
"Din." Panggil mas Heru.
"Hmm."
"Din, lagi ga sibuk kan." Tanya mas Heru.
"Sebenarnya sibuk, emangnya ada apa mas nanya." Dinda tanya balik.
"Alah sibuk cuma nonton televisi sama rebahan kan."
"Itu juga kesibukan mas, walaupun cuma nonton televisi sama rebahan." Jawab Dinda mulai kesal.
"Iya juga sih, tapi kan ga gitu. Maksudnya ngerjain apa, atau mau pergi kemana. Gitu lho Din maksud Aku." Ucap mas Heru.
"Terserah Aku lah, yang ngerjain kan Aku bukan mas Heru, gitu aja kok repot nanya bae." Jawab Dinda.
"Din mau minta sesuatu boleh?." Tanya mas Heru pelan.
"Tadi minta kopi item sudah tak kasih, sekarang mau apalagi." Tanya Dinda beneran mulai kesal.
"Din, punya nomor telephon ga, hp maksudnya." Tanya mas Heru.
"Punya." Jawab Dinda singkat.
"Minta boleh." Tanyanya lagi.
"Boleh." Jawab Dinda.
"Nomornya berapa Din?." Lanjut tanya.
"0219874567." Jawab Dinda langsung.
"Kok, 0219874567, ini bukannya no telepon ibu kontrakan Din." Mas Heru memastikan karena nomot tersebut sudah ada di kontak telp hpnya.
"Kan tadi mas Heru minta nomor telepon ya itu nomornya." Jawab Dinda jelas.
"Bukan ini, maksud aku nomor telepon hp Din." Ucap mas Heru.
"Adanya itu mas Heru." Jelas Dinda.
"Terus nomor hp nya?." Tanya lagi.
"Ga punya nomor hp mas." Jawab Dinda.
"Memangnya kenapa ga punya nomor hp?." Tanya mas Heru ingin tahu.
"Mas Heru yang ganteng tapi ga pinter, orang ga punya nomor hp berarti sudah tentu ga punya hp nya. Mana ada punya nomor hp tapi hp ga punya. Terus itu hp punya siapa coba. Iihh mas Heru lama-lama tambah aneh." Ucap Dinda kesal.
"Ooo, bilang dong kalau belum punya hp, jadi mas tahu dan otomatis tahu juga ga punya nomornya. Lha ini panjang kali lebar penjelasannya, tapi terimakasih yaa mba Dinda yang manis tapi nyebelin sudah bilang mas ganteng mmm." Jawab mas Heru sambil senyum.
*
Pada tahun 2003 memang belum banyak yang punya hp. Kalaupun ada mereka yang mampu membelinya. Hp dulu itu kebanyakan monophonic mungkin sekarang masih ada yang punya. Hp nya itu cuma bisa buat nelp sama SMS saja. Kalau yang seumuran 30 tahun ke atas pasti paham hp yang di maksud Author.
*
"Kan tadi mas Heru cuma minta nomor telp ga bilang punya hp terus nomornya berapa. Gitu yang jelas, salah mas Heru minta nomor doang tanpa nanya sebelumnya punya hp ga." Jelas Dinda.
"Iya deh, yang ganteng ngalah. Eh maksudnya yang salah mengalah. Tapi suka lihatnya Dinda yang kesal, marah, dan cuek. Kamu begini sama Aku doang ya Din." Tanya mas Heru selama kenal Dinda.
__ADS_1
"Kenapa memangnya kalau cuma ke mas Heru, biasa aja sih sama yang lain juga sama ga beda." Ucap Dinda menutupi.
"Hmmm, iya deh." Ucap mas Heru singkat.
Mas Heru masih menikmati kopi itemnya yang sudah dingin. Sedangkan Dinda sebenarnya sudah tidak ingin ngobrol karena sedari tadi menahan rasa kesal entah kenapa.
"Lha kok pada diam sih." Ucap Tini dari dalam yang keluar membawa gorengan tempe.
"Enak nih anget-anget, kenapa ga dari tadi Tin di keluarin. Kopiku sudah habis nih." Ucap mas Heru sambil memegang gelas kopi yang kosong.
"Tadi diam, giliran ada gorengan ngomong gimana sih Din mas Heru." Ucap Tini sambil menaruh sepiring gorengan tempe.
"Ya tadi diam karena ga ada yang buat goyang mulut Tin." Jawab mas Heru.
"Tau tuh mas Heru emang gitu." Ucap Dinda sambil berjalan masuk ke dalam kontrakan.
"Kok malah di tinggal Din, temenin makan. Sini tak suapin, sekali-kali mau yah." Ajak mas Heru.
"Moh, malas Aku makan sama mas Heru apalagi disuapin hiii amit-amit ga ahh makasih."
Jawab Dinda dari dalam yang sebenarnya cuma sedang malas tapi entah kenapa yang terucap dari bibirnya seperti rasa kesal sama mas Heru.
"Tamu di tinggalin ga sopan tahu Din. Pamali kata orang Sunda, dan ora ilok kata orang Jawa. Sini apa ngobrol, lagian ada Tini juga yang temenin. Ga usah malu nanti malah malu-maluin." Mas Heru mencoba merayu Dinda untuk duduk bareng lagi dan ngobrol.
Dinda keluar dengan membawa teko berisi teh manis panas dan juga gelas yang dibawanya dengan nampan. Dinda kemudian menaruhnya di bawah dekat jendela kontrakan.
"Aku tadi bikin ini, tuh gelas kosong emang ga seret makan ga ada minumnya." Ucap Dinda sambil menunjuk teko dan gelas mas Heru yang kosong.
"Terimakasih banyak, ya Allah seneng deh mas lihat calon istri yang perhatian begini. Makin sayang deh, apalagi kalau tambah senyum. Aduuuuhhhh meleleh hati mas Din." Ucapan mas Nur setelah di beri satu gelas berisi teh manis panas.
"Hmmm, mulai deh gombalan mautnya. Mas Heru emangnya ga takut kalau nanti ada yang suka beneran sama mas." Tanya Tini.
"Tin ga ada sejarahnya mas gombalin apalagi gombalan maut untuk cewe. Baru ini lho mas gombalin, ga tahu saja kalau sama Dinda jurus itu keluar sendiri. Tapi ga apa lah kalau ada yang suka beneran. Apalagi yang suka Dinda, dengan senang hati mas terima, ya ga Din. " Ungkap mas Heru jujur.
"Ya deh percaya, yang baru jadi raja gombal. Din Aku tinggal dulu ya." Ucap Tini sambil bangun dari duduknya.
" Mau kemana Tin, ditemenin malah pergi." Jawab Dinda ga mau di tinggalin.
"Mau boker, mau ikut, ayo, tak suruh nampung sekalian heehee." Jawab Tini pura-pura yang hanya mencoba membiarkan mas Heru dan Dinda ngobrol berdua di teras kontrakan.
Ada tetangga kontrakan yang menyapa mereka berdua. Bahkan ada yang meledek, di bilang sudah jadian. Mereka kompak bilang kalau mas Heru dan Dinda cocok entah di lihat dari segi mana.
"Mau boker ngomong, ga malu, pantesan dari tadi bau-bau sedap gimana. Oo ternyata ada yang lagi kebelet." Ledek Dinda.
"Din." Panggil mas Heru.
"Ya mas." Dinda jawab singkat.
"Mau tanya boleh." Ucap agak ragu.
"Dari tadi mau nanya mulu, nanya tinggal nanya mas, kenapa?." Emangnya mau tanya apaan." Tanya Dinda agak ga enak perasaannya.
"Kamu sudah punya pacar belum?." Tanya mas Heru serius.
"Serius nih, sudah punya belum Din?." Dengan muka serius menatap Dinda.
"Memangnya kenapa kalau sudah punya apa belum." Tanyanya.
"Ya kok kenapa?. Kan tanya, jawab dulu, baru nanti lanjutannya." Ucap mas Heru.
__ADS_1
"Belum mas." Jawab singkat.
"Serius Din." Mas Heru memastikan.
"Mas Heru gimana sih, kan sudah di jawab serius malah nanya serius. Mau seserius apa sih mas, bingung deh." Ucap Dinda kesal.
"Ya kan nanya, bagus deh." Tanggapan mas Heru.
"Kok bagus, apanya." Tanya Dinda.
"Ya bagus dong belum punya. Jadi kalau sedang berdua begini kan enak ga ada yang marah sama kamu atau sama mas. Terus kalau di ajak jalan juga ga ada yang marah heehee." Terang mas Heru senang.
"Memangnya siapa yang mau marah, terus kalau marah apa urusannya." Tanya Dinda bingung.
"Tau ahh masih baru jadi bingung kan. Entar saja kalau sudah jalan pasti ngerti." Ucap mas Heru.
"Apaan mas Dinda ga ngerti, maksud mas Heru apa." Jawab Dinda semakin bingung.
"Kamu belum punya pacar kan Din?. Kalau jadi pacar Aku mau ga?." Tanya mas Heru langsung.
Hati dan jantung Dinda seketika berdetak tak karuan untuk sesaat mendengar ucapan mas Heru. Sebenarnya sejak bertemu mas Heru Dinda merasa aneh dengan perasaannya, nun berusaha menepis.
Akan tetapi semakin berusaha menepis, semakin rasa itu mulai nyata dan jelas. Meskipun jarang bertemu dan ngobrol, namun sekalinya bertemu rasa itu menimbulkan sikap kesal.
"Maaf mas Heru, ga lagi kambuh kan. Apa mas Heru salah obat ya?. Mas Heru ga lagi salah ngomong. Atau lidahnya mungkin keseleo mas." Canda Dinda menyingkirkan rasa tidak karuan yang ada dalam hatinya.
"Wah Din, kebangetan kamu. Orang bilang serius banget, mana sudah pasang muka paling ganteng, paling manis, eee malah di kata-katain kambuh. Pake salah minum obat, nih lagi lidah keseleo, apaan." Ucap mas Heru kesal.
"Lagian mas Heru bilang begitu. Seperti ga ada bahan obrolan lain." Ungkap Dinda berusaha menghindar obrolan tadi.
Dinda menghindari tatapan mas Heru sedari tadi. Meskipun masih curi-curi pandang dan malu. Mas Heru sebenarnya tahu Dinda menghindar arah pembicaraannya. Namun mas Heru tetaplah seorang pria yang tanpa menyerah.
"Serius Din, yaa gini deh, jalani saja dulu. Toh seiring berjalannya waktu kan ga tahu kedepannya gimana. Baik kamu maupun mas sendiri. Yaa mas sih inginnya serius." Serius ucapan mas Heru.
"Mas Heru yakin mau jalani ini sama aku." Tanya Dinda tak mau salah langkah.
"Yakin, jalani saja dulu. Ga harus jawab ya atau tidak, paling tidak saling mengenal dulu. Saling mengerti, memahami, itu saja sih ga banyak-banyak." Pinta mas Heru.
"Mmm, ga tahu deh mas, Aku belum punya jawaban gimana-gimana. Cuma yaa karena kita tetangga dekat, sebelahan yaaa itu saja dulu." Jawab Dinda masih menghindar.
"Yaa kan tetanggaku idolaku Din." Ledek mas Heru mencairkan suasana.
"Emang ya, pasti besok timbul gosip nih. Geger satu gang, kan malu mas." Ucap Dinda menunduk malu.
"Malu kenapa?, emangnya kita ngapain?, lha wong cuma ngobrol gini depan teras kontrakan kok malu. Malu itu kalau sudah berdua-dua di dalam kontrakan dan pintunya di tutup. Ada satu yang ga malu dan itu pasti di jamin. Tahu siapa yang ga malu yaaa itu setan, karena ga malu godain kita terus." Tutur mas Heru.
"Itu sih mas Heru ga malu." Ucap Dinda ledek lagi.
"Berarti Aku setan dong." Timpal mas Heru.
"Emang setan penggoda, godain terus." Jawab Dinda keceplosan.
"Berarti Aku godain kamu ya Din. Hayooo, padahal mas ga godain lhooo. Kok tergoda sih, emang tergoda apanya Din." Ledek mas Heru.
"Tau ahh, udah ahh mas, tuh gorengan sudah habis, minumnya juga, pulang sana, sudah siang. Aku mau tidur ngantuk, pulang ya pulang, kontrakan mas sebelah bukan di sini." Usir Dinda menahan malu perasaannya takut ketahuan.
"Hmmmm, ngusir. Ga apa-apa ngusir dari teras kontrakan tapi jangan ngusir Aku dari hatimu ya Din." Tambah ledek.
Mas Heru akhirnya pulang ke kontrakan sambil senyum-senyum lihatin Dinda. Dinda pun salah tingkah di buatnya hingga bingung mau mengambil gelas dan piring malah ambil lap kaki di teras.
__ADS_1
Obrolan kali ini membuat Dinda dan mas Heru senang meskipun terkadang aneh di rasa. Rasa kesal yang keluar melalui ucapan dari mulut Dinda. Rasa senang meledek Dinda dari mas Heru.
Lanjutan kisahnya akan seperti apa yuk ikuti terus karyaku ini yaaa. Bersambung lagi....