
Pagi hari jam 6, Dinda bersiap-siap untuk kembali berangkat ke BKK sekolah. Setelah sarapan dan mempersiapkan berkas asli di dalam tas. Dinda mengambil sepatunya kemudian berpamitan dengan orang tuanya.
"Bu Dinda berangkat dulu ya, bapak mana Bu?." Ucap Dinda berpamitan sambil mencium punggung tangan ibunya.
"Iya, hati-hati Din, bapak tadi di depan sedang manasin motor." Jawab ibu, setelah itu mengambil beberapa lembar uang.
"Din, ini uang buat ongkos." Ibu memberi uang tersebut.
"Terimakasih Bu, tapi sebaiknya tidak usah. Dinda masih punya uang. Uang itu buat nambah belanja ibu saja." Dinda menolak uang saku pemberian ibu.
"Ya sudah ga mau, tuh bapak." Ibu berjalan dengan Dinda di depan menuju pintu depan rumah. Kemudian menunjuk saat melihat bapak Dinda di teras rumah.
"Bapak, Dinda berangkat." Ucap Dinda sambil mengulurkan tangannya untuk salim.
Bapak Dinda yang berada di teras sedang memanaskan motornya berhenti sejenak. Mengulurkan tangannya untuk Dinda. Dinda pun mencium punggung tangan bapaknya.
"Hati-hati di jalan Din. Kamu yakin ga mau diantar sama bapak Din." Ucap Bapak setelah Dinda mencium punggung tangannya.
"Ga usah pa, Dinda naik angkutan umum saja." Ucap Dinda kemudian berjalan menuju jalan raya.
Setelah memastikan jalanan sepi, Dinda menyeberang jalan. Menunggu angkutan umum untuk berangkat ke sekolah SMK.
Beberapa menit kemudian, sampailah Dinda di depan sekolah. Dinda langsung memasuki sekolah tersebut dan berjalan menuju aula sekolah.
Sesampainya di aula sekolah, Dinda mencari Tini yang belum terlihat olehnya. Tengok kanan dan tengok kiri, memperhatikan sekeliling aula. Dinda terus mencari keberadaan Tini sahabatnya.
Jam menunjukkan pukul setengah delapan pagi, Dinda masih mencari Tini. Para pelamar yang lulus seleksi kemaren telah berkumpul di depan aula. Entah kenapa Tini belum terlihat juga oleh Dinda.
"Hai Din, sudah lama ya?. Ucap Tini yang tiba-tiba datang dari arah belakang sambil menepuk pundak lengan Dinda.
__ADS_1
"Lumayan Tin, aku nyari-nyari taunya baru nongol. Ko baru sampai sih Tin?." Tanya Dinda kemudian menanyakan kenapa Tini baru datang.
"Iya, soalnya tadi angkutan umumnya mangkal lama karena kosong ga ada penumpangnya. Aku sudah bilang sama pak supir suruh jalan. Kata dia iya mba bentar lagi, bentar lagi jalan. Ga taunya ga jalan-jalan, giliran mau turun pindah angkutan lain, eee jalan. Mana jalannya lama kaya kura-kura. Ya sudah jam segini aku baru sampai. Tapi syukur deh belum terlambat, Alhamdulillah." Ucap Tini yang menjelaskan panjang lebar bagaimana sampai dia baru datang jam setengah delapan lewat.
"Ooo,,,, jadi karena angkutan umumnya. Bukan karena emang kesiangan terus nunggu angkutan umumnya lama. Kamu Tin, ga berubah ya." Dinda meledek sambil memukul pelan lengan Tini teringat kelakuan Tini waktu masih berangkat sekolah.
"Eit, Tini yang sekarang bukan Tini yang dulu ya. Semenjak bekerja aku berusaha tepat waktu Din. Yaaaa meskipun terkadang masih susah sih. Tapi beneran lho, aku ga bohong emang gitu Din." Balas Tini dengan menyanggahnya dan berusaha meyakinkan Dinda.
"Tuh sudah mau mulai, sudahan dulu ngobrolnya." Dinda berucap saat melihat beberapa guru BKK dan beberapa orang entah darimana masuk ke dalam ruang aula.
Sementara itu, salah satu guru BKK memulai ucapannya dengan menggunakan mik agar para pelamar yang berada di sekitar aula mendengar.
"Assalamu'alaikum, selamat pagi. Untuk para pelamar kerja yang hari ini akan mengikuti tes selanjutnya silahkan masuk ke dalam ruang aula. Saya minta tolong untuk teratur pada saat masuk, terimakasih. Ucap guru BKK tersebut kemudian duduk kembali.
Para pelamar kerja mulai berbaris rapi kemudian memasuki ruang aula. Satu persatu para pelamar kerja duduk di kursi yang telah disediakan. Setelah para pelamar kerja telah duduk semua, Kemudian guru BKK memulai kembali acara tes tertulis.
Seorang guru BKK membagikan formulir kepada para pelamar yang mengikuti tes tertulis. Setelah memastikan para pelamar kerja mendapatkan formulir tersebut, Guru BKK yang tadi berbicara kembali berbicara menggunakan mik.
"Sudah mendapatkan formulir semua?, sepertinya sudah yah. Oke mempersingkat waktu, silahkan formulir tersebut langsung diisi lengkap tanpa kecuali dan tanpa ada yang terlewat. Silahkan diisi sesuaikan dengan misalkan KTP, itu alamatnya harus sama dengan yang ada di KTP. Kalaupun ada yang berbeda misalkan alamat di KTP sama tempat tinggal sekarang berbeda, maka tulis saja alamat sekarang yang ditempati atau domisili saat ini. Cukup jelas, ada yang perlu ditanyakan?, kalau tidak ada, silahkan diisi dan selamat menjawab." Ucap guru BKK tersebut menjelaskan.
Seluruh para pelamar kerja sibuk mengisi formulir yang telah di bagikan. Tidak ketinggalan pula Dinda dan Tini yang duduk bersebelahan. Mereka mengisi formulir biodata dengan lengkap tanpa ada yang terlewatkan.
"Sudah di isi formulirnya?, letakkan di depan meja saja. Saya bagikan kembali lembaran tes untuk hari ini. Harap di isi semua soalnya. Ini Saya bagikan." Kemudian salah satu guru BKK yang lain membagikan lembaran tes untuk para pelamar kerja.
Setelah semua pelamar kerja mendapatkan lembaran tes tersebut, guru BKK kembali berbicara.
"Semua sudah mendapatkan lembaran tes yah. Oke Saya harap kalian menjawab semua soal tes tersebut dalam waktu 30 menit. Silahkan di isi di mulai dari sekarang." Ucap guru BKK kemudian mematikan dan meletakkan mik yang dipegangnya di atas meja.
Ada 10 lembar dalam lembaran soal tes yang diberikan oleh guru BKK. Masing-masing lembar ada 10 soal dan semuanya adalah pilihan. Terlihat ada beberapa pelamar yang gugup melihat banyaknya soal dan lembar tes untuk dikerjakan dalam waktu 30 menit.
__ADS_1
Sebagian guru mengawasi para pelamar kerja yang sedang mengerjakan soal tes tersebut. Ada yang serius ada pula yang biasa saja dalam mengerjakan soal-soal yang diberikan.
Setelah 25 menit guru BKK memperingatkan bahwa waktu kurang 5 menit lagi dan lembar soal harus dikumpulkan. Entah sudah dijawab semuanya maupun belum tetap harus dikumpulkan.
Waktu 5 menitpun habis, kembali guru BKK meminta para pelamar untuk meletakkan formulir dan lembar tes yang diberikan di atas meja.
Guru BKK yang bertugas mulai mengambil kembali formulir dan lembar tes sambil di klip menjadi satu. Sambil mengambil, guru BKK memperhatikan para pelamar kerja. Ada yang mukanya tegang, gugup, dan ada yang biasa-biasa saja.
Setelah terkumpul semua formulir dan lembar tes, guru BKK mulai berbicara kembali.
"Bagaimana soal tes tadi, mudah-mudah kan. Soal yang mudah seharusnya tidak sampai 30 menit sudah selesai. Waktu 30 menit itu seharusnya cukup untuk kalian mengerjakannya." Ucap guru BKK setelah memperhatikan para pelamar kerja seakan tahu bagaimana sulitnya mereka mengerjakan apalagi dalam waktu yang tidak cukup untuk dikerjakan semua.
"Kami di sini akan memproses hasil dari apa yang tadi dikerjakan. Untuk itu sementara kalian beristirahat, nanti 30 menit kemudian kalian masuk kembali ke ruangan ini lagi terimakasih." Kembali guru BKK menyampaikan bahwa para pelamar untuk beristirahat dan kembali lagi setelah 30 menit.
Para pelamar kerja satu persatu keluar dari dalam ruang aula. Dinda dan Tini juga keluar berurutan karena mereka duduk bersebelahan.
Di luar ruang aula para pelamar kerja mencari tempat untuk beristirahat setelah mengikuti tes tertulis. Beberapa ada yang ke kantin untuk membeli minuman dan makanan ringan. Ada juga yang duduk di depan ruang aula dan ada juga yang duduk tidak jauh dari ruang aula.
Mereka menunggu selama 30 menit untuk masuk kembali ke ruang aula. Di sela-sela menunggu, terdengar beberapa pelamar kerja sedang mengobrol.
Dinda dan Tini menuju kantin untuk membeli minuman dan makanan ringan. Setelah dari kantin mereka berdua mencari tempat duduk di sekitar ruang aula. Ada yang duduk juga di tempat tersebut. Dinda dan Tini duduk bersama sama.
"Din, menurut kamu tes tertulis tadi bagaimana?." Tanya Tini sesaat setelah meneguk minuman yang dibelinya dari kantin.
"Tes tertulis tadi?, menurutku agak susah Tin. Gimana ga susah itu kan tes psikologi. Aku pernah dengar dari teman waktu kerja kemaren, yaa crita gitu tentang tes tertulis psikologi. Taunya seperti itu, yaaa baru tau juga, yaaa agak susah. Mana waktunya cuma 30 menit soalnya 100." Jawab Dinda yang merasa agak kesusahan menjawab soal tes tertulis yang ternyata tes psikologi.
"Sama Din, aku juga. Ya gimana lagi, kita harus melewatinya. Dan sekarang mungkin cuma doa yang bisa menyelamatkan kita supaya lulus tes ini iya ga?." Ucap Tini berharap dia dan Dinda dapat lulus tes tertulis kali ini.
***** Bagaimana kisah selanjutnya simak di episode berikutnya, terimakasih🙏🙏🙏🥰🥰🥰.
__ADS_1