
Malam ini Baron terlihat uring-uringan di atas tempat tidur. Dia tidak menyangka kalau dirinya akan mendapatkan seorang adik. Ntah mengapa hal itu membuat dia merasa malu. Bukan apa-apa. Mungkin kalau Baron masih duduk di bangku sekolah dia tidak akan merasa malu kalau harus memiliki adik. Kalau sekarang, dia bahkan sudah menikah, bagaimana mungkin dia harus memiliki adik?
Terlebih, Baron merasa takut dengan kondisi ibunya. Kata orang, hamil di usia sudah tua itu tidak baik.
Dan, sejujurnya selama ini, dia telah mengolok-olok Azka, teman magangnya itu baru saja mendapatkan gelar sebagai kakak. Azka yang merupakan anak tunggal harus merasakan memiliki adik kecil, terlebih diusia yang sudah dua puluhan tahun.
“Anjir, kayaknya gue kena karma nih sama si Azka.” kata Baron yang mencoba menyesali mengenai apa yang terjadi.
Tak lama kemudian, Cefi pun datang ke kamar dan menghampiri Baron. Hal pertama yang dilakukan Cefi adalah tertawa, bagaimana mungkin tidak tertawa? Suaminya lucu sekali karena harus marah kepada ibunya karena akan memiliki anak lagi. .
“Hahahaha.” kata Cefi.
“Kenapa? Seneng banget liat saya kayak gini.” kata Baron.
Cefi pun langsung menggelengkan kepalanya begitu saja. “Kamu lucu banget sih, Mas. Masa cuma karena mama mau punya anak lagi kamu marah?” tanya Cefi.
“Kamu nggak tau rasanya jadi saya. Apa kata semua orang kalau saya punya adik? Saya bisa ditertawakan semua orang.” kata Baron.
“Ya emang lucu sih, nanti kalau kamu punya adik, kalau ke mana-mana kamu kayak lagi gendong anak.” kata Cefi.
“Tuh kan …” kata Baron. “Mama tuh nggak mikir apa ya? Beliau udah tua, kenapa harus hamil lagi sih?” tanya Baron.
“Mas, emang kita Tuhan?” tanya Cefi.
“Maksud kamu?” tanya Baron.
“Ya kan kita bukan Tuhan, Mas. Yang ngatur Mama mau hamil atau enggak kan Tuhan bukan kita. Gitu juga dengan Mama. Mama kan dapet titipan dan amanah dari Allah buat hamil, ya hamil deh akhirnya.” kata Cefi.
Baron pun langsung mengerucutkan bibirnya, dia sangat kesal kepada Cefi karena tidak bisa memahami perasaannya namun apa yang dikatakan oleh Cefi memang benar adanya. Tidak ada yang salah di sana.
“Tapi saya malu. Dari kemarin saya terus ngejek si Azka karena dia baru aja punya adik, ibunya melahirkan anak laki-laki. Jadi, kalau dia sampai tau kalau saya punya adik, saya bakalan malu luar biasa.” kata Baron.
__ADS_1
Bukannya turut prihatin dengan apa yang dikatakan oleh suaminya, Cefi pun langsung tertawa terbahak-bahak. Kini dia tahu akar dari kemarahan suaminya atas berita mertuanya hamil.
“Itu namanya karma, Mas.” kata Cefi.
“Hus, enak saja.” kata Baron.
Cefi terkekeh begitu saja. Cefi mendekati Baron. Dia jadi teringat bagaimana mertuanya yang terlihat menangis tadi.
“Sudah, kalau kamu cuma mau ketawain saya mending kamu tidur aja.” kata Baron.
Kali ini Cefi tidak lagi tertawa. Dan langsung duduk di samping Barong di atas tempat tidur. Sesuai janjinya kepada mertuanya, dia akan membujuk Baron agar tidak marah lagi.
“Mas, tau nggak sih? Tadi tuh Mama sampe nangis, kamu udah nyakitin hati Mama, Mas. Kasian tau.” kata Cefi.
“Ya abis gimana.” kata Baron.
“Minta maaf, Mas. Mama lagi sensitif. Kata orang, orang hamil itu emang sensitif jadi Mas harus minta maaf, kasian, Mas. Aku takut kalau mama sampai kepikiran kamu marah. Kita kan nggak ada yang tahu masa depan, Mas, jadi ya, kita harus jaga-jaga aja, jangan sampai bikin Mama stres.” kata Cefi.
Baron pun terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya. Dia baru tahu kalau Cefi masih memiliki sisi bijak juga, padahal selama ini dia merasa kalau Cefi tidak memiliki satu pun sifat yang dimiliki oleh orang dewasa.
“Tapi Mama udah tua, saya takut kalau Mama kenapa-kenapa.” kata Baron.
“Kayaknya dulu ada yang pernah bilang ke aku kalau kita ini bukan Tuhan. Nebak apa yang terjadi sama aja kayak kita nantang Tuhan.” kata Cefi.
Setelah Baron mendengarkan semua yang dikatakan oleh Cefi dan karena Cefi merasa kalau semua yang dikatakan oleh istrinya memang benar sehingga akhirnya dia pun menganggukkan kepalanya, “Iya deh, besok saya minta maaf sama Mama.” kata Baron.
“Nah, gitu dong!” kata Cefi semangat.
“Makasih ya.” kata Baron.
“Buat?” tanya Cefi.
__ADS_1
“Iya itu buat nasihat-nasihatnya, kamu kayak nenek-nenek sih tapi yaudahlah ya.” kata Baron.
“Kok kayak nenek-nenek sih?” kata Cefi yang langsung cemberut begitu saja kepada suaminya. Barin pun terkekeh begitu saja.
***
Cefi dan Baron sudah berada di depan pagar, mereka memutuskan untuk berangkat ke sekolah bersama. Ntahlah, mereka tidak peduli lagi kalau ada yang menggosipkan mereka karena mereka merasa kalau semua orang memang sudah tahu kalau mereka bertetangga.
Cefi berada di atas motor, sedangkan Baron sedang mengunci gerbang.
“Assalamualaikum.” salam seseorang.
“Waalaikumsalam.” jawab Cefi dan juga Baron. Mereka berdua langsung menoleh ke sumber suara.
Cefi pun sedikit terkejut melihat ternyata orang yang datang adalah Om Soni beserta istri dan anaknya.
“Om Soni?” kata Cefi.
Baron menoleh ke arah Cefi. Dia juga terkejut kenapa Om Soni datang lagi bersama keluarganya ke rumah Cefi. Bukankah Omnya Cefi tersebut sedang marah kepada Cefi?
“Buat apa lagi Om datang?” tanya Cefi.
“Bagaimana pun dia om kamu.” tegur Baron pelan karena kalimat Cefi terdengar tidak sopan.
Baron tahu kalau Cefi sangat kesal kepada Omnya itu, dia pun merasakan hal yang sama, namun mau bagaimana pun Om Soni adalah keluarga dari Cefi. Satu-satunya keluarga Cefi setelah kedua orang tua Cegi meninggal dunia. Dia tidak mau menyulap Cefi menjadi orang yang tidak tahu sopan santun.
“Nak, Om datang ke sini karena ada yang ingin Om bicarakan. Om juga meminta maaf atas apa yang sudah Om katakan sebelumnya.” kata Om Soni.
Cefi pun terdiam, mulai menimbang-nimbang apakah dia memang harus memaafkan Omnya tersebut atau tidak. Namun, yang jelas sepertinya hal itu akan sangat sulit.
“Sekali lagi Om minta maaf sama kamu, Nak.” kata Om Soni.
__ADS_1
“Saya maafin Om kalau Om juga minta maaf ke suami aku dan keluarganya suami aku.” kata Cefi.
Om Soni pun menganggukkan kepalanya dan menatap Baron, “Nak Baron, maafkan Om karena kemarin Om sempat membuat kamu sakit hati. Sekali lagi Om minta maaf."