
Cefi membeku di tempatnya, tepatnya di depan tulisan Dufan. Cefi memang menginginkan jalan-jalan namun sepertinya Dufan bukanlah tempat yang terlintas di kepalanya.
Cefi tidak suka Dufan karena di dalamnya tidak ada satu wahana pun yang bisa dia naiki, karena dia merasa takut, terlebih dia juga sempat melihat ada berita yang tidak-tidak akan wahana sayang kurang lebih sama seperti yang ada di Dufan.
“K-kita mau ke mana?” tanya Cefi.
“Ya ke sana lah.” kata Baron sambil menunjuk loket dan pintu masuk.
Cefi menggelengkan kepalanya begitu saja, “Nggak mau, mending ke pantai aja.” kata Cefi.
“Kenapa nggak mau?” tanya Baron.
Baron memicingkan matanya, hal itu membuat Cefi merasa bingung hendak menjawab apa. Bagi seorang Cefi, dia tentulah akan sangat gengsi kalau dia harus mengakui kalau dirinya takut.
“Enggakpapa. Aku lagi nggak kepengen ke sana. Ke lautnya aja yuk!” Cefi mencoba mengajak Baron ke pantai saja. Lebih baik dia melihat laut yang meskipun dia bisa menaksir kalau tidak sebersih pikirannya ketimbang naik wahana yang membuat spot jantung.
“Jangan bilang lo- maksud gue kamu takut.” kata Baron yang memang belum terbiasa dengan dunia kekamuan ini.
“Enak aja siapa yang takut? Aku nggak takut, cuma di dalem itu biasanya antrenya panjang banget kan, nah aku males antre.” kata Cefi yang mencoba memutar otaknya.
Untungnya Cefi adalah pendengar yang baik, jadi dia sering mendengarkan teman-temannya menceritakan liburan-liburan mereka. Salah satunya Dara yang menceritakan pengalamannya ketika pergi ke Dufan.
“Pernah masuk ke dalam Dufan?” tanya Baron.
Cefi menggelengkan kepalanya jujur. Dia memang belum pernah masuk, “Eh, udah deng udah.” katanya yang mencoba meralat. Dia harus berpura-pura pada Baron agar Baron mengira kalau dia sudah sering masuk ke dalam Dufan sehingga dia bosan dan ingin mencoba situasi yang baru.
“Ck, kalau belum pernah masuk, tau dari mana kalau mau naik wahana pasti antre?” tanya Baron.
“Kata Dara.” jawab Cefi keceplosan. Cefi langsung menutup mulutnya sendiri yang kelepasan bicara, dia pun langsung memutar otaknya agar dia tidak malu, “Maksudnya dari aku sendiri. Aku sering masuk ke sana kok. Kamu gak tau kan kalau dalam satu bulan aku ke sana sampai 2-3 kali?” kata Cefi.
Baron seketika tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Cefi. Bagaimana mungkin Cefi begitu polos? “Kamu kalau mau bohong tuh yang masuk akal dong. Kita tinggal satu rumah dan belum pernah tuh liat kamu ke Ancol.” kata Baron.
Cefi memejamkan matanya sebentar dan mengaduh, “Eh, itu sebelum mama papa meninggal.” jawab Cefi.
“Saya tetangga kamu. Rumah saya ada di depan rumah kamu. Orang tua kamu juga dekat dengan saya. Tapi selama ini saya belum pernah mendengar kamu ke Ancol.” kata Baron.
__ADS_1
Cefi hendak mengatakan kebohongan lagi, namun Baron lebih memilih untuk mengambil tangan Cefi dan menariknya.awalnya tangan Baron ada di lengan Cefi, Cefi yang merasakan tangannya tengah berada di dalam genggaman Baron pun tak bisa melepaskan pandangannya dari sana..
Baron yang masih pandangannya lurus ke depan pun tetap berjalan membawa Cefi untuk pergi masuk ke loket pembelian tiket. Baron mengganti pegangannya yang dari lengan Cefi menjadi menggenggam tangan Cefi.
Jantung Cefi seketika berdegup dengan sangat kencang. Pipi Cefi bahkan sudah sangat merah.
Anjir jantung gue nggak aman! -batin Cefi,
Cefi masih mengamati tangannya itu.
DUG!
“Aduh!” ringis Cefi.
Dahi Cefi ternyata menyapa tiang tembok yang ada di depannya. Baron pun langsung menoleh dan terkejut melihat Cefi yang sudah memegang dahinya. Namun seketika tawa Baron langsung meledak begitu saja.
“Hahahaha, kamu ngapain sih?” tanya Baron.
Baron pun masih asyik tertawa membuat Cefi mengerucutkan bibirnya. Selain dahinya sakit, dia juga malu. Bagaimana tidak malu kalau di sana bukan hanya ada mereka berdua saja. Melainkan ada beberapa pengunjung juga yang melihat mereka.
Cefi hendak berbalik namun Baron langsung menarik tangan Cefi hingga Cefi kembali berbalik ke arahnya, “Coba saya lihat.” kata Baron sambil menyingkirkan tangan Cefi.
“Nggak usah sok perhatian.” kata Cefi sambil mencebik sebal.
Baron mengamati dahi Cefi lalu menggosokkan rambut Cefi ke benjolan tersebut, “Katanya biar gak benjol.” kata Baron.
“Tapi rambutnya rusak!” rengek Cefi.
Baron pun terkekeh begitu saja. “Makanya jalan itu jangan bengong.” kata Baron.
Kemudian, setelah memastikan kalau keadaan dahi Cefi tidak terlalu parah, selanjutnya, Baron pun langsung memilih untuk membeli tiket dan tetap menggandeng Cefi.
Sesampainya di dalam, Cefi menatap horor semua wahana yang ada di sana. Dia benar-benar merasa takut berada di sana.
__ADS_1
“Naik hysteria ayo!” kata Baron dengan semangat.
“Enggak enggak enggak mau. Kamu aja sana aku tunggu di sini aja.” kata Cefi.
“Baron menggelengkan kepalanya, “Pokoknya harus naik. Tiketnya mahal tau, sayang kalau nggak dipake.”
“Aku kayaknya lebih sayang sama jantung aku ketimbang uangmu itu.” kata Cefi.
Baron terkekeh begitu saja mendengarnya. “Nggakpapa. Sesekali kamu harus suka tantangan biar hidupmu nggak flat-flat banget.” kata Baron.
“Enak aja siapa juga yang hidupnya flat? Aku suka tantangan kok tapi bukan itu.” kata Cefi.
“Oh ya? Kayaknya kamu penakut.” kata Baron. Dia memang sangat paham mengenai bagaimana cara memancing seorang Cefi untuk menuruti apa yang dia inginkan.
“Yeu, enak aja! Siapa juga yang penakut? Aku? Nggak tuh. Ayo! Itu kan?! Ayo kita antre!” seru Cefi.
Kali ini saking kesalnya kepada Baron karena diolok-olok sebagai penakut akhirnya Cefi pun gantian menarik tangan Baron menuju ke antrean Hysteria yang tidak terlalu panjang. Dia ingin membuktikan kalau dia tidak setakut itu.
***
“Hoeeekkk!” Cefi langsung muntah-muntah setelah berada di bawah. Tangannya sudah sangat dingin dan wajahnya terlihat begitu pucat.
Melihat hal itu, Baron jadi merasa kasihan kepada Cefi. “Saya cari minum dulu ya?” kata Baron.
Cefi langsung memegangi baju Baron, “Nggak, aku ikut. Tunggu.” kata Cefi.
“Sebentar doang, itu tuh liat, beli di situ. Kamu duduk duduk dulu di sana.” kata Baron.
Setelah Cefi menyelesaikan mualnya, akhirnya Baron membantu Cefi untuk duduk di salah satu bangku yang ada di sana. Kemudian, Baron membeli minyak angin dan juga air mineral.
“Ini, minum dulu.” kata Baron. Cefi pun langsung menurut.
Kemudian, Baron langsung menaikkan rambut Cefi dan menggosok minyak angin di leher Cefi. Cefi yang terkejut sontak langsung menyemburkan air yang dia minum.
"Kamu kenapa? Salting sama saya?" tanya Baron.
__ADS_1