Cinta Anak Kompleks

Cinta Anak Kompleks
BAB 84 - Hasil Pergulatan


__ADS_3

Cefi menatap suaminya, ntah di bagian mana dalam dirinya, dia merasa bingung, Dia memang manusia normal yang memiliki kemauan untuk hamil. Dia pun sudah melakukan proses pembuatan anak dengan suaminya, namun, dia sungguh tidak menyangka kalau dia justru hamil di saat-saat seperti ini. Saat ujian.


“Ini cuma dugaan saya aja. Kita ke dokter ya?” tanya Baron.


“Mas, boleh ambil kalender itu?” tanya Cefi.


Cefi menunjuk sebuah kalender yang ada di atas meja. Kemudian, Baron pun menganggukkan kepalanya dna langsung mengambilnya. Di dalam kalender itu Cefi selalu menandai masa menstruasinya, karena dirinya hanya ingin tahu apakah tanggal menstruasinya tepat atau mundur atau maju.


Baron mengamati apa yang tengah dilakukan oleh istrinya. Tanpa istrinya memberitahukan apa yang dilakukannya, Baron sepertinya paham maksud Cefi melakukan itu. Cefi ingin melihat waktu menstruasinya.


Cefi menutup mulutnya. “Udah lewat tiga minggu, Mas.” kata Cefi.


Baron tersenyum, “Kita ke dokter ya?” kata Baron.


Cefi menggelengkan kepalanya lemah.


“Saya beliin test pack aja ya?” tanya Baron.


Cefi terdiam kemudian menganggukkan kepalanya begitu saja. Baron hendak pergi namun tiba-tiba tangannya ditahan oleh Cefi. Cefi masih ingin kalau suaminya ada di sana bersama dengan dirinya.


“Mas, tapi jangan pergi. Pesan online aja.” kata Cefi.


Baron terkekeh dan mengusap wajah pucat istrinya, “Iya deh.” jawabnya.


***


Baron memberikan test pack kepada istrinya. Cefi menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia sejujurnya tidak mengerti cara menggunakannya. Dia pun melirik suaminya dengan gelisah, dia mau tanya tapi malu tapi kalau tidak tanya, dia tidak tahu cara pakainya.


“I-ini gimana cara pakenya, Mas?” tanya Cefi.


Situasi kali ini terasa begitu canggung. Baron berdehem dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia juga tidak mengerti, hanya saja malu untuk mengatakannya. Telinga Baron seketika memerah, dia langsung mengambil tespack itu dan langsung membaca cara pemakaiannya.


“Ini caranya ada di sini.” kata Baron.

__ADS_1


Baron menunjukkan cara pemakaiannya. Cefi pun menganggukkan kepalanya mengerti. Dia merasa bodoh sekali karena harus bertanya mengenai hal yang jelas-jelas sudah ada petunjuknya.


“Mau saya jelasin?” tanya Baron.


Cefi langsung menggelengkan kepalanya begitu saja, “Nggak usah, Mas. Nggak usah. Aku baca sendiri aja.” kata Cefi yang langsung mengambil tes pack tersebut dan langsung berjalan menuju ke kamar mandi. Di tempatnya Baron buru-buru membuka internet dan mencari tahu tentang penggunaan test pack dan juga cara membaca hasilnya.


Tak lama kemudian, Cefi pun kembali keluar, wajahnya jadi tegang. Dia penasaran dengan hasilnya, tapi dia tidak mau melihatnya. Entahlah. Dia memberikan kepada suaminya.


“Gimana hasilnya?” tanya Baron.


Cefi menggelengkan kepalanya begitu saja, “Aku nggak tau.” jawab Cefi.


Baron pun mengambil test pack tersebut dan memperhatikan garis yang ada di sana. Kemudian, Baron pun langsung mendongak ke arah Cefi, Cefi hanya bisa menatap Baron dengan tatapan bertanya, “Gimana hasilnya?”


Baron pun langsung memeluk Cefi begitu saja. Cefi yang merasa bingung kembali bertanya mengenai hasilnya, “Mas? Gimana hasilnya?” tanya Cefi kembali.


“Kita akan jadi orang tua, Sayang. Kita akan jadi orang tua.” kata Baron.


“A-aku hamil, Mas?” tanya Cefi.


Baron menciumi wajah istrinya, dari dahi, pipi, hidung, dagu, dan bibir Cefi. Dia sangat senang dengan kehamilan istrinya, “Iya, Sayang. Kamu hamil. Aku beli test pack lagi aja ya? Biar semakin memperkuat.” kata Baron.


Baron langsung berlari, kali ini dia tidak lagi mengorder via online, namun dia memutuskan untuk membeli sendiri. Melihat bagaimana bahagianya suaminya.


Cefi pun mengusap perut ratanya, “Setelah semua yang mama lalui, masalah bertubi-tubi, makasih udah dateng ke kehidupan kami buat jadi pelangi yang menghibur kita setelah hujan badai.” kata Cefi.


Senyum Cefi mengembang begitu saja. Dia ingin mengatakan kepada ibu mertuanya yang juga sedang hamil kalau dia sedang hamil, namun dia tidak bisa melakukannya, dia masih ingin membuktikan terlebih dahulu, takutnya salah.


Cefi kembali merebahkan tubuhnya sambil memegangi test pack yang menampilkan dua garis biru. Cefi menitikkan air mata kebahagiaan, dia sangat bahagia dengan semua yang terjadi untuk saat ini. Dia sangat senang, sangat bahagia. “Terima kasih, Ya Allah.”


Tak lama kemudian, Baron kembali ke rumahnya dengan kantong plastik putih dengan isi 5 test pack. Cefi pun terkejut bukan main melihatnya, namun Baron hanya bisa cengengesan saja, “Biar lebih meyakinkan, Sayang.” katanya.


Cefi pun menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Setelah Cefi melakukan test lagi hasilnya tetaplah sama. Mereka pun akhirnya saling pandang dan kembali berpelukan.


“Makasih, Sayang. Makasih karena udah mengandung anak kita.” kata Baron.


Cefi menganggukkan kepalanya begitu saja.


Kemudian, Cefi melepaskan pelukannya begitu saja, ada satu hal yang ingin dia tanyakan kepada Baron, “Kalau aku hamil. Bagaimana dengan ujianku, Mas? Apa aku tetap boleh mengikuti ujian?” tanya Cefi.


Mata Cefi yang tadinya bersinar langsung meredup. Di sekolahnya, bisa ada murid yang ketahuan hamil, dia akan dikeluarkan dari sekolah, jadi bagaimana dengan Cefi? Apakah Cefi sudah tidak memiliki kesempatan untuk menyelesaikan pendidikannya?


Cefi menghela napas, andai saja dia sudah lulus sejak tahun lalu, dia tidak mungkin pusing-pusing memikirkan ini. Ah, dia jadi merasa sangat bersalah kepada kedua orang tuanya. Padahal, kedua orang tuanya sangat ingin melihat dia lulus.


Sebelum meninggal dunia, keinginan orang tua Cefi tidak muluk-muluk. Beliau hanya ingin melihat Cefi lulus SMA, tidak perlu dengan nilai tinggi karena dengan lulus saja sudah cukup membanggakan mengingat Cefi yang memang menurut kedua orang tuanya tidak terlalu pintar.


“Kamu tenang aja, kita rahasiakan dulu aja sampai hari terakhir, nanti saya yang akan menjelaskan kepada kepala sekolah. Lagian ini sudah sampai akhir dan posisinya, kamu bukan hamil diluar nikah melainkan hamil dalam hubungan yang sah di mata Agama. Kamu jangan khawatir. Saya juga sedang mengurus pernikahan kita agar diakui di mata hukum.” kata Baron.


Cefi pun menganggukkan kepalanya begitu saja. “Makasih banyak ya, Mas?” kata Cefi.


Cefi memeluk suaminya dengan senang.


Baron pun membalas pelukan istrinya, dia pun menganggukkan kepalanya dan mengatakan, “Sama-sama, Sayang.” kata Baron.


“Berarti, kita bilang sama mama papanya kapan?” tanya Cefi.


“Nanti setelah kita ke dokter ya?” tanya Baron.


Cefi pun menganggukkan kepalanya setuju, semua harus dipastikan terlebih dahulu.


“Mau kan ke dokter?” tanya Baron.


Cefi akhirnya menganggukkan kepalanya. Baron pun mengecup dahi istrinya sebentar. “Istri shalihah.” kata Baron.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Baron membuat Cefi tersenyum dan pipinya menjadi merah. Itu seperti kata-kata yang sangat indah di telinganya.

__ADS_1


__ADS_2