Cinta Anak Kompleks

Cinta Anak Kompleks
BAB 44 - Coklat


__ADS_3

Baron mulai menerangkan materinya di depan kelas Cefi. Sejak seminggu yang lalu, dia memang diberikan amanah untuk menjadi Walikelas Cefi. Ini bahkan merupakan satu-satunya sejarah bagi sekolah tersebut. Pasalnya, sebelum-sebelumnya, belum pernah ada Walikelas yang diambil dari guru magang. Namun, karena kelas Cefi memang sangat istimewa jadi Baron tidak bisa menolak. Terlebih Guru sudah sangat kesal dengan anak-anak kelas Cefi dan tidak ada yang mau menjadi Walikelas anak-anak bandel.


"Gimana? Paham tidak?" Tanya Baron.


"Paham, Pak!" Jawab teman-teman Cefi.


Baron menyuruh salah satu teman Cefi untuk maju dan mengerjakan soal yang dia berikan. Dia tidak akan mengganti materi sampai tiga anak yang dia tunjuk belum bisa mengerjakan tugas di depan.


"Ya, karena kalian udah paham. Buka halaman 53, di sana ada 20 soal esai, silakan untuk yang duduk di sebelah kanan dari saya kerjakan nomor ganjil dan yang duduk di sebelah kiri saya kerjakan nomor genap. Nggak perlu pakai soal, cukup pakai diketahui, ditanya, dan dijawab saja." Kata Baron.


"Pak, buat PR aja deh." Kata Dara.


"Nggak bisa. Kita udah bikin kesepakatan di awal. Di pelajaran saya tidak ada PR. Jadi, semua tugas harus dikerjakan di jam saya juga." kata Baron.


"Yahhh ... bapak ..." semuanya protes.


"Sudah tidak usah protes. Lagi pula dari pada mengerjakan PR saya di rumah, kalian lebih baik memanfaatkan waktu dengan keluarga kalian. Ajak ngobrol mama papanya. Ajak main kucingnya. Ajak bercanda kakak adiknya. ..." Kata Baron.


Cefi mengangkat tangan ingin menanyakan sesuatu. Mood Cefi sedang Buruk, ntah apa yang hendak ditanyakan olehnya, "Iya, kenapa Xaviera?"


"Pak, saya di rumah gak ada orang tua, nggak ada kucing, nggak ada kakak adiknya, trus saya ngajak ngobrol siapa?" Tanya Cefi.


Amel langsung menyikut Cefi, "Pertanyaan lo dark banget anjir."


"Biarin aja." Kata Cefi.


"Ajak ngobrol saya aja." Kata Baron.


"Cieeeeeee!" Seru semua teman-teman Cefi yang seketika langsung gaduh.


Cefi mengumpat pelan dan langsung menatap sinis ke arah Baron yang tersenyum miring di depannya.


"Iya tuh, Cef. Kan lo tetanggaan sama Pak Baron."


"Pak Baron, suka ya sama Cefi?"

__ADS_1


"Jadi, pengen kaca Cefi."


Setelah membiarkan anak-anak muridnya ribut sebentar untuk menyegarkan pikiran, Baron kembali meminta kepada murid-muridnya untuk mengerjakan tugas mereka.


"Yang merasa kesulitan silakan tanya ke saya langsung." Kata Baron.


Cefi mencuri-curi pandang ke arah Baron. Namun, setelah teringat kalau laki-laki itu menyebalkan, akhirnya dia pun memilih fokus pada soal yang diberikan oleh Baron. Keadaan seketika hening, ternyata mengajar Cefi dan teman-temannya tidak terlalu sulit asal guru bisa mengambil hati mereka.


Buktinya, di pelajaran Baron, meski ada protesnya, Cefi dan teman-teman mau mengerjakan tugas yang diberikan oleh Baron.


Baron berjalan ke arah Cefi. Cefi memilih untuk pura-pura serius dan pura-pura tidak melihat. Lalu tiba-tiba Baron meletakkan sebuah coklat di atas buku Cefi. Hal itu tentu membuat Cefi mendongak.


"Buat kamu." Kata Baron dengan isyarat agar tidak membuat gaduh.


Dara yang sedang duduk di samping Cefi terkejut setengah mati dan langsung menutup mulutnya karena jadi dia yang merasa baper.


Baron pun langsung berkeliling lagi. Sial hanya disogok dengan menggunakan coklat saja, pipi Cefi sudah memerah, bagaimana jika disogok dengan yang lain?


"Uluuuh... So sweet ..." Bisik Dara di telinga Cefi.


Dara pun terkekeh begitu saja. Cefi langsung mengedarkan pandangannya ke arah lain, lalu dia melihat Adam yang sedang cengar-cengir menatap Cefi dengan tatapan menggoda Cefi. Cefi seketika melotot pada Adam dan mengepalkan tangan ke arah Adam. Adam hanya terkekeh begitu saja.


"Udah selesai, Dam?" Tanya Baron sambil memutar kepala Adam agar melihat ke arah bukunya bukan ke arah Cefi.


"Eh, belum, Pak." Kata Adam.


***


Waktu istirahat pun datang. Di lapangan sudah banyak anak laki-laki yang bermain bola. Mereka adalah murid yang baru selesai olah raga atau baru akan berolahraga di jam setelah istirahat. Maklumlah, usia mereka memang sedang sangat ingin caper pada siswi-siswi di sekolah. Ingin terlihat kece di lapangan.


"Eh, gila-gila!" Seru beberapa teman Cefi yang langsung keluar. Orang-orang di koridor pun langsung berlari.


"Ada apaan sih?" Tanya Cefi.


"Ikutin aja yu? Itu mereka juga pada lari-lari, anjir." Kata Amel.

__ADS_1


Cefi, Dara, dan Putri pun langsung berjalan menuju ke lapangan karena semuanya berhenti di pinggir lapangan. "Ada apa sih?" Tanya Cefi penasaran.


Dara menanyakan hal yang sama kepada salah satu siswi yang di sana, anak kelas lain, "Ada apaan dah?" Tanya Dara.


"Pak Baron main bola anjir, ganteng banget!" Kata siswi tersebut tanpa menoleh ke arah Dara.


Amel, Dara, Putri, dan tentu saja Cefi langsung terkejut dan penasaran dengan apa yang terjadi. Mereka pun langsung berjalan membelah kerumunan yang ternyata benar kalau di sana Baron sedang bermain bola dengan siswa kelas 12.


Cefi mengamati suaminya tak berkedip. Pantas saja semua siswi langsung keluar. Suaminya itu terlihat sangat tampan, apa lagi dengan celana digulung dan juga lengan baju yang digulung juga. Ntah kenapa itu membuat Baron terlihat lebih tampan beribu-ribu kali lipat.


"Gila, gue mau dong punya suami kayak Pak Baron." Kata Amel.


Cefi yang mendengar hal itu langsung menjitak kepala Amel, "Enak aja lo. Dia udah ada yang punya." Kata Cefi.


"Pak Baron udah punya cewek?" Tanya siswi kelas 12 bertanya kepada Cefi. Mendengar pertanyaan itu membuat Cefi terkejut setengah mati.


"Siapa? Siapa?" Beberapa siswi mulai tertarik.


Cefi menutup mulutnya rapat-rapat. Dia tentu tidak bisa memberitahukan kepada semua orang kalau orang yang memiliki Baron adalah dirinya. Istri Baron adalah dirinya.


"Bloon lu! Ya jelas Bu Elsalah! Kemana-mana aja berdua pake ditanya." Kata Siswi yang lain.


Cefi mengerucutkan bibirnya ntah mengapa dia merasa sakit hati ketika mendengar kalau mereka mengira kalau Elsalah kekasih Baron. Padahal bukan. Ah, lebih tepatnya Cefi tidak tahu. Apalagi setelah melihat apa yang terjadi tadi pagi.


"Gooolll! Aaaaa gila keren banget, Pak Baron!"


"Masih cocok jadi anak SMA anjir!"


"Ganteng banget!!!"


Cefi pun mengerucutkan bibirnya kesal. Kali ini dia menatap Baron dengan tatapan kesal, tidak seperti sebelumnya yang penuh dengan binar-binar.


Dasar sok ganteng! - batin Cefi. Dia terus mengutuki suaminya dengan kesal.


"Sabar ya, Cef." Kata Amel.

__ADS_1


Dara dan Putri juga menepuk-nepuk Cefi. Cefi hanya bisa menatap mereka dengan senyuman miris. Habis, apa lagi yang bisa dia lakukan selain itu?


__ADS_2