Cinta Anak Kompleks

Cinta Anak Kompleks
BAB 21 - Suara Pecahan


__ADS_3

Sepulang sekolah, Cefi kembali melihat Baron yang pulang bersama Elsa. Melihat hal itu, Cefi pun mengerucutkan bibirnya. Kemudian, dia pun pulang naik angkot seperti biasanya. Seturun dari angkot, Cefi pun berjalan menuju ke kompleks rumahnya. Seperti biasa beberapa penghuni kompleks yang kebetulan berada di luar langsung menyapa Xaviera.


"Nak Xavieraaa!" Panggil Bu Tintin. Salah satu warga kompleks. Beliau menghampiri Cefi.


"Iya, Bu?" Tanya Cefi.


"Nak, makan di rumah ibu ya? Kamu pasti lapar baru pulang sekolah. Di rumah lagi nggak ada siapa-siapa kan?" Kata Bu Tintin.


Cefi tersenyum dan menggelengkan kepalanya, "Terima kasih, Bu. Aku udah makan. Nanti aja lain kali ya, Bu." Kata Cefi.


"Oh, udah makan, kirain belum. Nanti kalau Nak Xaviera mau makan atau butuh sesuatu bilang sama ibu ya." Kata Bu Tintin yang memeluk Cefi.


Cefi menggigit bibirnya pelan. Kemudian tersenyum dan menganggukkan kepalanya begitu saja, "Terima kasih, Bu." Kata Cefi.


Kemudian, Cefi pun melanjutkan perjalanan, dan tiba-tiba ada seorang ibu-ibu kompleks yang juga mendatangi Cefi.


"Xaviera! Ini buat kamu, Nak." Kata Ibu-Ibu tersebut sambil menyerahkan plastik berisi brownies. Cefi tidak tahu namanya, hanya tau kalau dia adalah Mama Dinta karena anak beliau bernama Dinta.


Cefi pun tersenyum dan mengambilnya, "Makasih ya, Mama Dinta. Maaf udah ngerepotin." Kata Cefi.


"Iya, sama-sama. Kalau butuh apa-apa ke Mama Dinta aja ya." Kata Mama Dinta.


Cefi pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya dengan sopan. Setelah mengucapkan terima kasih, Cefi pun berjalan lagi. Kali ini langkahnya dia percepat, ntah mengapa dia merasa takut kalau ada ibu-ibu kompleks lain yang mendatanginya seperti Bu Tintin dan Mama Dinta.


Jika biasanya Cefi tak mempermasalahkan akan hal itu namun kali ini berbeda. Cefi bisa melihat raut kasihan dari ibu-ibu itu. Itu membuat Cefi merasa tidak senang.


Cefi bukannya tidak tahu terima kasih. Namun, rasanya ... dikasihani oleh orang lain membuat dia sedih dan dia tidak suka itu. Dia lebih suka dipandang sebagai Cefi yang biasanya. Kalau seperti ini dia benar-benar merasa seperti seorang anak yatim-piatu yang tidak punya keluarga. Meski hal itu tidak bisa dikatakan tidak benar.


Sesampainya di depan rumahnya, Cefi pun langsung berteriak, "Assalamualaikum, Mama. Aku pula- ..."


Cefi tak bisa menyelesaikan ucapannya. Seketika dia teringat kalau sekarang tidak ada ibunya lagi di dalam rumahnya. Tidak ada orang yang akan menyahuti teriakannya. Mengingat hal itu, dada Cefi terasa sesak. Ntah kapan Cefi bisa membiasakan dirinya dengan keadaan baru. Air mata Cefi kembali menderas, dia bahkan sampai menggigit punggung tangannya sendiri karena dia merasa malu juga sedih. Dia tidak mau menangis.


Cefi berjalan ke seberang. Ke Rumah Baron.


Cefi teringat kalau sebelum berangkat ke sekolah tadi, dia sudah menitipkan kunci rumah kepada Ibu Anes karena takut kalau Baron pulang terlebih dahulu dan mau masuk ke rumahnya.


Cefi mengusap air matanya terlebih dahulu. Dia mencoba mengendalikan isakannya. Dia tidak mau kalau orang tua Baron atau semua orang kompleks mengetahui kalau dia tengah menangis. Belum genap Cefi mengendalikan dirinya, tiba-tiba pintu gerbang rumah Baron dibuka.


"Kenapa lo?" Tanya Baron yang ternyata sudah pulang ke rumah.


"Ekhm. Nggakpapa." Kata Cefi berbohong. Dia tentu malas dicap sebagai orang yang cengeng.


"Kenapa? Kok lo nangis?" Tanya Baron.


"Cuma kelilipan bulu mata." Kata Cefi.


"Coba liat." Kata Baron yang langsung memegangi wajah Cefi dan menatap mata Cefi. Seketika jantung Cefi berdegup dengan sangat kencang.


"Mana nggak ada." Kata Baron setelah mengamati mata Cefi.


Cefi pun langsung melepaskan tangan Baron di pipinya, "Udah jatuh karena gue kucek. Modus banget pegang-pegang." Kata Cefi.


"Ck, siapa juga yang modus. Lo kali. Yuk, ke dalem mama udah masak, gue mau makan gak boleh gara-gara disuruh nungguin lo." Kata Baron.


Cefi terdiam. Seketika pikirannya berkelana, dia jadi memikirkan mengenai apakah orang tuanya Baron juga kasihan kepada dirinya? Dan apakah dia harus selalu merepotkan Keluarga Baron? Sudah terlalu banyak dia hutang budi dengan Keluarga Baron.


Melihat Cefi yang masih mematung di tempatnya membuat Baron menoleh. Dia melihat Cefi yang tengah melamun, "Kesambet lo?" kata Baron.


Baron pun langsung menarik tangan Cefi, "Buruan gue laper!" Kata Baron.

__ADS_1


Cefi pun akhirnya masuk dan duduk di ruang makan. Di sana sudah ada Ibu Anes yang sudah memasak dan menyiapkan makanan untuk Cefi dan Baron.


"Mama, tadi aku di kasih ini sama Mama Dinta." Kata Cefi.


"Wah, udah bilang makasih?" Tanya Ibu Anes.


"Udah, Ma." Jawab Cefi.


"Yaudah dimakan aja." Kata Ibu Anes. "Nanti kapan-kapan kita kasih makanan juga ya." Sambung beliau.


Cefi pun menganggukkan kepalanya.


Ibu Anes mengamati wajah Cefi, "Nak? Kamu habis nangis?" tanya Ibu Anes kepada Cefi.


Cefi menggelengkan kepalanya, "Enggak, Ma. Ini tadi kelilipan bulu mata." Kata Cefi sambil terkekeh. Mencoba meyakinkan Ibu Anes kalau dia tidak apa-apa.


"Yaudah, kalau gitu kalian makan dulu. Nak Xavier, mulai sekarang kamu yang ambilkan suamimu makan ya?" Kata Ibu Anes.


Cefi pun menganggukkan kepalanya. Lalu dia mengambil piring. Baron baru asyik bermain games di ponselnya.


"Barongsai, lo makannya segimana? Nasinya segini cukup gak?" Tanya Cefi.


"Hayooo, kok Barongsai sama lo-gue lagi?" Tanya Ibu Anes.


Cefi pun teringat kalau dia sudah disuruh menggunakan aku-kamu kepada suaminya agar sopan dan mengganti panggilan yang tidak boleh Barongsai lagi. Hal yang sama juga berlaku pada Baron.


"Oh iya, maaf, Ma." Kata Cefi sambil nyengir lebar.


Ibu Anes pun mengambil ponsel Baron karena Baron terlalu fokus main ponsel padahal sekarang adalah waktunya mereka makan.


"Kok diambil sih, Ma?" Tanya Baron.


Baron menoleh pada Cefi, "Apaan?" lalu mengambil air putih untuk meminumnya.


"Suamiku, nasinya segini cukup gak suamiku?" Panggil Cefi.


BUUURRRR!


Baron tak sengaja menyembur Cefi dengan air di mulutnya. "Anjirrr, baju gue!" Seru Cefi.


***


Cefi mematut dirinya di depan cermin. Sudah sekitar setengah jam dirinya memilih baju. Mengganti pakaiannya dengan ini dan itu hingga akhirnya dia memilih baju putih rompi kuning dan celana pendek kuning. Kulit Cefi memang putih sehingga mau pakai baju warna seterang akan masuk dan tidak perlu khawatir. Dia juga sudah memoles wajahnya dengan make up tipis.


Tiba-tiba ponsel Cefi bergetar. Sebuah pesan masuk.


Pacar


Sepuluh menit lagi aku sampai. ❤️


Cefi


Oke. ❤️❤️❤️


Cefi pun turun ke bawah. Di bawah dia melihat ada Baron yang sedang menonton TV.


"Lo mau ke mana?" Tanya Baron. Dia sudah memakai baju Koko.


"Mau main sama Daren." Kata Cefi.

__ADS_1


"Nggak boleh. Kan ada tahlilan masa lo-nya pergi. Baju sama celana lo juga ganti sana! Pendek banget." Kata Baron.


"Astaghfirullah, gue lupa. Duh, gimana dong? Mana sepuluh menit lagi dia sampe." Kata Cefi panik dan mulai merutuki dirinya sendiri yang bisa sampai lupa.


"Bengong mulu si lo. Udah, batalin sana!" Kata Baron.


Cefi mengguncang tubuh Baron, "Dia udah mau nyampe gimana dong, Barongsai. Tolongin gueee..." Kata Cefi.


"Yaudah ajakin tahlilan aja." Kata Baron tertawa.


Cefi pun mengerucutkan bibirnya. Dia pun memijit pelipisnya. Dia bingung harus bagaimana.


Tiba-tiba suara bel berbunyi menandakan ada seseorang yang datang. "Aduh, itu pasti Daren." Kata Cefi.


Cefi pun hendak berjalan menuju ke luar namun Baron buru-buru menarik Cefi, "Ganti dulu baju sama celananya!"


"Barongsai, sebentar doang." Kata Cefi. "Lagian gak ada yang salah sama baju sama celana gue." Sambungnya.


"Baju putih lo nerawang, daleman lo keliatan, celananya kependekan, paha lo kemana-mana. Jelas? Apa kudu diperjelas lagi?" Tanya Baron kesal.


Cefi mau mendebat Baron namun dia sedang buru-buru.


"Barongsai, ayolah, sebentar doang ... Ntar kalau udah ketemu Daren, gue ganti baju. Janjiii." Cefi mulai merengek.


"Ganti pakaian atau gue ikut nemuin dia?" Tanya Baron sedikit mengancam.


Cefi pun mengerucutkan bibirnya. Dia pun akhirnya mengalah. Dia tidak mau kalau Daren bertemu dengan Baron. Apa yang dipikirkan oleh Daren nanti kalau tau Baron ada di rumah Cefi? Daren tentu akan curiga. Kalau sampai pernikahan dia dan Baron terbongkar hancurlah dirinya.


"Ish! Nyebelin!" Kata Cefi. Meski menggerutu, Cefi pun langsung berjalan naik ke atas lagi.


Cefi dengan cepat mengganti pakaiannya dengan gamis karena hanya gamis yang pasti membuat dia lolos dari Baron. Setelah gamis berwarna krem sudah dipakai, dia keluar kamar dan mulai menuruni tangga. Baron melirik Cefi kemudian kembali menonton TV. Dia menunggu adzan isya karena dia akan salat di Masjid dan pulang bersama bapak-bapak yang hendak mengikuti acara tahlilan untuk kedua orang tua Cefi di rumah ini. Karpet sudah dia gelar, makanan sudah ibunya persiapkan. Semuanya sudah siap.


Cefi melewati ruang tamu dan melihat karpet yang sudah terpasang. Dia jadi sedikit merasa bersalah pada Baron karena dia tidak membantu Baron menyiapkan acara tahlilan kedua orang tuanya.


"Maaf ya, Daren. Nunggu lama." Kata Cefi.


Daren mengamati pakaian yang dikenakan Cefi, "Iya, nggakpapa kok. Yuk? Udah rapi?" Tanya Daren seakan tidak yakin.


"Maaf, Daren. Aku nggak bisa pergi. Aku lupa kalau ada acara tahlilan di rumah. Apa kamu mau ikut tahlilan aja?" Tanya Cefi.


Daren menghela napas, "Kenapa gak bilang dari sore sih, Sayang?"


"Maaf, aku lupa." Kata Cefi meringis.


"Yaudah, aku pulang aja. Nanti kapan-kapan aja mainnya." Kata Daren.


Cefi pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya, "Maaf ya." Kata Cefi.


Daren pun mengangguk, meski kecewa namun dia tidak bisa marah. Daren pun mendekatkan wajahnya ke arah Cefi dan hendak memegang tengkuk Cefi.


PYAR!


Cefi langsung menjauh dari Daren. "Aku harus segera masuk ke dalam, Daren."


"Aku perlu ikut?" Tanya Daren.


"Eh, nggak usah-gak usah. Kamu pulang aja ya." Kata Cefi.


Daren pun menganggukkan kepalanya. Kemudian dia pun langsung pergi dari rumah Cefi. Cefi pun langsung masuk ke dalam rumahnya mencoba mencari tau apa yang terjadi.

__ADS_1


__ADS_2