
“Kamu mau ikut aku?” tanya Baron.
Cefi pun menggelengkan kepalanya, dia tentu tidak mau membuat suaminya malu, dia juga tidak mau merepotkan suaminya.
“Lebih baik kamu sama aku aja, aku cuma mau ngurus administrasi sebentar.” kata Andrea.
Andrea mencoba memberikan solusi. Akhirnya Cefi pun menganggukkan kepalanya begitu saja setelah dia mempunya pertimbangan sendiri. Meski dia dan Andrea tidak terlalu dekat namun sepertinya dia harus cepat akrab dengan Andrea mengingat dia adalah satu-satunya saudara sepupu yang dia miliki.
Keluarga Cefi tinggal keluarga Om Soni saja. Sehingga sudah sewajarnya dia mengakrabi mereka. Begitulah kira-kira yang ada di dalam kepalanya saat ini. Dan sepertinya itu bisa dilakukan mulai dari sekarang.
“Aku ikut sama Andrea aja, Mas.” kata Cefi.
Baron pun menganggukkan kepalanya begitu saja. Dia juga tidak tega melihat istrinya e berada di luar ruangan selama ia bimbingan, dia takut kalau Cefi bosan dan merasa seperti anak ayam yang kehilangan induknya.
“Oh, yaudah kalau kayak gitu.” kata Baron.
Baron melirik jam tangannya, Cefi pun langsung menghela napas, sepertinya suaminya sudah harus pergi, dia sebetulnya tidak mau berpisah dengan suaminya namun mau bagaimana lagi.
“Mas duluan aja nggak papa.” kata Cefi.
“Nanti kasih tau kalian ada di mana ya, nanti saya samperin.” kata Baron.
Cefi pun menganggukkan kepalanya. Cefi kadang suka ingin tertawa ketika mendengar Baron. Di mana ketika Baron berbicara terkadang dia suka mengatakan bahasa yang baku sekali namun kadang juga tidak. Cefi tidak tahu apakah profesi Baron turut mempengaruhi gaya bicara Baron atau tidak namun yang jelas di telinganya dia merasa kalau Baron begitu lucu.
“Kamu kenapa senyum-senyum seperti itu?” tanya Baron.
“Kamu lucu. Udah sana nanti telat.” kata Cefi sambil mendorong tubuh suaminya pelan.
Baron pun terkekeh begitu saja dan langsung pergi meninggalkan Cefi dan juga Andrea. Andrea hanya bisa memandang bagaimana kelucuan Cegi dan suaminya dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
Cefi menoleh ke arah Andre, kemudian, Andrea buru-buru mengubah cara memandangnya. Cefi pun langsung bertanya, “Kelas kamu ada di mana?” tanya Cefi.
__ADS_1
Cefi mencoba mengakrabkan diri. Seperti yang dia pikirkan sebelumnya, sepertinya dia ingin mengakrabkan diri dengan Andrea untuk saat ini, karena bagaimanapun dia dan Andrea adalah saudara. Dan kemungkinan mereka juga akan hidup berdampingan lebih lama sampai Ustaz Soni mendapatkan pekerjaannya kembali.
Kadang, cefi merasa kasihan kepada suaminya karena harus mengeluarkan uang ekstra hanya untuk mencukupi kebutuhan makanan di rumah.
Iya, memang semua bahan memasak dan makanan yang ada di rumah semuanya seratus persen disupply oleh Baron. Baron yang merasa kalau dirinya dan Cefi adalah tuan rumah tentu tidak akan mungkin meminta uang bulanan kepada Om Soni.
Kasian banget suami gue, dia banting tulang buat gue sama keluarga gue. Semoga dilancarkan semua urusan suamiku Ya Allah. -batin Cefi.
“Di sana. Di lantai tiga.” kata Andrea sambil menunjuk sebuah gedung. Cefi pun menganggukkan kepalanya begitu saja.
“Yaudah, sekarang kita kemana?” tanya Cefi.
“Ke bagian administrasi.” kata Andrea.
Cefi pun menganggukkan kepalanya begitu saja. Kemudian mereka berjalan menuju ke bagian administrasi sekolah beriringan. Cefi memang canggung berada di sana namun mau bagaimana lagi. Daripada dirinya sendirian, lebih baik dikawani oleh Andrea yang merupakan sepupunya.
“Gimana rasanya jadi anak kuliahan, An?” tanya Cefi.
“Nanti kalau aku udah lulus, mau masuk sini ah,” kata Cefi.
Andrea hanya menganggukkan kepalanya begitu saja. Dia tak banyak bicara, sedangkan Cefi yang memang sedang mencoba mengakrabkan diri terus berbicara begitu saja. Dia menanyakan ini dan itu, lalu Andrea menjawabnya secara singkat.
Tak lama kemudian, Andrea dan Cefi sudah berada di bagian administrasi akademik kampus. Di sana Andrea ternyata hanya ingin meminta jumlah tagihan yang harus dibayarkan. Cefi sebetulnya bingung, apakah memang jumlah tagihan itu hanya bisa diminta dari bagian akademik saja atau bisa online. Karena seingat dirinya, suaminya belum pernah melakukan pembayaran ke kampus langsung. Ah, atau sebenarnya Cefi saja yang tidak tahu?
Cefi pun tidak mau terlalu ambil pusing, yang jelas, dia sudah berada disana dan tugasnya hanya menmani Andrea saja. Meskipun tugas itu memang diberikan oleh dirinya kepada dirinya sendiri. Tidak ada yang meminta dan menyuruhnya.
“Aduh, pengen pipis lagi. An, di sini toilet di mana ya?” tanya Cefi.
“Oh, di sana, pertigaan belok ke kanan nanti kamu naik ke atas, nah di samping tangga ada toilet. Mau aku temenin?” tanya Andrea.
“Emang udah selesai?” tanya Cefi.
__ADS_1
“Belum sih, ini masih nunggu.” kata Andrea.
Cefi pun menganggukkan kepalanya, “Nggak usah deh kalau gitu. Gue- aku bisa kok.” kata Cefi.
Cefi tentu tidak mau kalau Andrea menganggapnya seperti anak kecil karena dirinya memang anak SMA. Dia harus terbiasa melakukan ini dan itu sendiri. Dia juga ingin memperlihatkan kepada dunia kalau istri Baron bukan anak ingusan dan sangat-sangat layak menjadi seorang istri karena begitu mandiri.
Andrea pun menganggukkan kepalanya begitu saja.
Cefi pun langsung pergi ke toilet karena sudah tidak tahan dengan panggilan alamnya. Dia ingin buang air kecil. Dia pun berjalan dengan dianggun-anggunkan agar terlihat sebagai anak kuliah.
Cefi mengikuti arahan dari Andrea, dan ternyata benar, toilet ada di samping tangga setelah dia naik satu lantai. Di sana dia pun melancarkan hajatnya, kemudian mencuci tangan di wastafel. Tiba-tiba ada dua orang mahasiswi yang masuk ke sana.
“Tau nggak? Katanya Andrea kan mau dateng sama Kak Baron.” kata perempuan yang rambutnya keriting.
Cefi yang sedang mencuci tangannya sampai tidak bergerak, namun dia mengingat kalau ini kampus besar dan kemungkinan penyandang nama Andrea dan juga Baron bukan hanya Andrea dan Baron yang dia kenal saja. Namun, kenapa harus mirip sih namanya?
Cefi pun melanjutkan mencuci tangannya.
“Emang Andrea sama Kak Baron beneran pacaran ya?” tanya perempuan berjilbab trendy.
“Kata si Andrea sih mereka emang lagi deket gitu. Lah, itu kan dia taruhan sama Tania kan? Kalau dia bisa dateng sama Kak Baron, Tania bakalan kasih jam tangan terbarunya buat Andrea.” kata perempuan keriting.
“Ya ampun, tapi Kak Baron emang ngadepin ya? Kayaknya dia anaknya gak pernah nanggepin perempuan. Liat aja dia aja dingin banget kayak es.” kata yang berjilbab.
“Iya sih, tapi gue penasaran soalnya Andrea bilangnya pacaran sama Kak Baron, ya walaupun gak ada yang percaya tapi tadi katanya ada yang liat kalau dia dateng sama Kak Baron. Satu mobil sama Kak Baron.” kata yang berambut keriting.
“Belum dapet info sih.” kata yang berjilbab.
“Ih, ketinggalan jaman. Itu tadi katanya juga dia ada bawa cewek lain sih, ya mungkin adiknya Kak Baron kali ya?” kata yang berambut keriting.
“Jadi, Tania bakalan kasih jam tangannya?” tanya berjilbab.
__ADS_1
“Kayaknya sih gitu, coba nanti liat dulu aja.” kata yang berambut keriting.