Cikarang ( Pekerjaan Dan Cinta )

Cikarang ( Pekerjaan Dan Cinta )
Episode 78. Menceritakan kepada ibu.


__ADS_3

Esoknya Dinda pulang ke kampung dengan Tini dengan menggunakan bus Sinar jaya. Dari Cibitung menuju Tegal.


"Din, kamu sudah pulang ke kampung?." SMS dari mas Heru.


"Ini sedang pulang kampung, lagi di bus. Kenapa mas ?." Dinda balas SMS.


"Kangen." SMS singkat mas Heru.


Dinda membaca SMS dari mas Heru. Hatinya terasa bahagia namun ada rasa kecewa. Ketika rasa itu bercampur sungguh tidak enak. Hanya bisa membaca SMS berkali-kalu namun belum membalasnya.


"Hati-hati di jalan, salam buat ibu dan bapak dari calon menantunya." SMS dari mas Heru lagi.


"Iya." Balas SMS.


"Kangennya ga di balas Din?." SMS lagi dari mas Heru.


"Ga." SMS Dinda yang di baca mas Heru meskipun singkat tapi membuatnya tersenyum di sela-sela kerjanya.


Dinda sendiri bingung, sebenarnya mau jawab kangen malah yang di ketik kebalikannya. Dinda malu balas SMS lagi kalau yang tadi salah ketik. Hp akhirnya di masukkan ke dalam tasnya.


Bus berjalan melewati jalan tol Cikampek menuju arah Tegal. Sepanjang perjalanan banyak yang dipikirkan oleh Dinda. Bukan hanya mencari pekerjaan, tentang sekolahnya mau dilanjutkan atau tidak. Tentang hubungannya dengan mas Heru. Tentang siapa cewek waktu itu yang di bonceng mas Heru. Karena mengantuk dan lelah Dinda akhirnya tertidur. Sedangkan Tini memilih melihat jalan sepanjang jalan tanpa mengajak Dinda mengobrol.


Sementara itu mas Heru yang melihat SMS Dinda terakhir hanya tersenyum. Dalam hatinya kenapa perempuan selalu bicara kebalikannya. Dalam hatinya kangen tapi bilangnya ga, menurutnya aneh. Mas Heru masih melanjutkan pekerjaannya di pabrik.


Seharian di perjalanan, akhirnya Dinda dan Tini masing-masing telah sampai di rumahnya. Dinda yang datang pukul 4 sore merasa lelah. Dinda beristirahat setelah menyalami ibunya. Sedangkan adiknya belum pulang sekolah dan bapak belum pulang kerja.


"Din ga mandi dulu ndo, sudah sore." Ucap ibu masuk ke dalam kamarnya Dinda.


"Bentar lagi Bu, Dinda masih cape." Jawab Dinda sambil rebahan.


"Ya sudah, jangan kesorean nanti asharnya terlambat lho ndo." Ucap ibu mengingatkan sholat ashar.


"Iya Bu." Jawab Dinda singkat.


Sore hari setelah semua anggota kumpul. Bapak dan ibu duduk di ruang belakang menikmati teh manis yang masih panas. Dinda menemani mereka duduk sembari meminum teh manis panas yang sudah dibuatkan oleh ibu.


"Din, rencananya mau di kampung berapa lama?." Tanya bapak.


"Ga tahu pak, lihat nanti. Dinda dan Tini mau mencoba ke BKK yang dulu menyalurkan Dinda kerja. Siapa tahu ada lowongan kerja." Jawab Dinda.


"Memangnya yang kemaren ga di perpanjang Din?, beneran habis kontrak ya?." Tanya ibu menyambung obrolan.


"Yang jelas sih sudah habis kontrak Bu. Tapi kemaren kata leader Dinda, mungkin ada panggilan lagi tapi kurang tahu kapan. Pemberitahuannya lewat panggilan hp." Jelas Dinda.


"Oooo, semoga ga lama ya Din nganggurnya. Biar ibu ada yang bantu, iya tho pak?." Ucap ibu.


"Iya Din. Kamu tahu sendiri bapak kerjanya gimana. penghasilan berapa, buat bantu adikmu yang masih sekolah." Sambung bapak berucap.


"Iya pak, Dinda ngerti. Doakan saja Dinda cepat dapat kerjaan lagi. Terutama ibu, karena doa ibu paling cepat sampai heehee, iya kan Bu." Ucap Dinda tersenyum.


"Ibu selalu mendoakan Din, buat semuanya. Kamu pulang bareng Tini Din?." Tanya ibu.


"Iya Bu, mungkin besok Tini main ke sini. Tadinya Dinda yang mau main ke Tini. Tapi kata Tini ga usah, soalnya mau sekalian ke BKK biar ga lama di jalan." Ucap Dinda.


"Ya sudah kalau gitu Din." Ucap ibu.


Dinda masuk ke dalam kamarnya. Badannya yang masih terasa pegal-pegal karena seharian duduk di bus selama perjalanan membuatnya ingin rebahan lagi.


"Din sudah sampai rumah?." SMS dari mas Heru.


"Sudah mas." Dinda menjawab SMS singkat.


"Nanti habis Maghrib mas nelphon ya?." Pinta mas Heru lewat SMS.


"Ga usah, Dinda masih cape." Jawab Dinda yang sebenarnya senang mau di telphon tapi pura-pura ga mau.


Mas Heru yang membaca balasan SMS Dinda hanya tersenyum.

__ADS_1


"Lihat saja kalau nelphon ga diangkat." Bathin mas Heru.


Maghrib tiba, Dinda melaksanakan ibadah sholat Maghrib. Setelah selesai Dinda menuju dapur mengambil nasi dan lauk yang di masak oleh ibunya.


"Kriiiinggg."


"Kriiiinggg."


"Kriiiinggg."


Bunyi hp Dinda di dalam kamar dengan nada dering yang masih standart.


"Din, itu hp kamu bunyi." Ucap ibu Dinda yang mendengar bunyi hp berdering.


"Biarin saja Bu." Jawab Dinda.


"Ga diangkat, siapa tahu penting." Ucap ibunya lagi.


"Ga penting, paling orang iseng Bu." Jawab Dinda.


"Kriiiinggg."


"Kriiiinggg."


"Kriiiinggg."


Hp Dinda berdering lagi.


"Din, itu hp nya bunyi lagi. Angkat Din, siapa tahu penting." Ucap ibu menyuruh Dinda.


"Iya Bu, tanggung mau cuci tangan dulu." Jawab Dinda setelah selesai makan kemudian mencuci tangannya.


Dinda masuk ke dalam kamar, lalu mengambil hp yang tergeletak di atas meja belajarnya. Di lihatnya layar hp, ternyata panggilan dari mas Heru.


"Hallo, assalamu'alaikum." Salam Dinda setelah memencet tombol panggilan.


"Wa'alaikumussalam, sudah makan belum Din." Jawab mas Heru lalu bertanya.


"Terus harusnya nanya apa?." Balik tanya mas Heru.


"Sudah sampai jam berapa?." Jawab Dinda.


"Iya, mas tadinya mau nanya itu juga." Ucap mas Heru sambil makan.


"Tadi jam 4, agak macet di tol Cikampek mas. Mas Heru lagi makan ya?." Ucapnya Dinda lanjut.


"Iya, makanya mas nanya kamu sudah makan belum?. Kalau belum makan, tak ajak makan bareng. Ee taunya sudah makan, jadi mas makan sendiri." Ucap mas Heru.


"Meskipun belum makan, mas ngajak makan bareng tetep sama saja kan mas, makannya sendiri-sendiri." Jawab Dinda agak kesal entah kenapa.


"Yaaa sendiri-sendiri kan tempatnya yang beda Din. Tapi rasanya seperti makan berdua heeehee." Ucap mas Heru gombal.


"Gombal banget sih mas, sudah makan saja dulu. Nanti kalau sudahan baru nelphon lagi. Kalau nelphon sambil makan eh makan sambil nelphon nanti keselek lho." Ucap Dinda mengingatkan.


"Hmmmm, perhatian banget calon istri mas. Tadi di SMS bilangnya ga usah nelphon. Giliran mas nelphon, diangkat. Sekarang suruh nelphon lagi, masih kangen ya Din?." Tanya mas Heru meledek Dinda.


"Iiiiihhhh apaan sih mas Heru, siapa juga yang kangen. Nelphon diangkat karena hpnya bunyi terus. Ibu suruh angkat, ya tak angkat telphonnya." Jawab Dinda beralasan yang sebenarnya masih kangen juga, tapi entah kenapa jadi kesal.


"Ya sudah, mas lanjut makan dulu nanti habis isya insya Allah sambung lagi. Assalamu'alaikum." Ucap mas Heru.


"Wa'alaikumussalam." Jawab salam Dinda.


Setelah itu hp benar-benar telah putus sambungan telphon. Dinda senyum-senyum setelah di telphon mas Heru sekaligus kesal. Kesal karena merasa mas Heru ga romantis nelphon cuma ngomong seperti itu saja. Dan kesal karena mas Heru benar-benar menutup telphonnya untuk makan lebih dulu.


Sedangkan mas Heru di sana tersenyum senang seakan melihat raut wajah Dinda yang kesal dibuatnya. Mas Heru melanjutkan makan malamnya yang belum selesai.


Ibu yang sempat mendengar Dinda berbicara melalui hpnya kemudian masuk ke kamar Dinda dan duduk di tepi kasur.

__ADS_1


"Tadi siapa yang nelphon Din." Tanya ibu penasaran.


"Mmmm, teman Dinda Bu." Jawab Dinda berbohong menutupi yang sebenarnya karena takut.


"Teman apa teman?." Tanya ibu lagi memastikan.


"Sebenarnya bukan sih Bu. Maaf Bu tadi Dinda berbohong." Ucap Dinda merasa salah karena takut.


"Terus siapa hayooo, masa ibu ga boleh tahu." Ucap ibunya Dinda mengajak Dinda untuk curhat.


"Itu yang nelphon Dinda tadi namanya mas Heru." Jawab Dinda malu.


"Mas Heru thoooo. Dia teman atau....." Tanya ibu Dinda penasaran ingin tahu.


"Sebenarnya tetangga kontrakan Bu, tepatnya di sebelah Dinda." Jawab Dinda cerita.


"Oooo,,, tetangga sebelah,,,," Ucap ibu meledek tapi masih penasaran kelanjutan cerita Dinda.


"Yaa itu tetangga sebelah." Ucap Dinda berhenti tidak ingin berlanjut bercerita kepada ibunya.


"Teruuuuuuusssss,,,,,,,, " Ibu ingin Dinda melanjutkan ceritanya.


"Awalnya tetangga, lama-lama yaaa itu, tau ahh ibu seperti ga pernah muda saja." Jawab Dinda malu menceritakan kepada ibunya.


"Ibu hanya ingin anak ibu cerita, paling tidak curhat. Jadi ibu merasa ada buat kamu Din. Mau kamu susah, senang, atau apapun keadaan kamu, ibu berharap tidak ada yang disembunyikan." Ucap ibu Dinda.


"Maaf Bu." Ucap Dinda malu tertunduk sambil memainkan hpnya.


"Dia siapa Din?." Tanya ibu ingin tahu pasti.


"Mas Heru pacar Dinda Bu. Maaf Dinda sudah mulai pacaran tanpa izin dulu sama ibu dan bapak." Jawab Dinda malu merasa bersalah memulai hubungan dengan seorang pria tanpa izin dari orangtuanya.


"Tapi hanya sekedar pacaran biasa kan Din, maksud ibu ga gimana-gimana kaaaannn ?." Ucap ibu Dinda agak khawatir.


"Maksud ibu ga gimana-gimana apanya Bu?." Tanya Dinda bingung pertanyaan ibunya sendiri.


"Masa kamu ga tahu Din, sudah besar, dewasa pula. Yaaa itu hubungan orang dewasa, amit-amit ya Din jangan sampai. Ibu ga mau kejadian kamu berhubungan di luar nikah." Jelas maksud pertanyaan ibu.


"Ya Allah Bu, ya ga lah. In syaa Allah Dinda dan mas Heru masih menjaga itu Bu. Kami tahu batasan, meskipun terkadang setan menggoda heehee." Ucap Dinda srmpet-sempetnya bercanda.


"Hiih jangan ngomong gitu, nanti kalau setannya goda beneran gimana ?." Ucap ibu setelah memukul lengan Dinda karena candaannya.


"Aww, sakit Bu. Ga lah Bu, in syaa Allah kami akan ingat selalu. Biarpun ada setan yang menggoda, tinggal suruh saja tuh setan pergi jauh-jauh." Jawab Dinda asal setelah mengelus-elus lengannya yang sedikit sakit setelah di pukul ibunya.


"Sudah cuma kasih tahu namanya saja nih sama ibu." Ucapnya lanjut masih penasaran.


"Ibu mau tahu apa lagi?." Tanya Dinda yang sebenarnya ga mau cerita banyak takut kejadian seperti mas Nur.


"Mas Heru kerjanya di mana, bagian apa, yaaa yang seharusnya ibu tahu." Ucap ibunya Dinda seakan memaksa Dinda mengatakan semua hal tentang mas Heru.


"Mas Heru kerja di pabrik kayaba. Dia masih kontrak Bu kerjanya, tapi sudah lama karena diperpanjang terus. Dia cuma operator biasa, sudah cuma itu." Jawab Dinda lanjut berbicara tentang mas Heru.


"Asli orang mana Din?." Tanya ibunya Dinda.


"Aslinya Brebes Bu." Jawab Dinda.


"Tetangga dong Din. Di sana tetangga kontrakan, di sini tetangga kabupaten. Ga apa-apa masih dekat. Yang penting jangan sama yang jauh Din." Ucap ibu Dinda tidak masalah.


"Dinda ga tahu kedepannya gimana Bu. Sebenarnya mas Heru minta serius, tapi Dinda belum siap Bu. Dinda ingin melanjutkan sekolah lagi, Dinda ingin kuliah. Tapi sepertinya dengan banyak pertimbangan yang mas Heru kasih, sepertinya Dinda ga jadi kuliah. Kalaupun untuk menikah, Dinda umurnya belum genap 20 tahun. Terus Dinda juga masih mau bantu ibu dan bapak dulu. Dinda ingin kerja dulu, setidaknya sampai adik-adik lulus sekolah." Akhirnya Dinda bercerita apa yang selama ini ada dalam pikirannya kepada ibunya.


"Din, kalau kamu merasa tidak mampu untuk kuliah itu terserah kamu. Toh kamu sendiri yang menjalani bukan ibu. Meskipun bapak dan ibu sebenarnya mau kamu melanjutkan kuliah, tapi kamu tahu sendiri kondisi ekonomi kita ndo. Untuk hubungan kamu serius atau tidak itu ada di tangan kalian berdua. Yang penting jangan saling menyakiti. Jujur tentang diri sendiri, dan keadaan. Jodoh itu tidak tahu siapa, kapan, di mana?. Tapi sebagai manusia kita harus usaha dan ikhtiar berdoa. Jadi ibu hanya bisa mendoakan yang terbaik menurut Allah untuk kamu Din." Tutur ibu.


"Iya Bu, Dinda mengerti. Maaf Bu, Dinda baru bicara tentang mas Heru sekarang." Ucap Dinda merasa ga enak sama ibunya.


"Ga apa-apa, ibu bisa mengerti. Kamu di sana kerja. Nelphon ke rumah pasti pulsanya banyak. Jadi untuk hemat, nelphon itu buat yang penting-penting saja. Sudah ini sudah jam 7 lewat ibu belum isya. Kamu juga kan, isya dulu ya Din baru istirahat lagi. Takutnya nanti kamu ketiduran." Ucap ibunya mengingatkan dan menyudahi obrolan antara ibu dan anak.


"Iya Bu." Jawab Dinda singkat.

__ADS_1


Nah masih mau lanjut lagi kaaaannn. Simak di episode berikutnya.


Bersambung......


__ADS_2