Cikarang ( Pekerjaan Dan Cinta )

Cikarang ( Pekerjaan Dan Cinta )
Episode 83. Kangenku padamu.


__ADS_3

Seharian sudah Dinda bolak balik melihat layar hp. Tidak ada panggilan dari mas Heru dan juga SMS.


Setelah hampir setengah hari Dinda melamar pekerjaan di BKK sekolah, Dinda hanya di rumah saja. Menunggu dan menunggu SMS balasan dari mas Heru. Bahkan menunggu panggilan dari hp nya.


Dinda tiduran di dalam kamarnya masih dengan memegang hpnya. Ibu yang juga sesekali memperhatikan sikap Dinda memakluminya. Sambil melipat baju di depan kamarnya Dinda di ruang tengah, ibu mencoba mengajak Dinda untuk mengobrol.


"Kamu ga ngapa ngapain tho ndo?, apa sibuk apa?, dari tadi ibu perhatikan kamu cuma bolak-balik masuk kamar. Terus sekarang lihatin hp terus, kamu nunggu telphon?." Ucap ibu bertanya sambil melipat baju kering.


"Eh ibu, ga ngapa-ngapain, cuma nunggu barangkali ada SMS atau telphon panggilan dari pabrik yang Dinda sudah taruh lamaran kerja Bu." Jawab Dinda beralasan.


"Ga nunggu SMS atau telphon dari pacar kamu itu Din?." Tanya ibu selidik sambil bercanda.


"Ah ibu bisa saja sih. Ibu seperti ga pernah muda. Iya Dinda juga nunggu SMS atau telphon dari mas Heru juga sih heehee." Jawab Dinda ga mau berbohong pada ibunya.


"Iya tapi dulu jamannya ibu muda pacarannya ga gini ga kaya kamu." Jawab ibu.


"Dulu ibu pacaran ya sama bapa?." Tanya Dinda mendekat ke ibunya sambil membantu membalikkan baju yang hendak di lipat oleh ibunya.


"Dulu pacaran tapi beda Din, karena dulu belum ada hp." Jawab ibunya.


"Dulu orang pacaran gimana sih Bu?." Tanyanya lagi penasaran.


"Dulu ibu kenal bapak di angkutan umum waktu pulang sekolah. Terus bapak datang ke sekolahan ibu. Setelah ketemu ngajak kenalan, yaa kenalan saja. Sampai akhirnya bapak tahu alamat ibu terus sering main ke rumah." Jawab ibu teringat masa dulu dengan bapak.


"Terus Bu." Lanjut Dinda lagi.


"Ya dulu itu kalau lakk-laki main ke rumah perempuan berarti tandanya suka. Terus di minta sama orang tua ibu untuk serius. Sekarang sebenarnya masih sama juga sih cuma kalau dulu itu sudah dipastikan bakalan jadi nikah. Kalau sekarang kan belum tentu soalnya sekarang kalau ditanya orang tua pasti jawabannya sebagai teman bukan pacarnya atau mau serius jadi nikah." Tutur ibu.


Ibu telah selesai melipat baju dan memasukkannya lemari masing-masing. Dinda masih setia duduk di ruang tengah menunggu ibu untuk cerita lagi.


"Kriiiing."


"Kriiiing."


"Kriiiing."


Tiba-tiba suara bunyi nada dering hp Dinda berbunyi. Dinda segera masuk ke dalam kamarnya untuk mengangkat hp yang berbunyi tanda ada panggilan masuk.

__ADS_1


"Hallo, kamu Tin, tumben nelphon ada apaan?." Ucap Dinda sesaat setelah melihat yang menelphon adalah Tini dan menekan tombol menerima panggilan suara sambil rebahan di atas kasurnya.


"Iya ini aku, emang di kira siapa?, mas Heru?. Cie cie yang lagi nunggu di telphon, kangen Din?." Ucap Tini di telhpon sambil meledek.


"Sialan kamu Tin, Aku pikir telphon dari pabrik mana?. Buru-buru aku samperin nih hp yang lagi tiduran santai di atas kasur." Jawab Dinda ga mau kalah bercanda menutupi malu karena memang sedang menunggu SMS dan panggilan dari mas Heru.


"Tadinya mau SMS kamu Din, cuma takutnya entar seperti kemaren malam ga di balas-balas. Jadi kelamaan deh, makanya aku telphon. Tadi beli pulsa yang 25 ribu Din, lumayan dapat gratis nelphon dua hari. Jadi yaa mendingan telphon kan." Ucap Tini menjelaskan.


"Iya deh tahu yang ga mau rugi pulsa. Jadinya memanfaatkan gratisan. Terus kamu nelphon itu maksudnya mau ngomong apa?." Tanya Dinda lagi langsung.


"Iya deh aku ngomong, gini tadi aku dapat SMS dari leader aku tahu kaaaaannn. Dia bilang mungkin Minggu depan mau ada panggilan kerja buat mantan karyawan. Makanya aku buru-buru nelphon kamu Din." Ungkap Tini .


"Kamu dapat SMS dari leader kapan Tin?, kok aku belum dapat SMS dari leader aku." Ucap Dinda bertanya.


"Ini tadi barusan. Katanya sabar ya, sedang diusahakan yang kemaren habis kontrak mau dipanggil lagi untuk kerja lagi Din." Jelas Tini.


"Syukur deh Tin kalau memang jadi di panggil lagi. Jadi ga kelamaan jadi pengangguran." Ucap Dinda berharap juga dapat panggilan.


Di tengah-tengah obrolannya dengan Tini, hpnya Dinda menerima panggilan masuk lainnya. Di lihat layar hpnya, Dinda melihatnya dan membacanya siapa yang melakukan panggilan masuk. Terkejut sekaligus senang akhirnya yang di tunggu-tunggu nelphon juga. Yah mas Heru menelphon Dinda.


"Eh Tin tutup dulu ya ini mau angkat telphon dari mas Heru." Ucap Dinda langsung ke Tini dan mengangkat tombol yes panggilan masuk dari mas Heru. Dan secara otomatis panggilan dengan Tini terputus.


"Tut."


"Tut."


"Tut."


"Tut."


"Hallo mas Heru, hallo, kok putus sih." Ucap Dinda setelah mendengar nada putus hubungan panggilan masuknya.


"Tadi nelphon beneran apa cuma miscall sih." Ucap Dinda dalam hati.


"Kalau nelphon beneran pasti ngomong setelah diangkat. Lha ini malah di putusin eh di matiin sambungan telphonnya." Ucap lagi Dinda dalam hati dan berpikir.


"Din telphon dari siapa?." Tanya ibu yang tidak sengaja mendengar tadi Dinda mengobrol lewat hpnya.

__ADS_1


"Oh itu Bu, tadi Tini nelphon." Jawab Dinda jujur yang menelphon tadi Tini.


"Oo Tini, bilang apa Din?. " Tanya ibu sambil membuat teh manis panas untuk bapaknya Dinda.


Dinda berjalan ke arah meja makan dan ikutan membuat teh manis panas kemudian menjawab pertanyaan dari ibunya.


"Itu Bu, Tini kasih tahu tadi Tini dapat SMS dari leadernya katanya suruh sabar. Kata leader Tini mungkin seminggu lagi dapat panggilan kerja dari pabrik yang kemaren Bu." Jawab Dinda sambil mengaduk teh manis panasnya.


"Syukur deh Din, kalau kamu dapat panggilan kerja lagi. Ibu sih cuma bisa bantu doa, agar apa yang kamu minta cepat di Kabul sama Allah." Ucap ibunya Dinda sambil menikmati teh manis panasnya.


"Kok Tini nelphon cuma sebentar Din?." Tanya ibunya Dinda karena sepertinya Dinda ngobrol cuma sebentar tok.


"Iya Bu, soalnya tadi ada panggilan masuk lainnya. Makanya Dinda putusin sambungan telphon dengan Tini." Jawab Dinda.


"Memangnya telphon dari siapa lagi Din?." Tanya ibu ingin tahu.


"Itu Bu, mmmmmm, dari mas Heru." Jawab Dinda malu-malu.


"Oo telphon dari mas Heru, terus kenapa sepertinya cuma bentaran Din?. Ibu dengar tadi baru hallo sudah berhenti kamu ngobrolnya. Memangnya ga ngomong apa-apa?." Tanya ibunya lanjut.


"Ga ngobrol Bu, cuma tadi pas diangkat, Dinda baru ucap hallo assalamu'alaikum tiba-tiba sudah terputus sambungan telphonnya." Jawab Dinda agak sedikit kecewa dan kesal.


"Ya mungkin nanti nelphon lagi. Mungkin tadi mas Heru repot atau gimana, maklum apa Din. Sudah ga usah kecewa sama kesal, tinggal nunggu lagi siapa tahu mas Heru nanti nelphon lagi. Kalau kangen ya nelphon pengin ngobrol." Ucap ibu menghibur melihat Dinda terlihat kesal dan kecewa.


"Iya Bu." Jawab Dinda singkat.


"Kok di matiin sih mas tadi hpnya. Aku kan kangen pengin ngobrol. Meskipun lewat hp, ga apa-apa, setidaknya aku sudah dengar kabar dan suara kamu mas." Ucap Dinda dalam hati setelah masuk kembali ke dalam kamarnya.


*


**


Gimana penasaran kelanjutannya simak lagi di episode berikutnya.


Bersambung lagiiii.....


Maaf ya Reader baru up. Othornya lagi ga enak badan. Tapi othor masih usahain untuk up.

__ADS_1


Semoga reader masih setia baca karyaku ini. Like, vote, dan komennya yaa.


Tetap semangat, semoga sehat selalu dan salam bahagia.💪💪🥰🥰🥰


__ADS_2