
Pagi pun datang.
Di Rumah Keluarganya Baron, Ibu Anes dan juga Pak Pradana merasa ada yang kurang. Mereka yang biasanya makan bersama dengan anaknya kini hanya sarapan berdua saja. Semalam Baron sudah mengatakan kepada kedua orang tuanya kalau Baron dan Cefi memutuskan akan tinggal di Rumah Cefi dan belajar untuk mandiri. Mereka tentu senang mendengarnya.
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi namun anak dan menantu mereka tidak menunjukkan ada tanda-tanda keluar dari Rumah Cefi. Mau tak mau, Ibu Anes pun berniat untuk pergi menuju ke Rumah Cefi karena ponsel Baron maupun Cefi tidak ada yang aktif.
"Apa mereka udah berangkat ya, Pa?" Tanya Ibu Anes.
"Papa gak yakin sih soalnya papa belum denger ada suara motor Baron. Kita samperin aja, Ma." Kata Pak Pradana.
Ibu Anes dan juga Pak Pradana pun pergi ke Rumah Cefi. Ternyata pintu gerbang tidak dikunci. Merekanpun bingung.
Lalu, mereka berdua menggelengkan kepala mereka saat melihat motor Baron masih ada di sana dengan kunci yang masih tercantol. Pak Pradana mengambil kunci motor tersebut. Untung saja tidak ada maling yang mengambil motor seharga empat puluh jutaan itu.
Setelah mengetuk pintu dan mengucapkan salam tapi tidak ada respons, akhirnya mereka pun memutuskan untuk membuka pintu dan begitu terkejut melihat keadaan ruang tamu yang sangat berantakan dengan cemilan dan bungkusnya yang berserakan. Televisi menyala. Dan ...
Baron dan Cefi masih memejamkan mata, di dalam keadaan Cefi terlentang sedangkan Baron memeluk Kaki Cefi. Baron memang tidak bisa tidur tanpa bantal guling. Jadi, mungkin Baron mengira kalau kaki Cefi adalah guling.
"Astaghfirullah al-adzim! Ini udah jam setengah tujuh mereka masih belum bangun?" Tanya Ibu Anes kepada suaminya.
Pak Pradana hanya bisa terkekeh saja melihat kelakuan anak dan menantunya. "Hei, Baron. Bangun. Sudah jam 7!" Kata Pak Pradana yang lebih suka mengatakan jam 7 ketimbang setengah 7 agar anaknya lekas bangun.
"Nak Xavier, bangun, Nak." Kata Ibu Anes.
Cefi dan Baron pun membuka mata mereka dan duduk. Baron melirik ke arah Baron begitu juga dengan Baron. Kali Cefi terasa pegal.
"Udah jam 7 kalian nggak salat subuh? Nggak ke sekolah?" Tanya Ibu Anes.
"Astaghfirullah!" Pekik Baron dan Cefi bersamaan. Kemudian mereka langsung berdiri dan berjalan menuju ke tangga namun mereka berdua bertabrakan sampai jatuh.
"Aduh! Sakit tau!" Seru Cefi kesal karena bokongnya mendarat dengan tidak aman di atas keramik rumahnya.
"Yeuuu! Lagian ngapain lo nabrak-nabrak gue?" Kata Baron.
"Heh! Malah berantem lagi kalian. Gak ada lo-lo gue-gue-an Baron!" Kata Ibu Ines protes.
Baron menghela napas, "Wahai istri buruk rupaku, aku ingin mandi membersihkan tubuhku lebih dahulu. Kamu mandilah di keran depan." Kata Baron yang langsung berjalan ke tangga.
Cefi langsung mencegah tangan Baron, "Wahai suami laknatku, aku duluan yang mandi. Kamu tidak perlu mandi. Cucuran air itu tidak bisa menghapus dosa-dosa dari bibirmu." Cefi menginjak kaki Baron lalu langsung berlari menuju ke kamarnya sebelum Baron mengejar.
__ADS_1
"Sialan!" Seru Baron.
Di belakang Baron, kedua orang tua Baron tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan dua pasangan ajaib itu.
***
"Ah, elo sih. Gara-gara lo gue jadi telat!" Seru Cefi.
"Kok gue si? Kan elo yang ngajakin nonton." Kata Baron.
"Dih, gue nggak ngajak elo ya! Lo aja yang mau nonton juga." Kata Cefi membela diri.
Sekarang mereka berdua sudah berada di luar gerbang yang ditutup. Baron itu guru magang. Sebagai guru tentulah dia harus menjadi contoh yang baik untuk murid-muridnya.
"Awas, gue mau masuk. Gue mah guru bebas. Lo pasti dihukum. Mampus." Kata Baron di telinga Cefi.
"Sialan!" Kata Cefi.
Baron pun mendekati pagar dan berbicara dengan satpam kemudian satpam membuka pintu dan Baron langsung melajukan motornya ke dalam sekolah. Cefi melongo melihat Baron yang meninggalkannya. Benar-benar tidak punya hati.
"Pak, pak, pak! Jangan ditutup dulu, Pak." Kata Cefi yang langsung berlari.
Cefi menjulurkan lidahnya kepada satpam tersebut dan langsung berlari ke dalam kelasnya. Untungnya pelajaran pertama adalah mata pelajaran bahasa Indonesia. Dan gurunya lagi-lagi tidak datang ke kelas. Dia akhirnya lepas dari hukuman.
"Buset, berasa yang punya sekolah lo. Jam 8 baru dateng." Kata Adam.
Cefi langsung menoleh ke arah Adam. Seketika dia langsung teringat apa yang terjadi semalam. Dia langsung berjalan menuju ke arah Adam dengan kesal. "Brengsek bat lo! Lo download film apaan anjir di laptop gue?"
Adam pun seketika tertawa terbahak-bahak. Beberapa teman Adam juga tertawa. Cefi jadi makin kesal melihat kelakuan teman-temannya.
"Biar lo dewasa dikit, Cef. Gimana seru kan?" Kata Adam yang langsung berdiri dan hendak lari sambil menggoda Cefi yang sedang kesal.
"Bloon! Sini lo!" Kata Cefi.
Adam tertawa terbahak-bahak teman-teman Cefi terutama yang perempuan langsung bertanya-tanya mengenai apa yang terjadi, "Ada apaan sih?" Tanya Dara.
"Dia download film por-no anjir di laptop gue.
Lima puluh film gituan semua! ****** emang dia. Sini lo!" Seru Cefi kesal setengah mati.
__ADS_1
"Abis nonton film itu ya makanya kesiangan?" Tanya Adam yang semakin menggoda Cefi.
Semua anak-anak kelasan Cefi yang memang sangat tahu kepolosan Cefi pun terkekeh. Tidak ada yang mau membantu Cefi ataupun Adam.
Cefi melemparkan tasnya ke atas meja temannya secara asal dan langsung berlari begitu saja mengejar Adam. Adam pun mulai cengengesan dan langsung berlari keluar. Cefi yang sangat ingin menjitak dan memukul Adam pun langsung berlari juga.
Namun, tiba-tiba seseorang masuk di saat Cefi berlari dengan sangat kencang.
"Awas!" Seru Cefi yang tidak bisa mengerem kakinya.
CUP!
Semua teman-teman Cefi yang memang sedang fokus melihat Cefi sampai menahan napas dan melihat adegan itu. Lalu seketika mereka semua memekik!
"Aaaaa!"
"Nempel anjir gue liat nempel!"
"Gue iri!"
Cefi merasakan sesuatu yang basah dan kenyal di dahinya. Jantungnya berdegup dengan sangat kencang. Cefi langsung mendongak dan mereka berdua sama-sama terkejut. Ternyata guru yang datang adalah Baron. Mereka buru-buru mengambil jarak.
Suara berisik dari teman-teman Cefi kini sudah menggelegar.
Baron berdehem memikirkan sesuatu, "Diam kalian!" Pinta Baron. Teman-teman Cefi langsung diam.
Kemudian Baron langsung menoleh ke arah Cefi, "Kamu ngapain lari-larian? Sudah tau kan kalau peraturan di sekolah tidak boleh lari-larian di kelas atau koridor? Kenapa masih lari?"
"Maaf, Pak. Saya lagi ngejar Adam. Itu dia biang keroknya, Pak!" Kata Cefi sambil menunjuk Adam.
"Apa yang kamu lakukan Adam?" Tanya Baron. Sebetulnya Baron tentu jelas tahu alasan Cefi yang lari-larian.
"Dia download film- ..."
Adam langsung membekap mulut Cefi. Dia tidak mau kalau gurunya itu mengetahui apa yang telah terjadi, "Hahaha dia lagi ini, Pak. Lagi lomba lari sama saya." Kata Adam.
Adam menggelengkan kepalanya, "Kalian lagi lomba lari?" Tanya Baron.
Adam menganggukkan kepalanya dengan cepat. Cefi melepaskan tangan Adam dengan kesal.
__ADS_1
"Yaudah kalau begitu kalian lomba lari di lapangan. Keliling lapangan lima kali!" titah Baron.