
Hari kedua ujian nasional Cefi masih bisa mengikuti, meskipun dia masih tampak pucat sebab masih belum mau makan nasi, nasi terakhir yang dia makan adalah nasi yang disuapi oleh suaminya, nasi ayam bakar. Selepasnya dia belum makan lagi, Baron masih meminta Cefi untuk makan sampai Baron membelikan apapun untuk Cefi, namun Cefi tetap tidak mau makan. Bukannya tidak mau, hanya saja setiap makan, semua makanan itu langsung membuat perut Cefi mual.
Hari ketiga ujian.
Cefi masih merasa lemas, tadi pagi, Cefi bahkan dia muntah-muntah lagi. Dia belum sempat ke dokter, dia rencananya akan ke dokter besok selepas ujian. Cefi memang keras kepala. Dan sejak kemarin ada perubahan dalam diri Baron. Baron menjadi lebih semah dan seperti tidak bisa melakukan apapun, wajahnya murung dan terus menunjukkan kekhawatirannya kepada istrinya.
Matematika.
Cefi menghela napas.
Bisa gak ya ngerjainnya? Bismillah aja deh. -batin Cefi.
Cefi pun berdoa dalam hati kemudian, Cefi pun mulai membuka soal dan mengerjakannya satu persatu. Sambil mengurut keningnya Cefi pun mengerjakan satu persatu ujiannya. Sungguh menyedihkan sekali hamil muda ketika sedang ujian nasional.
Sepulang dari ujian, Cefi pun merasa mual dan setelah mengumpulkan kertas jawaban, dia pun langsung menuju kamar mandi dengan cepat dan mual di wastafel. Tidak banyak yang keluar, [hanya sedikit saja, karena memang pagi ini dia hanya memakan buah saja.
Cefi belum bisa makan nasi, nasi terakhir yang dia makan masih ayam bakar. Dia hanya makan buah namun sebagaimana orang indonesia, Cefi masih merasa lapar, namun ketika dihadapkan dengan makanan, Cefi merasa mual lagi, hal itu tentulah sangat mengganggunya, namun mau bagaimana lagi, Cefi tidak tahu apakah ini normal atau tidak.
“Cef, lo nggak papa?” tanya Dara yang melihat Cefi lari langsung berlari mengejar Cefi.
Cefi menggelengkan kepalanya begitu saja, “Gue nggak papa kok.” kata Cefi.
Dawa pun menggelengkan kepalanya, “Gue rasa lu nggak baik-baik aja, Dar. Soalnya lu dari kemarin pucet banget, terus selalu mual-mual kalau gue liat.” kata Dara.
“Gue nggak papa.” kata Cefi.
“Jangan-jangan lu hamil kali, Chef.” kata Amel yang datang bersama dengan Putri.
Cefi pun melotot ke arah teman-temannya. Dia sangat mengerti kalau ketiga temannya belum ada yang menikah namun mereka bisa menyimpulkan kalau Cefi sedang hamil. Padahal, dirinya sejak kemarin bahkan tidak sampai kepikiran hal tersebut.
Cefi terdiam.
“Lo beneran hamil?” tanya Dara.
__ADS_1
Cefi pun menganggukkan kepalanya begitu saja.
“Apa?! Cefi hamil?” sersu seseorang.
Cefi, Dara, dan juga Putri langsung menoleh ke sumber suara, anak MIA satu sudah ada di sana. Anak MIA yang selalu julid kepada Cefi, namanya Icha.
“Astaga, emang bener-benar penyari sesasi ya, lo. Sampe hamil begitu. Dasar bocah nggak bermoral.” kata Icha.
“Maksud lo apa, hah?” seru Dara.
Daralah yang langsung maju menantang Icha.
“Kenapa jadi lo yang marah? Nggak guna banget.” kata Icha.
Dara pun langsung menampar Icha begitu saja, “Lo tuh udah sekolah, tapi mulut lo kayak nggak disekolahin.” kata Dara.
Icha memegangi pipinya yang terasa perih, dia pun langsung menatap ke arah Dara, “Gue bakalan laporin ini! Biar mampus kalian gak bisa ujian!” seru Icha yang langsung berlari ke ruang guru.
Cefi, Dara, Amel, dan juga Putri pun langsung terkejut begitu saja, sehingga mereka pun langsung berlari mengejar Icha yang terus berlari dengan kencang. Mereka tidak mau kalau Icha sampai membeberkan rahasia Cefi. Mereka tidak mau kalau Cefi sampai tidak bisa menjalani ujian yang hanya satu kali lagi.
“Mampus!” seru Icha.
Icha lebih kencang lagi berlari. Cefi semakin pusing untuk berlari. Dara hampir saja meraih tangan Icha namun terlambat Icha dengan gesit sudah masuk ruang guru. Di sana sudah ada guru-guru mereka beserta guru yang menjadi pengawas ujian yang datang dari luar.
“Permisi, Ibu-bapak. Saya ingin membuat pengumuman penting.” kata Icha.
Cefi langsung menutup mulut Icha, namun Icha langsung melepaskan tangannya itu dari. Cefi pun terlepas.
“Ada apa, Icha?” tanya seorang Guru BK yang kebetulan ada di sana. Icha membuang tangan Cefi dengan kasar.
“Saya ditampar mereka, Bu. Mereka nggak terima karena denger kalau Cefi …” kata Icha menggantungkan ucapanya.
Cefi dan yang lain pun membelalakkan matanya begitu saja, mereka tidak menyangka kalau hal ini akan terjadi kepada mereka namun mau bagaimana, sepertinya memang harus itu yang terjadi.
__ADS_1
“Cefi hamil, Bu.” kata Icha.
Ketika mengatakannya, Icha melirik ke arah Cefi yang menunduk. Cefi tidak bisa mengelak karena itulah yang memang terjadi pada dirinya. Dia tidak bisa mengelak. Tidak bisa berbohong karena tulah yang memang terjadi.
“Apa?!” seru Guru BK tersebut yang terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Icha.
“Benar itu, Cefi?!” seru Ibu BK tersebut dengan sangat marah. Beliau tidak menyangka kalau beliau kecolongan. Hal ini tentulah membuat beliau murka, Apalagi Icha mengatakannya di depan semua guru. Mendengar kalau ada salah seorang siswanya yang hamil pun langsung membuat guru-guru tersebut memfokuskan diri kepada Cefi.
Cefi menunduk.
“Jawab ibu, Cefi!” seru Guru BK tersebut.
“Maaf, Bu.” jawab Cefi.
Guru BK itu menghela napas, “Astaghfirullah, kenapa kamu bisa melakukan ini, Nak?! Siapa ayah dari bayi ini? Ayo, ikut ibu ke ruang BK.” pinta Ibu Guru BK tersebut.
“Oh, jadi kamu hamil, pantas saja selalu kemarin waktu saya ngawas kamu pucat dan minta izin pulang duluan.” kata guru dari sekolah lain yang pada hari pertama dipamiti oleh Cegi.
Cefi tidak menjawab.
“Siapa yang menampar kamu?” tanya Ibu Guru BK tersebut kepada Icha.
“Dara Bu.” kata Icha.
“Baik, kalau begitu, Dara dan Icha juga ikut saya.” kata Guru BK tersebut.
“Bu, itu sudah melanggar peraturan, anak yang hamil tidak boleh mengikuti ujian, dia harus dikeluarkan.” kata seorang guru.
Cefi terdiam, kini watak guru-guru yang membencinya langsung menyahut satu persatu tanpa diminta. Cefi saja sangat bingung dengan guru-gurunya yang terlihat sangat puas mengatakan kalau dia harus dikeluarkan.
Senyum Icha pun mengembang, dia melirik Cefi dengan tatapan kemenangan begitu juga ke arah Dara. “Apa lo?” kata Dara yang terlihat tidak takut sama sekali dengan hukuman yang akan dia terima. Karena bagi Dara, Cefi jauh lebih penting. Untuk saat ini Cefi memang sedang sangat tertekan. Dia harus menjadi tameng.
“Astaghfirullah, Cefi, kamu sudah berzina! Hukumannya berat sekali! Bukan cuma di dunia tapi juga di akhirat.” kata guru Agama.
__ADS_1
Mendengar apa yang dikatakan oleh Guru Agama tersebut, Guru lain pun tambah menghakimi Cefi. Tidak ada yang mau mendengarkan penjelasan Cefi, semua sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.