
Hari-hari Dinda kini di jalani dengan mencari lowongan kerja dengan Tini melalui BKK sekolah. Ada lowongan kerja tetapi di Jakarta. Sudah tiga hari semenjak Dinda pulang ke kampung.
Belum ada hasil masih mencari lowongan kerja dan menunggu panggilan tes atau panggilan kerja. Setiap hari pula Dinda SMSan bahkan telphonan dengan mas Heru bila mas Heru ada di kontrakan.
Malam hari ke empat Dinda di rumah, seperti biasa hanya menonton televisi atau main hp. Dan malam itu ternyata ada tamu yang datang sengaja hanya untuk bertemu dengan Dinda.
"Tok."
"Tok."
"Tok."
"Assalamu'alaikum."
Pintu di ketuk dan terdengar seseorang mengucap salam.
"Tok."
"Tok."
"Tok."
"Assalamu'alaikum."
Suara pintu di ketuk dan salam oleh seseorang terdengar oleh Dinda dan juga keluarganya.
"Wa'alaikumussalam." Dinda jawab salam kemudian berjalan membuka pintu.
"Assalamu'alaikum."
Terdengar lagi salam dari seseorang. Dinda menjawab salam tersebut sambil membuka pintu.
"Wa'alaikumussalam."
"Hai." Sapa seseorang yang tak lain dan tak bukan adalah tamu yang waktu itu datang yaitu mas Rafli.
"Hai juga, maaf siapa ya?. Mau ketemu siapa ?." Tanya Dinda karena tidak mengenali mas Rafli.
"Siapa Din?." Tanya bapak sambil mendekat ke arah pintu dan melihat ternyata mas Rafli.
"Ini pak, tamunya bapak yang kemaren." Jawab Dinda yang lupa akan mas Rafli.
"Oo nak Rafli, masuk nak Rafli." Ucap bapak menyuruh Rafli masuk.
"Iya pak." Ucap Rafli sambil senyum, kemudian salaman dengan Dinda dan menyalami bapaknya Dinda.
"Silahkan duduk, ini tumben darimana mau kemana nih nak Rafli?." Bapak mempersilahkan duduk yang sebelumnya bapak telah lebih dulu duduk di kursi tamu.
Dinda masuk ke dalam lagi menuju dapur untuk merebus air membuat teh panas.
"Sepertinya ada tamu Din, siapa?." Tanya ibu yang sedang memetik kacang panjang di meja makan untuk di masak besok pagi untuk lauk sarapan.
"Itu Bu, sepertinya tamunya bapak yang kemaren." Jawab Dinda.
"Tamunya bapak yang kemaren, ada dua orang Din?." Ibu tanya lagi.
"Ga Bu, cuma satu orang." Jawabnya Dinda.
__ADS_1
"Orang tua apa anak muda Din?." Tanya ibu penasaran.
"Yang muda Bu." Jawab Dinda lagi.
"Oo yang muda tho." Ucap ibunya Dinda.
"Sepertinya ada yang balik lagi cuma mau ketemu." Ucap ibu dalam hati.
Dinda menunggu air mendidih untuk membuat teh manis panas untuk bapak dan tamunya. Sementara itu bapak sedang mengobrol dengan mas Rafli.
"Ada apa ya nak Rafli, tumben ini sendiri ga sama bapak." Ucap bapak memulai obrolannya.
"Iya Om, memang sengaja datang sendiri tapi sudah izin kok sama bapak di rumah bilang mau ke sini." Jawab mas Rafli.
"Ada perlu atau ada apa nih kalau Om boleh tahu." Tanya bapak penasaran.
"Ga sih Om cuma mau main saja." Ucap mas Rafli sambil senyum.
"Mmmm, tapi sebenarnya mau ketemu sama Dinda Om, tapi sepertinya Dinda lupa, ga ingat sama saya Om." Ucap mas Rafli lanjut untuk mengurangi ketegangan dalam dirinya saat melihat Dinda yang mendekat sambil membawa gelas berisi teh manis panas dan cemilan dalam toples.
"Din, ini Rafli yang dulu waktu kecil sering main ke sini." Ucap bapak Dinda mengingatkan.
"Maaf pak, Dinda sepertinya lupa, maaf ya mas." Jawab Dinda setelah menaruh gelas dan toples kemudian melihat mas Rafli.
"Mmm, lupa ya Din ga apa-apa mas maklum. itu dulu waktu kamu masih sekolah SD." Jelas mas Rafli sambil senyum.
"Din sini, duduk sini, temani bapak ngobrol sama mas Rafli." Pinta bapak sebelum Dinda masuk ke dalam menaruh nampan.
"Iya pak, maaf Dinda taruh nampan dulu di belakang." Ucap Dinda.
"Ya sudah taruh dulu nanti balik lagi ke sini ya Din." Sambung bapak.
Dinda berjalan ke arah belakang menuju meja makan lalu menaruh nampan di atas meja makan.
"Ee nak Rafli, maaf kemaren ibu ga temani bapak ngobrol, sendirian nak Rafli?." Ucap ibu setelah berjalan ke ruang tamu.
"Iya ga apa-apa Bu." Ucap mas Rafli senyum.
"Silahkan di minum, sekalian ini ada cemilan seadanya di makan jangan di lihatin." Ucap ibu menawarkan setelah duduk di samping bapak.
"Iya Bu, terimakasih sudah merepotkan." Ucap mas Rafli setelah minum teh manis panasnya.
"Nak Rafli tumben ke sini sendirian ada apa ya, eh maksud ibu ada perlu apa?." Tanya ibu penasaran.
"Cuma main Bu, sebenarnya ingin ngobrol sama Dinda. Tapi sepertinya Dinda nya ga kenal saya, lupa ya Din?." Ucap mas Rafli bercanda sekedar basa basi memulai obrolan dengan ibu, bapak, dan Dinda.
"Kamu lupa Din?." Tanya ibu meyakinkan dirinya terutama Dinda.
"Iya Bu lupa, ini mas Rafli tapi sepertinya agak beda sama yang dulu. Makanya Dinda ga ngenalin pas kemaren ke sini sama bapaknya mas Rafli." Ucap Dinda mengingat mas Rafli yang dulu dan yang sekarang.
"Memang sepertinya ada yang beda tapi apa ya Bu?." Tanya bapak juga ikutan menanyakan kepada ibu.
"Bapak gimana tho, dulu Rafli gendut, hitam, sekarang badannya gede bukan gendut ya, tinggi, terus agak putihan eh maksud ibu bersihan daripada waktu dulu masih kecil." Jawab ibu setelah memperhatikan mas Rafli.
"Iya kok bisa sih nak Rafli, rahasianya apa tho?. Tolong kasih tahu ke Om biar Om ikutan juga ga gemuk terus putihan yaaa meskipun sedikit. Paling ga kelihatan gagah, ganteng dikitan lah." Ucap bapak menimpali namun dengan candaan sedikit.
"Gimana ya Om, nanti kalau di kasih tahu, terus Om tambah ganteng dan gagah bisa nambah saingan nih Om." Jawab mas Rafli mikir-mikir dikit sambil bercanda.
__ADS_1
"Saingan sama siapa nak Rafli?." Tanya bapak Dinda bingung.
"Saingan sama Rafli Om hemmm." Ucap Rafli senyum senyum.
"Nak Rafli bisa saja bercandanya." Ucap bapak Rafli ikut senyum juga.
Dinda hanya mendengar dan ikut tersenyum melihat mereka mengobrol.
"Maklum Bu, dulu sering main di luar jadi hitam. Kalau sekarang kerja di dalam ruangan makanya agak bersih." Ucap mas Rafli.
"Iya maaf Dinda jadi ga ngenalin Bu. Kalau ini mas Rafli yang dulu main bareng suka ngejar-ngejar Dinda." Ucap Dinda jadi teringat masa lalunya waktu main bareng dengan mas Rafli.
"Sekarang di rumah Din?." Tanya mas Rafli.
"Iya mas, habis kontrak jadi pulang kampung. Lagi nyari kerja di BKK sekolah." Jawab Dinda.
"Terus gimana ada lowongan ?." Tanya mas Rafli lagi.
"Ada mas, tapi di Jakarta. Kalau Aku kemaren di Cikarang, jadi inginnya ke Cikarang lagi." Jawab Dinda lanjut.
"Kenapa ke Cikarang lagi Din?." Tanyanya lagi.
"Kan barang-barang masih di Cikarang mas, kontrakan juga baru di bayar. Jadi yaa inginnya ke Cikarang lagi." Jawab Dinda.
"Ooo, emang kalau nyari kerja di sini gimana?." Tanya mas Rafli ingin tahu.
"Kalau rezekinya di sini ya kerja di sini mas. Tapi kemaren rezekinya dapat di Cikarang jadi inginnya ke Cikarang lagi." Tutur Dinda.
"Kalau ibu terserah Dinda nak Rafli. Yang penting dia bisa jaga diri mau di manapun." Ucap ibu.
"Iya nak, Om juga inginnya di sini. Tapi di sini Dinda ga dapat kerja mungkin belum rezekinya di sini. Dapatnya di Cikarang, rezekinya di sana mungkin nak Rafli. Om sih cuma bisa mendoakan saja." Ucap Bapaknya Dinda.
"Memang cari kerja sekarang susah Din, tapi pasti dapat kalau sudah rezekinya. Jadi tetep semangat ya, apalagi demi bantu keluarga, in syaa Allah Allah beri Din." Ucap mas Rafli menyemangati.
"Aamiin, in syaa Allah mas." Ucap Dinda yakin.
"Mas Rafli sekarang kerja di mana?." Tanya Dinda ingin tahu.
"Mas kerja di sekolah Din." Jawab mas Rafli.
"Nak Rafli di sekolah jadi guru?." Tanya bapak.
"Alhamdulillah Om, saya mengajar di sana. Sudah satu tahun ini. Sebenarnya saya kuliah Om, tapi sambil ngajar." Jawab mas Rafli.
"Alhamdulillah, lulusan pondokan bisa kuliah dan bisa ngajar." Ucap bapak Dinda.
"Iya Om, itu juga karena bimbingan dari orang tua dan guru serta para kyai." Jawab mas Rafli.
"Jadi mas Rafli kuliah sambil kerja?." Tanya Dinda.
"Iya Din, tadinya mau kuliah dulu, tapi ada yang nawarin kerja mengajar sekolah madrasah. Hitung-hitung belajar kerja Din." Jelas mas Rafli.
"Ibu inginnya Dinda bisa kuliah nak Rafli. Tapi gimana kondisi ekonomi Om sama ibu belum bisa untuk menguliahkan Dinda." Ucap ibu agak sedih.
"Iya, nak Rafli." Ucap bapak menyambung.
Gimana kelanjutan ceritanya simak yuk di episode berikutnya.
__ADS_1
Bersambung dulu....