Cikarang ( Pekerjaan Dan Cinta )

Cikarang ( Pekerjaan Dan Cinta )
Episode 46. Mendadak bertemu dengan mas Nur.


__ADS_3

Terkejut Dinda melihat seseorang yang duduk di pinggir pintu, begitupun dengan Tini. Tidak di sangka tidak di duga malah bertemu mas Nur di dekat kontrakannya mba Erna. Antara terkejut sekaligus senang Dinda bingung hingga akhirnya hanya terdiam seribu bahasa.


"Assalamu'alaikum, mba Novi ada mas." Tanya mba Erna kepada dua orang yang sedang duduk di ruang depan dekat pintu.


"Ee mba Erna, mba Novi ada mba, sebentar ya tak panggilkan." Jawab salah seorang diantara dua orang yang sedang duduk di kontrakan mba Novi.


Seseorang tak kalah terkejutnya ketika melihat Dinda. Terkejut dan juga amat senang bertemu dengan orang yang selama ini selalu ada di dalam pikirannya. Wajah orang inilah yang selalu membayang-bayangi diri mas Nur beberapa bulan ini. Hingga membuatnya berdiri dan keluar dari ruang depan kontrakan mba Erna. Sambil melihat Dinda ia hanya tersenyum.


Sementara itu Tini yang sadar melihat mas Nur seketika langsung melihat Dinda. Sambil menyenggol lengan Dinda berkali-kali. Tini memberi syarat untuk menyapa mas Nur. Karena Tini merasa ga enak sama Dinda dan mba Erna, Tini hanya bisa tersenyum saja pada dua orang yang salah satunya adalah mas Nur.


"Mba Erna, masuk mba." Ucap mba Novi setelah keluar dari ruang belakang.


"Maaf permisi ya mas." Ucap mba Nur pada dua orang laki-laki yang berada di pintu kemudian keluar dan duduk di teras depan kontrakan.


Mba Erna mulai masuk ke dalam kontrakan, di susul oleh Dinda dan Tini. Mereka lewat sambil berucap permisi lalu tersenyum. Baik Dinda, Tini dan mas Nur hanya bisa saling diam cuma tersenyum saja belum saling sapa.


Mba Erna, Dinda dan Tini akhirnya duduk di ruang depan sedangkan dua orang laki-laki yang di lewati mereka pindah duduk di teras depan pintu.


"Maaf mba Novi kenalkan ini teman aku, ini Dinda dan ini Tini." Mba Erna mulai berbicara dengan mengenalkan Dinda dan Tini terlebih dahulu.


"Kenalkan, Saya mba Novi yang ngontrak di sini." Mba Novi menyalami Dinda dan Tini sambil memperkenalkan diri.


"Kemudian yang di depan, yang ganteng itu suami Saya namanya mas Imam. Dan sebelahnya itu temannya mas Imam namanya mas Nur." Lanjut Mba Novi memperkenalkan sambil menunjuk ke arah suaminya dan juga teman suaminya.


"Kalau aku memang sudah kenal mba, iya kan mas." Jawab mba Erna.


"Ooo iya ya mba, maaf soalnya tadi mba Erna memperkenalkan diri dan temannya. Jadi Saya juga ikutan memperkenalkan diri, suami, dan teman suami Saya." Jawab mba Novi lalu tersenyum malu sama mba Erna.


"Iya ga apa-apa mba Novi, sekalian ini Dinda dan Tini kan belum kenal, iya kan, jadi kenalan biar nambah silaturahmi." Ucap mba Erna sambil melihat Dinda dan Tini.


"Kalau suami mba Erna memang aku ga kenal mba, dan baru ketemu juga. Tapi kalau temannya aku sudah kenal mba dan sudah sering ketemu eh ga cuma berapa kali ya lupa." Ucap Tini keceplosan.


"Jadi kamu kenal Tin sama mas Nur, kenal di mana. Terus tadi kenapa ga sapa kalau sudah kenal." Tanya mba Erna bingung.


"Lhaaa kita kan tetangga iya ga mas Nur." Jawab Tini sambil bercanda untuk menghilangkan kecanggungan yang terjadi diantara mereka bertiga barusan.


"Iya kita tetangga kontrakan mba." Sambut mas Nur menjawab untuk menghilangkan rasa campur aduk yang ada dalam dirinya.


"Jadi kalian tetangga kontrakan, kontrakan mana Tin." Tanya mba Erna lagi karena kontrakan Tini saat ini berbeda.


"Kontrakannya mba Lilis, mas Nur kontrakan yang paling ujung tapi deretan depan bukan sejajar mba Lilis. Kok dari tadi nanyanya ke aku, Dinda ga di tanya mba." Tini menjawab lalu agak kesal sedikit karena dari tadi dia yang ditanya.


"Maaf soalnya lihat mukanya Dinda kaya shock eh kaget gitu, mukanya merah, kamu sakit Din." Tanya mba Erna.


"Maaf mba, ga kok ga sakit cuma tadi karena kepanasan terus langsung minum es teh manis lalu kepanasan lagi tadi, jadi merah mukaku mba." Jawab Dinda beralasan hanya untuk menutupi rasa malu dan grogi karena bertemu dengan mas Nur.


"Jadi kalian sudah kenal, ya syukur lah kalau begitu. Maaf kalian ada perlu, soalnya mba Erna tumben ngajak teman main ke sini." Tanya mba Novi maksud kedatangan mba Erna dan Dinda juga Tini.


"Iya nih mba, aku ke sini mau tanya katanya mba Novi mau pindah beneran?." Mba Erna langsung tanya apa tujuannya datang ke kontrakan mba Novi.


"Iya rencananya bulan depan mau pindah ke perumahan di Telaga murni. Memangnya kenapa ya mba Erna, apa ada yang nyari kontrakan." Jelas mba Novi lalu bertanya.


"Iya mba, ini Dinda sama Tini main ke kontrakan aku. Terus mereka tanya sekitar sini ada kontrakan kosong ga. Aku jawab kalau kontrakan kosong aku kurang tahu, tapi kalau ada yang mau pindah ada. Kebetulan mba Novi katanya mau pindah, ya sekalian saja tanya buat memastikan benar apa ga gitu mba." Terang mba Erna.


"Iya benar aku in syaa Allah mau pindah, tapi bulan depan. Bulan ini sudah bayar, habisin bulan ini. Sekalian nunggu rumah beres dulu paling tidak rapihan sedikit." Jelas mba Novi mengenai kepindahannya.

__ADS_1


"Ooo gitu ya mba. Gimana Dinda, Tini, mba Novi pindahnya bulan depan. Mau gantiin mba Novi ngontrak di sini, atau mau cari kontrakan yang lain." Mba Erna menawarkan.


"Gimana Din, aku sih terserah kamu ya. Pokoknya aku ngikut saja." Ucap Tini yang menyerahkan keputusan sama Dinda.


"Mmmmm, gimana ya mba, nanti saja, pikir-pikir dulu. Tapi sudah ada yang nanya belum mba, selain kita." Sambil pikir-pikir, Dinda bertanya.


"Ada sih kemaren ada yang tanya sama bapa kontrakan langsung. Kata bapa kontrakan nunggu dulu satu bulan ke depan jadi apa ga, bilangnya begitu sama yang tanya. Bapa kontrakan juga bilang barangkali ada saudara apa teman mba yang mau ngontrak di sini, mending kasih saja. Maksudnya ga ke lain orang." Jawab mba Novi.


"Oo, gitu ya mba." Dinda faham maksud mba Novi.


"Makanya kalau mau, cepetan, biar mba kasih tahu sama bapa kontrakan. Kalau di sini ada kontrakan kosong cepet ngisinya, langsung gitu Din." Jelas Mba Erna kasih tahu Dinda.


"Ya sudah mba mungkin Minggu depan kalau kita bisa datang in syaa Allah ke sini untuk mastiin jadi apa ga. Gimana Tin?." Ucap Dinda ke mba Novi dan mba Erna lanjut ke Tini minta pendapatnya.


"Ya sudah aku nurut kamu saja, kamu senang aku ikut senang. Kamu pindah, aku ngikut pindah juga." Jawab Tini setelah minum Aqua gelas dengan sedotan.


"Ya sudah kalau begitu mba Novi, terimakasih." Ucap mba Erna mengakhiri.


"Iya sama-sama, kalau mau main, main saja ga apa-apa. Nambah saudara, nambah teman." Tutur mba Novi dengan senyum.


"Iya mba, terimakasih." Ucap Dinda dan Tini bersamaan.


"Kalau begitu, kami langsung permisi pulang mba." Ucap mba Erna.


"Sudahan ya, kirain mau ngobrol-ngobrol lagi. Mas Imam ada temannya aku ga ada yang nemenin." Ucap mba Novi yang masih ingin ditemani ngobrol.


"Terimakasih mba, ini sudah siang banget. Mau pulang ke kontrakan, ada yang mau dikerjakan." Ucap Dinda beralasan.


"Ooo, ya sudah kalau begitu. Terimakasih juga sama-sama sudah mampir, main, kenalan, dan ngobrol walaupun cuma sebentar." Ungkap mba Novi.


"Ya sudah mba kami permisi pulang." Mba Erna langsung pamitan setelah melihat Dinda dan Tini menundukkan kepalanya yang menandakan sudah waktunya pulang.


"Iya, sama-sama." Balas mba Novi setelah menyalami mba Erna, Dinda, dan Tini.


Mba Erna berjalan di depan, di susul Dinda dan Tini di belakang. Mereka berjalan keluar dari dalam kontrakan mba Novi.


"Permisi ya mas." Ucap mereka bertiga bersamaan saat hendak melewati mas Imam dan mas Nur yang duduk di teras kontrakan.


"Sudahan ya Tin, mau pulang." Tanya mas Nur kepada Tini saat mereka bertiga lewat kemudian memakai sandal.


"Iya mas, sudah siang banget. Mau pulang, masih ada yang harus dikerjakan di kontrakan." Jawab Tini dengan alasan yang sama dengan Dinda.


"O iya Tin nanti boleh ngobrol ga, sebentar juga ga apa-apa. Apa mau makan bakso di depan, mas yang traktir deh." Ajak mas Nur kepada Tini.


"Mmmm, boleh deh mas, kebetulan perutnya sudah berdendang ria eh maksudnya cacingnya mas minta makan heehee." Ucap Tini bercanda.


"Tin, pulang saja yuk." Ajak Dinda lirih di samping telinga Tini sambil menarik tangan Tini sedikit supaya tidak ketahuan mas Nur.


"Beneran ya mas Nur yang traktir, eh bayarin." Ucap Tini memastikan tanpa menghiraukan ajakan Dinda untuk langsung pulang.


"Iya beneran mas Nur yang bayarin, mau nambah juga boleh. Bungkus sekalian juga ga apa-apa tenang saja. Mumpung ketemu di sini sekalian mas Nur juga udahan mau pulang. Tapi lapar mau makan dulu, makanya mas Nur ngajak kalian." Terang mas Nur modus padahal mau ngobrol sama Dinda.


"Din, tuh beneran mau di traktir, sudah ikutan ya. Lumayan kan di traktir sama mas Nur. Bisa ngirit pengeluaran buat makan heehee. Kalau kamu ga mau ya sudah, sana pulang sendiri. Aku mau makan bakso dulu sama mas Nur." Ajak Tini ke Dinda lalu mengancam.


"Tini, gimana sih masa aku pulang sendiri. Berangkat bareng ya pulang bareng lah." Dinda mengeluh yang sebenarnya tidak mau lama-lama bertemu bahkan ngobrol dengan mas Nur.

__ADS_1


Sementara itu mba Erna sudah masuk terlebih dahulu ke kontrakannya. Sedangkan Tini dan Dinda masih berada di depan kontrakan mba Novi karena di ajak ngobrol sama mas Nur.


""Makanya sudah ikut saja. Kan cuma makan bakso, bertiga juga. Ga apa-apa, lagian mas Nur kok yang ngajakin dan traktir kita. Ikut ya, ikut oke hmm hmmm." Ajak Tini merayu sambil senyum-senyum manja ke Dinda.


"Ya Din, ikut saja cuma makan bakso kok. Kasihan Tini ga ada temannya. Nanti kalau ga ditemani sama saja kan kalian pulang sendiri-sendiri." Ucap mas Nur ikutan merayu.


Akhirnya Dinda mau tidak mau mengiyakan ajakan mas Nur setelah berhasil di rayu oleh Tini sahabatnya. Mereka berdua masuk ke dalam kontrakan mba Erna untuk berpamitan terlebih dahulu. Setelah berpamitan Dinda dan Tini berjalan terlebih dahulu mengingat mas Nur membawa sepeda motor. Sebelumnya mas Nur memberitahu mereka nanti bertemu di warung bakso mie ayam Wonogiri warung bongkok depan gang masuk ke kontrakan mba Lilis.


Sementara itu mas Nur masih mengobrol dengan mas Imam. Karena setelah Dinda dan Tini masuk ke dalam kontrakan mba Erna, mas Imam menanyakan sesuatu hal.


"Nur, kamu kenal sama temannya mba Erna tadi." Tanya mas Imam penasaran.


"Kenal mam, mereka itu ngontrak dekat kontrakan aku. Satunya itu sepupu mba Lilis dan satunya lagi itu temannya." Jelas mas Nur singkat.


"Kamu suka ya sama salah satu dari mereka." Tanya mas Imam karena sejak bertemu tadi mas Nur selalu curi-curi pandang dengan Dinda. Dan hal itu tak luput dari tatapan mas Imam saat mengobrol dengan mas Nur.


"Kok kamu tahu mam, padahal aku ga ngomong atau pernah cerita. Aku kan ceritanya sudah putus sama Indah saja." Jelas mas Nur bingung.


" Tahulah Nur Nur, kelihatan dari sejak ketemu tadi. Kamu lihatin mereka terus, bahkan ngobrol sama aku saja kamu curi-curi pandang sama mereka." Terang mas Imam meledek sambil senyum-senyum.


"Kelihatan ya Mam. Iya, aku suka sama yang namanya Dinda. Sejak lihat dia pertama kali, aku penasaran Mam. Rasa penasaran itu membuat aku ingin mengenalnya. Setelah kenal, terus ngobrol, aku jadi ingin sering ngobrol sama dia Mam. Sampai aku sadar memang aku tuh sudah sayang sama dia." Mas Nur cerita dari awal bertemu Dinda.


"Jadi namanya Dinda yang pakai baju biru, jilbab hitam." Ucap mas Imam.


"Lho aku kan ga kasih tahu yang mana, tapi hebat ya Mam kamu bisa tahu yang mana orangnya." Mas Nur bingung kok mas Imam tahu yang mana Dinda.


"Si Dinda juga kelihatan Nur. Tadinya aku pikir yang sebelahnya, tapi pas lihat kamu seperti biasa saja. Lain dengan Dinda pas ketemu kamu kaya kaget dan bingung, buang muka begitu seperti ga mau lihat kamu Nur. Terus dia seperti sembunyi dari kamu, jadi aku tahu itu pasti ada apa-apa sama kamu. Makanya aku langsung tanya. Ternyata benar kamu suka sama dia. Tapi kok seperti cinta belum tersampaikan ya, kamu sudah berapa lama kenal, sudah menyatakan perasaan belum." Ucap mas Imam setelah memperhatikan.


"Kira-kira hampir 6 bulan lebih, dua bulan aku ga ketemu sama dia. Bahkan sekedar lihat di jalan saja ga Mam. Aku kepikiran terus sama dia. Terakhir lihat ya itu dua bulan yang lalu. Dua bulan yang lau dia cerita kalau dia sudah kerja lagi tapi ga tahu di mana. Katanya sih sudah satu bulan tapi baru main ke kontrakan mba Lilis. Berarti sekarang tiga bulan dia kerja di pabrik yang sekarang." Jawab mas Nur bercerita tentangnya dan Dinda.


"Tunggu Nur, berarti 6 bulan yang lalu kamu kenal Dinda. Tiga bulan kerja di Jababeka, terus pulang kampung. Satu bulan kerja di pabrik yang sekarang baru ketemu lagi di kontrakan mba Lilis. Terus ga ketemu dua bulan, baru ketemu tadi di sini. Berarti itu lebih dari 6 bulan Nur, gimana sih. Yang jadi pertanyaan aku, kamu sudah menyatakan perasaan belum. Nembak gitu maksud aku, sudah belum. Itu pertanyaan aku tadi yang belum kamu jawab." Mas Imam mengulang cerita mas Nur seakan tak percaya.


"Gimana mau jawab, langsung kamu potong ceritaku tadi." Jawab mas Nur.


"Maaf Nur soalnya aku heran sudah 6 bulan lebih kamu pendam perasaanmu itu." Mas Imam keheranan dengan mas Nur.


"Sebenarnya aku sudah ngomong sama Dinda gimana perasaanku. Aku tuh sudah nembak dia, mau di terima atau tidak. Tapi sampai sekarang belum ada jawaban Mam. Kalau iya di terima ngomong, kalaupun ga di terima juga ngomong. Jadi aku lega, terus ga penasaran gitu lho Mam." Terang mas Nur tentang perasaannya.


"Gantung tho ini ceritanya, jadi sudah nembak tapi belum ada jawaban sampai sekarang. Terus kamu masih nunggu jawaban dari Dinda Nur. Kapan ngomongnya eh nembaknya maksud aku." Mas Imam bertanya lagi ingin tahu.


"Yaa itu pas waktu dia pulang kampung. Aku nganterin dia sampai pul Cibitung. Yaa jawabannya masih mengambang ga jelas ya atau tidak. Maka itu aku suka kepikiran dia Mam." Cerita mas Nur waktu menyatakan perasaannya kepada Dinda.


"Pantesan kamu sudah cuek banget sama Indah. Jadi Dinda yang buat kamu kesengsem dan melupakan Indah. Terus kamu menghindar dari Indah tiap Minggu main ke tempatku, takut disamperin Indah ya." Ungkap mas Imam.


"Bukan karena Dinda Mam, memang sebelum ketemu Dinda juga aku sudah putus sama Indah. Kamu tahu sendiri gimana sifat, wataq, dan sikap Indah." Jelas Mas Nur tentang Indah.


"Iya juga sih, kamu pacaran sama Indah seperti tertekan hidupmu Nur. Terus sekarang gimana." Tanya mas Imam.


"Gimana apanya, ya nyusul lah. Aku mau ke warung mie ayam bakso. Mau lanjutkan yang belum selesai. Mau ketemu cintaku Mam. Do'akan biar lancar dan sukses seperti kamu." Ungkap Mas Nur semangat.


"Ya sudah sana, nanti keburu pergi ga jadi nunggu kamu kelamaan. Tak do'akan di terima dulu selanjutnya terserah." Mas Imam menyemangati mas Nur.


"Aku pulang ya Mam, salam buat nyonyamu. Assalamu'alaikum." Salam mas Nur pamitan.


"Iya, hati-hati, dan terimakasih sudah habisin kopi aku. Wa'alaikumussalam." Sambil bercanda kemudian Mas Imam menjawab salam.

__ADS_1


Mas Nur melajukan motornya menuju ke warung mie ayam bakso di warung bongkok. Dalam perjalanan, mas Nur merasa hatinya tidak menentu. Ingin segera bertemu kembali dengan Dinda dan menatap wajahnya yang selama 2 bulan lebih tidak berjumpa.


Lanjutannya di episode berikutnya, sampai ketemu lagi. Bersambung......


__ADS_2