
Di dalam rumah, Cefi menangis sejadi-jadinya, dia tidak tahu mengenai mengapa dia bisa memiliki om yang sangat keterlaluan seperti itu. Kalau saja orang tuanya masih ada. Dan andai saja dia sebelumnya mengatakan semua kepada suaminya ketika menandatangani banyak kertas-kertas tersebut, hal ini tentulah tidak akan terjadi.
Baron mencoba menghubungi kedua orang tuanya, bagaimanapun hal ini tidak bisa dia selesaikan sendiri. Dia harus meminta bantuan kepada ayahnya.
“Jahat banget, Om Soni!” seru Cefi kesal bukan main.
Baron memeluk istrinya yang menangis. Baron mencoba mengingat-ingat mengenai penyebab Om Soni melakukan ini semua.
“Sertifikat rumah ada di mana?” tanya Baron.
Cefi pun mendongak ke arah suaminya, baru ingat kalau dirinya harus memastikan sertifikat tersebut dulu. Kemudian, dia pun menjawab, “A-ada di lemari, Mas.” kata Cefi.
“Ayo, kita cari dulu.” kata Baron.
Cefi pun menganggukkan kepalanya begitu saja. Kemudian, Cefi dan Baron pun langsung berlari begitu saja menuju ke kamar mereka. Kemudian, mereka pun mencari keberadaan sertifikat itu di dalam lemari kamar Cefi.
“Aku taruh di sini, Mas. Harusnya ada di sini.” kata Cefi.
Baron pun memilih untuk mengeluarkan baju-baju yang ada di lemari tersebut. Siapa tahu terselip meskipun pada kenyataannya, hal itu sangat tidak mungkin.
Baron tidak boleh terserang kepanikan. Kalau dia sampai panik, lalu bagaimana nasib istrinya? Yang diperlukan Cefi untuk saat ini adalah ketenangan dari Baron. Baron tidak boleh mengabaikan hal itu. Dia harus mencoba membuat Cefi tenang.
Cefi terus mencari sertifikat itu di tumpukan baju yang sudah dikeluarkan. Dia mencarinya dengan tangan bergetar dan tangis yang terus berderai.
Satu jam berlalu, namun mereka tidak menemukan apa-apa. Tangis Cefi seketika pecah lagi. Dia tidak pernah jahat sama siapapun tapi kenapa om-nya sendiri sangat jahat kepadanya?
“Nggak ada, Mas. Orang itu udah bawa sertifikat dan semua surat-surat yang ada di map.” kata Cefi begitu saja.
Baron mengepalkan tangannya, “Saya akan membalas apa yang mereka lakukan sama kamu, Vir. Saya akan memastikan kalau Om kamu akan masuk penjara dan mendapatkan hukuman yang setimpal.”
“Apa salah aku, Mas? Apa? Kurang baik apa kita sama mereka? Kenapa balesan ini yang kita dapet? Kenapa?” tanya Cefi.
Baron ingin menumpahkan semua sumpah serapahnya namun dia mencoba menekan kemauannya itu karena dia tidak mau memprovokatori Cefi. Cefi sudah cukup marah dengan apa yang terjadi, dia tidak mau membuat istrinya semakin menangis.
__ADS_1
Saat ini dia tidak mau mengompor-ngompori Cefi, lagi pula hal itu tidak ada gunanya. Lebih baik dia memberikan dukungan kepada istrinya saja.
“Mereka memang tidak tahu diuntung, Jangan nangis lagi ya? Kita tunggu papa pulang.” kata Baron.
Cefi pun menganggukkan kepalanya begitu saja.
Baron mulai memikirkan pertanyaan Cefi, pertanyaan itu sebetulnya juga cukup mengganggu benaknya. Bagaimana mungkin tidak? Dia mulai memikirkan mengenai apa motif yang menjadi landasan Om Soni mengambil ini semua.
Namun, jantung Baron berdegup dengan sangat kencang, di sela-sela dia mencoba berpikir cukup keras mengenai hal itu, sebuah kejadian muncul di kepalanya. Di mana di dalam kepalanya ada bayang-bayang Om Soni yang pernah mengatakan kalau beliau akan membalaskan dendam ketika beliau diusir dari rumah tak lama setelah kedua orang tua Cefi meninggal.
“Biadab!” seru Cefi kesal.
Makian itu langsung menghentikan lamunan Baron.
Tak lama kemudian, seseorang mengetuk mengucap salam dari bawah. Baron buru-buru bangkit dan menghampiri orang tuanya, kemudian orang tuanya pun langsung naik ke lantai atas dan melihat keadaan rumah Cefi yang berantakan.
“Nak …” kata Ibu Anes yang langsung memeluk Cefi yang berantakan.
Cefi pun menganggukkan kepalanya begitu saja, habis, apalagi yang bisa dia lakukan selain itu? Baron pun langsung menghampiri ayahnya untuk berdiskusi.
Sedangkan, Cefi dan Ibu Anes kini masih berada di sana di dalam kamar Cefi.
“Mereka jahat sekali, Ma. Mereka udah ambil semuanya. Kenapa mereka bisa ngelakuin ini, Ma?” tanya Cefi sambil menangis.
Ibu Anes memeluk Cefi dengan rasa prihatin. Beliau merasa sangat kasihan kepada menantunya itu. Cobaan Cefi benar-benar diuji namun meski begitu, namun beliau percaya kalau selepas semua kejadian ini, Cefi akan menjadi pribadi yang lebih kuat lagi.
Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Ibu Anes hanya bisa mendoakan menantunya agar bisa melewati cobaan yang luar biasa ini.
“Kamu yang sabar ya, Sayang. Mama tahu kamu kecewa, kamu marah, tapi ini adalah cobaan, Nak.” kata Ibu Anes.
“Kenapa masalah di hidup aku nggak selesai-selesai, Ma? Aku capek.” kata Cefi sambil terisak.
Mata Cefi sudah bengkak, matanya juga sudah merah, air matanya tidak mau distop, itu hal yang sangat membuat frustasi.
__ADS_1
“Nak, tiap orang memiliki ujian hidup, masalah akan terus datang, masalah juga datang tidak pandang bulu, semua orang memiliki masalah, jadi mama harap kamu bisa sabar melewatinya ya? Mama tau kamu anak yang kuat dan hebat.” kata Ibu Anes.
“Capek, Ma.” kata Cefi.
“Iya, mama tahu kalau kamu pasti lelah. Nggakpapa, lelah dan menangis itu adalah sebuah bentuk tindakan yang merepresentasikan kalau kita manusia biasa.” kata Ibu Anes.
Cefi masih menangis.
“Coba kamu beristighfar dulu, Nak.” kata Ibu Anes, “Astaghfirullah al-adzim.”kata Ibu Anes.
“Astaghfirullah al-adzim.” kata Cefi yang mencoba mengikuti saran dari Ibu Anes.
“Lalu, atur nafas dulu biar kamu bisa lebih rileks. Ambil nafas … buang …” kata Ibu Anes yang mencoba mengajari Cefi agar bisa lebih rileks.
Cefi pun langsung melakukan hal yang diajarkan oleh Ibu Mertuanya. Dan ternyata hal itu cukup efektif dan cukup berpengaruh untuk tubuhnya. Di mana, dirinya kini pelan-pelan tapi pasti, dia mulai berangsur lebih tenang ketimbang sebelumnya.
Cefi pun mulai tenang.
Tak lama kemudian, Cefi yang memang kelelahan baru pulang sekolah ditambah menangis sedari tadi yang menguras cukup banyak energinya sekarang langsung tertidur.
Ibu Anes pun mengusap kepala Cefi yang tertidur di atas tempat tidurnya. Beliau memberikan selimut kepada Cefi, lalu beliau pun berjalan menuju ke lemari Cefi mencoba membereskan kamar tersebut, siapa tahu beliau bisa menemukan sertifikat yang tengah dicari oleh anak dan menantunya itu.
Tak lama kemudian, Baron masuk ke dalam kamar tersebut, dia ingin mengajak Cefi ke kantor polisi namun melihat istrinya tertidur, dia tidak berani membangunkannya, istrinya pasti sangat lelah. Dia mungkin bisa menahan lelah namun tidak bisa membiarkan Cefi merasakannya.
“Istri kamu kayaknya kecapekan banget, Nak. Jangan dibangunkan ya.” kata Ibunya Baron.
Baron pun menganggukkan kepalanya, “Ma, tolong jaga Xaviera dulu ya, aku dan papa akan ke kantor polisi.” kata Baron.
Ibu Anes pun menganggukkan kepalanya, “Iya, Nak. Lekaslah berangkat!” kata Ibunya Baron.
Baron pun menganggukkan kepalanya begitu saja.
Sebelum pergi, Baron mencium kening Cefi.
__ADS_1