku kabari." SMS Tini meledek Dinda.
"Bukan gitu Tin, dia katanya ada perlu Minggu depan. Kalau bisa aku di Cikarang eh di Cibitung." Ucap Dinda beralasan di SMS nya.
"Emang ada perlu apaan Din?." Tanya Tini lanjut SMS.
"Ga tahu katanya kalau datang nanti tahu sendiri." Jawab Dinda masih dengan SMS.
"Oooo." SMS singkat Tini.
"Kok opo doang." Jawabnya Dinda bingung.
"Ya terus gimana Diiiin, udahan ya aku mau ke belakang eh ke wc mules nih perut." SMS Tini.
"Mmm." SMS terakhir Dinda.
__ADS_1
Dinda dan Tini menyudahi SMS an. Kini Dinda tinggal menunggu kabar dari Tini kelanjutannya jadi pergi ke Cikarang Minggu ini.
Pukul 8 malam Dinda tiduran di kamarnya. Hp di letakkan di meja. Tiba-tiba hp berdering tanda adanya panggilan. Dinda bangun dari tidurnya dan melihat layar hpnya. Terlihat di layar nama mas Heru yang memanggil.
"Hallo, assalamu'alaikum." Salam Dinda setelah menekan tombol panggilan.
"Wa'alaikumussalam, lagi ngapain Din?." Jawab mas Heru.
"Tadi lagi tiduran mas, kenapa?."
"Lagi bayangin wajah mas ya?."
"Mmmm, sok tahu."
"Tahu lah, makanya mas nelphon."
"Kalau mengarang bukan di sini mas, tuh di tabloid atau di koran atau di majalah, atau di novel. Lagi tiduran di bilang bayangin wajahnya mas, ngarang banget sih."
"Iya iya, tapi bener kan lagi bayangin wajah mas?. Kalau ga mas ga bakalan bayangin wajah kamu Din terus nelphon. Kenapa coba, kenapa bisa?."
"Ya ga tahu, kan mas yang bayangin Dinda bukan Dinda yang bayangin mas."
"Karena mas kangen Dinda."
Deg, untuk sesaat Dinda diam, terdiam karena mendengar kata kangen dari mas Heru. Jantungnya berdetak ga karuan. Mukanya merah semerah tomat. Kalau mas Heru lihat, pasti merasa gemas.
"Kenapa diam Din?."
"Pasti lagi bayangin mas di depan kamu, iya kan Din?."
"Kok diam terus sih Din?."
"Din."
"Din."
"Hallo, masih nyambung kan telphonnya?."
"Din."
"Din, kamu tidur?."
Sementara Dinda tidak tahu harus bagaimana ngomong ke mas Heru. Sebenarnya Dinda juga kangen, tetapi malu untuk mengatakannya. Rasa gengsinya lebih besar daripada rasa jujur untuk mengungkapkan perasaannya.
"Eh iya mas maaf, tadi Dinda ke belakang minum sebentar, haus, hp tak tinggal."
"Hmmm, pantesan di panggil-panggil ga nyaut. Tak kirain kamu tidur, gimana Din jadi Minggu besok berangkat ke Cibitung?."
"Mmm, ga tahu mas, nanti nunggu kabar dari Tini."
"Kok nunggu kabar dari Tini, memangnya kenapa eh maksudnya ada apa sampai harus nunggu kabar dari Tini.
"Kan aku pulang kampung bareng Tini, ke Cibitung ya bareng Tini lagi lah. Terus Tini bilang mau tanya ke mba Lilis saudaranya barangkali ada informasi lowongan kerja di Cikarang. Yaa setidaknya nunggu kabar dulu."
"Oo gitu, gini saja Din, ada ga nya mendingan kamu ke sini saja dulu. Ini kontrakan gimana ?, sepi ga ada kamu heehee. Terus kalaupun ada panggilan di kampung yaa sudah tinggal balik lagi saja."
__ADS_1
"Enak aja tinggal balik lagi, memangnya ga pake ongkos bolak balik dari Cibitung -Tegal, terus Tegal-Cibitung, lalu balik lagi Cibitung- Tegal. Mas mas itu yang ada uang tabunganku habis di ongkos maaaaaassss."
"Ya sudah tak ongkosin, paling cuma habis 500 ribuan ga nyampe sejuta kan."
"500 ribuan, itu ongkos ke mana maaassss?, kalau bolak balik sampai begitu ya lebih mas."
"Ya sudah ongkosnya semua berapa nanti tak ganti sama mas. Yang penting kamu hari Minggu besok sudah ada di Cibitung."
"Emangnya ada apaan sih mas, penting ya sampai aku harus di sana?."
"Ya penting, pake banget, makanya kalau mau jadi calon istri mas ke sini, kalau ga mau yaa salah sendiri nanti kalau mas ganti cewek lain jangan salahin mas ya."
"Kok gitu pake ngancam, kalau mau ganti cewek lain ganti saja. Ga apa-apa kok kalau mau ganti, bilang saja itu alasan mas karena sudah punya gantinya. Sudah ya mas sudah malam, Dinda ngantuk mau tidur, assalamu'alaikum."
"Tut."
"Tut."
"Tut."
"Wa'......"
"Hmmm, tadinya mau kangen-kangenan eee malah ujungnya marah-marahan. Ga dengar dulu malah main tutup telphon." Ucap mas Heru dalam hati.
"Kriiiiinnggg."
"Kriiiiinnggg."
"Kriiiinnggg."
"Kriiiiinnggg."
"Ga diangkat, pasti ngambek nih, kesal, cemberut eh cemburu, haduuuhhhh Din Din." Ucapnya lagi dalam hati setelah memencet tombol memanggil Dinda.
Sementara Dinda yang belum benar-benar tidur mendengar hp nya berdering lagi dan terlihat mas Heru memanggil, Dinda mengabaikannya.
Kesal yang dirasakan Dinda karena menyebut mau di ganti cewek lainnya.
"Kenapa sih ujung-ujungnya pasti begitu. Sebenarnya cinta ga sih?, sayang ga sih?, maksa banget jadi cowok. Ga ngertiin banget perasaan ceweknya eh pacarnya. Jadi cowok ga peka banget. Sudah tau kangen malah nanya. Ya pasti datang lah tapi ga ngomong ngancam segala. Namanya kangen pasti pengin ketemu. Iiiiihhhhh nyebelin nyebelin mas Heru nyebelin banget." Ucap Dinda dalam hati kesal terhadap mas Heru sambil memukul mukul bantal dan menutupi mukanya dengan bantal yang tadi di pukul-pukul oleh dirinya sendiri.
"Cewek itu memang aneh ya. Kangen tapi bilangnya ga kangen. Padahal sebenarnya pasti kangen, tinggal bilang saja apa susahnya sih. Maas aku kangen, gitu kan enak kenapa juga bilang ga. Padahal nih malam-malam kalau tiduran pasti bayangin muka pacarnya, lha ini ga ngaku. Aneh emang cewek, gengsi mau bilang kangen bilangnya ga. Mau bilang lagi tiduran sambil bayangin muka pacarnya juga ga." Mas Heru menggerutu sendiri dalam pemikirannya tentang pacarnya siapa lagi kalau bukan Dinda.
Malam semakin larut, rasa ngantuk mulai menjalar di pelupuk mata. Hingga akhirnya rasa lelah tentang pemikirannya terhadap pacarnya membuat keduanya tertidur di masing-masing tempatnya.
Iya lah gaes, mas Heru di Cibitung dan Dinda di kampung.
Oke like, vote, dan komentarnya masih tersedia. Monggo, silahkan, barangkali dari para readers yang budiman bersedia memberikannya☺️.
Terimakasih masih setia membaca karyaku ini, semoga Authornya, dan reader'snya sehat selalu aamiin🤲.
Tambah semangat, tambah rezekinya yang banyak, halal, berkah, barokah, dan berlimpah ruah, aamiin ya rabbal 'alamiin 🤲🤲🤲.
Bersambung lagi yaaa di episode berikutnya.
jangan lupa like, vote, dan komentar🥰🥰🥰.
__ADS_1