
Sudah setengah tahun Dinda dan Tini bekerja di pabrik Toyo**. Selama itu pula mereka berdua tinggal di mess atau kontrakan yang masih sama. Sudah beberapa bulan ini mereka merasakan kontrakan tersebut sudah tidak nyaman lagi.
Kejadian kemalingan akhir-akhir ini sering terjadi di gang kontrakan mereka tinggal. Ada-ada saja yang di curi oleh pencuri. Sandal merk Eiger di curi meskipun di taruh di depan pintu. Celana Levis yang di jemur juga dicuri.
"Din, tadi di jemputan dengar kan kalau ada maling di kontrakan gang Andini. Katanya sudah sampai ke gang depan kontrakan kita. Itu kontrakannya pak H. Salim, sudah kemalingan 4 pintu. Yang ilang cuma sendal merk Eiger sama celana jeans." Ucap Tini ngajak ngobrol.
"Iya dengar, lagian malingnya aneh. Masa yang di curi sandal merk Eiger sama celana jeans yang di jemur. Memangnya ga ada lagi yang di curi ya." Heran Dinda.
"Soalnya sendal merk Eiger mahal Din harganya. Sepasang saja yang model japit 80 ribu. Apalagi yang model sandal gunung paling murah 150 ribu an deh." Tutur Tini.
"Pantesan di ambil, celana jeans yang di jemur gimana mahal juga ya harganya Tin. Bukannya harganya 80 ribu an juga kan." Tanya Dinda penasaran.
"Itu yang merk biasa, merk pasaran, alias abal-abal, aspal asli atau palsu. Kalau celana jeans yang beli di mall mah mahal Din. Ingat ga pas jalan-jalan ke Ramayana paling murah berapa?. Aku lihat di bandrol harga paling murah itu harganya 250 ribuan itupun diskon." Terang Tini.
"Ooo, ingat, iya Aku ingat. Celana jeans bermerk harganya di atas 200 ribuan Tin. Pantes lah malingnya nyuri gituan, gampang ambil dan gampang bawanya." Ucap Dinda ingat.
"Makanya beli celana jeans yang merk biasa saja, merk pasar, yang harganya 75 ribuan paling murah. Sandalnya sandal japit merk swalow aja ya ga Din." Ucap Tini menyarankan.
"Tapi tetap saja Tin, bagi orang yang mementingkan gaya dan gengsi pasti beli barang yang bagus, bermerk, dan mahal harganya. Memangnya kita cukup beli di pasar heehee." Jawab Dinda.
"Sebenarnya ingin beli barang yang bagus, bermerk, dan mahal harganya. Tapi sayang duitnya, itu buat makan sebulan bisa kali Din. Beli celana jeans 250 ribuan, buat makan ga ada sama saja bohong." Ucap Tini agak cemberut.
"Ya gitu, kalau mau berhemat dan punya uang lebih. Apalagi buat kirim di kampung buat orang tua. Pasti ada keinginan kita yang jadi korban." Ucap Dinda menasehati.
"Iya, ngomong-ngomong gimana kalau kita pindah kontrakan saja Din. Kemaren Anik bilang kalau tetangganya mau pindah. Kontrakannya di belakang tunggal dara. Mau ga besok pulang kerja nengok. Katanya tempatnya nyaman." Ajak Tini.
"Anik yang bagian bari kiri, yang satu jemputan, yang ngontrak di tunggal dara." Tanya Dinda.
"Iya Anik itu memangnya ada lagi." Jelas Tini.
"Oke besok pulang kerja mampir ke kontrakan Anik sekalian lihat kontrakannya.
Keesokan harinya setelah pulang kerja dan berada di bus jemputan. Tini melihat Anik lalu duduk di sebelahnya karena masih kosong. Dan Dinda duduk di belakang Anik.
"Hai Anik." Sapa Tini sambil duduk di kursi sebelah Anik.
"Oh, hai Tin. Ga lembur?." Tanya Anik setelah menyapa balik.
"Ga, cape lembur terus, gajinya kebanyakan sampe dompet Aku ga muat tahu Nik." Jawab Tini bercanda.
"Hmm, cape lembur terus entar giliran ga ada lemburan aja, bilangnya dompetnya lagi puasa, makanya kurus." Timpal Anik.
"Heeheee bercanda Nik. O iya Nik, Aku mau tanya. Itu yang kata kamu ada tetangga kontrakan mau pindah jadi dia." Tanya Tini langsung.
"Jadi, orangnya sudah ngomong sama bapak kontrakan. Itu satu Minggu lagi dari sekarang. Kenapa memangnya, ada yang tanya kontrakan kosong." Jawab Anik balik tanya.
"Ada." Jawab Tini singkat.
"Buat siapa." Tanya Anik lagi.
"Buat Aku sama Dinda." Jawab Tini.
__ADS_1
"Kamu mau pindah kontrakan?. Memangnya yang sekarang gimana ?." Tanya Anik penasaran.
"Yang sekarang sudah banyak maling berkeliaran. Kontrakan Aku kan agak jauh dari yang punya kontrakan terus rata-rata sepi kalau hari kerja. Jadi gitu deh, pengin pindah." Jawab Tini serius.
"Mmm, kalau gitu sekarang saja ngomong sama bapa kontrakan, soalnya belum ada yang tanya. Dia baru kemaren ngomong pas hari Minggu. Kebetulan belum ada yang nanyain tentang kontrakan kosong." Terang Anik memberi tahu.
"Iya ini mau langsung ke sana. Tolong Aku ya Nik, tolong anterin ke bapak kontrakannya sekalian lihat kontrakan." Jawab Tini langsung.
"Ya sudah nanti turunnya bareng saja." Saran Anik.
"Iya." Jawab Tini singkat.
Bus melaju pelan dari jalan kawasan mm 2100. Jalanan mulai padat merayap karena macet. Begitulah bila jam berangkat dan pulang kerja, jalanan pasti macet.
Akhirnya bus jemputan berhenti di depan tunggal dara Cibitung. Anik, Tini, dan juga Dinda turun bergantian dari bus jemputan. Mereka menyeberang jalan menuju gang kontrakan Anik di belakang tunggal dara.
Sampainya di kontrakan Anik, mereka langsung menuju ke rumah bapak kontrakan yang tidak terlalu jauh.
"Assalamu'alaikum." Ucap Anik salam di depan rumah yang tidak ada pagarnya diantara deretan kontrakan.
"Wa'alaikumussalam, mba Anik. Tumben baru pulang kerja ya mba." Ucap salam ibu kontrakan yang sedang duduk di kursi teras rumahnya lalu bertanya melihat Anik yang masih memakai seragam kerja.
"Sini mba, masuk dulu, duduk sini." Tawar ibu kontrakan.
"Iya Bu, ini baru pulang kerja." Jawab Anik kemudian duduk di kursi di dekat ibu kontrakan.
Maaf ibu mau tanya itu yang ngontrak di kontrakan no 8 katanya mau pindah, benar ga Bu?." Tanya Anik langsung setelah duduk.
"Berarti jadi pindah ya Bu." Tanya Anik lagi.
"Iya mba, katanya begono, lha dari sini kejauhan. Kerjanya ga dapat bus jemputan makanya mau pindah. Habisin bulan sekarang mba, katanya, berarti dua mingguan lagi pindahnya." Kata Ibu kontrakan.
"Kirain seminggu lagi Bu?." Tanya Anik lanjut.
"Iya, ibu kira satu Minggu lagi. Tapi itu mba Yani nunggu kontrakan di sana kosong dulu. Jadi minta ma ibu tambah seminggu lagi. Ya udah kata ibu mah bagen sok mah ga apa-apa yang penting udah ngomong sama bapak. Kata bapa ge ga apa-apa." Jawab ibu kontrakan.
"Begini Bu, ini teman Saya mau tanya tentang kontrakan. Kalau boleh mau lihat dulu." Ucap Anik langsung.
"Ini teman mba, mau lihat kontrakan ya, ya udah ayo ibu antar." Ucap ibu kontrakan mempersilahkan.
"Iya Bu maaf ganggu." Ucap Dinda sambil berjalan di belakang ibu kontrakan.
"Ga apa-apa mba, ga ganggu. Ibu tadi juga lagi santai." Jawab ibu kontrakan sambil jalan.
"Maaf Bu, ini kontrakan ibu semua." Tanya Tini penasaran.
"Ga mba, cuma deretan ini sama ini." Jawab ibu kontrakan sambil nunjuk.
"Di sini berapa ruang bu?." Tanya Dinda.
"Ada 3 ruang mba." Jawab ibu kontrakan lalu mengetuk pintu kontrakan mba Yani.
__ADS_1
"Tok."
"Tok."
"Tok." Suara pintu kontrakan di ketuk.
"Assalamu'alaikum mba Yani." Ucap salam ibu kontrakan di depan pintu.
"wa'alaikumussalam, eee ibu." Jawab salam mba Yani.
"Mba Yani maaf, ini ada yang nanya kontrakan katanya mau lihat kontrakan dulu." Izin ibu kontrakan.
"Iya Bu silahkan, tapi maaf tadi Saya sedang nyuci baju jadi berantakan." Jawab mba Yani agak gugup malu karena belum beresin kontrakan.
"Ga apa-apa mba Yani, bagen ge, orang mau lihat dulu." Ucap ibu kontrakan sambil senyum.
"Sana Tini, Dinda, katanya mau lihat dulu kontrakannya." Ucap Anik.
"Iya, maaf ya Bu, mba, kami masuk ke dalam mau lihat-lihat dulu." Ucap Dinda permisi kepada mba Yani dan Ibu kontrakan.
"Iya ga apa-apa, maaf nih, berantakan." Ucap mba Yani malu sambil senyum-senyum.
Dinda dan Tini masuk ke dalam kontrakan. Mereka berdua jalan dari ruang depan, ruang tengah, dapur dan kamar mandi. Sampai di dalam kamar mandi lalu berbalik arah jalan lagi ke depan kontrakan. Sedangkan Anik hanya duduk menunggu di teras kontrakan.
"Maaf Bu, di sini kontrakan satu bulan berapa ya Bu?." Tanya Dinda langsung ke ibu kontrakan harga sewa kontrakan.
"Sebulan 300 ribu mba. Itu sudah semuanya tapi kalau ada kulkasnya nambah 50 ribu." Jawab ibu kontrakan tanpa basa-basi.
"Gimana Din, menurut kamu kontrakan sama lingkungannya gimana." Tanya Tini mengenai kontrakan.
"Kalau kamu gimana Tin." Dinda malah balik bertanya.
"Gimana sih, nanya saja belum di jawab, ini malah nanya balik. Aku sih terserah kamu saja lah." Jawab Tini pasrah.
"Beneran, ya sudah." Jawab Dinda asal.
"Begini Bu, in syaa Allah Minggu besok kita ke sini, beri jawaban jika iya sekalian mau DP dulu boleh Bu." Jawab Dinda nego.
"Iya ga apa-apa mba, barangkali cocok atau ga cocok ibu mah silahkan. Namanya berdua mah ya di musyawarahkan dulu sama temannya." Saran ibu kontrakan.
"Iya Bu, yang ngontrak kami berdua." Jawab Dinda sambil menunjuk dirinya dan Tini.
""Iya Bu, cuma berdua kok, paling yang ke tiga setan." Ucap Tini sambil bercanda.
"Maaf Bu bercanda, ga serius Bu heemm heemm." Usil Tini dengan candaannya sambil senyum yang ditutupi mulutnya dengan telapak tangan.
"Iya ga apa-apa mba, namanya saja anak muda, banyak bercandanya." Ucap ibu kontrakan memakluminya.
Lanjutannya besok lagi ya readers.
Bersambung.....
__ADS_1