
Mas Nur berjalan menuju kontrakannya. Yang ada di pikiran dan hatinya saat ini adalah bagaimana dengan Dinda. Tatapan terakhirnya saat hendak masuk ke dalam angkutan umum mengisyaratkan sesuatu. Tetapi mas Nur tidak tahu apa maksud tatapannya itu.
Mendekati kontrakan, matanya mas Nur menangkap adanya Indah yang sedang duduk di teras. Mendekatinya dan hanya melihat sekilas padanya dengan rasa entahlah mungkin kesal. Kenapa sikapnya masih saja tidak berubah, tidak mengerti dirinya.
Mas Nur membuka pintu kontrakan, lalu dia langsung berbaring di lantai di ruang depan. Indah yang melihat mas Nur seperti itu, dia berpura-pura sedih dan menyesal. Hati Indah yang sebenarnya adalah dia tidak menerima di putus oleh mas Nur.
Indah masih ingin menjadi kekasihnya bahkan istrinya mas Nur. Selama putus Indah berusaha agar mas Nur mau kembali padanya. Namun kali ini perjuangan Indah terasa sulit. Mas Nur kini mulai sayang dan cinta dengan perempuan lain.
"Mas Nur." Panggil Indah lirih setelah masuk kontrakan dan duduk di samping badan mas Nur yang terbaring.
Mata mas Nur terpejam, namun telinganya masih bisa mendengar suara panggilan dari Indah yang lirih. Mendengar di panggil, mas Nur hanya diam dan tidak menyahut panggilan Indah.
"Mas Nur." Panggil Indah lagi, namun kali ini tangannya memegang tangan mas Nur sambil menggoyangkannya sedikit.
Mas Nur masih saja diam dan tidak menyahut panggilan Indah. Tadinya mas Nur terbaring menghadap ke atas, kini mas Nur terbaring menyamping membelakangi Indah. Tangan yang tadinya di pegang Indah telah terlepas bersamaan bergesernya badan mas Nur ke arah belakang Indah.
"Mas Nur." Panggil Indah lagi, namun kali ini Indah mulai tersedu-sedu.
Meskipun Indah sudah mulai menangis tersedu-sedu, mas Nur tetap saja tidak memperdulikannya. Mas Nur masih dalam posisi tidur miring membelakangi Indah.
"Mas Nur, Aku malu, maafkan Aku mas." Ucap Indah lirih dengan ratapan tangisnya.
"Memang tidak seharusnya Aku seperti ini, tapi itu semua karena Aku sayang, Aku cinta sama kamu mas." Lanjut Indah.
"Aku takut akan kehilangan kamu mas. Putus darimu membuat Aku sakit, tapi setidaknya sikapmu selama putus tidak berubah." Terang Indah.
"Jadi selama putus Aku tahu dan Aku yakin kalau kamu masih sayang dan cinta sama Aku mas."Jelas Indah lagi.
"Tapi semua itu berubah. Berubah di saat kamu bertemu dengan saudara mba Lilis dan temannya. Kamu sudah berbeda mas, apa karena dia kamu seperti ini sama Aku mas." Terang Indah berucap atas kegalauan hatinya sambil terisak.
"Kenapa mas, apa cinta dan sayangku masih kurang untukmu. Apa Aku kurang cantik, apa ada yang kurang dariku mas. Sehingga akhirnya kamu mudah melupakan cintamu untukku dan membiarkan cinta hadir untuknya." Tanya Indah.
Mendengar Indah terus berbicara seakan meluapkan isi perasaan dalam hatinya, mas Nur kemudian terbangun. Mas Nur duduk menghadap dan melihat Indah yang sesenggukan, terisak, menangis, akan cintanya dengan mas Nur.
Mas Nur sedikit menutup pintu kontrakan dengan menggeser daun pintu dengan tangannya setelah berdiri di dekat pintu. Hal itu di lakukannya agar suara Indah tidak begitu keluar dan di dengar dari luar kontrakan.
Indah masih tersedu-sedu menangis sambil duduk. Mas Nur hanya melihatnya, kemudian mas Nur ke belakang menuju dapur. Gelas yang tergeletak di rak piring kecil diambilnya. Melangkah menuju ruang depan, mengambil air dari galon. Kemudian menaruhnya di depan Indah.
"Minumlah, setidaknya dengan minum aqua kamu punya tenaga untuk berbicara denganku dengan baik-baik." Ucap mas Nur menawarkan.
Indah meminum Aqua yang di berikan oleh mas Nur. Sedikit lega rasanya, bukan karena air aquanya, tapi karena mas Nur masih perhatian padanya.
__ADS_1
"Terimakasih mas, ternyata kamu masih perhatian sama Aku." Ucap Indah setelah minum aqua.
"Dengarkan Aku Indah." Ucap mas Nur yang telah duduk di depan Indah.
"Aku mengenalmu dengan baik, kamu cantik, kamu baik, kamu perhatian. Benar kamu sayang dan cinta sama Aku, tapi rasa yang kamu punya itu tidak tulus Indah." Ucap mas Nur terus terang.
"Kenapa mas Nur bisa berkata seperti itu sama Aku mas." Ucap Indah mulai tersedu-sedu kembali setelah tadi mulai tenang dan diam.
"Aku tahu kamu mendekati Aku karena Aku sudah menjadi karyawan tetap." Jawab mas Nur.
"Kenapa mas menyangka Aku begitu, Aku tidak seperti itu mas, Aku tulus sama mas." Indah berucap agak sedih.
"Aku tahu, karena Aku mendengarnya sendiri." Terang mas Nur.
*
**
Satu tahun hubungan mas Nur dengan Indah. Satu tahun pula mas Nur merasa bahwa selama berhubungan dengannya, Indah hanya memanfaatkan semua kebaikannya. Dari belanja lupa bawa dompet minta di bayarin, lama-lama jadi kebiasaan.
Tentang kebebasan mas Nur bertemu dengan temannya mulai di batasi. Tidak boleh main ke teman kalau tidak bersamanya. Tidak boleh mengobrol dengan tetangga perempuan. Semuanya mulai jadi aturan Indah dan mas Nur harus menurutinya.
Jika mas Nur lupa atau salah maka Indah akan uring-uringan di depannya di kontrakannya. Alhasil Mas Nur yang lebih dewasa umur dan sikap serta sifatnya selalu berusaha mengalah. Awalnya itu karena rasa sayang dan cinta Indah yang begitu besar. Namun semua itu lama-lama membuat mas Nur sadar bahwa sayang dan cinta bukan seperti itu.
Setelah cukup lama mereka pulang ke kontrakan masing-masing karena sudah selesai makan. Pada saat pulang mas Nur melihat Indah sedang berjalan dengan temannya. Mas Nur berusaha menyusul dan ingin membuatnya terkejut. Tapi ketika sudah di belakang mereka, mas Nur tidak jadi mengagetkan Indah.
Mas Nur mendengar apa yang mereka obrolkan. Dari obrolan mereka mas Nur mendengar namanya di sebut. Hingga mau tak mau mas Nur berusaha tetap berjalan di dekat mereka. Mereka berdua terutama Indah tidak menyadari bahwa mas Nur ada di belakangnya.
Karena mendengar obrolan mereka, mas Nur tidak jadi pulang ke kontrakan ya sendiri. Mas Nur mengikuti mereka yang ternyata menuju ke kontrakan Asih.
Setelah mendengarkan apa yang mereka obrolkan, bukannya mas Nur yang mengejutkan Indah, akan tetapi malah sebaliknya. Mas Nur yang terkejut mendengar obrolan mereka.
*
"Indah kamu beruntung ya punya cowo mas Nur. Setia, ganteng, rajin ibadah, baik lagi. Sepertinya cuma kurang satu, kurang bicara sama orang lain." Ucap Asih teman Indah.
"Iya lah, Aku tuh pas lihat dia pertama kali karena gantengnya. Karena mas Nur tetangga kontrakan Teteh Dewi, Aku tanya orangnya gimana. Dan ternyata seperti itu, karena dia orangnya diam ga gaul ya sudah Aku yang deketin duluan." Tutur Indah.
"Ooo pantesan, kamu duluan yang mulai. Yang dulu di kemanain Ndah." Tanya Asih.
"Aku tinggalin, yang dulu Aku putusin." Jawab Indah tentang mantannya.
__ADS_1
"Bukannya dia orangnya baik Ndah, kok kamu putusin." Tanya Asih penasaran.
"Emang dia orangnya baik, tapi dia karyawan kontrak." Ucap Indah tidak merasa menyesal.
"Lha emang ngapa kalau masih kontrak?. Yang penting kan orangnya baik." Tanyanya lagi.
"Asih, dengerin ya. Kalau sama karyawan kontrak, kalau dia masih kerja ga apa-apa masih punya duit. Kalau habis kontrak ga kerja ya ga punya duit. Emang pacaran ga butuh duit, nikah ga butuh duit, semuanya butuh duit neng Asih." Ucap Indah menggurui.
"Berarti kamu putusin dia gara-gara habis kontrak ya." Tanya Asih memastikan.
"Iya, gara-gara dia habis kontrak." Jelas Indah.
"Kalau yang sekarang gimana Ndah." Tanya Asih tentang mas Nur.
"Yang seperti kamu bilang tadi. Tapi yang terpenting dia sudah karyawan tetap." Tutur Indah.
"Jadi kamu deketin mas Nur karena mas Nur karyawan tetap ya Ndah." Tanya Asih lagi.
"Iya, karena dia karyawan tetap. Alasan awalnya yang pasti ganteng. Tapi pas tahu dia karyawan tetap, ya sudah Aku kejar sampai dapat." Terang Indah lanjut.
"Kamu ga takut kalau sampai mas Nur tahu kamu suka, sayang, dan cinta gara-gara itu semua." Tanya Asih.
"Ga, kan selama ini aku pura-pura tulus sama dia. Dia itu ga pernah pacaran Asih. Baru pertama ini, itupun Aku yang usaha keras dapetin dia. Tapi syukur deh dia mau dan sekarang sayang dan cinta sama Aku."
*
Hati dan pikiran mas Nur terkejut mendengar semua itu langsung dari Indah. Tanpa Indah sadari sedari tadi mas Nur mendengar semua kata-katanya tentang mas Nur.
Bagaikan orang yang polos, naif, dungu, bodoh, tolol, semua itu ada dalam pikiran mas Nur. Tidak menyangka orang yang selama ini mas Nur anggap tulus ternyata semua palsu. Mas Nur memang ganteng wajahnya, baik, perhatian, dan tulus tapi itu semua tidaklah penting bagi Indah. Yang terpenting adalah karyawan tetap.
Bagai di sambar petir, semua hanya karena mas Nur sebagai karyawan tetap. Seketika itu pula mas tersadar. Bahwa kebaikan dan perhatiannya hanya di manfaatkan saja untuk mendapatkan dia yang sejatinya karyawan tetap.
Galau dan gundah gulana selalu merasuki hatinya. Diteruskan atau tidak hubungan antara mas Nur dengan Indah. Semua itu akhirnya membuat mas Nur mulai menjauh dan akhirnya memutuskan untuk putus dengan Indah.
*
**
*
"Tidak perlu tanya dengar di mana, kapan, atau siapa. Yang pasti saat ini hubungan kita sudah berakhir." Ucap mas Nur tegas.
__ADS_1
Bersambung.....