Cinta Anak Kompleks

Cinta Anak Kompleks
BAB 54 - Arti Nama Cefixime


__ADS_3

Sepulang dari sekolah, sesuai rencananya, Cefi memang hendak membeli kue tar untuk Dara. Sedangkan Dara, Putri dan juga Amel, memilih untuk pulang ke rumah Amel. Di sanalah mereka akan melancarkan aksi mereka. Tadinya, mereka ingin melakukan perayaan di sekolah namun mengingat tidak akan cukup dan mereka tidak leluasa, sehingga mereka pun memutuskan untuk ke rumah Amel.


“Udah siap?” tanya Baron.


Cefi pun menganggukkan kepalanya. Kemudian, dia langsung naik ke atas motor. Dia sudah izin pada Dara pura-pura ada acara kelaurga bersama Baron. Kalau sudah menyangkut soal Baron, mereka memang tidak akan pernah ikut campur. Karena mereka sadar kalau Cefi bukan perempuan lajang lagi, dia adalah perempuan yang sudah menikah sehingga dia harus menuruti apa kata suaminya.


“Kita mau belu kue di mana?” tanya Baron.


“Oh, its your cake aja! Itu kuenya enak banget asli aku nggak bohong.” kata Cefi.


Baron pun menganggukkan kepalanya begitu saja, dia sering melihat kedai toko roti itu, namun belum pernah mencobanya.


Namun, belum sampai mereka di tempat tujuan, perut Cefi berbunyi. Hal itu membuat Baron langsung terkekeh begitu saja, “Kelaperan ya, Neng?” goda Baron.


“Iya nih, nggak dinafkahin sama suaminya, Bang.” kata Cefi.


“Jadi, istri saya mau gak, Neng?” tanya Baron.


“Yaudah nggakpapa, Bang. Saya rela.” kata Cefi.


Cefi dan Baron pun tertawa terpingkal-pingkal di jalanan, memang menurut mereka hal yang paling seru adalah bercanda di atas kendaraan, ntah mengapa rasa bahagianya itu jauh lebih beda dan lebih bahagia. Ah, mungkin Cefi hanya tipikal orang yang berbeda. Atau justru semua orang memang seperti itu?


“Kita makan dulu aja ya?” tanya Baron.


“Kelamaan gak ya, Mas?” tanya Cefi.


Cefi tentu tidak enak kalau sampai membiarkan teman-temannya menunggu, namun perutnya sangat lapar, dia belum makan, di istirhaat siang dia hanya makan somay saja, tidak makan nasi.


“Kayaknya sih enggak, kan mereka naik angkot. Paling macet, jadi mereka nggak akan lama nungguin kamu.” kata Baron.


Cefi pun menganggukkan kepalanya begitu saja, “Oh, yaudah kalau kayak gitu, Mas.” kata Cefi.


“Kamu mau makan apa?” tanya Baron.


“Makan kamu boleh?” tanya Cefi.


Baron terkekeh begitu saja, “Boleh, nanti malem ya.” kata Baron.

__ADS_1


“Nanti aku langsung jadi pesikopat. Namanya nongol di surat-surat kabar.” kata Cefi yang tidak nyambung dengan apa yang dikatakan oleh Baron. Padahal, kalimat Baron tidak merujuk pada itu. Namun, Baron sadar, dia sangat sadar mengenai sedang dengan siapa dia berada.


“Yah …” kata Baron.


“Kenapa?” tanya Cefi.


“Nggak jadi.” kata Baron.


“Ih, kok ngambek kayak cewek?” tanya Cefi.


“Enggakpapa, saya lupa kalau saya belum makan.” kata Baron asal. Dia tidak mau memperpanjang sepertinya dia merasa malu kalau harus meluruskan.


Lagian, dasar Cefi, begitu saja tidak mengerti.


“Kita makan ayam geprek mau?” tanya Baron.


“Mauuu!” seru Cefi berbinar-binar.


Cefi memang sangat senang makan ayam geprek karena ada sambal pedas yang siap menggoyang lidahnya, memikirkan bagaimana rasanya saja Cefi sudah menjadi tambah lapar.


Tak lama kemudian, mereka pun sampai di salah satu kedai ayam geprek yang memang sudah terkenal enak dan merupakan langganan Cefi. Cefi dan Baron pun memesan lalu duduk menunggu pesanan mereka datang.


“Kenapa? Kangen?” tanya Baron.


“Ih, pede banget sih.” kata Cefi sambil mengerucutkan bibirnya.


Baron terkekeh begitu saja, “Kenapa?” tanya Baron.


“Aku tau kamu pasti berharap bisa punya istri yang bisa masak.” kata Cefi.


Baron langsung menoleh ke arah Cefi, mencoba memastikan mengenai apa yang Cefi maksud. Dia mencoba menyelami kepala Cefi.


“Saya menikah bukan untuk menyuruh istri saya jadi koki.” kata Baron.


Cefi menggigit bibirnya, “Maaf karena setiap hari kita selalu makan beli dan kalaupun gak beli, itu bukan masakan aku.” kata Cefi.


Baron menatap Cefi dengan tatapan serius, “Jangan kayak gini. Nggak perlu minta maaf. Kita belajar bareng-bareng.” kata Baron.

__ADS_1


Tak lama kemudian, ada pelayan yang membawa makanan pesanan mereka berdua, kemudian Baron meletakkan pesanana Cefi di depan Cefi, “Jangan mikirin apapun, lakuin sewajarnya aja, saya nggak akan nuntut apa-apa sama kamu. Saya tau kamu masih sekolah, masih belum bisa ini dan itu, saya juga sama, belum bisa ngajarin kamu. Tapi kita belajar bareng-bareng aja.” kata Baron.


“Mas ikhlas nikah sama aku?” tanya Cefi.


Cefi merasa ini adalah waktu yang tepat untuk dirinya menanyakan lebih jauh kepada Baron mengenai perasaan laki-laki itu. Baron sudah banyak berjuang untuknya. Dia juga sudah sangat banyak merepotkan Baron. Dia harus setidaknya mengerti bagaimana perasaan suaminya itu kepada dirinya.


“Kenapa tanya kayak gitu?” tanya Baron.


“Jawab aja. Please …” kata Cefi.


“Kamu mau jawaban jujur atau bohong?” tanya Baron.


“Mas, aku serius, belakangan aku mikirin ini, dan aku pengen kamu jawab, Mas. Nggak papa kok kalau jawabannya gak sesuai ekspektasi aku.” kata Cefi.


Cefi menunduk, dia jadi kehilangan selera makann. Cefi pun mulai merutuki dirinya sendiri. Dia merasa kalau seharusnya dia bertanya sepetri ini ketika dirinya dan Baron selesai makan, bukan seperti sekarang. Namun, mau bagaimana lagi?


“Saya ikhlas. Kayaknya kamu udah tanya ini sebelumnya kan?” tanya Baron.


Cefi terdiam lagi.


Baron meraih tangan Cefi, “Sejak awal, bahkan mungkin sejak kita lahir, kita emang udah ditakdirin bersama. Ketika ayah kamu minta saya buat nikahin kamu, saya pun tahu konsekuensi apa yang harus saya emban. Walaupun saya sering candain kamu, bikin kamu marah, dan lain sebagaimnya, tapi saya iklas nikah sama kamu.” kata Baron.


Cefi langsung mendongak dan mencoba mencari kebenaran di mata suaminya itu, “Kamu serius, Mas?” tanya Cefi.


Baron pun menganggukkan kepalanya, “Kamu tau kenapa nama kamu Cefixime?” tanya Baron.


Cefi menggelengkan kepalanya begitu saja. Kedua orang tuanya tidak pernah mau menjawab pertanyaan itu. Ah, atau bisa jadi belum sempat? Mengingat orang tuanya membuat Cefi rasanya ingin menangis.


“Kamu tau kan kalau sebelum saya pindah ke depan rumah kamu, kedua orang tua kita sahabat?” tanya Baron.


Cefi menganggukkan kepalanya.


“Dulu, saya sering sakit. Selalu berada di rumah sakit, sampai akhirnya kamu lahir dan mereka memberikan nama salah satu obat yang rutin saya minum. Cefixime. Mereka berharap kalau kamu bisa menjadi teman hidup saya dan menjadi obat atas sakit saya. Dan akhirnya benar, kamu lahir, menyandang nama itu, dan saya sembuh. Saya tidak pernah lagi masuk rumah sakit seperti sebelum kamu lahir.” kata Baron.


Cefi masih diam mendengarkan. Dia belum pernah mendengar kisah ini dari siapapun. Dia memang pernah mendengar kalau Baron pernah keluar masuk rumah sakit saat kecil, namun dia tidak pernah benar-benar melihat sendiri. Dan mengenai nama itu, dia sendiri belum pernah mendengarnya.


“Kamu tidak bercanda, Mas?” tanya Cefi.

__ADS_1


“Untuk apa saya bercanda?” tanya Baron.


__ADS_2