Cikarang ( Pekerjaan Dan Cinta )

Cikarang ( Pekerjaan Dan Cinta )
Episode 7


__ADS_3

Mencari pekerjaan.


Hari kedua setelah melamar pekerjaan di PT Melati, hari ini adalah jawaban apakah Dinda diterima atau tidak. Dinda berangkat menuju PT Melati. Dalam perjalanan, Dinda berdoa semoga lamaran pekerjaannya di terima.


Akhirnya Dinda sampai di PT Melati. Di PT Melati ternyata sudah ada beberapa orang yang datang yang ternyata adalah pelamar kerja.


Dinda menyadari bukan hanya dirinya saja yang melamar pekerjaan, tapi ada juga yang lainnya yang jelas mereka sama seperti Dinda. Mereka juga para pelamar pekerjaan, menganggur membuat mereka mencari pekerjaan bahkan ada yang dari luar kota.


Dinda berharap dirinya yang termasuk akan diterima bekerja. Saat pengumuman itu tiba, Pak satpam keluar membawa selembar kertas bertuliskan nama-nama pelamar yang di terima untuk bekerja. Selembar kertas itu di tempel di papan pengumuman, satu persatu pelamar melihat dan membaca nama-nama yang ada di kertas tersebut. Salah satunya termasuk Dinda yang juga ingin melihat siapakah yang di terima bekerja.


Setelah satu persatu nama-nama pada papan pengumuman di baca, tidak ada satupun nama Dinda Ayu yang termasuk di dalamnya. Ternyata belum rezekinya Dinda untuk mendapatkan pekerjaan di PT Melati. Dinda merasa kecewa karena belum mendapatkan pekerjaan walaupun Dia sudah berusaha melamar pekerjaan.


Hari itu, Dinda merasa lemas badannya seakan tidak punya tenaga. Pikiran Dinda tertuju pada kenapa belum mendapatkan pekerjaan. Meskipun Dinda tahu rezeki sudah di atur oleh Allah, tapi manusia juga harus berusaha mencari rezeki itu sendiri dengan cara bekerja atau usaha jualan sesuatu.


Dinda pulang ke rumah dengan tangan kosong maksudnya belum kerja gitu. Tapi Dinda tidak putus asa dan putus harapan. Jika di tempat ini bukan rezekinya, masih ada tempat lain yang lebih baik untuk Dinda bekerja mencari nafkah.


*

__ADS_1


Hari-hari pun terlewati hampir satu bulan lamanya, Dinda mencari pekerjaan dari yang terdekat sampai yang terjauh dari kotanya. Meskipun masih dalam lingkup kabupaten, Dinta tetap terus semangat berjuang mencari pekerjaan. Dinda berusaha agar bisa mendapatkan pekerjaan apapun itu yang penting halal. Dari toko kecil sampai supermarket. Dan di kota kabupaten Dinda melamar pada sebuah pusat perbelanjaan baru yang baru selesai di bangun.


Namun pada akhirnya hasilnya sama, Dinda tidak di terima bekerja. Orang tua Dinda sedikit cemas melihat Dinda setiap hari pergi mencari pekerjaan. Dinda yang terkadang harus numpang ikut sama orang yang lewat karena tidak punya uang untuk ongkos angkutan. Betapa sulitnya hidup Dinda sampai Dinda lupa waktu pergi pagi pulang sore hanya mencari pekerjaan.


Suatu hari pada saat Dinda berjalan dan berhenti untuk menunggu angkutan umum, Dinda bertemu teman satu kelasnya bernama Tini. Tanpa sengaja mereka bertemu dan mengobrol di pinggir jalan di bawah pohon, sambil menunggu angkutan umum.


"Dinda, hai apa kabar?, lagi ngapain?". Tanya Tini.


"Tini, hai juga, Alhamdulillah baik. Lagi nunggu angkot. Kamu gimana kabarnya?, darimana mau kemana nih?". Jawab Dinda kemudian bertanya balik.


"Alhamdulillah, Aku baik juga Din. Aku tadi main ke saudara sepupu, kebetulan Dia pulang dari Cikarang. Tadi mampir ke toko, foto copi ini KTP, SKCK, dan lainnya. Ini mau pulang, eh lihat kamu di sini jadi Aku samperin". Jawab Tini sambil menunjukkan lembaran kertas hasil foto copinya.


"Ooh nanya doang tho. Begini Din, sebenarnya Aku ingin sekolah lagi eh maksud Aku kuliah heehee. Maaf bercanda, tapi mengingat keluargaku yang tidak mampu, Aku pilih kerja. Ini serius ya, Aku mau kerja dulu, urusan nerusin sekolah entar sajalah. Yang penting sekarang Adik-adik Aku gimana caranya bisa sekolah tanpa kekurangan biaya seperti Aku Din". Jawab Tini Dengan seriusnya.


"Oooo gitu yaaaaa, terus gimana sudah nyari kerja eh dapat kerjaan Tin?". Tanya Dinda, menanyakan tentang pekerjaan kepada Tini dengan seriusnya.


"Nah itu dia Din, Aku selama ini nyari kerja Alhamdulillah, belum dapat heehee. Maaf, nih lagi usaha juga nyari-nyari. Alhamdulillah Aku dapat informasi lowongan kerja, tapi ngomong-ngomong Din, kamu mau kuliah apa kerja ?. Kalau kerja mau ga bareng sama Aku". Ucap Tini serius yang terkadang sambil bercanda.

__ADS_1


"Kamu Tin, biasa ya nanya serius jawabnya kaya gitu hmm. Tin, Aku juga lagi cari kerja. Dari lulus, Aku langsung membuat surat-surat persyaratan untuk melamar pekerjaan. Hampir satu bulan Tin, Aku belum juga dapat kerjaan. Belum rezeki kita kayanya Tin, menurut kamu gimana?, kira-kira ada lowongan kerja lagi ga?, yang belum kita datangi". Jawab Dinda yang kemudian bertanya kepada Tini.


"Ada Din, saudara sepupu Aku Dia pulang dari Cikarang. Katanya di sana banyak pabrik. Terus katanya ada lowongan pekerjaan, Aku mau ke sana Din coba cari kerja di sana. Siapa tahu, ada rezeki Aku di sana. Kamu mau ga ikut ke sana, gajinya lumayan gede lho Din. Cuma ya itu, kontrak kerjanya". Tini mencoba menjelaskan ada lowongan pekerjaan di Cikarang.


"Cikarang itu di mana Tin?, terus kerjanya di pabrik gitu, kerja kontrak apa maksudnya, Aku ga ngerti, maklum ga pernah dengar sih ya tahunya ya ngalamar kerja terus di terima kerja ya kerja lah". Jawab Dinda lalu bertanya kepada Tini tentang kerja kontrak.


"Cikarang itu sebelum Jakarta Din, kalau dari sini sekitar 5 sampai 6 jam lah sampai. Ya kerja di sana kebanyakan di pabrik, di sana pabrik banyak. Tapi kebanyakan kerja kontrak maksudnya ya kontrak berapa bulan sudah. Misalnya kamu di terima kerja di pabrik A kontrak 6 bulan ya berarti 6 bulan kemudian sudahan kamu ga kerja lagi di situ. Kecuali diperpanjang ya masih kerja sesuai kontrak kerjanya lagi, gitu Din.


"Ooo lumayan jauh ya dari sini. Kalau kontraknya habis ga kerja lagi terus gimana Tin?, terus di sana itu tinggalnya di mana Tin, eh tidurnya. Kan masih nganggur, belum eh mungkin punya duit pas-pasan nih terus buat makan dan lain-lain maksudnya buat kebutuhan hidup di sana itu gimana Tin?". Tanya Dinda yang ingin tahu lebih banyak tentang hidup di Cikarang.


"Kalau kontrak kerjanya habis, ya cari kerjaan lagi lah Din. Kecuali kamu diangkat karyawan tetap, itu enak Din. Ga usah mikirin cari kerja lagi kalau dah habis kontrak, mau ke mana lagi cari lowongan kerjaan. Pokoknya enaklah kalau sudah jadi karyawan tetap, dah gitu gajinya lumayan tinggi. Aku dengar semua itu ya dari sepupuku tadi, Dia cerita kerja di sana itu gimana gitu lho Din. Makanya, di sini Aku kan ga dapat-dapat kerja tuh, ya....coba saja cari lowongan kerja di sana. Siapa tahu rezekinya di sana, kan ga ada yang tahu Din, yang penting kan usaha di manapun itu yang penting halal. Nanti malam Aku mau coba tanya sama orang tua boleh tidak ikut sepupu. Kalau kamu mau, ya nanti Aku tanyakan sama sepupu Aku. Kamu boleh ikut tidak ke sana, kalau sepupuku bilang boleh, kamu tanya sama orang tua boleh tidak ke Cikarang cari kerja di sana. Aku sih cuma kasih tahu ya... kaya gitu lah yang Aku tahu Din". Ucap Tini mengajak Dinda.


"Ya nanti Aku coba bilang sama bapak dan ibu, boleh tidak Aku cari pekerjaan di Cikarang. Berarti di sana tinggalnya kos gitu ya ?, berarti semua kebutuhan hidup kita juga mikir sendiri dong Tin. Biasanya sama orang tua makan, sabun, cucian, semuanya Tin?". Ucap Dinda bertanya lagi.


"Iya lah Din, ibaratnya tuh kita belajar hidup mandiri. Segala semua kebutuhan hidup kita, ya......kita mikir semuanya sendiri. Kalau bisa jangan lama-lama ya jawabnya, kalau mau ikut ke Cikarang Din. Sepupuku cuma tiga hari di rumah, ini baru hari pertama. Nanti malam coba tanya, pikirin, terus mau ikut apa tidak?, Besok kita ketemu lagi di sini saja ya, jamnya jam sekarang lah ya Din. Jadi nanti Aku bisa ngomong sama sepupuku itu oke Din. Nah tuh dah lama ngobrolnya, angkutnya sampai lewat berapa tadi. Yuk pulang, nanti kesorean lagi sampai rumah, kerjaanku banyak Din. Tuh angkot, ayok pulang". Ucap Tini kemudian naik angkutan umum.


"Iya Tin, terimakasih infonya. Besok lah ya kita ketemu di sini sekalian Aku kasih jawabannya mau ikut apa tidak. Itu angkutannya Aku juga sudah ada, yuk ah pulang. Sama Aku juga nanti kesorean ga bisa bantu-bantu kerjaan rumah lagi kasihan ibu". Jawab Dinda yang kemudian di susul olehnya naik angkutan umum.

__ADS_1


Tini naik angkutan umum untuk pulang ke rumahnya, dan Dinda juga naik angkutan umum untuk pulang ke rumahnya juga. Mereka berpisah naik angkutan umum jurusan masing-masing. Karena mereka tinggal di desa yang berbeda, angkutan umumnya pun berbeda warna.


Nah bagaimana kisah Dinda berikutnya, simak kisahnya ya di episode berikutnya. Like, vote, dan komentarnya masih di tunggu. Terimakasih sudah membaca karyaku ini. Salam sehat buat semuanya.😉😊😊


__ADS_2