
Cefi menahan tangan suaminya. Sepertinya ini sudah saatnya untuk dia menceritakan mengenai apa yang terjadi kepada suaminya, karena mau bagaimana pun rasanya tidak baik kalau dia menelan sendiri apa yang terjadi.
“Jangan, Mas. Jangan bilang ke Om Soni.” kata Cefi.
“Kenapa?” tanya Baron.
Baron merasa bingung dnegan ucapan Cefi karena memang menurut dirinya, hal yang terbaik adalah membicarakan apa yang dilakukan oleh Andrea kepada orang tua Andrea. Mau bagaimana pun, orang tua Andrea harus tahu mengenai apa yang dilakukan oleh anak mereka.
“Dia butuh uang buat bayar kuliahnya, Mas.” kata Cefi.
“Sayang, apapun alasannya, tindakan mencuri itu tidak dibenarkan. Dia kan bisa bilang baik-baik sama kita. Saya takut kalau dia melakukan ini bukan hanya di sini. Kalau kita biarkan aja, kalau dia melakukan hal itu di luar gimana? Sanksi yang bakalan dia dapetin akan jauh lebih buruk, Sayang.” kata BAron.
Cefi pun terdiam. Mencoba mencerna mengenai apa yangdikatakan oleh suaminya. Apa yang dikatakan oleh suaminya memang cukup masuk akal. Namun, mau bagaimana lagi? Dia merasa tidak tega.
“Apa dia bilang sama kamu kayak gitu?” tanya Baron.
Cefi pu menghela napas, “Awlanya sih nggak bilang, Mas. Cuma waktu dia ngambil tagihan kuliahnya kemarin aku liat tagihannya 25juta, dia juga bilang segitu. Tapi dia emang gak ada uang buat bayarnya, Mas. Dia bahkan …” kata Cefi.
“Bahkan apa?” tanya Baron.
“Iya, kemarin, … dia taruhan sama temennya, dia bilang kalau kamu pacar dia biar dapet jam tangan.” kata Cefi.
Baron pun langsung memasang tampang kesal, dia bahkan langsung bangkit, “Saya harus ketemu sama dia.” kata Baron.
Cefi langsung menarik tangan suaminya dengan pani, dia pun langsung meminta kepada suaminya untuk duduk kembali. Dia ingin suaminya mendengarkan apa yang ingin dia katakan.
“Tapi aku udah ketemu, Mas. Sama dia. Tadi di belakang rumah, aku ngajak dia ngobrol dan dia langsung ngaku dan bilang kalau dia ngedapetin jam tangan itu biar bisa dijual dan buat bayar kuliahnya. Dia juga tadi sempet nangis, Mas. Jadi, kayaknya kita nggak perlu perpanjang masalah deh, Mas. Mungkin aja Andrea emang butuh uang kepepet dan kita kan tau orang tuanya nggak kerja.” kata Cefi.
“Sayang …, kalau kita diam, kita berarti membenarkan tindakan salah dia loh. Kamu mau kayak gitu?” tanya Baron.
“Tapi aku ngerasa kasihan, Mas. Sama dia. Aku mungkin punya kamu, aku bisa minta uang am akamu. Tapi kalau dia kan gak bisa, Mas. Dia minta sama Om Soni juga gak bisa kayaknya soalnya Om Soni lagi nganggur.” kata Cefi.
“Kamu nggak kasihan sama dia kalau dia akhirnya keterusan kayak gitu?” tanya Baron.
Cefi pun terdiam, dia mencoba mencermati apa yang dikatakan oleh suaminya. Apakh dia tega membiarkan Andream bertangan panjang? Mungkin kalau ketahuan sama orang lain, Andrea justru akan lebih parah, bahkan bisa masuk penjara. Pakah ini waktunya Cefi untuk mendengarkan apa yang dikatakan oleh suaminya?
“Apa menurut kamu harus dibicarain, Mas? Kalau dia sampe malu dan nangis gimana?” tanya Cefi.
“Itu resiko dia, Sayang. Dia udah berani ngambil uang jadi dia juga harus berani tanggung jawab.” kata Baron.
__ADS_1
Cefi mengamati wajah serius suaminya. Kali ini dia seperti bukan sedang berbicara dengan suaminya, melainkan seperti sedang bercerita dengan gueunya di sekolah. Berbicara dnegan wali kelas atau guru BK-nya. Mengingat hal tersebut, Cefi pun langsung tersenyum begitu saja.
“Kenapa kamu senyum begitu?” tanya Baron yang penasaran dengan Cefi.
Seingat Baron, dia tidak ada mengucapkan sesuatu yang lucu, lalu mengapa Cefi terlihat tersenyum malu-malu? Apa yang terjadi? Setidaknya itulah yang ada di dalam kepalanya.
“Aku berasa ngomong sama guru aku.” kata Cefi sambil terkekeh.
Baron yang awalnya tegang jadi langsung luluh kembali. Bagaimana tidak lulus kalau tingkah istrinya bisa semenggemaskan ini?
“Emang saya bukan guru kamu?” tanya Baron.
“Emang bukan.” jawab Cefi.
“Tapi?” tanya Baron.
“Suami aku.” kata Cefi.
Baron pun terkekeh begitu saja lalu mengecup bibir istrinya singkat. Hal itu membuat Cefi malu-malu padaham ini bukan kali pertama suaminya melakukan hal itu namun ntah mengapa rasanya begitu menyenangkan dan membuat pipinya memerah.
“Ini pipi atau tomat? Kok merah?” goda Baron.
“Yaudah, kita bilang sama Om Soni ya, sekarang?” tanya Baron.
“Sekarang banget?” tanya Cefi.
“Semakin cepat semakin baik kan?” tanya Baron.
Cefi pun menganggukkan kepalanya begitu saja. Kemudian dia pun langsung bangkit mengikuti suaminya. Mereka pun langsung berjalan menuju ke arah ruang tamu. Namun, melihat tidak ada siapapun di ruang tamu membuat Baron dan Cefi berpikir ulang.
“Kayaknya mereka udah tidur deh, Mas.” kata Cefi.
“Sekarang emang jam berapa?” tanya Baron.
Cefi mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan jam yang ada di ponselnya kepada Baron. Baron pun menganggukkan kepalanya mengerti.
“Yaudah besok aja deh.” kata Baron.
Cefi pun menganggukkan kepalanya, “Mas, …” panggil Cefi.
__ADS_1
“Kenapa?” tanya Baron.
“Gendong.” kata Cefi merentangkan tangannya.
Baron pun menggelengkan kepalanya, “Saya kayak nikah sama anak umur 5 tahun.” katanya.
“Dan aku kayak nikah sama om-om udah tua.” kata Cefi.
“Yang udah tuamah kakek-kakek bukan om-om.” kata Baron.
“Ya, nggak salah sih.” kata Cefi.
Baron pun langsung berjalan menuju ke kamarnya. Namun, Cefi buru-buru melompak ke punggung Baron dan mengalungkan tangannya di leher Baron. Untung tidak tercekik.
“Astaghfirullah.” pekik Baron kaget.
Cefi pun terkekeh. Meski Baron kaget namun dia langsung dengan refleks memegangi bagian tubuh Cefi dengan tangannya.
“Pangerannya nggak romantas.” kata Cefi.
“Putrinya juga barbar.” kata Baron.
Cefi dan Baron pun tertawa begitu saja. Kemudian, Baron pun masuk ke dalam rumah.
Tanpa mereak sadari, di bawah sana, di tempat yang tak terlihat oleh Baron dan juga Cefi, seseorang memperhatikan keduanya dengan tatapan sedih. Ntah iri atau sedih, namun yang jelas mata itu terus mengawasi pasangan muda mudi yang sedang dimabuk asmara itu dengan tatapan yang tak bisa dideskripsikan.
Di dalam kamarnya, Baron langsung meletakkan istrinya di atas tempat tidur.
“Saya diperpanjang jadi guru kalian.” kata Baron.
“Loh, kok di perpanjang?” tanya Cefi.
“Iya, diperpanjang sampai kalian lulus, ujian nasional sekitar 3 bulan lagi kan? Nah, saya diperpanjang 6 bulan. Padahal seharusnya 3 bulan.” kata Baron.
“Mas doang atau gimana?” tanya Cefi.
“Iya, cuma saja. Teman-teman saya tidak ada yang diperpanjang.” kata Baron.
“Kalau Bu Elsa?” tanya Cefi.
__ADS_1
Baron menatap Cefi dengan senyuman menggoda.