Cikarang ( Pekerjaan Dan Cinta )

Cikarang ( Pekerjaan Dan Cinta )
Episode 54. Saling berusaha.


__ADS_3

Sebulan sudah semenjak kejadian waktu itu, setiap Minggu pagi Indah akan datang ke kontrakan mas Nur. Mas Nur yang masih berbaik hati dengan Indah mulai merasa tak nyaman. Biar bagaimanapun mereka sudah putus hubungan.


Mas Nur datang ke kontrakan mas Imam sebelum pindah ke perumahan. Tadinya ingin membantu kepindahan mas Imam dan mba Novi namun tidak jadi.


"Mam, Aku bantuin pindahan ya." Pinta mas Nur.


"Terimakasih Nur, nanti repoti kamu. Ga perlu bantuin, ga ada barang lagi, cuma tinggal ini saja kok." Mas Imam menolak halus ga mau repoti mas Nur.


"Terus Aku bantuin apa Mam." Tanya mas Nur.


"Bantuin mampir ke rumah, terus ikutan do'a syukuran, terus makan." Jawab mas Imam.


"Cuma itu saja." Ucap mas Nur singkat.


"Iya." Jawab mas Imam singkat.


Mas Nur duduk di teras menunggu mba Novi dan mas Imam menyerahkan kunci kontrakan ke bapak kontrakan. Di saat itulah mas Nur bertemu dengan mba Erna, karena mba Erna juga ikut mengantar mba Novi dan mas Imam pindahan.


"Mba Erna." Sapa mas Nur.


"Mas Nur ya, sudah lama." Tanya mba Erna.


"Baru tadi mba, baru datang." Jawab mas Nur.


"Mba Novi sama mas Imam nya kemana mas?." Tanya mba Erna karena tidak melihat mba Novi dan mas Imam.


"Mereka sedang mengembalikan kunci kontrakan ke bapak kontrakan sekalian pamitan." Jawab mas Nur.


"Ooo, berarti ini tinggal berangkat ya mas." Ucap mba Erna memastikan.


"Iya mba. Mba maaf mau tanya." Ucap mas Nur lanjut.


"Tanya apa ya mas." Jawab mba Erna penasaran.


"Maaf mba, sebenarnya dari Minggu kemaren mau tanya tapi ga jadi-jadi, karena pas ketemu mba Erna, cuma lihat mba Erna masuk kontrakan, ga enak mau ngobrol." Ucap mas Nur ragu.


"Sebenarnya mau tanya, mmmm, Dinda sama Tini ga jadi ngontrak di sini ya mba." Tanya mas Nur langsung.


"Oo, itu yang mau mas tanya." Ucap mba Erna.


"Iya mba, itu yang dari kemaren mau ditanyakan. Soalnya Imam ga tahu pas Aku tanya, katanya suruh nanya ke mba Erna langsung." Jelas mas Nur.


"Dinda dan Tini ga jadi pindah ngontrak di sini mas." Jawab mba Erna.


"Kenapa mba." Tanya mas Nur lagi.


"Katanya sih kalau pindah sekarang bingung naik bus jemputan no berapa, karena belum tahu." Jawab mba Erna.


"Oo, gitu ya mba, makasih ya mba sudah kasih tahu." Ucap mas Nur.


"Iya mas sama-sama." Ucap mba Erna balik.


Sesaat kemudian mba Novi dan mas Imam datang. Mereka kemudian pergi dengan naik open cup yang di sewa oleh mas Imam. Mas Imam dan mas Nur naik sepeda motornya masing-masing.


Beberapa menit kemudian sampailah mereka di rumah baru mas Imam di perumahan. Mereka membawa masuk barang-barang yang tidak begitu banyak. Setelah selesai, mereka duduk di ruang tamu. Mas Imam mengeluarkan air minum teh botol dingin dan makanan yang sudah di pesannya.

__ADS_1


Memang hanya mas Nur dan mba Erna yang mengantar mereka pindahan, karena mereka tidak mau banyak orang yang menemani. Mereka makan dan minum disertai dengan obrolan ringan. Di sela obrolan mereka, mas Nur menanyakan tentang Dinda ke mba Erna.


"Mba Erna maaf kenal Dinda dan Tini sudah lama?." Tanya mas Nur di sela obrolannya dengan mas Imam juga mba Novi.


"Waktu nyari kerja, terus kerja bareng di pabrik MMI itu mas." Jawab mba Erna.


"Lumayan ya mba, berarti sama seperti Aku." Ungkap mas Nur.


"Iya sama, cuma bedanya Aku ketemu mereka di tempat kerja. Kalau di kontrakan ya kalau mau main. Beda sama mas Nur kan tetangganya jadi pasti sering ketemu." Jawab mba Erna mencoba mencari tahu gimana mas Nur.


"Ya tapi ga sering mba, kalau Minggu kadang lihat kadang ga, cuma semenjak Dinda dan Tini kerja terkadang susah bertemu." Jawab mas Nur.


"Tapi itu yang buat penasaran dan kangen kan Nur." Ucap mas Imam menyela.


"Iya tuh mas Imam bener." Ucap mba Erna nyambung.


"Awalnya sih pengin kenal, pas lihat dan kenal jadi bikin penasaran. Sudah kenal malah bikin pengin ketemu dan ngobrol terus. Ya akhirnya keterusan. Tapi pas dia pulang kampung sampai sekarang susah ketemunya." Keluh mas Nur.


"Tapi sekalinya ketemu seneng kan Nur." Sela mas Imam.


"Masalahnya, aku bingung gimana dia ke aku. Apalagi kemaren kejadian setelah pulang dari sini. Apes banget ketemu Indah malah jadi semrawut begini Mam." Ungkap mas Nur.


"Ujian tuh Nur." Ucap mas Imam.


"Ujian cinta mas heehee." Ledek mba Erna.


"Iya nih mba, bahkan sebulan ini Aku belum lihat Dinda dan Tini lagi." Ucap mas Nur.


"Waktu pas ke sini nanya kontrakan, bukannya waktu itu ketemu sama mas Nur." Tanya mba Erna mengingatkan.


"Nah, seminggu habis itu main ke kontrakan Aku mas. Cuma sebentar kasih tahu bahwa mereka ga jadi ngontrak di sini. Malah Aku suruh bilang sendiri sama mba Novi, tapi mereka ga mau. Jadi akhirnya Aku yang kasih tahu mba Novi mereka ga jadi ngontrak di sini." Jelas mba Erna.


"Mereka main ke mba Erna jam berapa mba?." Tanya mas Nur memastikan.


"Sekitar jam 8 pagi kenapa mas." Jawab mba Erna lalu balik tanya.


"Pantas saja Aku ga ketemu, Aku main ke mas Nur jam 9." Ucap mas Nur sedih.


"Belum jodoh ketemu Nur." Ucap mas Imam menenangkan.


"Iya Mam, belum jodohnya ketemu. Tapi paling tidak Aku sudah usaha. Kalau tidak ketemu di kontrakannya mba Lilis, ya mungkin di kontrakannya mba Erna." Terang mas Nur.


"Memangnya sebulan ini Dinda sama Tini belum main lagi ke kontrakannya mba Lilis mas?." Tanya mba Erna lanjut.


"Belum mba, Aku sempat tanya sama mba Lilis. Kata mba Lilis mereka belum main lagi." Jawab mas Nur.


"Nur, apa yang namanya Dinda itu mungkin menghindar dari kamu?." Tanya mas Imam.


"Masa iya mas Dinda menghindar dari Aku." Ucap mas Nur bingung.


"Buktinya dari cerita kamu sejak kenal, sampai kamu nembak dia, sampai kemaren dan hari ini, kemungkinan Dinda sepertinya menghindar dari kamu Nur." Jelas mas Imam.


"Mmmm, mungkin saja mas." Ucap mba Novi ikut nimbrung.


"Biasanya perempuan yang agak pendiam, tapi terkadang ceria, biasanya suka gitu. Dia itu ga mau ngungkapin perasaannya sendiri saat belum jelas sejelas-jelasnya." Menurut mba Novi.

__ADS_1


"Apa iya mba Novi." Tanya mas Nur balik.


"Ya gitu maksudnya ingin tahu benar apa orang yang suka sama dirinya memang benar-benar suka atau tidak. Atau tentang perasaannya sendiri ingin meyakinkan kalau dia sendiri memang beneran suka." Terang mba Novi.


"Mungkin saja mba. Soalnya Dinda gitu, jarang ngungkapin apa yang dia rasa malah terkesan cuek padahal sebenarnya ga." Ungkap mba Erna.


"Terus Aku harus gimana." Tanya mas Nur pada diri sendiri.


"Sekarang gini Nur, kamu maunya gimana, kamu harus jelas." Ucap mas Imam.


"Maksudnya?." Tanya mas Nur balik.


"Hmm, kamu itu milih siapa?, Dinda apa Indah. maksudku gitu Nur." Ucap mas Imam agak kesal.


Sesaat mas Nur terdiam. Sedangkan mba Novi dan mba Erna akhirnya ngobrol berdua di ruang dapur sambil mencuci piring setelah membereskan alat makan yang mereka pakai.


"Indah itu masa lalu Aku Mam, kamu tahu itu." Ucap mas Nur sendu mengingat Indah.


"Masa lalu kamu yang masih mengganggu. Kamu harus pastikan, kamu sudah menyakiti Indah. Tapi dia masih ingin baikan lagi sama kamu. Sedangkan Dinda, yaaa Aku kurang tahu betul sih. Tapi dari sikapnya waktu itu Aku yakin dia sebenarnya sudah ada rasa sama kamu Nur." Ucap mas Imam.


"Kalau di pikir memang secara tidak langsung Indah lah yang menyakitiku Mam. Tapi yang mengatakan putus itu Aku." Jelas mas Nur.


"Dan itu bukan karena Indah suka sama orang lain kan Nur." Lanjut mas Imam.


"Iya, kamu sudah tahu semuanya. Sudah Aku ceritakan juga." Ucap mas Nur.


"Nah terus kalau dia mau berubah demi kamu, gimana menurut kamu Nur. Dia juga berusaha meraih hatimu lagi. Dan lagi ya Nur kamu sudah janji sama Abahnya, gimana hayooo?." Ucap mas Imam mengingatkan sekaligus menakuti.


"Itu dia Mam, makanya Aku bingung. Aku harus gimana?. Tau ahh, pusing lama-lama mikirnya." Ucap mas Nur sambil memijit kepalanya yang pusing karena hal ini.


"Makanya jangan lama-lama mikirnya. Nanti jamuran tuh pikirannya." Ucap mas Imam meledek.


"Sialan kamu Mam, bantu mikir ga. Yang ada nambah penyakit, tambah penyakit bingung Aku karena ga di kasih solusi." Ucap mas Nur kesal.


Setelah obrolan yang cukup lama, Mas Nur dan mba Erna akhirnya beranjak pulang ke kontrakan. Mas Nur mengajak mba Erna untuk ikut naik sepeda motornya karena arahnya sama.


Di kontrakan mas Nur, ada seseorang perempuan yang masih duduk di teras kontrakannya. Yah tak salah lagi dialah Indah, yang masih dengan semangatnya berusaha mendapatkan mas Nur lagi.


Mba Erna telah sampai di kontrakannya. Sedangkan mas Nur masih lanjut lagi menempuh perjalanan yang hanya sekian menit sampai. Setelah masuk gang kontrakannya, mas Nur melihat Indah yang duduk di teras.


Mas Nur berhenti di depan kontrakannya sendiri. Kemudian memarkir sepeda motornya. Sambil melirik Indah, mas Nur merasa agak jengah, malas untuk bertemu, dan malas juga untuk bicara. Namun semua itu sirna mengingat janjinya pada Abah Indah.


"Sebegitunya kamu usaha membuat Aku untuk balikan lagi sama kamu Indah. Apa kamu ga cape, lelah dengan kata-kataku dan juga sikapku." Ucap mas Nur dalam hati.


"Mana mungkin dia cape, demi kamu Nur, yang sudah karyawan tetap. Namanya juga usaha, kamu sendiri gimana." Ucap bisikan yang terdengar di kepalanya.


"Aku juga usaha nih, cuma belum jodohnya ketemu sama Dinda." Jawab mas Nur dalam hatinya.


"Sama juga dong dengan Dinda. Kata mas Imam tadi kalau Dinda juga usaha. Usaha menghindar dari mas Nur." Lagi bisikan yang ada di kepala mas Nur mengingat obrolannya dengan mas Imam.


Bersambung ......


Terimakasih buat readers yang masih setia baca karyaku ini. Semoga kalian bahagia semuanya, sehat selalu, dan tetap semangat berusaha. Usaha sabar menunggu kisah selanjutnya heehee....


Bercanda reader, ....

__ADS_1


Sambung lagi ................


__ADS_2