
Beberapa hari berlalu, dan semua terlihat baik-baik saja. Tante Sonya berperan seperti seorang ibu di rumah tersebut. Cefi pun merasa senang, sesekali dia membantu Tante Sonya meski beliau selalu menolak untuk dibantu.
“Kak Baron …” panggil Andrea yang berjalan menuju ke arah Baron yang sibuk bermain games di atas sofa. Hari ini adalah hari Minggu, sehingga baik Cefi mau pun Baron pun tetap berada di rumah. Mereka tidak pergi ke mana-mana. Hanya semalam saja karena malam minggu memang identik dengan muda mudi yang tengah berkasmaran.
Apakah di dada Cefi dan juga Baron sudah mulai keluar bunga-bunga? Mereka tentulah mulai merasakannya meski tidak gamblang dalam mengakuinya.
“Kenapa?” tanya Baron.
“Masih punya materi STUPA 2?” tanya Andrea.
“Masih.” jawab Baron.
“Boleh minta, Kak?” tanya Andrea.
“Iya, nanti dikirim sama istri saya.” jawab Baron.
Andrea terdiam, dia seperti tidak puas dengan jawaban Baron, dia sempat mengira kalau Baron akan meminta nomor telepon atau emailnya dan akan mengirimkannya sendiri, namun ternyata hal itu tidak dilakukan Baron.
“Kalau dikirim langsung ke aku nggak bisa ya, Kak? Aku nggak terlalu deket sama Xaviera.” kata Andrea.
“Saya juga nggak dekat kan sama kamu?” tanya Baron.
Cefi yang sedari tadi berada di belakang Baron dan Andrea hanya bisa tersenyum mendengar jawaban-jawaban yang diberikan Baron. Dia merasa sedikit lega karena Baron tidak langsung memberikan sesuatu yang Andrea minta.
“Ya, tapi aku takut ngerepotin Xaviera.” kata Andrea.
“Nggakpapa, kamu nggak perlu merasa begitu, kalian kan saudara.” kata Baron. “Ada lagi?” tanya Baron. Dingin sekali.
Baron sepertinya memang anak yang sangat dingin kepada orang lain, dia hanya tidak dingin dengan orang-orang yang dia rasa sudah cukup dekat. Cefi bisa melihatnya dari interaksinya dengan teman-teman kuliahnya, selain Elsa, Baron mana pernah mau mengobrol.
Apakah Cefi masuk ke dalam jajaran orang yang istimewa bagi Baron? Senyum Cefi mengembang. Namun, seketika dia juga teringat bagaimana Baron bersikap kepada Elsa, dia jadi malas lagi, rasa cemburu itu datang dan tidak bisa dibendung dengan baik.
“Mas Baron!” seru Cefi yang memilih untuk langsung berjalan menuju ke arah suaminya.
Katakanlah dia lebay, namun ntah mengapa Cefi merasa takut kalau suaminya akan suka pada Andrea, sepupunya sendiri. Mau bagaimana pun Andrea berparas cantik dan umurnya juga tidak jauh berbeda.
“Kenapa?” tanya Baron.
“Anterin aku yuk? Aku mau beli sesuatu ke minimarket.” kata Cefi.
Baron pun menganggukkan kepalanya begitu saja. Lalu Cefi dan Baron pun langsung pergi menuju ke minimarket terdekat.
Baron menepikan motornya di depan salah satu minimarket, namun Cefi tidak juga mau turun.
“Udah sampe.” kata Baron.
“Hmmm, nggak mau di sini, maunya yang jauh.” kata Cefi kali ini nada suaranya terdengar manja.
__ADS_1
“Kenapa? Cemburu juga Andrea?” tanya Baron.
“Enggak dong, tadi aku liat kok sikap kamu ke dia. Kamu keren.” kata Cefi yang langsung mengeratkan pelukannya.
“Iya dong, siapa dulu.” kata Baron.
“Siapa tuh emangnya?” tanya Cefi. Dia mengharapkan suaminya akan menjawab kalau dirinya adalah istri dari seorang Cefi.
Baron menyeringai, dia tentu bisa dengan mudah menebak apa yang ada di dalam kepala istrinya, selama bertahun-tahun berkawan dengan Cefi, membuat dia hafal apa saya yang ada di dalam kepalanya.
“Saya mau banggain diri tapi saya suaminya antibiotik, nggak ada bagus-bagusnya.” kata Baron.
Cefi pun langsung mencubit pinggang Baron hingga Baron sedikit kehilangan keseimbangan dan terkekeh begitu saja. “Bisa jatoh loh kita, Tik.” kata Baron.
“Abis kamu menyebelin. Dasar Barongsai.” kata Cefi.
“Apa? Baronsai? Saya tahu kamu panggil saya itu karena kepanjangannya adalah Baron Sayang kan? Hahahahaaha.” kata Baron.
Cefi terkejut setengah mati mendengar apa yang dikatakan oleh Baron. Bagaimana dia tidak terkejut? Itu adalah percakapan antara dirinya dan juga teman-temannya.
Tunggu!
Apakah Baron mendengar percakapan anatar Cefi dengan teman-temannya? Kalau sampai hal itu terjadi maka habislah riwayat Cefi. Dia tentu tidak tahu kalau suaminya tahu.
“Kamu nguping pembicaraan aku sama temen-temen aku ya, Mas?” tanya Cefi yang langsung menaap punggung suaminya kesal.
“Tanpa menguping juga saya mendengarnya, Tik.” kata Baron.
Baron terkekeh begitu saja melihat ekspresi wajah Cefi dari spion motornya. Di sana Cefi terlihat sangat malu-malu. Tapi mau bagaimana lagi.
“Hahahaha! Antibiotik juga ada kepanjangannya.” kata Baron.
“Apa tuuu?” tanya Cefi.
“Anaknya Tante Laras biasa aja oenggak ada cantik-cantiknya.” kata Baron.
“Wooo, sembarangan, ngawur itu nggak masuk nggak masuk!” kata Cefi kesal.
Baron terkekeh lagi, dia memang sangat suka menggoda istrinya sampai istrinya merengut, namun meski begitu dia kali ini tidak seperti dulu. Tidak separah itu.
“Tuh kan, kamu tuh kapan sih nggak nyebelinnya? Nggak bisa banget liat aku ketawa gitu.” kata Cefi kesal.
“Emang gak bisa.” kata Baron.
“Jahatttt…” kata Cefi.
“Kenapa mau nikah sama orang jahat?” tanya Baron.
__ADS_1
Cefi terdiam. Dia juga tidak tahu alasan dia mau menikah dengan Baron yang sangat dia benci. Baron masih melajukan motornya tidak tentu arah, dia tidak tahu hendak ke mana. Mereka hanya berkeliling saja.
“Karena orang jahatnya kamu.” kata Cefi.
“Pasti udah cinta sama saya dari lama ya, Mbaknya?” tanya Baron.
Cefi langsung menabok pelan punggung suaminya hingga suarah kekehan Baron kembali terdengar. Hal itu membuat Cefi merasa kesal.
“Enak aja, enggak ya, siapa juga yang kayak gitu. Dulu belum ya! Belum!” seru Cefi.
“Oh, berarti sekarang udah?” tanya Baron sambil menggoda Cefi.
Cefi pun langsung menutup mulutnya sendiri, memang susah mengontrol kata-katanya kalau di hadapan Baron. Namun satu hal yang Cefi tahu kalau pertanyaan itu, dia sendiri sedang mencari jawabannya.
“Kalau kamu kenapa mau menikahi bidadari yang cantik ini?” tanya Cefi.
Dari pada Cefi membuat dirinya sendiri malu, rasanya lebih baik dia bertanya kembali kepada Baron.
“Karena kamu antibiotik.” jawab Baron.
“Maksudnya?” tanya Cefi yang tidak paham dengan jawaban Baron.
“Udahlah, kamu dijelasin juga nggak akan masuk.” kata Baron.
“Ih, nyebelin! Yaudah aku nggak mau ngomong sama kamu.” kata Cefi ngambek.
Baron pun terkekeh begitu saja, “Yaudah ngambek aja.” kata Baron.
“Yaudah!” kata Cefi. Dengan tekatnya yang tidak mau menjawab pertanyaan dari Baron lagi.
“Antibiotik?” panggil Baron.
“Kenapa?” kata Cefi.
“Katanya ngambek?” tanya Baron menggoda Cefi.
Cefi langsung menutup mulutnya sendiri, dia sampai lupa kalau di tidak akan menyahut kalau Baron mengajak ngobrol dirinya. Cefi sontak langsung mengerucutkan bibirnya.
“Nyebelin!” seru Cefi.
Baron terkekeh lagi melihat wajah Cefi dari kaca spion.
“Udah, dari pada kamu marah-marah, kita makan eskrim aja ya?” taya Baron.
Cefi yang mendengar kata es krim langsung bersemangat, “Mau!” seru Cefi.
“Yang ngambek nggak diajak.” kata Baron lagi.
__ADS_1
“Tuh kannnn …” kata Cefi dengan mata berkaca-kaca.
“Bercandaaa. Jangan nangis.” kata Baron.