Cikarang ( Pekerjaan Dan Cinta )

Cikarang ( Pekerjaan Dan Cinta )
Episode 24. Ternyata mas Nur cinta.


__ADS_3

"Assalamu'alaikum, Dinda." Sapa mas Nur dari depan pintu kontrakan yang terbuka.


"Wa'alaikumussalam, eehh mas Nur." Jawab Dinda agak kaget mendengar suara dan melihat mas Nur yang berdiri di depan pintu kontrakan.


"Sedang nonton televisi ya Din?, boleh ikutan nonton di sini ga?." Ucap mas Nur langsung duduk di sebelah Dinda dan menonton televisi.


"Boleh mas, ga apa-apa. Bentar yaa." Jawab Dinda membolehkan, kemudian Dinda berdiri dan berjalan ke ruang dapur kontrakan.


Dinda mengambil gelas, dan menyalakan dispenser ke posisi hot. Memasak air dari galon untuk membuat minuman teh. Sementara mas Nur duduk menonton televisi dan menunggu Dinda kembali.


Dinda duduk agak ke belakang. Sambil menunggu air dispenser matang, Dinda melanjutkan menonton televisi.


"Dinda, remot televisinya mana?." Tanya mas Nur sambil tengak-tengok mencari remot televisi.


"Tadi ada di,,,,,". Dinda merasa bingung, remot televisi yang tadinya di depan meja televisi ternyata tidak ada.


Dinda mencari remot televisi di sekitar ruang depan kontrakan tepatnya di dekat meja televisi. Karena tadinya remot televisi ada di dekat meja. Dan ternyata remot televisinya tidak ada.


Melihat ke arah dispenser, ternyata lampu dispenser berwarna hijau. Air galon yang tadi dipanaskan sudah panas. Dinda membuat teh manis dan kopi. Saat mengambil teh celup dan kopi di meja rak piring, Dinda melihat remot televisi dan mengingat bagaimana remot televisi berada di meja rak piring.


"Ternyata di sini mas remotnya, maaf mungkin tadi Dinda pegang dan terbawa lalu menaruhnya di meja rak piring." Dinda melihat remot televisi di meja rak piring, kemudian memberikannya kepada mas Nur.


Mas Nur menerima remot televisi tersebut, kemudian mengganti Chanel televisi. Acara televisi kini berubah, yang tadinya FTV, berubah menjadi berita.


"Maaf ya Dinda, aku numpang nonton televisinya di sini. Dan ga ngomong minta izin dulu kalau ganti Chanel. Tadi Dinda nonton FTV, mas ganti jadi berita." Ucap mas Nur setelah mengganti acara atau Chanel televisi.


"Ga apa-apa mas, kalau mas Nur mau nonton televisinya di sini, dan ganti chanelnya. Oh iya mas, maaf ini kopinya. Silahkan minum mas, maaf adanya cuma ini." Ucap Dinda sambil memberikan segelas kopi kepada mas Nur.

__ADS_1


"Terimakasih Din, oh iya, Tini sama mba Lilis kemana?, kok sepi." Ucap Mas Nur kemudian bertanya keberadaan Tini dan mba Lilis.


"Tini sama mba Lilis mas, sedang main ke kontrakan temannya mba Lilis." Jawab Dinda.


"Kamu ga ikut?, kenapa di rumah?." Tanya mas Nur karena hanya ingin ngobrol dengan Dinda dan mencari bahan obrolan sambil sesekali melihat televisi.


"Tadinya mau ikut, tapi kata mba Lilis di rumah saja, barangkali nanti ada tamu." Jawab Dinda singkat.


"Oooo,,,,." Ucap mas Nur setelah itu senyum kemudian meminum kopinya.


*


Sebelumnya, semalam saat Dinda berangkat kerja, mas Nur datang main ke kontrakan mba Lilis. Mas Nur bertanya Dinda besok libur kerja atau tidak. Mba Lilis mengatakan kalau besok mau main ke kontrakan temannya untuk menanyakan lowongan kerja. Karena Dinda dan Tini sebulan lagi akan habis masa kerjanya.


Mas Nur terlihat bingung dengan ucapan mba Lilis, namun dia mengatakan maksud kedatangannya kepada mba Lilis. Setelah mengobrol dengan mba Lilis dan Tini, mas Nur pulang ke kontrakannya.


Akhirnya mba Lilis dan Tini sepakat bahwa Dinda di rumah dulu, dan mengatakan kepada mas Nur besok main saja. Mas Nur tersenyum, karena dia di dukung oleh mba Lilis dan Tini. Hingga esok harinya, Mba Lilis dan Tini mengatakan kepada Dinda untuk di rumah saja.


*


Mas Nur bingung ingin memulai pembicaraan dengan Dinda. Mencuri pandang Dinda, mas Nur hanya tersenyum sambil menikmati segelas kopi. Karena kesempatan inilah, mas Nur berusaha dengan sebaik-baiknya untuk mengutarakan apa yang dirasakannya semenjak melihat dan bertemu dengan Dinda.


"Dinda, boleh Aku nanya sesuatu sama kamu." Ucap mas Nur memulai pembicaraan dengan jantung yang mulai berdebar tidak beraturan.


"Boleh mas, mau tanya apa?." Jawab Dinda singkat.


"Dinda maaf, mas mau tanya agak pribadi boleh?." Ucap mas Nur takut menyinggung perasaan Dinda.

__ADS_1


"Tentang apa mas?. Yaaa boleh sih asal tidak menyinggung, kalau menyinggung ya ga di jawab. Terus mendingan mas Nur jangan tanya lagi." Ucap Dinda sedikit mengancam, meskipun ada senyum kecil di bibirnya.


"Dinda,,, kamu sudah punya pacar belum?." Ucap mas Nur singkat meskipun jantungnya berdebar-debar seperti habis lari maraton. Dan mengatur nafasnya yang mulai tidak beraturan.


"Sebenarnya belum mas, kenapa mas tanya tentang hal itu." Jawab Dinda yang merasa mulai malu dan hatinya berdebar-debar tidak karuan karena dilihatin terus sama mas Nur.


" Ga sih cuma tanya saja, mmm kalau menurut kamu pacaran gimana Din?." Tanya mas Nur hanya sekedar ingin tahu bagaimana pendapat Dinda tentang pacaran.


"Gimana apanya mas maksudnya?." Dinda balik bertanya karena merasa bingung ingin memberi jawaban.


"Yaa maksudnya menurut kamu pacaran itu bagaimana boleh ga, terus kalau pacaran itu gimana sama orang tua." Ucap Mas Nur merasa bingung juga dengan pertanyaannya sendiri. Karena Dinda yang di tanya belum pernah pacaran.


"Oooo,,, itu. Kalau Dinda tergantung orangnya mas. Kan ada orang mau pacaran ada juga orang yang tidak mau pacaran, maunya langsung nikah. Ada juga orang tua yang membolehkan ada juga yang tidak membolehkan anaknya untuk pacaran. Semua itu karena ada alasannya." Ucap Dinda menjelaskan dengan polosnya dan jujur.


"Iya mas juga tahu itu Dinda, tapi itu pertanyaan kan buat kamu. Kamu mau pacaran apa ga, terus sama orang tua dibolehkan apa ga Dinda?." Mas Nur seketika mengatakan secara langsung apa yang di maksud dengan pertanyaannya. Meskipun dengan agak susah payah karena menahan ingin mengungkapkan perasaannya secara langsung.


Dinda terkaget dengan pertanyaan yang baru saja diucapkan oleh mas Nur. Sejenak Dinda terdiam, bingung harus bagaimana menjawab pertanyaan tersebut.


"Kenapa diam, Aku kan cuma tanya Din, ga bisa jawab, bingung, katakan saja menurut kamu. Aku cuma ingin tahu, jadi menurut kamu gimana?." Mas Nur mencoba untuk bertanya kembali sesaat setelah melihat Dian hanya terdiam saja.


"Dinda selama sekolah tidak pernah pacaran mas, kalaupun suka langsung Dinda tepis rasa suka itu. Mengingat tujuan Dinda itu sekolah hanya untuk belajar dan lulus. Kalau sekarang Dinda ingin kerja dulu. Dinda baru kerja, masih belum berpikir ke arah situ." Jawab Dinda menjelaskan sedikit.


"Kalau ada yang suka dan bilang cinta sama Dinda gimana?." Mas Nur langsung bertanya pada intinya.


Dinda melihat ke arah mas Nur, dan pandangan mata Dinda bertemu dengan pandangan mas Nur. Sedari tadi mengobrol Dinda tidak melihat ke arah mas Nur karena malu. Pandangannya Dinda di buang ke segala arah kecuali arah mas Nur, Dinda tidak berani.


Dinda menata debaran jantungnya agar tidak beraturan. Sejenak menundukkan kepalanya, Dinda berharap mas Nur tidak menyatakan perasaannya. Karena Dinda sempat berpikir kalau mas Nur benar suka dan cinta serta sayang kepada Dinda. Namun mengingat kejadian mas Nur berboncengan dengan seorang gadis, Dinda berusaha membuang pikiran tersebut.

__ADS_1


"Dinda untuk saat ini masih ingin fokus ke kerja dulu mas. Apalagi Dinda baru kerja dua bulanan. Kontrak kerja juga satu bulan lagi habis mas. Dinda mau cari-cari kerja lagi takutnya tidak diperpanjang. Ucap Dinda sambil menundukkan kepalanya karena tidak berani melihat mukanya mas Nur.


"Kalau begitu, kalau Aku yang suka, cinta dan sayang sama Dinda, gimana?". Ucap mas Nur langsung menyatakan isi hatinya yang terpendam sejak pertama melihat, bertemu, dan mengenal Dinda.


__ADS_2