
Keesokkan harinya.
Cefi belum menanyakan mengenai asuransi kepada Om Soni dan juga Tante Sonya karena kemarin momennya tidak pas dan dia sendiri juga lupa untuk mengatakan hal itu. Sehingga Cefi berniat untuk menanyakannya nanti setelah dia pulang sekolah. Mengenai asuransi ini, dia juga lupa memberitahukan kepada Baron mengenai apa yang terjadi.
Nantilah, sepulang sekolah, dia akan mengatakannya kepada Baron sebelum menanyakan kepada Om Soni.
Cefi kini sedang berjalan di koridor bersama dengan Dara, Putri, dan juga Amel yang sibuk bercanda. Kemudian, dari depan Cefi melihat ada Baron yang berjalan kearahnya. Mungkin Baron hendak ke perpustakaan yang memang lokasinya berada di belakang Cefi dan teman-temannya.
Ini adalah hari terakhir teman-teman Baron mengajar di sekolah tersebut. Hanya Baron saja yang diminta oleh guru untuk tetap menjadi guru selama tiga bulan lagi di sana.
“Pak.” sapa Amel, Dara, dan Putri yang sudah mulai segan mencium tangan Baron karena fakta kalau Baron adalah suami Cefi meski kini mereka tengah ada di sekolah.
Baron hanya menganggukkan kepalanya begitu saja dan ketika melewati Cefi. Dia meremas tangan Cefi sebentar. Hal itu tentu membuat jantung Cefi berdegup dengan sangat kencang. Senyum Cefi mengembang, Baron pergi begitu saja.
“Eh, tau nggak?” tanya Dara.
“Kenapa?” tanya Amel.
“Hari ini gue denger-dengar anak magang mau selesai. Gue dengar dari siapa gitu ya kemarin.” kata Dara.
“Lah, serius lo? Kok gue nggak tau ya?” tanya Amel.
“Maen lo kurang jauh.” jawab Dara.
“Cefi maaf, kenapa kamu nggak bilang ke kita?” tanya Putri.
“Eh? Emang hari ini banget ya? Gue aja nggak tau.” kata Cefi.
“Masa sih nggak tau? Kan Pak Baron juga guru magang.” kata Dara.
“Yah, gak punya walimurid dong kita?” tanya Amel.
“Walikelas bukan walimurid.” kata Dara meralat apa yang dikatakan oleh Amel.
Amel pun terkekeh begitu saja menyadari kebodohannya. “Iya, itulah maksudnya.” katanya.
“Enggak kok. Kita tetap punya walikelas. Kemarin dia bilang kalau khusu untuk dia diperpanjang sampai tiga bulan ke depan.” kata Cefi.
“Yah, bakalan belajar terus dong kita?” tanya Dara.
“Yeuuuu, ya iyalah inget bentar lagi UN. Mau lo nggak lulus kaya Cefi?” tanya Amel.
Untungnya Cefi tidak pernah marah dengan candaan teman-temannya yang memang mengatakan hal yang benar kalau Cefi memang tidak lulus tahun lalu, “Sialan.” ucap Cefi.
__ADS_1
Dara, Amel, dan Putri pun terkekeh begitu saja.
Tak lama kemudian, ada Azka yang menghampiri mereka berempat. “Eh, Pak Azka, Pak Azka.” kata Dara.
Kemudian, Dara pun mengulurkan tangannya kepada Azka kemudian bersalaman, hal itu pun dilakukan oleh Amel, Putri, dan Cefi. Namun, ketika salaman dengan Cefi dengan urutan yang terakhir, tangan Azka tidak mau melepaskannya.
Cefi pun langsung menarik paksa tangannya, “Kenapa, Pak?” tanya Cefi.
“Hari ini adalah hari terakhir saya dan teman-teman di sekolah ini, saya mau ngomong sama kamu.” kata Azka.
“Ngomong apa, Pak?” tanya Cefi.
“Bisa kita bicara berdua dulu?” tanya Azka.
Dara, Amel, dan Putri kebingungan namun mereka sangat tahu dan paham kalau mereka kini sedang diusir secara halus.
“Cef, kita tunggu di kantin ya.” kata Dara.
Cefi pun menganggukkan kepalanya begitu saja, padahal dia malas betul berbicara dengan Azka yang ntah sedang ingin membicarakan soal apa.
“Ada apa ya, Pak?” tanya Cefi.
“Ngapain lo, Ka?” tanya seseorang.
“Ada perlu sama Cefi. Mau ngomongin perform nanti.” kata Azka. “Cef, ikut saya sebentar ya, di taman jamur aja.” kata Azka.
“Saya ikut.” kata Baron.
Azka tentu langsung menolak, dia tidak mau kalau Baron ikut dengan dirinya. Ini adalah hari terakhir dia ke sini dan dia ingin mengungkapkan apa yang dia rasakan kepada Cefi, kalau ada Baron, dia tentulah tidak akan bisa menghabiskan waktunya bersama dengan Cefi dan tidak bisa mengungkapkan perasaannya.
“Eh, jangan, Ron. Itu bantuin aja Si Elsa, dia lagi bikin agenda acara untuk jam terakhir.” kata Azka.
“Enggak, nggak ada. Gue nggak mau lo pergi meninggalkan skandal kalau lo pacaran sama murid sini.” kata Baron.
“Yaelah, lumrah kali.” kata Azka.
“Enggak. Xaviera silakan kembali istirahat, biar nanti saya yang menghubungi kamu.” kata Baron.
Cefi pun menganggukkan kepalanya, “Iya, Pak. Baik.” jawabnya.
Cefi pun akhirnya memilih untuk kembali ke kantin. Dia tidak mengerti mengenai apa yang tengah dibicarakan oleh Azka dan juga Baron di belakangnya, namun yang jelas dia merasa senang karena Baron membebaskannya dari Azka.
Azka, si guru magang itu tidak jahat sebetulnya, hanya saja Cefi tidak suka tatapannya, sepertinya kalau Cefi boleh ge-er, laki-laki itu sepertinya menyukainya. Jadi, dari pada Cefi harus tidak enak menolak gurunya sendiri lebih baik gurunya itu memendam perasaan itu saja.
__ADS_1
Cefi lebih mudah melupakan apa yang dia lihat dan tidak berpikir mengenai hal yang macam-macam lagi.
“Halo, Guys!” sapa Cefi kepada teman-temannya di kantin. Dia pun duduk di samping Putri.
“Kok cepet banget deh?” tanya Dara.
“Nggak tau tuh, nggak jelas.” kata Cefi.
“Lah, emang ngomongin apaan?” tanya Dara.
“Nggak tau tuh, orang tiba-tiba Pak Baron dateng terus katanya nanti kalau ada apa-apa Pak Baron yang hubungin gue” kata Cefi.
“Uuuu … so sweet.” kata Putri.
Cefi pun terkekeh begitu saja, “Eh, gue mau nanya deh kalian pernah gak ngerasain jatuh cinta?” tanya Cefi.
“Ya elah, pertanyaan lo nggak berbobot banget.” kata Dara.
“Jawab aja sih.” kata Cefi.
“Ya pernah lah, Cefi. Masa belum pernah. Nah, jangan bilang kalau lo lagi jatuh cinta, karena kita udah tau. Iya gak guys?” tanya Dara kepada yang lainnya.
“Yoi!” seru Amel.
Putri menganggukka kepalanya begitu saja. Cefi pun mengerucutkan bibirnya.
“Gue mau pesen dulu ah.” kata Cefi.
“Nggak usah, udah kita pesenin.” kata Amel.
“Wih, mantul banget temen-temen gue, terbaik emang lo. Asik makan gratis.” kata Cefi.
“Yeuuuu enak aja gratis, duit gue itu, bayar mi ayam sama es jeruk.” kata Amel.
Cefi pun mengerucutkan bibirnya. “Ahela, kirain di traktir.” kata Cefi.
Amel, Dara, dan Putri pun terkekeh begitu saja. Mereka hanya sedang mengerjai Cefi. Lagian Amel memiliki uang jajan banyak jadi Amel lah yang sedang mentraktir mereka berempat.
Tak lama kemudian, pesanan mereka datang. Kemudian mereka pun mulai memakannya.
Namun, baru dua suap ada seseorang yang menghampiri meja mereka. Orang itu adalah Elsa.
“Saya mau ngomong sama kamu.” kata Elsa.
__ADS_1
Cefi pun mendongak dan melihat ke arah Elsa, dia pun minum sebentar, “Bu, nggak tau orang lagi makan ya?”