
Baron menunggu Cefi dengan cemas di luar ruangan. Ibu Anes tidak bisa datang ke rumah sakit karena memang anaknya tidak ada yang menjaga juga bayi itu tidak diperbolehkan dibawa ke rumah sakit karena terlalu beresiko terserang penyakit.
Cefi akhirnya harus menjalani operasi caesar. Posisi bayi dalam kandungannya tidak memungkinkan untuk dia melahirkan dengan normal.
Baron terus berdoa, di sampingnya ayahnya juga ikut menemani dirinya. Baron dan ayahnya tidak berhenti merapal doa untuk kelancaran Cefi di dalam sana. Air mata Baron jatuh, dia juga merasa kasihan kepada istrinya bahkan tidak tega membayangkan bagaimana istrinya harus berjuang sendiri di dalam sana.
Baron frustasi dia ingin sekali masuk ke dalam sana dan berada di sisi istrinya.
“Pa, kenapa lama sekali?” tanya Baron.
“Sabar, Nak.” kata Ayahnya Baron.
Setelah menunggu lama akhirnya, Baron dan ayahnya mendengar suara tangisan bayi. Kemudian, seorang suster keluar dengan bayi yang ada di dalam gendongan. Baron menerima anaknya yang masih merah, mengadzaninya sambil menangis. Kemudian, dia memandangi anaknya, melihat bagaimana keadaan bayinya.
Dan … Alhamdulillah. Baron menatap jari anaknya juga kepala anaknya. Semuanya normal.
“MasyaAllah, makasih ya, Allah. Terima kasih.” kata Baron.
Baron memberikan bayi itu kepada suster tersebut untuk dibersihkan. Pak Pradana yang mengurus cucunya, sedangkan Baron masuk ke dalam ruangan untuk melihat kondisi Cefi.
“Sayang …” panggil Baron.
Cefi menoleh ke arah Baron, “Gimana anak kita, Mas?” tanya Cefi sambil menitikkan air mata.
Cefi sudah sangat siap dengan apapun hasil yang diterimanya, dia tidak bisa lagi mengatakan apapun, dia sudah pasrah. Kalau ada kemungkinan buruk, Cefi juga sudah menerimanya, dia akan menerima dengan ikhlas bagaimanapun kondisi anaknya tersebut.
Baron langsung memeluk Cefi. Hal itu langsung membuat Cefi salah paham. Cefi mengira kalau pelukan itu adalah tanda kalau anaknya memang tidak dalam kondisi yang baik-baik saja.
Cefi pun langsung mengerti, “Maaf ya, MAs.” kata Cefi lagi sambil menangis.
“Nggak sayang, nggak, … bayi kita normal Sayang. Alhamdulillah. Bayi kita sehat, tidak kurang apapun.” kata Baron.
Cefi melepaskan pelukan suaminya, dia ingin meminta penjelasan dengan sedetail-detailnya, dia ingin mengetahui mengenai apa yang terjadi sebenarnya.
“Benarkah, Mas? Gimana sama tangan dan gundukan di kepalanya?” tanya Cefi.
Baron pun tersenyum kepada istrinya, “Rencana Allah SWT memang sangat indah dan tidak terduga, Sayang. Anak kita benar-benar sehat, tidak kurang apapun, jari tangannya berjumlah sepuluh, dan juga kepalanya tidak ada gundukan. Alhamdulillah, kita dikaruniai putra yang sangat sehat, Sayang. Terima kasih, Xaviera, terima kasih karena sudah mau berjuang mengandung dan melahirkan anak kita. Terima kasih.” kata Baron yang langsung mencium kening Cefi lama.
c
__ADS_1
Cefi bisa merasakan kalau dahinya basah, itu adalah air mata suaminya yang menangis saking bahagianya. Dia tidak tahu apa lagi yang harus dia ucapkan selain bersyukur kepada Tuhannya.
“Alhamdulillah, makasih ya, Allah, terima kasih.” kata Cefi sambil menangis.
Cefi memeluk suaminya sambil sesenggukan. “Iya, Mas, ini sudah menjadi kewajibanku, terima kasih juga sudah selalu ada di sisiku.” kata Cefi.
“Sekarang kita rawat anak kita baik-baik ya, sayang. Allah sudah menitipkannya kepada kita, kita harus menjaganya dengan baik.” kata Baron.
Cefi pun menganggukkan kepalanya begitu saja.
“Aku akan ambil anak kita, Sayang. Tunggu sebentar ya.” kata Baron.
Cefi pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya begitu saja.
Baron pun langsung pergi untuk membawa anaknya untuk menemui istrinya, bagaimanapun, Cefi tentulah sangat ingin melihat anaknya. Dia sangat ingin.
TAk lama kemudian, Baron dan Pak Pradana pun masuk ke dalam ruangan.
“Nak, selamat atas putramu.” kata Pak Pradana sambil mengusap bahu Cefi.
Cefi tersenyum dengan bahagia, “Terima kasih, Papa terima kasih.” kata Cefi.
Kemudian, Baron memperlihatkan anaknya kepada Cefi.
Tangis Cefi pun meledak, dia tidak menyangka kalau dirinya akhirnya memiliki anak. Bayi mungil itu terlihat sangat tampan seperti suaminya, “Tampan seperti ayahnya.” kata Cefi.
Baron pun terkekeh begitu saja, “Dan berhati lembut seperti ibunya.” kata Baron.
Cefi pun tersenyum, “Terima kasih sudah lahir menjadi anak mama dan papa, Sayang.” Cefi mencium bayinya sambil meneteskan air matanya.
Cefi sangat bersyukur dengan kehadiran putranya yang sangat menggemaskan. Dia juga mencoba menyentuh tangan mungil anaknya dan juga mengusap kepala anaknya. Anaknya pun menggeliat, merasa nyaman dengan sentuhan ibunya.
“Aku mau gendong …” kata Cefi.
“Kayaknya belum dibolehin dokter, Sayang.” kata Baron.
Cefi pun menganggukkan kepalanya begitu saja. Dia tersenyum namun senyuman yang berbeda. Baron pun tidak tega melihat istrinya yang seperti sedih, jadi dia pun mendekat, “Sebentar aja ya?” kata Baron.
Cefi pun menganggukkan kepalanya begitu saja.
__ADS_1
Cefi pun langsung menggendong anaknya. Ternyata, apa yang dikatakan oleh orang-orang benar. Meskipun sebelumnya kita tidak bisa menggendong bayi namun ketika kita sudah memiliki bayi, naluri keibuannya akan muncul dan secara otomatis akan bisa menggendong.
Hal itulah yang kini tengah dirasakan oleh Cefi. Ntah keajaiban dari mana akhirnya dia bisa menggendong anaknya dengan mudah. Baron mengamati istrinya, sepertinya hal yang sama juga dirasakan oleh Baron.
Kalau pada adiknya dia sama sekali tidak mau menggendong kecuali ketika terakhir kali bertemu dengan Daniel, Baron juga bisa menggendong secara alamiah. Dia bahkan seperti seorang yang terampil.
“Anak mama yang ganteng, yang salih, …” kata Cefi yang mulai meracau mengajak mengobrol anaknya dengan senang hati. Meskipun senyuman terus terlihat, air mata Cefi terus menerus menetes. Tapi air mata itu adalah air mata kebahagiaan.
Andai kakek dan nenek kamu masih ada, Sayang. Kamu pasti akan menjadi cucu yang paling dimanja. Cucu pertama dari anak tunggal. Mereka pasti sangat menyayangimu. Andai saja … -batin Cefi.
Semakin Cefi memikirkan hal itu, dia pun menjadi terisak. Dia sangat merindukan kedua orang tuanya. Melihat bagaimana Cefi menangis, Baron pun langsung mengambil anaknya, “Jagoan sama papa dulu ya.” kata Baron.
Cefi pun mengusap air matanya begitu saja.
“Andai mama dan papa masih ada di sini, mereka pasti senang.” kata Cefi.
“Iya, Nak. Betul. Orang tuamu pasti sama bahagianya dengan papa. Semoga di sana mereka bisa melihat putra kecil kalian yang sangat tampan itu.” kata Pak Pradana.
Cefi pun menganggukkan kepalanya begitu saja.
Baron mengusap air mata Cefi. “Jangan menangis lagi, saya mohon.”
Cefi pun mengangguk, “Iya, Mas. Lagian ini tangis kebahagiaan, aku nggak bisa cegahnya.” kata Cefi.
Baron pun menganggukkan kepalanya begitu saja.
Cefi masih mati setengah badan. Jadi dia belum merasakan sakit sama sekali. Mungkin beberapa menit lagi, dia baru bisa merasakan bagaimana sakitnya pasca operasi.
“Apa penjelasan dokter tentang kondisinya, Mas?” tanya Cefi.
“Untuk tangannya, sepertinya ketika USG sepertinya jari tengahnya sedang terlipat dan untuk benjolan di kepala itu adalah tangan anak kita, begini posisinya.” kata Baron sambil memeragakan hingga Cefi terkekeh.
“Ya Allah, Nak, Nak. Kenapa kamu bikin kita jantungan?” tanya Cefi sambil terkekeh begitu saja.
“Iya, anak kita masih kecil udah jago nge-prank orang tuanya.” kata Baron.
“Kayak ayahnya ya suka usil.” kata Cefi sambil mengusap air matanya.
“Ayahnya mah nggak pernah usil.” kata Baron.
__ADS_1
“Apaan?” kata Cefi.
Baron terkekeh begitu saja.