Cinta Anak Kompleks

Cinta Anak Kompleks
BAB 70 - Suami yang Tidak Dianggap


__ADS_3

Jantung Cefi berdegup dengan sangat kencang, dia mendengar suara suaminya yang terdengar begitu serius. Cefi langsung memikirkan mengenai apa yang terjadi, sepertinya, ada sesuatu yang terjadi namun Cefi tidak tahu apa yang terjadi.


Ini kali pertama Baron seperti ini, menjemput lebih dahulu sebelum Cefi menelepon. Apa yang terjadi?


“Siapa, Cef?” tanya Putri.


“Mas Baron, dia udah ada di depan. Mau jemput katanya, gue nggak tau apa yang terjadi tapi kayaknya suara Mas Baron itu kayak kelihatan serius banget, gue jadi takut dah.” kata Cefi yang langsung mengatakan apa yang terjadi kepada teman-temannya.


“Ya ampun, Cef, yaudah sekarang kita samperin suami lo aja.” kata Dara.


Cefi menganggukkan kepalanya begitu saja, kemudian, mereka berempat pun langsung berjalan menuju lift. Ketiga teman Cefi ingin menemani Cefi menemui Baron.


“Nanti kalau ada apa-apa cerita ama kita ya, Cef. Kita selalu ada di belakang lo kok.” kata Dara.


“Iya, Cef, benar apa kata Dara.” kata Amel. Sedangkan Putri menganggukkan kepalanya karena menyetujui mengenai apa yang dikatakan oleh Dara dan juga Amel.


“Iya.” ucap Cefi.


Tak lama kemudian, mereka pun langsung sampai di lobby mall tersebut. Dan sesuai apa yang dikatakan oleh Baron, di sana Baron sudah menunggu Cefi di atas motornya.


“Guys, gue duluan ya.” kata Cefi kepada teman-temannya yang langsung diberikan anggukan oleh teman-temannya.


“Iya, hati-hati di jalan lo.” kata Dara dan yang lainnya.


Cefi pun menganggukkan kepalanya begitu saja. Kemudian, dia pun menuju ke samping suaminya, suaminya memberikan helm untuk Cefi dan Cefi buru-buru memakai helm tersebut. Kemudian, dia pun naik dan motor pun melaju setelah Cefi melambaikan ke arah teman-temannya dan setelah membunyikan klakson.

__ADS_1


Cefi memeluk perut suaminya. Selama perjalanan, Baron tidak mengatakan apapun, hal itu membuat Cefi merasa was-was. Dia jadi takut. Dia sudah mencoba memikirkan mengenai apa yang telah dia lakukan hingga membuat suaminya marah. Kediaman Baron seperti ini maksudnya adalah Baron marah kepada dirinya bukan?


Cefi pun menghela napas, mau bagaimana lagi. Dia tidak tahu mengenai hal tersebut, namun dia rasa dia sama sekali tidak melakukan sesuatu yang bisa menyulut amarah Baron. Entah apa yang terjadi dia pun bingung dan tidak tahu mengenai apa yang terjadi.


“Mas, aku ada salah ya?” tanya Cefi yang tidak tahan dengan keheningan di atas motor.


Padahal, biasanya, Cefi dan Baron suka sekali mengobrolkan ini dan itu di atas motor. Bahkan obrolan-obrolan tidak penting menjadi sesuatu yang asyik dibicarakan, namun hati ini Cefi sepertinya harus menelan baik-baik harapan itu. Karena sepertinya untuk saat ini hal itu tidak akan pernah terjadi.


“Kita bicara di rumah.” kata Baron.


Cefi menelan ludahnya, hal apa kira-kira yang bisa membuat suaminya begitu kepada dirinya.


Tak lama kemudian, mereka pun sampai di rumah. Baron buru-buru memarkirkan motornya di halaman depan. Cefi mengamati sekitar, dia tidak melihat ada mobilnya di sana, sehingga dia pun langsung berpikir kalau kemungkinan mobil tersebut sedang digunakan oleh Om Soni. Cefi memutar otak. Tadi pagi, memang sepertinya Om Soni memang meminjam mobil itu kepadanya. Namun, dia juga tidak ingat persis mengenai hal tersebut. Dia ini pelupa, sehingga sangat mudah baginya untuk melupakan hal-hal yang kecil.


Cefi menoleh ke kanan dan ke kiri, lalu dia melihat rumah mereka kosong. Ke mana semua orang? Cefi pun menebak-nebak, namun karena dia tidak menemukan ada siapapun di sana sehingga dia pun memutuskan untuk menanyakan mengenai apa yang terjadi.


Baron pun langsung menatap Cefi dengan tatapan kesal, “Om kamu sepertinya kabur, bawa mobil dan uang asuransi orang tua kamu.” kata Baron.


Cefi terkejut setengah mati, dia tidak tahu mengenai hal itu, namun dia sepertinya tidak sampai berpikiran ke sana. Cefi tahu kalau Om Soni adalah orang yang sangat gila harta namun sepertinya kalau untuk membawa kabur mobil dan uang asuransi tidak mungkin.


“Nggak mungkin, Mas.” kata Cefi.


“Nggak mungkin gimana? Buktinya mobil di rumah nggak ada dan tadi ada petugas asuransi yang mengirimkan dokumen yang tertinggal. Tanda serah terima uang dan di dalamnya ada tanda tangan kamu.” kata Baron.


“Mas, Om Soni tadi pagi emang pinjam mobil ke aku, jadi aku rasa dugaan mas salah. Pasti Om Soni datang kok.” kata Cefi.

__ADS_1


“Dia bilang sama kamu? Kenapa kamu nggak bilang sama saya? Saya tahu itu mobil kamu, tapi saya juga merasa bertanggung jawab atas mobil itu, bertanggung jawab bukan buat saya sendiri, tapi untuk menjaga semua barang punya kamu.” kata Baron.


“Maaf, Mas. Aku lupa.” kata Cefi.


“Kamu tau asuransi itu?” tanya Baron.


Cefi menganggukkan kepalanya begitu saja, “Setelah orang tua aku meninggal memang ada petugas asuransi yang datang ke rumah, terus Om Soni yang ngurus, tapi aku nggak tau lagi, Mas. Trus kemarin Mama dinta bilang kalau ada orang yang datang survei asuransi.” kata Cefi.


Baron menghela napas, Baron mengambil sebuah map dan langsung memberikannya ke arah Cefi, “Ini semua dokumen tentang pencairan dana asuransi orang tua kamu. Dan ada surat kuasa dari kamu untuk Om Soni untuk mengambil uang tersebut.” kata Baron.


Cefi membuka dokumen itu dan melihat ada tanda tangannya di sana, dia pun langsung memikirkan mengenai apakah dia memang memang tanda tangan atau tidak. Namun, pikirannya tertuju kepada ketika Om Soni dan juga Tante Sonya yang sedang sibuk dengan beberapa kertas.


Tunggu!


Cefi sebetulnya melupakan satu hal. Dia setelah dia melihat banyak kertas berserakan, tak lama dari itu Om Soni memintanya untuk tanda tangan. Saat itu, Om Soni meminta Kartu ATM dan buku tabungan milik Cefi, karena beliau ingin membantu Cefi untuk mengaktifkan tabungan tersebut kembali. Karena sudah lama Cefi tidak pernah menggunakannya.


Om Soni bahkan memberikan Cefi kertas surat kuasa, kemudian meminta Cefi untuk menandatanganinya agar Om-nya tersebut bisa mengurus hal tersebut. Cefi tidak membaca isinya, hanya membaca tulisan surat perjanjian saja.


“Tunggu!” kata Cefi, “Mas, … jangan-jangan …” kata Cefi.


Cefi langsung berlari ke arah kamarnya, kemudian, dia langsung masuk ke dalam kamar dan mencoba menari kartu dan buku tabungannya. Jantung Cefi berdegup dengan sangat kencang, Cefi mengeluarkan semua isi lacinya. Baron yang melihat hal itu mendekat.


“Kamu cari apa?” tanya Baron.


“Aku mau cari ATM aku. Kemarin, Om Soni emang ngurusin kartu ATM dan buku tabungan, dia juga minta aku tanda tangan surat kuasa, Mas.” kata Cefi. Kali ini dia mengatakannya sambil menangis.

__ADS_1


“Hal kayak gitu kamu nggak ngomong sama saya? Apa saya nggak pernah kamu anggap suami?” tanya Baron.


__ADS_2