Cinta Anak Kompleks

Cinta Anak Kompleks
BAB 74 - Setia Kawan


__ADS_3

Cefi tengah menunggu temannya datang dari kantin. Dia tidak terlalu berharap banyak mengingat teman-temannya pasti makan dulu di kantin, baru ketika selesai makan baru membawa makanan untuk Cefi. Perut Cefi terasa lapar.


Tak lama kemudian, ada seseorang yang masuk ke dalam kelas. Cefi menoleh dan ternyata orang yang masuk ke kelas adalah Adam. Dia kira suaminya, namun dia tidak boleh banyak berharap mengingat suaminya di sana adalah guru dan mereka berdua tidak bisa terlalu dekat ketika berada di sekolah. Hal itu akan mengancam profesi suaminya. Ah, maksudnya kegiatan magang.


“Nih.” kata Adam meletakkan makanan di atas meja Cefi.


Tidak ada angin tidak ada hujan Adam memberikannya makanan, itu artinya ini adalah hal yang baru. Apakah Adam sedang kerasukan setan baik? Ah, mana ada setan yang baik.


“Tumben lo ngasih gue makanan.” kata Cefi melihat ke arah plastik transparan yang di dalamnya ada sterofoam putih. Lengkap dengan the rasa apel kesukaan Cefi.


“Bukan dari gue, itu dari Pak Baron. Katanya lo sakit. Ah, perasaan lo biasa aja dah, nggak ada keliatan kayak orang sakit.” kata Adam.


“Yeuuu, emang sakit tuh harus pucet?” tanya Cefi.


“Lah ya iyalah, kalau sakit mah ya pucet. Bilangin tuh sama suami lo. Jangan kayak gini sama gue. Gue nyesel asli nyuru dia nyanyi,. jangan bikin hidup gue kaga tenang.” kata Adam dengan nada dramatis.


“Ngapain emang suami gue?” tanya Cefi.


“Suami lo nyuruh gue beres-beres perpustakaan anjir tiap jam istirahat.” kata Adam kesal.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Adam membuat Cefi tertawa terbahak-bahak. Kali ini dia sangat setuju dengan tindakan suaminya kepada Adam. ADam memang pantas diberi hukuman karena iseng sekali anaknya.


“Sialan, suami sama istri sama-sama nyebelin.” kata Adam.


Adam pun berjalan menuju keluar kelas, dia ingin menikmati masa istirahatnya sebelum bel berbunyi.


“Makasih ya, Dam!” seru Cefi.


Cefi hanya bisa mengacungkan tangannya ke atas, kemudian pergi begitu saja. Kemudian, Cefi pun langsung membuka makanan itu, ternyata nasi goreng lengkap dengan telur dan suwiran ayam. Dia sangat menyukainya mengingat kali ini dia memang tengah kelaparan dan membutuhkan makanan berat.


“Suami gue perhatian juga sama gue.” kata Cefi.


Cefi tersenyum senang, bagaimanapun dia merasa senang dengan perlakukan suaminya. Sepertinya suaminya tahu kalau Cefi tidak akan pernah bisa pergi ke kantin.

__ADS_1


Cefi pun menyuapkan makanan ke mulutnya.


Pada saat suapan ketiga teman-teman Cefi pun datang. Ternyata ketiga teman Cefi tidak memakan makanan mereka di kantin, mereka begitu setia kawan sehingga memilih makan di kelas menemani Cefi yang sedang ‘sakit’.


“Lah, kok lo udah punya makanan?” tanya Dara.


“Iya, dibeliin sama Mas Baron. Kalian kenapa balik lagi?” tanya Cefi.


Cefi menoleh ke bungkusan-bungkusan makanan yang ada di tangan teman-temannya.


“Nggak makan di kantin?” tanay Cefi.


“Enggaklah, kitakan setia kawan. Kita mending makan di sini aja sama lo. Lagian kantin juga rame, kita gak dapet tempat duduk.” kata Dara.


Cefi menganggukkan kepalanya begitu saja, kantin memang suka penuh kalau mereka tidak cepat datang.


“Ini buat lo.” kata Dara yang memberikan siomay dan es jeruk ke arah Cefi. Cefi menghela napas, kini dia punya dua porsi makanan dan dua minuman. “Gue gendut gendut dah ini makan banyak banget.” kata Cefi.


Kedua teman Cefi hanya bisa tertawa begitu saja, “Iya, gak papa lah. Biasanya juga lo mah 3 porsi 4 porsi bakalan abis. Udah bukan rahasia lagi.” kata Amel menimpali.


Kemudian mereka pun langsung memakan makanan mereka.


“Eh, lo kan belum cerita, masalah yang kemarin.” kata Dara.


Cefi menghela napas, itu adalah topik yang sebenarnya sangat mengganggu kepalanya, dia merasa bingung dengan apa yang dia bisa lakukan. Dia merasa kesal setengah mati kepada Om Soni dan keluarganya. Bagaimana mungkin Om-nya itu bisa setega itu kepada dirinya?


“Gue udah cerita kan sama kalian kalau di rumah gue tuh ada keluarga om gue?” tanya Cefi.


“Iya, udah, gue inget. Kenapa om lo?” tanya Dara.


Cefi menghela napas, “Mobil gue dibawa kabur sama Om Gue, sama uang asuransi bokap nyokap gue juga diambil.” kata Cefi.


“APA?” teriak Dara, Amel, dan Putri kompak.

__ADS_1


Mereka sama sekali tidak menyangka kalau Cefi memiliki Om yang sangat jahat. Bagaimana mungkin Omnya tega mengambil harta milik keponakannya sendiri? Apalagi keponakannya adalah seorang yatim piatu.


“Iya, gue kesel banget, rasanya mau nangis. Kemarin om gue bilangnya mau pinjem mobil buat pergi ke rumah temennya apa ke mana gitu, nah tapi sampe hari ini gak pulang. Trus suami gue didatengin orang asuransi katanya uang asuransi orang tua gue cair. Gue kesel banget, kemarin gue kira Om Soni bantuin gue ngurus buku tabungan biar mempermudah gue. Ternyata setelah buku tabungan ada di gue, gue simpen di laci, Om Soni pergi bawa buku tabungan sama kartu ATM-nya.” kata Cefi.


“Loh, bukannya nggak bisa ya ngambil uang ke bank kalau bukan lo yang ngambil sendiri?” tanya Amel.


“Nah, bodohnya gue, gue tanda tangan surat kuasa. Om Soni kayaknya pake surat kuasa itu.” kata Cefi.


“Eh, udah coba lo blokir belum?” tanya Amel.


“Udah.” kata Cefi.


Dawa pun menganggukkan kepalanya begitu saja.


“Makanya ini gue bingung banget.” kata Cefi. Nasi gorengnya sudah habis, kini tinggal siomay yang belum dia makan, masih ada di tangannya, siap santap.


“Maaf, Cefi. Kenapa bingung kan ada Pak Baron?” tanya Putri.


Dara dan Amel pun menganggukkan kepalanya, setuju dengan apa yang dikatakan oleh Putri. Sepertinya Pak Baron tidak akan pernah lepas tanggung jawab dan membiarkan sahabatnya sendiri. Setidaknya itulah yang ada di dalam kepala mereka.


“Gue segan mintanya, gue baru baikan sama Mas Baron.” kata Cefi.


“Baikan? Emang abis berantem? Oh, yang kemarin itu?” tanya Dara.


Cefi pun menganggukkan kepalanya begitu saja, “Iya, gue yang salah sih. Sebenarnya ini semua murni kesalahan gue. Gue nggak kasih tau dia soal ini dan itu jadinya ketika tiba-tiba ada masalah kayak gini dia marah banget sama gue. karena gue emang gak kasih tau, lupa juga mau kasih taunya.” kata Cefi.


“Ya ampun, Cef, jelas aja suami lo marah. Dalam rumah tangga tuh semuanya harus diomongin Cef, kudu saling terbuka.” kata Dara.


“Tau dari mana lo?” tanya Cefi.


“Ya, gue kan, pernah ikut seminar gitu.” kata Dara salah tingkah.


“Seminar apaan anjay?” tanya Amel.

__ADS_1


“Seminar nikah muda.” kata Dara.


Seketika tawa Cefi, Amel, dan Putri pun langsung meledak begitu saja seorang Dara mengikuti seminar itu sudah sangat aneh, dan ditambah ternyata seminar yang diikuti adalah seminar nikah muda. Itu tentu lebih lucu lagi.


__ADS_2