
Sepulang dari makam, Cefi dan juga Baron pun kembali ke rumah. Mereka sangat senang. Cefi terus menatap suaminya, dia merasa sangat beruntung.
“Makasih ya, Mas. Makasih banget.” kata Cefi memeluk suaminya dari belakang.
“Iya, sama-sama ya.” kata Baron sambil terkekeh, “Berarti aku guru yang hebat ya?” katanya.
“Aku mau nyangkal tapi emang kamu yang terbaik, Mas.” kata Cefi.
Baron pun langsung terkekeh begitu saja.
Saat mereka sampai di dekat rumah Cefi, Cefi dan Baron melihat ada banyak motor yang terparkir di sana. Ntah milik siapa motor-motor itu namun yang jelas jumlahnya ada banyak. Kemudian, Cefi pun langsung turun dari atas motor.
“Motor siapa ya, Mas? Kok banyak banget di rumah kita?” tanya Cefi bingung.
“Enggak tau deh. Mending kita masuk aja biar ketauan.” kata Baron.
Cefi pun menganggukkan kepalanya begitu saja. Kemudian, mereka berdua pun langsung masuk ke rumah Cefi.
“Assalamualaikum!” salam Cefi dan Baron.
“Waalaikumsalam.” jawab semua orang yang ada di sana.
“Pak Barooon!” seru semua orang yang ada di rumah Cefi yang ternyata adalah teman-teman Cefi.
Mereka tiba-tiba langsung memeluk Baron semuanya. Cefi pun langsung tersingkir ke pinggir. Dia merasa bingung dengan apa yang terjadi pada teman-temannya. Kenapa teman-temannya datang ke rumahnya, dan bagaimana bisa teman-temannya memeluk suaminya sembarangan.
Baron tentu tidak bisa berkutik, dia memang bisa saja mendorong satu orang yang memeluk dirinya, namun kalau dilihat dari jumlah orang yang berada di sana, bukan hanya ada satu yang memeluk Baron, semua orang bertumpuk-tumpuk saling memeluk.
“Woiii! Itu suami gueeee!~ Seru Cefi.
Cefi tidak suka kalau suaminya dipeluk-peluk oleh orang lain.
Namun, suara Cefi seakan angin lalu, bahkan mereka bukan hanya tidak mau mendengar, mereka memang tidak mau mendengar suara Cefi.
“Pak! Saya lulus, Pak!”
“Pak Nilai saya 9 semuaaaa!”
“Pak Nilai saja rata-ratanya 8!”
“Pak akhirnya saya lulus dengan nilai bagus!”
“Pak Baron makasih udah bantu kita!”
“Kita sangat berterima kasih. Kalau nggak ada Pak Baron kita nggak tau gimana nasib kita!”
__ADS_1
Cefi kali ini terdiam. Mendengar apa yang dikatakan oleh teman-temannya jadi membuat dirinya merasa kalau sepertinya teman-temannya melakukan hal itu karena mereka ingin mengungkapkan rasa terima kasih mereka kepada Baron.
Cefi bisa mengerti, bahkan mereka semua pun merasakan apa yang Cefi rasakan. Kelulusan dengan nilai yang memuaskan memang sesuatu yang sangat membanggakan, meskipun sepele, namun bagi anak kelas Cefi yang bobroknya selangit, itu tentulah hal yang sangat istimewa. Itu bahkan semacam keajaiban.
Cefi menghela napas. Kemudian, ibu mertuanya pun langsung berjalan ke arah Cefi dan berdiri di samping Cefi. Cefi tersenyum kepada ibu mertuanya.
“Sayang, mereka datang mau berterima kasih sama Baron. Maa jadi terharu.” kata Ibu Anes sambil menahan air mata. Mata beliau berkaca-kaca.
Cefi pun langsung mengusap lengan ibu mertuanya, mencoba menenangkan ibu mertuanya. “Iya, Ma, emang Mas Baron hebat banget di sekolah.” kata Cefi.
“Mama jadi terharu, mama gak nyangka kalau anak mama bisa jadi guru beneran.” kata Ibu mertua Cefi.
Cefi pun menganggukkan kepalanya begitu saja.
“Oiya, ini minuman belum selesai mama buat, mama ambil dulu ke rumah ya, di rumah ada sirup.” kata Ibu Anes.
“Biar aku aja Ma yang ambil.” kata Cefi.
“Aku bantuin, Cef.” kata Dara, Putri dan juga Amel.
Kemudian, Cefi pun menganggukkan kepalanya begitu saja.
Baron menghampiri Cefi, “Sayang, kamu nggak usah repot-repot siapin makanan ya, Saya order 10 pizza aja buat kita semua.” kata Baron.
“Oke, Mas.” kata Cefi.
“Nggak usah, Mas. Mas di sini aja.” kata Cefi.
“Woiii, ada Cefi!” seru seseorang.
“SHeh! Baru nyadar lo ada gue di sini? Dari tadi ke mana aja?” tanya Cefi.
Semua pun terkekeh begitu saja.
Kemudian Cefi menyiapkan minuman, beserta gengnya juga ibu mertuanya yang sudah pulang ke rumah beliau duluan. Untuk menyiapkan dari sana. Sedangkan Baron menjamu murid-muridnya.
Setelah menyiapkan minuman mereka pun langsung berbincang-bincang hangat.
“Apa kabar lo bumil?” tanya Adam.
“Baik alhamdulillah gue.” kata Cefi.
“Coba dong gue mau pegang perutnya.” kata Adam yang mencoba menjulurkan tangannya ke perut Cefi yang belum terlalu menonjol.
Seseorang langsung melempar Adam dengan menggunakan kulit kacang goreng, orang itu adalah Baron, “Jangan pegang-pegang istri saya!”
__ADS_1
“Eh, iya-Pak, khilaf.” kata Adam.
Semua orang pun tertawa begitu saja.
Tak lama kemudian, pizza yang dipesan oleh Baron pun datang. Sepuluh pizza berukuran besar datang. Orang yang menerimanya adalah teman-teman Cefi yang laki-laki. Lalu pizza pun dibuka.
“Wah, Pak. Banyak banget. Satu kali gaji bapak inimah.” celetuk Bayu sambil terkekeh.
“Nggak papa, cuma sekali. Asal jangan setiap hari aja.” kata Baron.
Semua pun terkekeh begitu saja. Mereka pun mengobrol dengan asyik. Semua teman-teman Cefi menanyakan tentang dikeluarkanya Cefi, namun Cefi menjelaskan kepada teman-temannya kalau sebenarnya dia juga ikut ujian tapi dirumah dan diawasi oleh kepala sekolah dan juga Guru BK, mereka pun langsung memaklumi hal tersebut. Mereka justru sangat senang karena ternyata rumor kalau Cefi dikeluarkan tidak benar.
“Kita tuh kemarin kepikiran tau,. kita kira lo tuh dikeluarin tau gak.” kata salah seorang teman Cefi.
“Emang udah hampir dikeluarin sih, tapi kayaknya mereka kasihan kalau ngeluarin gue pas di hari akhir, jadi mutusin ngizinin gue buat ikut ujian.” kata Cefi.
Mereka pun menganggukkan kepalanya begitu saja.
“Pak Baron, di kampus bapak gimana cara masuknya? Otak kita mampu gak ya Pak kalau masuk sana?” tanya Siska.
“Mampulah, naklukin nilai UN sama US aja kalian bisa masa ke universitas saya nggak bisa? Asalkan ada kemauan pasti ada jalan.” kata Baron.
Mereka pun langsung bertanya soal jurusan, pemilihan, tes, dan lain-lain, juga tentang permintaan mereka yang I meminta diundang ketika nanti Cefi mengadakan tujuh bulanan dan melahirkan.
Mereka pun berada di rumah Cefi sampai magrib datang. Seakan betah berada di rumah Cefi. Baron bahkan sudah memesan nasi untuk mereka semua,anggap saja syukuran atas mereka semua. Kasihan bukan kalau sudah ke rumahnya jauh-jauh tidak dijamu dan tidak diberikan makanan dengan baik.
Setelah itu, mereka pun langsung pamit undur diri. Namun, sebelum pulang, mereka membereskan rumah Cefi terlebih dahulu, mereka tahu kalau dI rumah Cefi hanya ada Cefi dan Baron sehingga mereka tidak akan merepotkan tuan rumah.
“Daaahhh … hati-hati di jalan ya.” kata Cefi.
“Daaah,, makasih Pak Baron dan Cefi. Assalamualaikum!” seryu mereka saling bersahut-sahutan.
Setelah semua orang pergi, Cefi pun langsung menoleh ke arah Baron, “Tekor ya, Mas?” tanya Cefi.
Baron terkekeh begitu saja, “Nggak papa, Sayang. Sekali-sekali. Sekalian saya juga kayak pengen ngasih mereka hadiah karena mau jadi anak senurut itu sama saya dan dapat nilai yang rata-ratanya memuaskan.”
Cefi pun menganggukkan kepalanya begitu saja, “Mas emang hebat banget sih. Aku aja gak nyangka banget kalau aku bisa lulus. Ya ampun, Mas. Kalau tau ujian semudah ini, kenapa kamu nggak dari tahun lalu aja magang di sekolah aku? Jadi, aku kan nggak perlu ngulang setahun.” kata Cefi.
Baron pun terkekeh begitu saja, “Enak aja, jadwal magang itu udah ditentuin kali.” kata Baron.
“Tapi kan Mas istimewa.” kata Cefi.
“Lagian kalau saya ke sekolah kamunya tahun lalu, mungkin kita belum punya ini.” kata Baron sambil mengusap perut Cefi.
Cefi pun menganggukkan kepalanya, “Bener juga. Tapi ah, kan mungkin bisa dipercepat.” kata Cefi.
__ADS_1
“Emang yakin dengan kondisi kita yang kaya Tom and Jerry bisa sampai menikah?” tanya Baron.
Cefi terkekeh begitu saja, dia jadi teringat bagaimana dirinya dan Baron yang memang seperti Tom and Jerry sebelum mereka saling jatuh cinta.