Cinta Anak Kompleks

Cinta Anak Kompleks
BAB 39 - Siapa Baron Sebenarnya?


__ADS_3

Cefi tidak mengira kalau Baron akan mengatakan hal seperti tadi. Padahal, Baron tidak sedang menyatakan cinta namun ntah mengapa hati Cefi tetap berbunga-bunga. Mungkin kalimat menjadi suami lebih indah ketimbang cinta. Cefi sendiri tidak mau ambil pusing untuk memikirkannya.


"Kita mau makan apa?" Tanya Baron.


Malam sudah datang. Mereka melakukan perjalanan pulang setelah salat Magrib. Wahana yang mereka naiki terakhir kali adalah bianglala. Beruntungnya Cefi bisa naik dikloter terakhir, dan melihat pemandangan menakjubkan dari atas sana.


Mengingat hal itu dia juga jadi teringat mengenai bagaimana lembutnya Baron saat menggenggam tangannya, menenangkannya, dan juga memeluknya.


Ah, pelukan itu ...


Dia ingat betul bagaimana rasanya mereka berpelukan tanpa berbicara apapun.


Tanpa sadar, bukannya menjawab pertanyaan dari Baron, Cefi justru sibuk senyum-senyum. Dia terlihat sangat menikmati kenangan-kenangan yang ada di kepalanya.


"Antibiotik, sakit ya? Kok senyum-senyum sendiri?" Kata Baron yang memilih untuk menggoda istrinya.


Ntah mengapa lama-lama dia melihat Cefi yang bertingkah cukup aneh. Sebagai laki-laki yang sudah berkencan dengan banyak perempuan, dia sepertinya paham dengan apa yang dirasakan oleh Cefi. Memikirkan apa yang ada di dalam kepalanya membuat Baron terkekeh.


"Ih, siapa juga yang senyum-senyum." Kata Cefi.


"Coba tadi saya tanya apa?" Tanya Baron.


Cefi mulai salah tingkah. Dia memang tidak mendengar pertanyaan dari suaminya tadi. Dia hanya sibuk berkutat dengan adegan-adegan romantis yang ada di dalam pikirannya. "Eh, itu ..." Cefi mulai memacu otaknya, dia tidak mau melirik ke arah Baron yang masih di bangku pengemudi.


"Kamu mau makan apa? Udah laper kan?" Tanya Baron.


"Oh, mau makan all you can it boleh?" Tanya Cefi. Cefi seketika teringat kalau suaminya sudah mengeluarkan uang yang cukup banyak untuk mereka berdua hari ini, "Eh, jangan itu deh. Aku mau makan nasi goreng aja." Sambungnya.


"Kenapa berubah sih? Masih mikir saya gak punya uang?" Tanya Baron. Dia mulai berpikir kalau Cefi masih memikirkan soal keuangannya. Ternyata Cefi cukup tau diri juga.


Baron akan mencatatnya baik-baik. Hal ini baru dia ketahui, ternyata bertetangga dengan Cefi selama belasan bahkan hampir dua puluh tahun tidak menjamin dia mengetahui segalanya tentang Cefi.

__ADS_1


"Tapi kan kamu udah keluarin banyak uang hari ini." Kata Cefi.


"Gakpapa, uang gampang dicari. Kamu mau di mana? Udah cepet bilang!" Kata Baron.


Cefi pun langsung menoleh ke jalanan dan seketika matanya tertuju pada restoran all you can it dengan harga selangit. Sebuah ide jail pun terlintas dibenaknya. Sebelumnya Baron terlihat sombong dengan mengatakan kalau dia memiliki banyak uang. Jadi, dia pun ingin mencoba menguji laki-laki itu.


Kemudian, dia langsung menunjuk tempat tersebut, "Ke situuu! Orang kaya kan?" Tanya Cefi dengan nada merendahkan. Dia hanya berbohong. Restoran itu sangat mahal, dia ingin Baron tidak menyetujuinya.


Baron melihat ke arah yang ditunjuk Cefi. Cefi memilih salah satu restoran all you can it yang sangat mahal. Baron menyeringai, sudah dikatakan bukan kalau Baron selalu tahu apa yang ada di dalam pikiran Cefi, "Oke."


"Eh?" Pekik Cefi. Harusnya Baron menolaknya kenapa malah menyetujuinya.


Baron langsung memarkiran mobil mereka di restoran tersebut. Cefi langsing menoleh ke arah Baron. Kali ini mata Cefi mulai berkaca-kaca. Satu-satunya yang terlintas di benaknya adalah pekerjaan suaminya.


"Kenapa berkaca-kaca gitu matanya?" Tanya Baron. Baron meraih pipi Cefi dan memeriksa mata Cefi.


"Kamu siapa?" Kata Cefi sambil menampik tangan Baron.


"Kamu beneran jualan narko.ba? K-kamu bandar narko.ba?" Tanya Cefi ketakutan.


Seketika Baron langsung tertawa terbahak-bahak mendengar apa yang dikatakan oleh Cefi. Kini dia tahu apa yang sedang dipikirkan istrinya dan apa yang membuat istrinya menangis.


"Ya ampun, Antibiotik. Saya cuma bercanda kali. Saya itu guru sama arsitek. Cuma freelance sih gambarnya, masih mahasiswa juga, eh nggak deng, udah tinggal nunggu sidang skripsi, tapi tiap hari saya selalu dapet proyek." Kata Baron.


"Enggak. Bohong. Kamu kan mahasiswa jurusan matematika." Kata Cefi.


"Emang mahasiswa nggak boleh kuliah di dua tempat?" Tanya Baron.


Cefi terdiam, memang boleh seperti itu? Cefi sendiri bahkan tidak tahu apakah itu boleh atau tidak. Karena dia memang belum pernah mendengar ada orang yang bisa kuliah di dua tempat.


"Di kampus ini emang jurusan matematika, di kampus satu lagi jurusan arsitek. Ini nih liat ... Gambar-gambar saya." Kata Baron.

__ADS_1


Baron sampai mengeluarkan ponselnya dan membuka salah satu Instagramnya dan memperlihatkan isi dari feed Instagram tersebut. Di Instagram Xavier's Design itu menunjukkan banyak sekali gambar, pengikutnya pun banyak, Cefi sampai menatap gambar-gambar itu tanpa berkedip, dia merasa sedikit tidak percaya kalau sebenarnya suaminya adalah mahasiswa sehebat ini.


"Kamu bercanda?" Tanya Cefi.


Baron melirik ponselnya, mempersilakan Cefi untuk mengambil ponselnya dan mengecek sendiri kebenarannya. Kemudian, tanpa membuang-buang kesempatan, Cefi langsung melihat semua design buatan suaminya, akun itu memang akun milik Baron. Dia juga melihat nama universitas tempat Baron menempuh pendidikan sebagai arsitek.


Ternyata Baron mencari gelar arsitek di salah satu Universitas Swasta terbaik di Jakarta. Memang bukan negeri seperti Baron mengambil jurusan matematika, namun Cefi tahu kalau universitas swasta tempat Baron kuliah arsitek itu sangat bagus, juga mahal.


Cefi menatap suaminya tak percaya.


"Gimana? Gak bohong kan?" Tanya Baron.


Cefi langsung memeluk Baron begitu saja. Sontak Baron langsung terkejut mendekatkan serangan tiba-tiba. Untungnya, kaca mobil milik keluarga Cefi memang didesign agar tidak bisa dilihat dari luar. Kalau sampai transparan ntah apa yang akan terjadi pada mereka.


Meraka bisa dianggap berbuat mesum. Terlebih mereka berdua tidak bisa menunjukkan surat nikah mereka meski sudah resmi menikah secara agama.


Cefi sangat bersyukur karena dia tidak jadi mendapatkan gelar sebagai istri dari penjual barang haram itu. Huh, seharusnya Baron tidak bercanda seperti itu hingga Cefi kepikiran.


"Aku kira kamu beneran jualan narko.baaa." kata Cefi sambil menangis. Dia memang takut sekali akan hal itu.


"Ya enggaklah. Nggak ada penjual narko.ba yang ganteng kayak saya." Kata Baron.


Cefi pun langsung melepaskan pelukannya. Ntah mengapa dia jadi malu sendiri, dia tentu tidak mau dianggap sebagai perempuan yang murahan. Apa lagi di depan Baron. Dia tidak akan pernah mau.


"Yaudah, karena suamiku ternyata punya uang banyak. Aku mau hambur-hamburin uangnya. Ayo! Aku mau ambil paket yang paling mahal." Kata Cefi.


Baron pun menggeleng-gelengkan kepalanya, "Jangan bikin saya miskin dalam sekejap, saya gak mau tinggal di kolong jembatan." Kata Baron.


Cefi langsung terkekeh begitu saja.


Baron menyusul Cefi dan langsung menggenggam tangan Cefi. Rasa hangat kini bukan hanya ada di telapak tangannya, namun juga hatinya.

__ADS_1


Tolong! Jantung gue nggak aman! - Batin Cefi.


__ADS_2