Cikarang ( Pekerjaan Dan Cinta )

Cikarang ( Pekerjaan Dan Cinta )
Episode 49. Kenapa?.


__ADS_3

Indah merasa dirinya sudah benar-benar tidak dihiraukan oleh mas Nur. Dia cemburu melihat mas Nur yang perhatian dengan Dinda dan temannya. Bagaimana bisa mas Nur tidak perduli lagi, dan menghiraukannya sama sekali.


"Maaf pak, kalau begitu Saya bayar sendiri." Ucap Indah kepada bapak pemilik warung.


"Dua mangkok bakso komplit dan dua gelas es teh manis berapa pa." Tanya Indah kemudian.


"Semuanya jadi 26 ribu mba." Jawab bapak pemilik warung mie ayam bakso.


"Ini pak uangnya." Indah langsung membayarnya dengan selembar uang 50 ribuan.


"Ini kembaliannya mba." Bapak pemilik warung memberikan kembalian uang Indah.


Indah segera keluar dari warung mie ayam bakso dengan Teteh Dewi. Melihat ke kanan dan kiri mencari sosok mas Nur yang sudah keluar duluan dari warung.


Saat melihat ke kiri menuju arah pertigaan Warung bongkok, Indah melihat mas Nur berjalan bersama dua orang perempuan. Dua orang perempuan itu tak lain dan tak bukan adalah Dinda dan Tini.


Indah segera berjalan cepat untuk mengejar mas Nur. Dia benar-benar dibutakan rasa cemburu yang sudah tak tertahankan lagi. Begitu cintanya Indah dan berharap menikah dengan mas Nur. Sehingga Indah tidak mau kalau mas Nur sampai mencintai orang lain.


*


*


"Mas Nur kenapa bareng kita, bukannya kontrakan mas Nur seberang jalan, gang depan." Tanya Tini setelah keluar dari warung mie ayam bakso dan diikuti oleh mas Nur berjalan di belakang Dinda dan Tini.


"Oh iya Tin, boleh ga Aku main ke kontrakan kamu. Aku mau tahu, siapa tahu nanti kalau libur, kapan-kapan Aku main." Jawab mas Nur akan maksudnya mengikuti Dinda dan Tini.


"Maaf mas, jangan main dulu ya." Jawab Dinda langsung menyela dengan menyenggol tangan Tini untuk tidak menjawab.


"Kok yang jawab kamu Din, Aku kan tanyanya ke Tini." Protes mas Nur.


"Kan kontrakan Tini kontrakan Aku juga mas." Jawab Dinda lagi tanpa memberikan kesempatan kepada Tini untuk menjawab.


"Tapi Aku kan ijinnya ke Tini bukan ke kamu." Mas Nur Protes lagi tidak terima.


"Sama saja mas." Jawab Dinda agak kesal.


"Ini kenapa sih sudah seperti perang dalam negeri saja. Din, yang dari tadi di tanya kan Aku kok kamu yang Jawab terus. Kalau mau ngobrol berdua sama mas Nur, Aku ga larang kok. Tapi tolong yaaa jangan libatkan Aku." Tini pura-pura agak marah ke Dinda.


"Lagian mas Nur kenapa coba, ga tanya langsung sama Dinda. Kenapa ada Aku yang dilibatkan. Aku bukan makelar cinta mas Nur. Tolong yaa berdua saling ngerti, lagian ini di jalan malu di dengar orang lewat." Jelas Tini ke mas Nur pura-pura agak marah juga.


Mas Nur dan Dinda seketika langsung diam. Mereka mengobrol sambil berjalan menuju arah pertigaan Warung bongkok. Dalam hati Tini merasa senang sekali dari tadi ingin membuat mereka berdua sadar tentang keadaan yang membuat riweh atau semrawut.


Yah Tini merasa seperti di kerjai oleh mas Nur. Meskipun tanpa sengaja karena bertemu dengan Indah. Dan terlebih lagi sikap dan perbuatan baik mas Nur, Dinda dan Indah. membuat Tini akhirnya harus merasakan hal yang membuat ingin marah kepada mereka bertiga.


Saat Tini, Dinda dan mas Nur telah sampai di belokan pertigaan Warung bongkok, tiba-tiba suara seseorang mengagetkan mereka bertiga. Suara yang dari tadi sebenarnya tidak ingin di dengar. Dan bahkan wajahnya pun tidak ingin mereka lihat.


"Mas Nur." Panggil Indah langsung sembari memegang tangan kanan mas Nur.


"Indah." Mas Nur terkejut terlebih lagi tangan kanannya langsung di pegang oleh Indah.


Dinda dan Tini sama terkejutnya, kenapa Indah menyusul mereka terutama mas Nur.


"Maaf Teteh kita mau pulang, memangnya Teteh mau ikut juga ke kontrakan kita." Tanya Tini langsung ke Indah.


"Mas kenapa kamu begini sama Aku." Tanya Indah kepada mas Nur tanpa menjawab pertanyaan Tini.


"Lhaaa di tanya apa jawabnya apa. Teteh orang tanya itu di jawab yang benar bukan salah begini. Dulu pas sekolah pasti nilainya jelek, ketahuan. Karena pertanyaannya apa terus jawabnya apa." Ocehan Tini kepada Indah karena tidak di jawab.


Indah masih tidak menjawab pertanyaan Tini dan tidak menghiraukan ocehannya barusan. Tini fokus ke mas Nur yang hanya berucap namanya saja lalu terdiam dan tidak menjawab pertanyaannya.


"Indah semua sudah berlalu, tolong lepaskan tangan Aku." Jawab mas Nur sesaat kemudian.


Dinda dan Tini mulai merasa tidak nyaman dengan situasi seperti ini. Namun mau bagaimana lagi, sedari tadi angkutan umum ke arah Cibitung belum ada yang lewat. Ada angkutan umum lainnya yaitu elf, atau tiga perempat. Namun Dinda lebih memilih naik angkutan umum yang biasa atau kecil.


"Ga, ga bakal Aku lepasin." Jawab Indah agak sedikit emosi.


"Tolong lepasin Indah, ini di pinggir jalan umum, ga enak dengan yang lewat. Aku malu di lihatin mereka, emang kamu ga malu." Terang mas Nur mengingatkan.


"Demi kamu Aku ga malu mas, asalkan kamu mau balik sama Aku. Aku bakal lepasin tangan kamu, asalkan kamu pulang ke kontrakan dan kita ngobrol berdua." Ucap Indah memberi syarat.


"Kenapa kamu begini Indah, sadar, Aku sudah ga sayang sama kamu lagi. Dan jangan begini, kita hanya sebatas teman biasa, yaa maksud Aku mantan." Ucap mas Nur mengingat dirinya adalah mantan.


"Kamu tega, tega sama Aku mas. Aku ga mau putus sama kamu. Aku masih sayang, Aku masih cinta, malah Aku cinta mati mas sama kamu. Tapi kenapa, kenapa mas, heiuuu heiuuu heiuuuu." Jawab Indah tak terkontrol lagi menahan rasa cemburu, marah, dan kecewa jadi satu akhirnya mendarat pula air matanya ke pipi.


"Indah, sudahlah. Pulang saja yuk, Aku antar ke kontrakan." Ajak Teteh Dewi melihat Indah yang sudah mulai menangis.


Indah masih saja tidak mau pergi bahkan untuk pulang ke kontrakan. Sambil memegang tangan mas Nur, Indah menangis tersedu-sedu.


"Tolong Indah, kalau memang kamu sayang dan cinta sama Aku, jangan mempermalukan Aku seperti ini." Ucap mas Nur mulai marah dengan sikap Indah.

__ADS_1


"Ga mas, justru Aku seperti ini karena Aku sayang dan Cinta sama kamu. Aku ga mau putus sama kamu mas." Ucap Indah memelas masih dengan suara sesenggukan karena menangis.


"Sudah lah mas Nur mendingan pulang saja, Daripada malu. Tuh sekalian bawa pulang daripada malu-maluin." Ucap Tini merasa jengah dengan mereka.


"Tin, Aku itu mau main ke kontrakan kamu. Tolong Indah, Aku berharap kamu mengerti. Saat ini kita sudah tidak ada hubungan." Jawab mas Nur kemudian melepas genggaman tangan dari Indah sekaligus bicara tentang status hubungannya.


"Mas Nur sadar ga sih, maaf yaa. Dinda ga mau mas Nur main ke kontrakan, masa iya Aku bolehin mas Nur main. Yang benar saja mas. Lagian itu urusin dulu lah, kasihan anak orang sampai nangis." Tini tidak segan lagi mengeluarkan rasa marah yang sudah tak tertahankan karena sikap mereka.


Dinda yang masih berusaha cuek tidak menghiraukan mereka karena malu di lihat orang lewat, hanya bisa meminta Tini untuk sabar.


"Tin, sabar. Itu urusan mereka terutama mas Nur dan Teteh Indah. Kamu mendingan ga usah ikut campur daripada emosi kaya gini." Ucap Dinda sambil mengelus-elus punggung Tini.


"Habisnya bikin kesel, mau putus mau ga, jangan libatkan orang lain. Kenapa sih orang jatuh cinta repot banget. Bikin susah orang lain." Tini melontarkan amarahnya sambil melihat mas Nur. Karena dia kasihan terhadap Dinda.


"Maaf Tin." Ucap mas Nur singkat merasa bersalah oleh Tini.


"Bukan sama Aku kali mas." Kesal Tini.


Mas Nur hanya melirik Tini sambil menghela nafas kemudian menatap Dinda. Tatapan Dinda membuat mas Nur bingung. Tatapan yang entah apa artinya, namun mas Nur hanya ingin menjalin hubungan baru. Tanpa harus membuat luka di awal hubungan.


Dinda menghindar tatapan mas Nur. Dengan mengalihkan pandangannya ke arah jalan raya menunggu angkutan lewat. Dan tak jauh terlihat angkutan arah Cibitung berjalan mendekat hingga sebentar lagi sampai.


Angkutan k 39 c datang dan berhenti di pertigaan Warung bongkok. Sang supir berteriak memanggil para calon penumpang. Sambil berteriak, sang supir menerima uang ongkos dari penumpang yang sudah turun.


"Makasih neng." Ucap sang sopir menerima uang ongkos dari penumpang.


"Cibitung."


 "Cibitung."


"Cibitung."


"Cibitung neng, ayo, ayo, ga pake lama." Teriak sang sopir.


"Andini."


"Andini."


"Andini."


"Sampe Andini, ayo, ayo, ayo, Abang, neng, ayo dah buruan." Lagi teriak sang sopir angkot.


"Mas Nur kita pulang ya. Maaf ya mas Nur, dan terimakasih sudah traktir." Ucap Tini pamitan kepada mas Nur.


"Ya sudah Tin, makasih juga dan maaf ya." Jawab mas Nur ucap balik.


"Iya mas Nur sama-sama." Ucap Tini saat hendak naik ke dalam angkutan.


Saat Dinda hendak naik ke dalam angkutan setelah Tini, Dinda melihat mas Nur. Dinda tidak bisa berkata untuk sekedar pamitan, minta maaf, dan terimakasih. Mulutnya seakan terkunci, karena Dinda juga masih melihat Indah di sebelah mas Nur. Rasa sesak di dadanya entah sejak kapan Dinda menahannya yang akhirnya hanya bisa berucap dalam hati.


"Mas Nur maafkan Aku, dan terimakasih." Ucap Dinda dalam hati sambil melihat mas Nur lalu senyum tipis.


Mas Nur yang melihat hal tersebut hanya bisa tersenyum dalam hati. Dia tidak ingin senyumnya yang terlihat membuat keributan lagi. Keributan tadi sudah cukup baginya. Indah yang dengan sikapnya membuatnya terpojok dalam situasi yang tidak mengenakkan.


"Dinda dan Tini sudah pulang. Puas kamu Indah, mempermalukan Aku di depan mereka. Bahkan di pinggir jalan dan terlihat oleh orang yang lewat. Kamu benar-benar ya sudah kelewatan." Ucap mas Nur di depan Indah dengan wajah yang memerah.


"Ayo pulang dulu mas Nur, dan kamu juga Indah. Setidaknya jangan di sini." Ucap Teteh Dewi menghentikan mas Nur dan mencegah Indah untuk menjawab mas Nur.


Indah hanya terdiam setelah mendapat omongan dari mas Nur. Indah yang menuruti ucapan Teteh Dewi untuk pulang, akhirnya berjalan ke arah kontrakan Teteh Dewi. Mas Nur mengusap mukanya sendiri, sambil beristighfar mengingat kondisinya yang sedang marah. Kemudian menyusul mereka berdua berjalan menuju kontrakannya.


Teteh Dewi dan Indah tiba di kontrakannya terlebih dahulu. Namun bukannya masuk ke kontrakan Teteh Dewi, Indah malah menuju ke kontrakan mas Nur. Indah menunggu mas Nur, untuk menjelaskan apa yang sebenarnya kini terjadi. Mengapa Indah melihat mas Nur mulai berbeda. Meskipun putus hubungan mas Nur masih bersikap baik terhadapnya. Tapi kini sudah berbeda, mas Nur mulai berubah.


Di jalan, mas Nur seakan tidak bisa lagi menahan rasa kesalnya. Selama putus mas Nur masih berusaha baik terhadap Indah. Namun semua itu karena mas Nur teringat akan amanat dari bapaknya Indah.


*


**


"Mas Nur, nanti Minggu depan main ke kontrakan Aku ya." Pinta Indah dengan manjanya.


"Iya, nanti mas main ke sana." Jawab mas Nur santai.


"Iya lah gantian, masa sudah tiga Minggu Aku terus yang main ke kontrakan mas Nur." Terang Indah mengingat.


"Kamu lupa ya Indah, mas ga bisa main ke kontrakan kamu. Kamu sendiri yang suruh." Jawab mas Nur mengingatkan kembali.


"Masa sih mas, emang sih selama ini Aku yang main ke kontrakan mas Nur." Jelas Indah.


"Waktu awal kamu nyatakan cinta dan sayang sama mas. Mas bilang sama kamu, kalau mas jadian sama kamu, mas saja yang main ke kontrakan kamu kalau mas libur. Ga enak cewe main terus ke kontrakan cowo. Tapi kamu jawab apa coba ingat ingat." Mas Nur mencoba menjelaskan agar Indah ingat.

__ADS_1


"Ga ingat." Jawab Indah pura-pura lupa sambil bergelayutan manja di lengan mas Nur.


"Kamu bilang, mas Nur jangan main ke kontrakan Aku. Di kontrakan Aku semuanya cewe. Aku takut nanti mas Nur kecantol sama cewe lain. Soalnya di Aku ada yang kaya gitu, jadi tetangga makan tetangga. Ingat kan pernah ngomong seperti itu sama mas." Jelas mas Nur.


"Oooo iya ingat, jadi ingat Wulan. Si Wulan bawa cowonya ke kontrakan. Sebelahnya Teh Dea lihat, terus ikutan nimbrung. Setiap cowonya datang Teh Dea ke situ ikutan ngobrol malah ganjen banget sama mas Bambang. Ga tahunya sering ketemu sama mas Bambang di depan pabrik baja. Lama-lama kecantol beneran tuh mas Bambang. Akhirnya putus sama Wulan." Indah pura-pura ingat ucapannya, dan ingat kisah Wulan.


"Ingat kaan. Terus kenapa tiba-tiba sekarang minta mas main ke kontrakan." Tanya mas Nur tanpa curiga.


"Aku malu mas, di bilang ga punya cowo. Yang ngontrak di situ sudah punya cowo semua. Sudah ada yang nikah juga. Tinggal Aku mas, masa Aku dikatain ga laku." Ucap merajuk dan mengatakan alasannya.


"Ya sudah nanti mas main biar kamu ga malu. Sekalian nunjukin kamu punya cowo yang sayang, cinta dan baik, sekaligus ganteng lagi." Jawab mas Nur sambil tersenyum menghibur Indah yang merajuk.


Minggu depan yang telah di sepakati baik oleh mas Nur dan Indah akhirnya tiba juga.


"Teh, kamu sudah bilang sama cowomu kalau Abah main ke sini mampir." Ucap Abah Indah yang sengaja mampir dari Jakarta karena di suruh Indah.


Sebelumnya Indah tahu orang tuanya akan ke Jakarta datang menjenguk kakaknya. Kakaknya Indah di Jakarta mengadakan syukuran lahiran anak pertama, sehingga mereka menjenguknya. Berhubung Jakarta dekat dengan Cikarang, Indah menyuruh mereka mampir. Dengan alasan mau mengenalkan pacarnya sekaligus calon suaminya.


"Ga Abah, biar saja, biar kejutan." Jawab Indah sambil senyum-senyum.


Tidak lama kemudian suara motor berhenti di depan kontrakan Indah. Setelah mas Nur turun dan memarkirkan motornya, Mas Nur bingung melihat adanya sandal milik bapak-bapak yang terletak di depan teras kontrakan Indah.


"Assalamu'alaikum." Ucap mas Nur salam tanpa mengetuk pintu karena pintu kontrakan Indah sudah terbuka.


"Wa'alaikumussalam. Langsung masuk saja mas." Ucap Indah dari ruang tengah kontrakan sambil melihat mas Nur.


Berhubung pintu kontrakan terbuka, maka baik dari luar kontrakan maupun dalam kontrakan akan terlihat jelas karena ga ada penutupnya sampai ruang dapur.


Mendengar jawaban tersebut, mas Nur lalu masuk kemudian duduk di ruang depan. Sambil menonton televisi, mas Nur mengira ada orang lain di dalam selain Dinda.


"Ini mas minumnya, dan ini kuenya." Ucap Indah sambil memberikan segelas kopi panas dan makanan ringan dalam toples.


"Terimakasih, cepet banget ngasihnya." Jawab mas Nur meledek.


"Iya kan dispensernya sudah nyala dari tadi, jadi tinggal tuang." Jawab Indah beralasan.


Tanpa menyadari ada keanehan atau hal yang mengganjal, mas Nur menikmati kopi panas dan makanan kecil berupa kacang kulit.


"Ini Teh orangnya." Ucap suara bapak-bapak dari dalam ruang tengah.


"Iya Abah, mas kenalin, Abah. Abah kenalin mas Nur." Jawab Indah sambil menunjuk mereka bergantian.


Mas Nur kaget, sekaligus bingung bagaimana menghadapi orang tuanya Indah terutama Abahnya. Tiba-tiba Abah Indah datang tanpa memberitahunya terlebih dahulu.


"Assalamu'alaikum Abah, Saya Nur." Ucap mas Nur setelah menyalami tangan Abahnya Indah.


"Wa'alaikumussalam, Abahnya Indah." Ucap Abah sambil melihat tampang mas Nur.


Awalnya mas Nur agak canggung namun lama-lama biasa saja. Mereka mengobrol bersama di ruang depan kontrakan. Banyak yang mereka bicarakan.


Abahnya Indah cerita dari keberangkatannya dari Indramayu ke Jakarta. Kemudian waktu nginap di kakaknya Indah acara syukuran anak pertama. Sampai akhirnya mampir ke Indah di Cikarang karena sudah hampir tiga bulan Indah ga pulang.


Dari obrolan tersebut Abah Indah tidak mengatakan kalau di suruh mampir oleh Indah. Karena sebelumnya Indah memberitahu Abahnya. Karena ini kejutan jadi tidak boleh cerita.


Mas Nur hanya mendengarkan dan sesekali menyahut. Abah Indah pun mulai menanyakan tentang mas Nur. Apa pekerjaannya, orang tuanya, saudaranya dan sebagainya. Semua itu mas Nur jawab dengan jujur seadanya.


Sampai akhirnya siang hari, ketika Abah Indah hendak berpamitan untuk istirahat tidur, siang, Abah Indah sempat berpesan kepada mas Nur.


"Mas Nur kalau nanti mau pulang ga apa-apa ga pamitan." Ucap Abah memberitahu.


"Iya Abah." Jawab mas Nur singkat.


"Abah mau istirahat, tidur." Ucap Abah lagi.


"Iya Abah."Jawab mas Nur lagi.


"Pesan Abah, tolong jaga Indah anak Abah. Sayang dan cintai dia, jangan sakiti. Abah tahu kalian sudah cukup umur, jadi Abah tunggu kedatangan kamu ke rumah Abah di Indramayu." Ucap Abah mengisyaratkan keseriusan mas Nur.


"Iya Abah, in syaa Allah, Nur akan jaga. Dan in syaa Allah jika Nur dan Indah sudah siap pasti akan ke rumah Abah." Janji mas Nur dengan Abah.


**


*


"Kenapa, kenapa ini terjadi. Ya Allah, Aku harus bagaimana." Ucap mas Nur dalam hati sambil berjalan lunglai lemas mengingat ucapannya kepada Abah Indah.


Sampailah mas Nur di dekat kontrakannya sendiri tanpa dia sadari Indah sedang duduk di teras menunggu dirinya.


Bersambung lagi..........🤭☺️🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2