
Ibunya Baron terkejut setengah mati, beliau tidak menyangka kalau Om Soni yang merupakan satu-satunya keluarga yang dimiliki oleh Cefi justru melakukan hal seperti itu.
“Kamu bercanda kan?” kata Ibunya Baron.
“Untuk apa bercanda, Ma? Udahlah, biarin dulu aja dia sendiri.” kata Baron.
Ibunya Baron menggelengkan kepalanya begitu saja, “Nak, dia belum dewasa, ajari dia pelan-pelan. Kembalilah ke rumah kalian. Dia pasti butuh kamu.” kata Ibunya Baron.
Baron menggelengkan kepalanya, “Malam ini aku nginep di sini ya, Ma?” kata Baron.
Ibunya Baron menghela napas, menyerah untuk membujuk anaknya. Anaknya memang keras kepala, ibunya Baron mengetahui hal itu jadi menurut beliau, untuk saat ini beliau hanya bisa membiarkan saja Baron berkutat dengan pemikirannya sendiri. Habis kalau tidak seperti itu, rasanya bicara kepada orang yang sedang marah tidak ada gunanya.
Ibunya Baron memutuskan untuk membiarkan anaknya menyelesaikan masalahnya sendiri, beliau percaya kalau anaknya dan menantunya bisa menyelesaikan permasalahan itu. Kali ini beliau akan membantu jika sudah benar-benar anaknya menemukan jalan buntu. Bukannya hajat, namun, beliau ingin anak dan menantunya bisa bijak dalam menyikapi permasalahan. Di dunia ini, pernikahan bukanlah sesuatu yang sifatnya seperti yang ditonjolkan di film-film romantis, penuh cinta dan kebahagiaan. Sebab, di balik pernikahan banyak yang masalah yang tidak ditampilkan di film romantis.
“Terserah kamu aja, mama harap kamu bisa menyelesaikan masalah itu. Minta bantuan papa kalau memang sudah tidak menemukan jalan keluar. Kita ada di sini untuk kalian.” kata ibunya Baron.
“Terima kasih, Ma.” kata Baron.
Ibunya Baron pun menganggukkan kepalanya dan mengusap kepala putranya, kemudian, beliau langsung pergi begitu saja meninggalkan Baron yang masih perang dengan dirinya sendiri. Apa yang harus dia lakukan? Pertanyaan itu masih saja berputar-putar dalam kepalanya.
Baron memandangi pintu kamarnya, tempat ibunya menghilang, dia pun langsung menghela napas, dia memiliki ibu dan ayah lengkap, masih selalu ada disampingnya ketika dirinya tengah dalam situasi yang tidak baik-baik saja. Sedangkan Cefi?
Cefi tidak memiliki kedua orang tuanya, sangat berbanding terbalik dengan Baron.
Memikirkan Cefi yang tengah sendirian sambil menangis di rumahnya membuat Baron pun langsung bangkit dari tempatnya, dan langsung berjalan menuju ke pintu keluar, namun tangannya ragu, kemudian, dia memutuskan untuk berjalan ke balkon. Dari sanalah dia melihat apa yang terjadi pada istrinya.
__ADS_1
Sejak dulu, balkon itu yang menghubungkan Baron dengan Cefi. Baron selalu mengamati Cefi dari balik sana. Jauh sebelum mereka menikah. Baron mengamati balkon kamar itu yang terbuka, di sana dia bisa melihat pintu balkon yang terbuka.
Istrinya memang ceroboh, dia tidak pernah tahu apakah ada bahaya atau tidak disekitarnya.
“Kenapa nggak ditutup?” tanya Baron entah kepada siapa namun sepertinya bertanya kepada dirinya sendiri.
Baron pun menghela napas. Dia masih menatap ruangan itu, di sana samar-sama dia bisa mendengar suara tangisan Cefi. Telinganya seperti kelelawar, begitu tajam menangkap suara tangisan Cefi. Hati Baron seketika terasa begitu sakit. Ketika marah atau berselisih paham dengan Cefi, bukan hanya Cefi yang sakit, dirinya juga. Bahkan sebetulnya yang jauh lebih sakit adalah Baron.
Pintu itu masih terbuka, lampu masih menyala, dan dia melihat tempat tidur Cefi di sana. Meskipun hanya terlihat sedikit saja.
Baron masih berada di sana, dia memutuskan untuk ke sana. Tapi hatinya sendiri belum bisa menahan emosi. Mengingat Cefi seperti itu membuat dirinya kesal. Entahlah.
“Sial!” ucap Baron.
Baron membuka pagar yang tidak dikunci dan mengunci pagar tersebut, kemudian dia juga membuka pintu rumah Cefi dan menguncinya, kemudian dia berjalan menuju ke kamar mereka berdua, di sana dia pun langsung melihat Cefi yang sudah tertidur. Baron tidak menghampiri Cefi, dia memilih untuk menuju ke arah balkon, menutup pintu Balkon dan menguncinya.
Kemudian, dia hendak mematikan lampu, dia tahu kalau Cefi tidak suka tidur dalam kondisi lampu menyala. Baron tahu kalau tidur dalam keadaan menyala, Cefi suka terbangun tiap beberapa jam sekali.
Ketika tangan Baron berada di atas saklar lampu, isakan seseorang menghentikan pergerakannya. Dia pun mengambil tangannya dan menoleh ke arah tempat tidur.
Di sana. Baron melihat istrinya yang sudah duduk menatap dirinya, dia sudah menduga kalau istrinya memang belum tidur.
“Mas … maafin aku.” kata Cefi.
Baron menghela napas, kemudian dia berjalan menuju ke arah Cefi dan memeluk Cefi yang kini keadaannya begitu berantakan. Niat Baron yang tidak mau tidur di sana untuk sementara waktu langsung hangus seketika.
__ADS_1
Di dalam dekapan Baron, Cefi pun menangis sejadi-jadinya. Dia terus berulang kali mengucapkan maaf kepada suaminya, “Maafin aku, Mas.” kata Cefi.
Baron mengusap kepala Cefi, “Iya, saya maafin. Maafin saya juga ya, karena saya kebawa emosi tadi.” kata Baron.
Cefi pun langsung menganggukkan kepalanya begitu saja, “Mas nggak salah, yang salah itu aku. Aku ngaku salah, lain kali aku akan cerita dan bilang apapun sama Mas. Jangan tinggalin aku.” kata Cefi.
Baron merasakan dadanya sakit, dia marah kepada dirinya sendiri yang sampai membuat Cefi seperti ini. Baron merasa bersalah. Dan juga menyesal. Andai saja Baron bisa memutar waktu, Baron tentulah akan memilih untuk tidak marah-marah dan memilih bermusyawarah dengan baik dan mengomunikasikan semuanya dengan baik pula kepada istrinya.
Cefi menganggukkan kepalanya begitu saja.
Baron melepaskan pelukannya pada istrinya, kemudian menatap wajah istrinya yang masih bercucuran air mata. Baron langsung mengusap pipi Cefi, menyapu air mata yang membuat mata istrinya sembab.
“Jangan nangis lagi.” kata Baron.
Cefi hanya bisa menganggukkan kepalanya begitu saja.
Baron mengamati wajah istrinya, semakin malam, rasa itu kembali datang. Dia pun mencium kening, pipi kanan dan kiri, hidung, dan juga bibir istrinya. Kecupan itu membuat Cefi menutup air mata.
Kemudian, Cefi pun membuka mata dan melihat Baron yang tengah menatapnya dengan tatapan yang tak bisa Cefi deskripsikan. Terlalu aneh, dan … entahlah, apakah kabut di mata Baron bisa menunjukkan kalau Baron sedang merencanakan sesuatu? Ah, apakah terencana? Apakah akan terealisasikan?
Baron mendekat ke arah Cefi, kali ini Cefi tidak menolak. Sepertinya tanpa mengatakan apapun pikiran keduanya saling terhubung.
“Boleh?” tanya Baron di telinga Cefi.
Cefi menganggukkan kepalanya begitu saja. Kemudian, mereka pun mulai terhanyut dalam permainan yang mereka buat sendiri.
__ADS_1