Cinta Anak Kompleks

Cinta Anak Kompleks
BAB 95 - Kenyataan Pahit


__ADS_3

Cefi berdiri di depan cermin, suaminya sudah berangkat bekerja, di tangannya sudah ada jilbab. Dia jadi teringat ibunya sebelum ibunya meninggal dunia. Ibunya yang tampak cantik dengan Jilbab dan terlihat bahagia dan tentram. Cefi menoleh ke arah jilbab yang ada di tangannya. Dia memandangnya lama-lama sekali.


Entah dari mana, Cefi seakan ingin memakai itu. Dia ingin berubah dengan lebih baik dengan memulai dari cara yang kecil, yakni menutup auratnya.


Cefi mengambil ponselnya dan menghubungi suaminya.


“Halo, assalamualaikum, Mas?” sapa Cefi.


“Waalaikumsalam, Sayang. Apa ada yang terjadi?” tanya Baron.


Sejak Cefi jatuh kemarin, Baron memang lebih protektif lagi pada istrinya, dia tidak mau kalau sampai terjadi sesuatu yang tidak-tidak pada istrinya.


“Enggak kok, Mas … ada yang mau aku sampaikan.” kata Cefi.


“Apa?” tanya Baron.


“Boleh aku berhijab?” tanya Cefi.


Hening seketika. Baron terkejut dengan permintaan istrinya. Ini kali pertama Cefi meminta izin untuk berhijab, padahal sebelumnya jangankan berhijab, pakaian yang dikenakan oleh Cefi biasanya hanya pakaian yang pendek-pendek hingga Baron terus menerus meminta istrinya untuk ganti pakaian yang lebih bertutup.


Baron yang ada di sana tersenyum.


“Nggak boleh ya, Mas?” tanya Cefi.


Cefi tersenyum, dia tidak keberatan kalau memang suaminya tidak mengizinkan, lagi pula semua yang dia lakukan harus seizin suaminya. Setidaknya itulah yang ada di dalam pikiran Cefi.


“Boleh, Sayang. MasyaAllah, istri saya. Boleh, nanti saya beliin kerudung dan baju panjang ya?” tanya Baron dengan antusias.


Cefi pun tersenyum.


“Apa nggak ngerepotin Mas?” tanya Cefi.


“Enggak dong, Sayang. Nanti Mas beliin ya. Mau berapa? Lima? Sepuluh?” tanya Baron.


“Mas, banyak banget, dua aja.” kata Cefi. “Tapi aku mau ikut.” kata Cefi.


“Oh yaudah, nanti kita cari sama-sama ya.” kata Baron.


***


Cefi pun mulai berkeliling bersama suaminya, Baron tidak mau istrinya kelelahan sehingga dia meminta kepada istrinya untuk mengatakan lelah kalau memang sedang lelah. Mereka akan beristirahat nantinya.

__ADS_1


“Kamu lelah?” tanya Baron.


Cefi menggelengkan kepalanya namun keringat mulai mengucur di dahinya.


Kali ini Cefi memakai baju milik Alm, ibunya yang ada di rumah. Sebuah gamis dan juga kerudung. Baron mengusap dahi istrinya yang berkeringat. “Kita istirahat dulu aja ya?” kata Baron.


Cefi pun langsung menganggukkan kepalanya begitu saja.


Kemudian, setelah beristirahat di salah satu restoran, akhirnya mereka pun langsung melanjutkan kembali perjalanan mereka untuk mencari pakaian untuk Cefi. Cefi memang sangat beruntung memiliki suami seperti Baron.


Terlebih ketika dia membeli sayur di tukang sayur yang lewat, di mana ada ibu-ibu yang tengah menggosipkan suami merena begini dan begitu. Cefi pun merasa jauh lebih beruntung. Suaminya tidak pernah menuntut Cefi macam-macam, selalu perhatian kepada dirinya, dan langsung pulang kerja setiap terjadi apa-apa kepada dirinya.


***


“MasyaAllah, Nak Xaviera cantik sekali.” puji Ibu Anes yang melihat bagaimana menantunya yang kini memakai penutup kepala, jilbab. Cefi pun tersenyum kepada ibu mertuanya, “Iya, Ma. Cantik gak?” tanyanya hanya sekadar basa-basi.


Ibu Anes pun terkekeh begitu saja, “Cantik banget, Sayang. Lihat Daniel, kakak kamu cantik sekali kan pakai kerudung kayak gitu?” tanya Ibu Anes kepada anaknya yang bernama Daniel yang masih bayi.


Cefi menghampiri Daniel dan seperti bisa menggoda Daniel yang masih bayi, “Adik Daniel, Sayang ….” kata Cefi.


Baron yang tak sengaja melihat istri dan juga ibunya ada di luar rumah pun menghampiri mereka. Dia melihat ke arah adiknya. Sejak dilahirkan, Baron sama sekali tidak mau menggendong Daniel, adiknya, hal itu dikarenakan Baron merasa takut, bayi itu masih begitu kecil. Entahlah, bagaimana kalau istrinya sudah melahirkan nanti. Baik Baron maupun Cefi belum ada yang berani menggendong anak bayi.


“Nih, gendong.” kata Ibu Anes kepada Baron


Ibu Anes menggelengkan kepalanya begitu saja, “Kalian ini kan udah mau punya anak, anggap saja ini latihan.” kata Ibu Anes.


“Tuh Mas, gendong, Mas …” kata Cefi menggoda suaminya.


Baron pun menghela napas, kemudian langsung mengambil adiknya. Bayi mungil itu kini sudah ada di tangannya. Cefi pun kembali menggeoda Daniel juga suaminya.


“Digendong siapa, Sayang? Di gendong abang ya?” tanya Cefi.


Cefi tahu kalau Baron belum sepenuhnya menerima kalau dia memiliki adik kecil sehingga hal itu membuat dia merasa senang dan berpeluang untuk menggoda suaminya itu. Suaminya memang sangat lucu ketika dia goda.


“Ck, abang.” kata Baron.


“Terus apa dong? Om? Adk kamu itu.” kata Cefi.


“Nggak usah diperjelas.” kata Baron.


Cefi pun terkikik geli sekali.

__ADS_1


“Aduh … perutku …” kata Cefi.


“Kenapa, Sayang?” kata Baron Cemas.


Baron memberikan anaknya kepada ibunya, dia langsung menatap istrinya dengan tatapan khawatir, apakah istrinya sudah mau melahirkan?


“Perut aku sakit, Mas.” kata Cefi.


“Jangan-jangan istri kamu mau melahirkan, Nak.” kata Ibu Anes.


Baron pun langsung terkejut, “Aku siapkan mobil.” kata Baron.


Baron membawa Cefi masuk terlebih dahulu ke dalam agar bisa duduk menunggu dia mengambil kunci mobil. Mobil itu memang milik ayahnya Baron namun mobil itu telah diberikan oleh Sang Ayah kepada Baron karena takutnya kapan-kapan butuh.


“Mas, kita ke bidan mama aja.” kata Cefi.


Cefi tidak ingin dicaeser, dia ingin melahirkan secara normal, sehingga dia memang sudah sepakat dengan suaminya untuk melahirkan di bidan langganan ibunya Cefi. Bidan itu juga sudah menangani saudara-saudara Cefi yang melahirkan. Sudah seperti Bidan langganan.


Baron pun langsung menganggukkan kepalanya, “Iya, Sayang.” kata Baron tidak membantah karena memang sudah menjadi kesepakatan.


Cefi terus merintih, Ibu Anes tidak bisa menemani, beliau akan menelpon suaminya untuk mendampingi anak-anak mereka. Daniel tidak bisa ditinggal ataupun dibawa ke rumah sakit.


***


“Maaf, Pak, Bu, saya harus menyampaikan ini. Di kepala anak bapak dan ibu seperti ada benjolan. Saya tidak berani membantu persalinan anak bapak dan ibu, karena posisi bayinya juga tidak bisa dipaksakan untuk dilahirkan secara normal.” kata Bidan tersebut.


“Ya Allah.” kata Cefi dan Baron.


Cefi mulai menangis. Mata Baron juga sudah memerah, lalu Baron langsung memeluk istrinya mencoba menguatkan.


Baron sendiri langsung menelepon ayahnya dan menceritakan mengenai apa yang terjadi.


“Nak, bawa ke dokter kandungan istrimu, Nak. Itu dokter yang sama dengan ibumu, bawa ke rumah sakit itu. Ayah yang akan mempersiapkan semuanya.” kata Ayahnya Baron.


Baron pun mengerti, “Baik, Yah.” kata Baron.


Baron pun langsung mengangkat butuh istrinya setelah berpamitan dengan bidan senisuo tersebut.


Cefi menangis di dalam pelukan Baron. Tangan Baron gemetar, “Sabar, SAyang. Sabar ya …” kata Baron. “Kuat ya, Sayang.” kata Baron sambil mencium kening Cefi.


Cefi pun mencoba menenangkan diri.

__ADS_1


“Maaf karena rasanya menyakitkan.” kata Baron. “Maaf karena kamu harus merasakan sakit seperti ini.”


Air mata Baron pun jatuh.


__ADS_2