Cikarang ( Pekerjaan Dan Cinta )

Cikarang ( Pekerjaan Dan Cinta )
Episode 69. Dia adalah...


__ADS_3

Mendekati habis kontrak, Dinda dan Tini masih juga belum mencari informasi tentang adanya lowongan pekerjaan.


"Din, mau cari lowongan kerja ga?." Tanya Tini suatu malam setelah pulang kerja.


"Gimana ya Tin, Aku bingung. Kita masih ada satu bulan lagi kerja di pabrik. Kata mba Susi biasanya ada perpanjangan kontrak kerja." Jawab Dinda menanggapi.


"Mba Susi Lider kamu Din." Tanya Tini tentang mba Susi.


"Iya, dia kemaren bilang, yang mau habis kontrak suruh kasih nomor hp kalau punya. Kalau ga punya bisa kasih nomor telp kontrakan atau nomor siapa yang bisa di hubungi." Jelas Dinda.


"Kok Aku belum di kasih tahu ya Din. Lider Aku mba Atun belum ngomong apa-apa. Cuma dengar-dengar begitu katanya." Tutur Tini.


"Mungkin nanti besok atau kapan. Informasi itu dari supervisor Tin, baru ke lidernya." Ucap Dinda lanjut.


"Gini nih sudah mau habis kontrak beda line jadi ga tahu kan. Lagian kenapa harus di pindah sih. Mana mba Atun orangnya judes Din, kalau ke toilet terus di marahin." Curhat Tini.


"Ya iya Tin, sama Aku juga. Kalau ke toilet terus kerjaan kita siapa yang ngerjain. Kan harus kejar target, ga dapat target ya otomatis kena marah semua." Jelas Dinda.


"Jadi gimana nih, mau cari informasi lowongan kerja atau nunggu habis kontrak." Tanya Tini bingung.


"Gini saja deh Tin, kita kerja saja sampai habis kontrak. Di perpanjang atau tidaknya urusan nanti setelah habis kontrak. Kalau di perpanjang yaa lanjut kerja lagi berarti masih rezeki kita. Kalau ga di perpanjang yaa ga kerja berarti belum rezekinya. Kita cari lagi, sudah ga usah bingung namanya rezeki ga kemana." Tutur Dinda memberi pilihan.


"Gitu ya Din, ya sudah deh gimana kamu, aku ngikut saja." Tini menyetujui.


"Eh Din, gimana kamu sama mas Heru?." Tanya Tini ingin tahu hubungan Dinda sekarang.


"Gimana apanya Tin?. Dinda tanya balik.


"Yaa hubungan kamu sekarang gimana sama mas Heru, masih, apa gimana?. Sekarang sepertinya jarang ketemu Din." Tanya Tini jelas.


"Masih Tin, cuma memang sekarang jarang ketemu. Palingan juga SMS, itupun kalau di balas." Jawab Dinda apa adanya.


"Sekarang mas Heru shift berapa Din?." Tanyanya lagi.


"Shift 2 Tin, masuk sore. Aku saja sekarang bingung, punya pacar seperti ga punya pacar." Ucap Dinda.


"Terus rencana kamu yang mau kuliah gimana Din?." Teringat Tini akan rencana Dinda dulu.


"Aku juga mikir ke situ Tin. Cuma, entahlah, keadaan keluargaku masih butuh bantuanku Tin. Kalau Aku kuliah rasanya nanti dulu deh. Soalnya kuliah biayanya banyak Tin." Ungkap Dinda.


"Din, tahu ga?." Ucap Tini.


"Tahu apa?." Tanya Dinda.


"Aku sepertinya ga jadi kuliah Din." Ucap Tini masalah kuliah.


"Aku pikir kalau kerja saja sudah cape, lelah, belum lagi kalau lembur. Buat kuliah gimana?, waktu dan tenaganya sepertinya Aku ga sanggup." Tutur Tini yang ingin kuliah seperti Dinda karena pandangannya tentang pendidikan dan masa depan.


"Kalau sekarang iya Tin, belum bisa bagi waktu dan tenaga. Apalagi kita kerja kena shift. Ga tau lah Tin, sepertinya Aku ga bisa kuliah." Ucap Dinda sepertinya menyerah mengenai kuliah.


"Kalau Aku karena duitnya juga Din, kuliah itu mahal. Seperti yang kamu bilang tadi, biayanya ga murah." Ucap Tini mengiyakan tentang biaya kuliah.

__ADS_1


"Gaji kerja perbulan sekarang buat ngontrak, makan, beli kebutuhan hidup, belum lagi bantu orang tua buat adik, kalau untuk kuliah ga cukup Tin. Makanya sepertinya untuk kuliah benar-benar hanya mimpi. Belum lagi waktu itu ngobrol sama mas Heru, yang ada di ceramahin sama dia. Intinya ga boleh kuliah." Ucap Dinda jelas.


"Memangnya mas Heru ga setuju Din kalau kamu kuliah, kan ga minta ongkos sama dia. Kamu kuliah kan buat mencari ilmu, buat pendidikan kamu lebih baik. Itu pandangan kamu waktu bilang sama Aku Din. Terus kalau lulus kuliah apa namanya, sarjana, kemungkinan akan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dengan gaji yang baik juga. Kok bisa-bisanya ga dukung, harusnya sebagai cowok kamu kalau sayang yaa dukung doooongg." Kesal Tini.


"Kata mas Heru, Aku kalau kuliah :


  1. Kuliahnya jurusan apa.


2. Duitnya ada ga buat biaya kuliah.


  3. Kamu kerja bisa bagi waktu ga antara


   kerja dan kuliah.


  4. Kalau pulang kerja, ada lembur, cape,


    terus kuliahnya gimana?.


  5. Kalaupun semua itu bisa di lewati, jika


    lulus, mau kerja?. Nanti kalau menikah


    masih tetap kerja?.


  6. Kalau punya anak yang ngurusin anak


    siapa?, nyuruh orang lain, atau baby


  7. Jika kamu nantinya bisa menjalani


semua itu, dan tetap dengan



pendirianmu Aku tidak masalah.


Jadi gimana mau terus lanjut keinginan untuk kuliah atau tidak. Lagian biaya kuliah itu banyak, gaji kamu cukup ga buat semuanya. Gitu Tin, jadi Aku anggap kesannya begitu. Mas Heru seperti tidak mendukung Aku." Cerita Dinda.


"Sungguh benar-benar cowok yang perhitungan." Ucap Tini.


"Yaaa memang benar sih, setelah Aku pikir-pikir omongannya mas Heru ada benarnya juga Tin. Aku pikir kerja sambil kuliah mungkin bisa kali yaa. Pada kenyataannya baru kerja saja sudah cape, lelah, pusing, akhirnya yaaa sudah pupus sudah harapanku." Ungkap Dinda.


"Yaa sudah lah." Singkat Tini.


Mereka asik dengan obrolannya. Meskipun kini mereka berbeda line dan Lider serta supervisornya berbeda, maka hal itu menjadi obrolan mereka.


*


**


Suatu hari Minggu, ketika Dinda libur kerja dan melihat mas Heru yang ternyata ada di kontrakan juga. Mas Heru mengajak Dinda untuk jalan-jalan.

__ADS_1


Dengan senangnya, Dinda mau saja ikut. Karena sudah lama tidak jalan-jalan berdua dengan mas Heru. Dinda yang tadinya malas keluar, jadi bersemangat.


Ternyata, mas Heru mengajak Dinda ke Ramayana Cibitung untuk berbelanja bulanan kebutuhan sehari-hari.


Mas Heru dan Dinda berbelanja di swalayan kebutuhan sehari-hari di mall Ramayana Cibitung. Setelah selesai berbelanja, mas Heru mengajak Dinda untuk makan di KFC Ramayana.


Setelah memesan menu makanan, mereka duduk di bangku. Makanan berupa nasi dan ayam kriuk khas KFC bagian sayap serta tak lupa dengan saosnya di tambah minuman cola dingin siap dinikmati. Sambil menikmati makanan, mereka mengobrol.


"Mas boleh nanya ga?." Tanya Dinda di sela-sela makan bareng dengan mas Heru di KFC Ramayana Cibitung setelah belanja bulanan.


"Boleh." Jawabnya.


"Mas, gimana pandangan mas jika kerja sambil kuliah ?." Tanya Dinda hati-hati.


"Kerja sambil kuliah ya?." Tanya balik mas Heru.


"Iya mas, menurut mas gimana?." Tanya lebih jelas.


"Mau yang pendek apa yang panjang jawabannya Din?." Tanyanya.


"Emang kalau yang pendek kenapa?, kalau yang panjang kenapa?." Tanya Dinda bingung.


"Kalau mau jawaban yang pendek, mas bisa jawab di sini sekarang. Tapiii kalau mau jawaban yang panjang ga di sini, nanti di kontrakan." Jawab mas Heru.


"Kalau yang panjang di kontrakan memangnya kenapa mas?." Tanya Dinda lagi.


"Ga bisa jelasinnya, karena panjang, ga enak di sini. Banyak orang ga bisa jelas maksud dan tujuannya. Sudah gitu tempat makan, buat gantian yang lain." Ucap mas Heru melihat keadaan sekitar.


"Oo, jadi kalau jawab di sini yang pendek?." Tanya Dinda lagi.


"Iya." Jawab mas Heru singkat sambil mengunyah makanannya.


"Mmmm, yaa sudah ga apa-apa di sini jawaban yang pendek dulu saja mas." Terima Dinda.


"Gini, kalau kerja sambil kuliah, bagus. Aku bahkan salut dengan mereka yang kerja sambil kuliah. Karena mereka sudah mampu dalam hal segalanya." Jawab mas Heru.


"Mampu dalam hal segalanya apa mas?." Tanya Dinda ingin tahu.


"Yaa itu penjelasan panjangnya. Sudah habis, yuk pulang dulu, ngobrolnya lanjut di kontrakan saja." Ajak mas Heru melihat makanan dan minuman Dinda sudah habis.


Setelah makanan mereka habis, mas Heru dan Dinda pulang ke kontrakan. Dengan berboncengan, mas Heru menyetir sepeda motornya dan Dinda membawa tentengan belanjaannya.


Sesampainya di kontrakan, Dinda memberikan belanjaan mas Heru. Dinda kemudian masuk ke kontrakannya, di susul mas Heru yang main ke kontrakan.


Karena Dinda di ajak oleh mas Heru jalan-jalan, Tini yang sendirian akhirnya main ke kontrakan mba Lilis di warung bongkok sendiri.


Dinda memberikan air Aqua kepada mas Heru di temani dengan cemilan yang tadi di belinya saat belanja.


Mereka mengobrol di ruang depan dengan pintu dan jendela yang terbuka karena takut Dinda sendirian tanpa Tini dan untuk menghindari fitnah.


Nah gimana jawaban mas Heru yaaa. Yuk simak kelanjutannya di episode berikutnya. Bersambung dulu....

__ADS_1


__ADS_2