
Cefi merasa ada seseorang yang mengikutinya.
Kok aku ngerasa kalau ada yang ngikutin ya? -tanyanya dalam hati.
Cefi menoleh ke kanan dan kiri namun tidak ada siapapun, lalu dia pun melihat sebuah mal. Sebuah ide terlintas di dalamnya. Tadinya dia hanya ingin mengajak anak dan adik iparnya jalan-jalan di taman luar mall saja, namun mengingat dirinya merasa kalau ada yang memata-matainya, akhirnya Cefi memilih untuk mengajak mereka ke dalam mall. Setidaknya dia tidak perlu mengkhawatirkan banyak hal kalau berada di dalam mall. Karena di dalam mall banyak orang.
Kalau terjadi apa-apa, Cefi bisa meminta bantuan banyak orang bahkan petugas keamanan.
Cefi membawa Arvin dan juga Daniel bermain di salah satu area permainan anak di salah satu mall tersebut. Kali ini Cefi jalan sendirian karena suaminya baru akan menyusul sebentar lagi. Ada hal yang harus Baron urus terlebih dahulu di kantornya.
Di sini aja deh, kayaknya udah aman. -batin Cefi.
“Hati-hati mainnya, jangan nakal.” kata Cefi sambil melambaikan tangannya ke arah Arvin dan Daniel. Dua anak itu langsung melambaikan tangan ke arah Cefi.
“Oke!” seru mereka berdua.
Cefi terkekeh begitu saja, dia pun memilih untuk duduk di luar arena, mengamati anaknya dan adik iparnya dari kaca yang bisa menjangkau keadaan keduanya.
“Xaviera …” seseorang tiba-tiba memanggil namanya.
Cefi pun langsung mendongak dan terkejut melihat siapa yang ada di sana. Orang yang memanggilnya dan berada di depannya adalah Andrea. Cefi memang tahu kalau Andrea ini sudah keluar dari penjara, namun dia tidak menyangka kalau Andrea akan menemuinya.
Cefi melirik anak perempuan yang seumuran dengan anaknya. Gadis itu bermata belo, cantik, namun terlihat tidak terlihat terurus dengan baik. Cefi juga melihat keadaan Andrea. Dia hanya mengenakan baju kaos biru dan celana jeans.
“Andrea?” tanya Cefi.
Cefi menegang,dia mulai memikirkan mengenai apa yang dilakukan oleh Andrea. Keapa Andrea sampai ada di sana. Apakah Andrea mencari dirinya? Tapi untuk apa? Apakah untuk membalas dendam?
Cefi merasa harus was-was.
Andrea pun mengulurkan tangannya. Cefi melirik tangan tersebut. Dia sendiri bingung dengan apa yang harus dia lakukan.
__ADS_1
“Aku mau minta maaf atas segalanya.” kata Andrea.
Cefi pun menghela napas. Tiga tahun berlalu namun seperti baru kemarin saja. Waktu begitu cepat berlalu. Namun, Cefi sadar kalau semua manusia memang pernah melakukan dosa sehingga dia pun memilih untuk berdamai dengan masa lalunya.
Cefi tersenyum dan langsung menjabat tangan Andrea, “Iya, aku maafin.” kata Cefi.
Tanpa disangka, Andrea pun menangis, Anak kecil yang ada disamping Andrea hanya bisa mengamati dua orang dewasa yang tengah berdiri berhadap-hadapan, tubuhnya yang mungil membuat dia haru mendongak ketika ingin tahu apa yang dibicarakan oleh orang dewasa yang ada di depannya itu.
“Makasih banyak, Xaviera. Kamu sudah sangat baik sama aku dan keluarga aku padahal kita udah salah banget sama kamu.” kata Andrea.
Cefi menganggukkan kepalanya, “Yang penting kalian sudah berubah.” kata Cefi.
“Selama tiga tahunan ini, kamu selalu mengantarkan kami makanan. Padahal kami udah buat kamu kehilangan semuanya. Kami bahkan sudah pernah mencuri harta- …” kata Andrea.
Cefi langsung mengisyaratkan Andrea untuk tidak melanjutkan apa yang dia katakan. Cefi tahu kalau Andrea akan mengungkit masa lalu, namun di sana ada Anak Andrea yang yang mendengarkan percakapan mereka berdua.
“Siapa namamu, Nak?” tanya Cefi.
“Kamu mau bermain di dalam, Nak?” tanya Cefi.
Anak kecil yang bernama Nala itu langsung menoleh ke arah yang Cefi tunjuk, di sana ada permainan yang sangat menggodanya, sebagai seorang anak kecil, dia tentulah ingin bermain di sana, menikmati ini dan itu bermain bersama dengan teman-temannya.
“Bolehkah, Ibu?” Tanyanya Nala kepada Andrea.
Andrea tampak gugup, dia tidak membawa uang, dia hanya mengikuti Cefi untuk bertemu dengan Cefi untuk mengutarakan maaf saja.
Cefi kini paham kalau ternyata anak itu adalah anak dari Andrea. Dia jadi teringat kalau saat masuk penjara Andrea memang sedang mengandung.
“Ibumu pasti memperbolehkannya, ayo, Nak. Tante antar kamu ke dalam.” kata Cefi.
Nala menoleh ke arah Andrea. Andrea pun menganggukkan kepalanya memberikan izin kepada anaknya untuk bermain di sana. Kemudian, Cefi pun mengantarkan Nala ke dalam. Kemudian dia kembali lagi pada Andrea.
__ADS_1
Dia dan Andrea tentu tidak bisa mengobrol dengan serius kalau ada Nala. Kasihan dia. Apapun yang dilakukan oleh orang tuanya, Nala tidak salah. Dan keumuran Nala baiknya tidak mendengar semua percakapan mereka.
“Dia akan aman di sana, ada anak dan adik iparku yang akan menjaga Nala di sana.” kata Cefi kepada Andrea.
“Terima kasih.” kata Andrea.
Andrea dan Cefi pun duduk di sana, Andrea meremas jarinya, dia seakan ingin bertanya tentang banyak hal namun dia tidak tahu apakah dia bisa mengatakannya saat ini atau tidak.
“Ada apa?” tanya Cefi.
“Aku … sekali lagi aku minta maaf.” kata Andrea.
Cefi pun menganggukkan kepalanya, “Iya, aku udah maafin kamu.”
“Jujur, aku ngikutin kalian dari bawah. Aku ngikutin kamu mau minta maaf bukan bermaksud jahat. Aku udah bertaubat. Aku nggak akan ngelakuin kesalahan yang sama seperti yang aku lakukan di masa lalu.” kata Andrea.
Cefi memandang Andrea. Perempuan itu jadi sangat kurus. Hal itu bisa dilihat dari tirusnya pipi Andrea. Apakah selama ini Andrea kekurangan makanan? Ah, itu sepertinya tidak mungkin, atau sebenarnya mungkin?
Cefi menganggukkan kepalanya, dia memilih menunggu Andrea menceritakan semuanya.
“Selain minta maaf, ada hal lain yang mau aku tanyain sama kamu.” kata Andrea.
“Apa?” tanya Cefi.
“Kenapa kamu mau ngirimin makanan ke penjara buat aku dan keluargaku?” tanya Andrea.
Cefi terdiam. Dia memang melakukannya. Meskipun keluarga Om Soni adalah orang yang sangat jahat namun Om Soni tetaplah Om-nya, keluarganya. Cefi merasa kalau dirinya sangat berdosa kepada ayahnya karena sudah memutus tali persaudaraan itu.
“Awal makanan kiriman kamu dateng, jujur aku kira kamu lagi ngejek aku dan keluarga aku. Aku selalu marah setiap ada makanan itu, aku juga mengira kalau makanan-makanan itu ada racunnya. Seminggu kemudian, makanan nggak pernah putus. Aku yang awalnya sangat benci sama makanan itu jadi menunggu-nunggu. Meski nggak aku makan. Sampai akhirnya aku coba makan makanan itu dan menangis, itu makanan terlezat yang bisa aku nikmati selama di sana.” Andrea menangis.
“Setelahnya, aku terus menantikan makanan itu. Tapi semakin lama, pertanyaan itu muncul di benakku. Kenapa kamu mau melakukan itu? Itu adalah sesuatu yang selama ini aku pikirin dan jadi masalah besar buat isi kepalaku. Makanya selepas dari penjara, orang yang pengen aku cari adalah kamu untuk menanyakan soal makanan itu.” kata Andrea.
__ADS_1