
Cefi sudah bersiap dengan celana jeans dan kaosnya, Cefi tidak tahu harus memakai baju apa sehingga dia hanya memakai baju biasa. Lagi pula, Baron tidak memberitahukan mereka mau pergi ke mana jadi Cefi berasumsi kalau baju yang dipakainya adalah baju yang memang sangat pas untuk pergi.
“Baron, gue pake baju begini ya?” tanya Cefi kepada Baron yang sedang memanaskan motornya.
Baron mengamati pakaian yang dikenakan oleh Cefi. Semenjak Baron yang selalu memarahi Cefi kalau berpakaian minim keluar rumah, Cefi jadi memiliki semacam kebiasaan yang baru, dia sering sekali bertanya kepada Baron mengenai apakah dirinya boleh memakai pakaian ini atau itu.
“Kayak bocah TK sih, tapi nggak papa.” kata Baron.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Baron membuat Cefi mengerucutkan bibirnya begitu saja, “Ya udah aku ganti aja.” kata Cefi.
Baron menyipitkan matanya, “Apa? Aku?” tanya Baron.
Cefi menaikkan bahunya, “Aku udah memutuskan untuk menggunakan kata aku kamu sama suami. Kata Ustazah Aisyah itu lebih sopan.” kata Cefi.
Baron menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Lo mau ke tempat yang nginep apa yang nggak nginep?” tanya Baron.
Cefi menghampiri Baron. Dia mengira kalau Baron sudah menentukan tempat, ternyata dugaannya salah. Baron bahkan baru bertanya kepadanya, itu artinya dia belum menyiapkan sama sekali ke mana mereka akan pergi.
“Lah, aku kira kamu udah tahu kita mau ke mana.” Kata Cefi.
“Rada horor ya denger lo bilang aku-kamu.” kata Baron sambil terkekeh.
“Ayo, gunting batu kertas.” ajak Cefi.
“Dih, kayak anak SD.” kata Baron.
“Buruan! Yang kalah harus kabulin permintaan yang menang.” kata Cefi.
Baron pun menatap Cefi, menurutnya hal ini meski kekanakkan namun terdengar seru. Sehingga, dia pun langsung menganggukkan kepalanya begitu saja, “Oke.” jawab Baron.
“Gunting batu kertas!” seru Cefi.
Cefi dan Baron pun langsung memasang gunting, batu, atau kertas dengan menggunakan tangan mereka.
Untuk yang pertama dimenangkan oleh Cefi karena Baron memasang kertas sedangkan Cefi memasang gunting.
“Yes! Menang!” seru Cefi dengan senang hati.
“Di mana-mana juga tiga kali mainnya. Ayo, lagi!” kata Baron.
Cefi langsung menyembunyikan tangannya di belakang tangannya, “Nggak mau ah, nanti aku kalah.” kata Cefi.
“Ya, bodo amat, gak boleh curanglah, tiga kali ya tiga kali.” kata Baron yang langsung mengambil tangan Cefi yang Cefi sembunyikan.
__ADS_1
Cefi awalnya menahan tangannya namun akhirnya luluh juga. Akhirnya dengan berat hati dan terus berdoa dalam hati dia akhirnya mengikuti apa yang diinginkan oleh Baron.
“Iya-iya! Pemaksa banget sih.” kata Cefi.
Baron tidak memperdulikan apa yang Cefi katakan, “Gunting Batu Ker … tas!”
Cefi gunting, Baron batu. Pemenang untuk yang kedua kali ini adalah Baron.
Baron pun langsung nyengir lebar, sedangkan Cefi semakin kesal karena doanya tidak terkabul.
Lagi pula kenapa harus tiga kali sih? Padahal mereka kan bisa melakukannya satu kali saja. Kira-kira itulah yang sedang dipikirkan oleh Cefi.
“Ah, tuh kan … gak mau ah!” kata Cefi.
“Ayo, sekali lagi.” kata Baron.
“Ahela, tadi katanya kayak anak TK tapi minta sekali lagi.” kata Cefi.
“Udah … ayo.” kata Baron sambil memegangi tngan Cefi agar Cefi bersiap.
Cefi menghentak-hentakkan kakinya ke lantai karena merasa kalau Baron menyebalkan sekali. Padahal, dia mengira kalau Baron sudah tidak menyebalkan namun ternyata Baron masih Baron yang menyebalkan.
Baron pun sangat optimis sekali akan menang, “Gunting, batu, ker … tas!”
Cefi dan Baron pun kembali memasang.
Cefi gunting dan Baron kertas lagi.
“Eh, aku menang, aku menang, aku menang!” seru Cefi yang langsung lompat-lompat sambil tertawa karena dia sangat bahagia melihat apa yang terjadi.
Padahal, sebelumnya dia sudah sangat hopeless sekali namun ternyata keberuntungan tengah berada di pihaknya.
“Enggak, nggak sah, nggak sah.” kata Baron.
“Yeuuu … enak aja. Ini sah lah. Yes, harus kabulin permintaan aku.” kata Cefi.
Baron pun langsung menatap Cefi dengan kesal, “Yaudah apaan?” tanya Baron.
Cefi langsung tersenyum licik ke arah Baron, “Aku mau kamu ngomong aku-kamu juga ke aku.” kata Cefi.
“Apa?!” pekik Baron.
“Iya, aku minta kamu ngomong aku kamu ke aku. Hahahahaha laki-laki nggak boleh jilat ludahnya sendiri loh ya, gak boleh juga tuh ingkar janji.” kata Cefi.
Baron menghela napas, “Sialan. Lo pasti ngerjain gue kan?” tanya Baron.
__ADS_1
“Lah, kamu sendiri tadi yang minta main tiga kali. Harusnya fair dong?” tanya Cefi.
Baron hendak menjitak kepala Cefi namun setelah mengingat sesuatu, tangannya hanya melayang saja di udara. “Oke.” ucap Baron.
“Nah, gitu dong.” kata Cefi.
Cefi sebenarnya sudah mempersiapkan permainan ini untuk menjebak Baron agar mau mengatakan aku-kamu juga. Karena … dia tentulah akan merasa gengsi ketika dia menggunakan aku-kamu sedangkan Baron masih menggunakan gue-lo. Itu akan membuat dia terlihat menyedihkan.
Jadi, karena Cefi juga tidak akan berani memintanya secara langsung sehingga dia pun lebih memilih memutar otaknya.
“Yuk, jalan?” kata Baron.
“Eh, tadi bukannya kamu masih nanya kita mau ke mana? Aku belum jawab loh.” kata Cefi.
“Gue udah tau lo mau gue ajak kemana.” kata Baron.
“Akuuu …” ralat Cefi.
“Iya, aku, puas? Ah, enggak-enggak. Saya.” kata Baron.
“Aku ajaaa …” kata Cefi.
“Saya atau gue lagi?” tanya Baron.
“Iya-iya, saya …” kata Cefi. Ternyata jalan Cefi tidak semulus itu, “Ck, udah kayak di sekolah inimah.” kata Cefi.
Baron menarik ujung bibirnya, “Orangnya masih bisa denger.” kata Baron.
Cefi pun langsung mengerucutkan bibirnya begitu saja.
“Pake mobil gu-kita aja dong perginya. Itu mobil nganggur mulu kasian nggak dipake-pake.” kata Cefi sambil menunjuk-nunjuk mobil milik orang tuanya.
Baron pun menganggukkan kepalanya. Kebetulan mobil itu juga memang sudah dipanasi oleh Baron. Hampir setiap hari Baron melakukannya dengan sukarela tanpa diminta oleh Cefi. Lagi pula Cefi juga tidak mengerti mengenai mengapa mobilnya harus dipanasi setiap harinya. Cefi belum bisa mengendarai mobil. Jangankan mobil, motor saja dia tidak bisa, bahkan tidak mau belajar.
Baron dan Cefi pun langsung pergi menuju ke tujuan. Cefi mengamati suaminya dari samping, hal itu tentu membuat Baron bertanya-tanya.
“Kenapa liatin saya begitu? Suka sama saya?” tanya Baron.
Cefi langsung membelalakkan mata begitu saja, “Yeuuu geer banget deh. Siapa juga yang suka.” kata Cefi sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dia mencoba menutupi kegugupannya.
Setelah menembus 2 jam perjalanan, akhirnya mereka pun sampai tiba di tujuan. Tujuan Baron adalah Dunia Fantasi Ancol. Kebetulan dia sudah lama tidak ke sana.
“Bangun …” kata Baron yang melihat Cefi tidur pulas di tempat duduknya.
Cefi pun langsung membuka mata, “Eh, udah sampe?” tanya Cefi.
__ADS_1
“Udah! Ayo, turun!” kata Baron.